
Setelah sampah di timbang dan di kumpulkan, kini tinggal tahap terakhir yaitu pengepulan. Sampah yang sudah disetorkan dan di timbang tinggal di jual ke pengepul. Sebenarnya ini adalah tugas Frank tapi karena penasaran kami semua ikut pergi ke pengepul sampah. Sampah-sampah ini akan di olah menjadi barang yang berguna bagi kita oleh si pengepul sendiri.
Namanya adalah pak Solehun, ia adalah seorang pengepul sampah plus pembuat sampah daur ular. Saat kami semua sampai, kami di takjub kan oleh benda-benda yang sangat cantik nan indah. Tak disangka semua itu adalah berasal dari sampah yang kita buang. Aku pun dan lainnya meminta langsung untuk diajarkan cara membuat kerajinan-kerajinan cantik ini kepada pak Solehun.
"Bapak kie kabeh (ini semua) Bapak yang buat?" tanyaku yang terkesan dengan hasil karyanya.
"Iya Den, dibantu anak bojo juga lan (dan) tangga lain e," jawabnya.
"Wih apik apik, aku karo kancaku (sama temanku) pengin coba buat boleh?," pintaku pada Pak Solehun.
"Boleh silahkan Den," ucapnya mengizