
Setelah semua kegiatan di Ciliwung selesai, kami pun akhirnya pulang ke Purwokerto. Di selama perjalanan, kami masih saja menemui beberapa orang yang sembarangan membuang sampahnya. Bahkan Pak Sopir bus kami juga sembarangan membuang puntung rokoknya. Ada tuh suatu kejadian di mana bus yang kami tumpangi sedang berhenti untuk istirahat. Ya kami singgah sebentar di pusat belanja Cibaduyut sembari membeli oleh-oleh untuk orang dirumah. Kami pun langsung turun menuju kesana terlebih dahulu. Sedangkan Pak Sopir ngopi sambil merokok di depan bus nya.
Saat setelah merokok, Pak supir bus yang bernama Kang Man ini malah membuang puntung rokok miliknya ke sembarang tempat. Terlebih lagi itu masih sedikit menyala dan dekat sekali dengan bus. Aku yang sedang lewat untuk masuk kembali mengambil dompet pun menegurnya.
"Kang Man rokok e Bapak esih nyala kuwe, aja di buang sembarangan (Kang Man rokoknya Bapak masih nyala tuh, jangan di buang sembarangan)," tegur ku padanya.
"Wis mati le kuwe dadi aman (udah mati itu le jadi aman)," tukasnya.
"Emang ketone wis mati pak, tapi bisa nyala maning nek kena angin, masalah e ganu parkiran kampus rep kebakaran gara-gara puntung rokok (emang keliatan udah mati pak, tapi bisa nyala lagi kalau kena angin, masalahnya dulu parkiran kampus mau kebakaran gara-gara puntung rokok)," jelas ku memberitahu sambil mengingat kejadian waktu itu.
"Apa iya halah bahaya iki nek kena bis, bisa-bisa bis e bledug.... aduh aduh ra bisa bayang na (apa iya halah bahaya ini kalau kena bus, bisa-bisa busnya bledug.... aduh aduh tidak bisa bayangkan)," pikirnya mulai takut. Kang Man pun akhirnya mengambil puntung rokoknya dan mematikan nya dengan menginjaknya. Setelah memastikan benar-benar mati, Kang Man membuangnya ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya.
Sementara aku melanjutkan masuk mengambil dompet dan kembali kepada yang lainnya. Teman-teman yang lainnya sudah menunggu ku di depan pusat oleh-oleh. Aku pun langsung menghampirinya.
"Weh Lam suwe temen ko jimot dompet meng Australia apa (weh Lam lama bener kamu ambil dompetnya ke Australia apa)," sindir Budi, "rep sida ra tuku peyem karo klambi kembara ne (mau jadi gak beli peyem sama baju kembarannya)?" dirinya lalu bertanya padaku.
"Iya iya maaf miki ana masalah setitik, ya sida hayu masuk (iya iya maaf tadi ada masalah sedikit, ya jadi ayo masuk)," jawabku sambil meminta maaf.
Kami berlima langsung masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Kami semua terperangah melihat pasar yang begitu besar dan luas ini. Berbagai macam makanan khas terpajang disana. Mulai dari peyem, dodol, tahu sumedang, semua ada disini. Baju-baju batik dan baju bertuliskan ala-ala kota bandung pun juga ada.
Aku, Budi dan Frank pun berniat membeli baju kembaran. Jangan salah kami anak lelaki juga menginginkan baju kembaran bukan hanya para cewek saja. Kami bertiga pun pergi untuk memilih toko yang menjual baju yang memiliki stok kembaran banyak. Ya tak jauh-jauh kami pun memutuskan membeli baju ala-ala anak bandung. Seperti kaos yang bertuliskan Paris Van Java, Cibaduyut atau yang lainnya. Kaos kaos itu pasti tidak dijual hanya satu saja dan paling hanya warna saja yang berbeda.
Setelah beberapa menit mencari, kami pun menemukan toko baju yang sesuai dengan kami maksudkan. Sedangkan Sinta dan Clara memilih pergi berdua saja untuk membeli barang-barang cewek. Sementara Mba Lili pergi keliling berdua bersama Bang Kris.
Kami bertiga pun melangkahkan kaki masuk kedalam toko. Penjaga toko menyambut kami menggunakan bahasa Sunda yang tak begitu dipahami oleh kami. Tapi sepertinya Mba Mba toko bilang 'Selamat datang di Pasar Cibaduyut silahkan berbelanja sepuasnya,' itu yang ada di pikiran ku. Kami bertiga pun hanya bisa menundukkan kepala ramah sambil tersenyum kepada mereka.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Kami bertiga langsung memilih beberapa baju yang kembar. Dan akhirnya ketemu tapi sayang warnanya berbeda. Kami pun memutuskan memilih warna sesuai kesukaan saja asal tulisannya kembaran.
"Halah kiye warna ne langka sing kembar pa (halah ini warnanya gak ada yang kembar apa)," ucap Budi merasa kecewa.
"Mbuh leh tapi kaya ne langka ana ne kur tulisan e sing kembar (tak tau juga tapi kayaknya gak ada yang ada hanya tulisannya yang kembar)," kataku sambil memilih baju yang digantung.
"Iya deleng tulisan e Paris Van Java kabeh (iya lihat tulisannya Paris Van Java semua)," timpal si Frank.
"Ya wis lah aku milih warna biru kiye wae (ya sudah lah aku milih warna biru ini saja)," ujarku pasrah.
"Aku ijo lah kayong apik (aku hijau lah kelihatan bagus)," kata Budi sambil mengambil bajunya
"Ko (kamu) apa Frank?" tanyaku padanya karena tinggal dirinya yang belum memilih.
"Aku mandan beda, aja di guyu tapi (aku sedikit berbeda, jangan diketawain tapi)," jawabnya malu-malu.
"Lah emang kowe arep milih warna apa (lah emang kamu mau milih warna apa)?" tanya Budi penasaran.
"Kiye (ini)." Tunjuk Frank ke salah satu baju yang warnanya berbeda sendiri.
"Lah kowe lanang doyan warna pink Frank (lah kamu laki suka warna pink Frank)," ledek Budi dan aku yang sempat kaget lalu tertawa.
"Kuwe mbok di cengi (tuh kan di ledekin)." Si Frank tertunduk karena kesal dan malu.
"Mas Mas apa ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba pelayan toko menghampiri kami dan bertanya.
"Eh Mba pelayan ini emang gak ada yang kembar warnanya ya?" tanyaku memastikan kalau memang masih terdapat warna yang sama.
"Gak Kak ini tinggal warnanya saja yang berbeda-beda," jawabnya.
"Oh ya sudah gak papa, kami bertiga milih yang ini Mba," katamu sambil menunjuk baju yang kami pilih.
"Oh baiklah kaka, ucapnya ramah, eh Kaka satunya bener ini warna pink?" tanya Mba pelayan memastikan baju yang di pilih Frank benar.
"Iya Mba emang kenapa?" jawab Frank heran.
"Gak papa ka lucu aja, ya sudah tunggu ya mas saya hitung dulu," kata Mba pelayan lalu pergi dan menyuruh kami agar menunggu.
__ADS_1
"Baik lah Mba," balasku mengangguk.
Karena pujian mba Mba pelayan toko terhadap si Frank. Dirinya jadi mesem-mesem sendiri. Sampai aku dan Budi menatapnya heran.
"Kenang apa kowe Frank stress ya ko (kanapa kamu Frank stress ya kamu)?" tanya Budi blak-blakan sambil menatapnya heran.
"Maning sih, kae lho Mba-mba ne ngatani aku kiyowo ish dadi isin aku (mana ada, itu lho Mba-mba nya bilang aku lucu, ish jadi malu aku)," tukasnya lalu tiba-tiba berubah jadi malu-malu sambil menutupi mukanya.
"Hii jijik lah aku hii," kata Budi sambil menggeliatkan badannya. Aku pun ikut merasa jijik melihat tingkah laku Frank.
Mba-mba penjaga toko datang memberikan baju yang sudah dibungkus nya pada kami. Aku pun menerimanya dan membayarnya sesuai harga.
"Mas ini bajunya semuanya jadi 150 ribu," kata Mba-mba penjaga toko setelah menghitungnya lalu memberikannya padaku. Baju di sini terbilang cukup murah-murah karena harganya di kisaran 50 ribuan.
"Oh iya Mba terimakasih." Aku pun memberikan 3 lembar 50 ribu an. Frank dan Budi sebelum nya telah memberikan uang nya padaku. Katanya biar gak ribet makanya di jadiin satu saja.
Setelah membayar kami pun keluar toko. Dan kami berjumpa kembali dengan Sinta dan Clara. Aku pun menanyakan barang-barang yang berhasil mereka beli disini.
"Sin Clar kowe cah loro tuku apa jere (Sin Clar kamu berdua beli apa katanya)?" tanyaku penasaran.
"Gyeh deleng apik mbok (ini lihat bagus kan)." Mereka berdua langsung mendongakkan kepalanya agar benda yang melingkar di lehernya terlihat.
"Apa sih Clar?" tanyaku tak mengerti.
"Kalung Lam kalung, kae deleng gulu ne ana sing beda (kalung Lam kalung, itu lihat lehernya ada yang berbeda)," kata Budi memberitahu ku sambil berkode mata supaya aku melihat ke arah yang dimaksudnya.
"Ooo kalung kembaran apa?" tanya ku setelah mengerti.
"Iya lah kembar kalian punya gak," jawab Sinta sombong.
"Hem jangan salah Sin kita juga punya emang kalian berdua saja yang bisa kembaran kita juga dong," tukas ku.
"Terus mana apa sing (yang) kembar?" tanya Clara penasaran.
"Semua ada disini," kata Budi sambil menepuk kantong kresek yang dibawanya.
"Walah klambi, eh ana sing pink deneng warna ne (walah baju, eh kok ada yang pink warnanya)?" ucap mereka setelah membuka bungkus plastik yang masih ditangan Budi. Lalu mereka berdua terkejut sambil mengerutkan dahi ketika melihat ada warna baju yang sedikit berbeda.
"Jajal tebak kuwe duweke sapa (coba tebak itu punyanya siapa)?" tanyaku malah memberikan tebak-tebakan pada mereka.
"Sing biru tah ya jelas duwe ne si Alam (yang biru mah ya jelas punyanya si Alam)," jawab Sinta yang sudah tau pasti seleraku.
"Hehe iya," kataku nyengir sambil menggaruk kepala belakang ku.
"Lah gari sing ijo karo pink gyeh (lah tinggal yang ijo sama pink nih)," ujar si Clara berpikir.
"Haa sing pink gene Budi sing ijo gene si Frank (haa yang pink punya si Budi yang hijau punya si Frank)," tebak Sinta dan Clara sambil menunjuk mereka berdua. Sebelum nya mereka berdua saling pandang dan mengangguk yakin kalau itu jawabannya.
"Heee moso aku sing pink kuwe gene Frank si pinky boy maning (heee masa aku yang pink itu punyanya Frank si pinky boy lagi)," tukas si Budi langsung sambil memberitahu pemilik asli baju tersebut.
"Haa ge mu Frank, lah apa langka warna sing liya selain pink apa (haa punya mu Frank, lah apa gak ada warna yang lain selain pink apa)?" Mereka berdua langsung terkejut ketika tahu yang sebenarnya.
"Langka sin pink pokoke favorit ku, apa meneh miki Mba-mba toko ne bilang nek aku aku kiyowo (gak ada sin pokoknya pink favorit ku, apa lagi tadi Mba-mba tokonya bilang kalau aku lucu)," jawab si Frank sambil cengar-cengir.
"Allahuakbar Frank," mereka berdua langsung menepuk jidatnya seketika.
Kami berlima pun tertawa bersama, tawa kami pecah sampai jadi pusat perhatian orang-orang. Karena kami merasa malu di lihatin kami pun memutuskan pergi ke bus kembali. Tapi sebelum itu kami pergi ke masjid dulu untuk melaksanakan sholat isya bersama.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Disisi lain Bang Kris dan mba Lili sedang menikmati waktu berdua. Mereka memang belum jadian resmi dan hanya berteman dekat saja. Tapi sebenarnya mba Lili menaruh hati pada bang Kris begitu juga sebaliknya. Mereka berdua kini sedang berada di toko boneka. Tiba-tiba saja Bang Kris menawarkan boneka kepada Mba Lili.
"Li boneka itu lucu, ko pengen ora (kamu mau tidak)," tawarnya pada Mba Lili.
"Ha yang mana Kris?" tanyanya pura-pura tak tahu.
__ADS_1
"Itu yang di pojokan terlihat mirip dengan mu," tunjuk Bang Kris ke arah boneka yang dimaksudnya.
"Sontak Mba Lili terkejut dan menepuk pundak Bang Kris, "Kris masa aku disamakan sama monyet sih," ucapnya kesal.
"He jangan salah lihat monyet itu lucu kaya dirimu," godanya.
"Ah bisa aja kamu Kris," ucap Mba Lili sambil mesem-mesem senang.
"Mau apa gak mumpung aku baik nih tak di beliin," tawarnya lagi.
"Weh ya sudah lah aku mau tak apa lah," katanya bersemangat.
"Lucu katanya hihi," gumam lirih mba Lili sambil tertawa kecil.
Bang Kris pun meminta kasir untuk mengambil boneka monyet tersebut. Setelah beres semuanya bang Kris langsung memberikannya ke Mba Lili
"Yah ketek (monyet) mu Li." Bang Kris lalu memberikan bonekanya pada Mba Lili.
"Hihi iya ya Kris di lihat-lihat kie (ini) mirip aku," katanya sambil memandangi boneka tersebut.
"Ha-ha ngaku deneng (ha-ha ngaku rupanya)," ucap Bang Kris sambil tertawa.
"Hee wis jam semene hayu balik meng bis, oh iya sedurung kuwe sholat sit (hee sudah jam segini ayo kembali ke bus, oh iya sebelum itu sholat dulu)," celetuknya setelah melihat jam tangannya. Lalu dirinya mengajak Mba Lili untuk sholat terlebih dahulu.
"Iya hayu Kris," ucap Mba lili setuju.
Mereka berdua lalu pergi menuju masjid untuk melaksanakan salat isya. Setelah itu mereka pergi kembali menuju Bus. Kami semua kini telah berkumpul kembali. Semua orang memiliki tentengan belanjaan nya masing-masing. Belum puas dengan itu, kami pun pergi ke pusat makanan khas. Disana berjejer makanan khas dari daerah bandung, ada peyem, berbagai macam dodol pun ada dan masih banyak lagi.
"Bud kowe arep tuku apa (Bud kamu mau beli apa)?" ujar ku padanya.
"Kowe lam pengen tuku olah oleh apa (kamu Lam mau beli oleh-oleh apa)?" si Budi malah bertanya balik padaku.
"Peyem bae kuwe enak (peyem saja itu enak)," saut Frank memberikan saran.
"Kaya tape dulure (saudaranya) ya," ujar ku
"Hee cepat jika kalian ingin beli jangan lama-lama," panggil bang Kris tiba-tiba dari ambang pintu bus.
"Iya Bang bentar," jawabku.
"Aku beli dodol saja Lam," kata si Sinta.
"Sama aku juga." Clara pun sama seperti Sinta.
"Wis lah aku mandan penasaran karo sing jenenge peyem, aku tuku kuwe wae (sudah lah aku cukup penasaran sama yang namanya peyem, aku beli ini saja)," ujarku lalu menunjuk peyem untuk di ambil oleh si penjual dan memberikannya padaku. Aku pun tak lupa untuk membayarnya.
Akhirnya kami selesai membeli makannya juga. Aku dan Budi sama-sama penasaran dengan peyem. Makanan itu terlihat mirip tape namun berbeda. Maka dari itu kami berdua membelinya. Sedangkan Frank, Sinta dan Clara mereka bertiga memutuskan membeli beraneka jenis dodol. Ada yang alasnya menggunakan kelaras jagung, ada juga yang menggunakan kertas untuk pembungkusnya. Dodol bervariasi warna juga tak lupa mereka membelinya. Kelaras (daun jagung yang sudah kering).
Kini kami semua sudah berada di bus kembali. Kang man kembali melajukan bus-nya kembali meninggalkan Cibaduyut. Didalam bis kami sesekali memakan cemilan agar tak bosan. Aroma peyem yang khas memenuhi ruangan bus. Awalnya kami penasaran akan bau yang menyengat itu. Sampai akhirnya aku ingat kalau itu bau dari oleh-oleh ku sendiri dan Budi.
"Wesh wesh bau apa kiye gawe puyeng ijig-ijig (wesh wesh bau apa ini bikin puyeng tiba-tiba)," ujar si Frank sambil mendengus ke area sekitar bus.
"Iya mambu (bau) apa ya"? ujar si Clara yang merasakan baunya juga.
"Mambu ne kaya tape (baunya seperti tape)," kata si Sinta.
"Aa.... mambu peyem iki (aa.... bau peyem ini)," celetuk ku setelah mengingat kalau aku membelinya tadi.
"Hoalah peyem mu ya karo (sama) Budi," kata si Frank sambil tutup hidung.
"Iya Frank hehe," balas ku sambil cengengesan.
"Mambu ne bikin puyeng lam, aku tak turu wae lah mumet mambu tuh peyem (baunya bikin puyeng Lam, aku mau tidur saja lah pusing bau tuh peyem)," kata si Frank lalu pamit tidur duluan.
"Lah sih ya wis ngonoh turu, tangi tali wis gutul (lah sih ya sudah sana tidur, bangun gak kerasa sudah sampai)," ucapku padanya. Sementara pemilik bau satunya sudah tertidur pulas di sebelah ku. Siapa lagi kalau bukan si Budi.
__ADS_1
Setelah Frank izin tidur duluan, tak kerasa kami semua pun juga ikut tertidur. Aroma peyem dibiarkan menjadi pengharum ruangan di bus ini. Selamat tinggal kota Bandung dan selamat datang Purwokerto.
Bersambung...🛵🛵🛵🛵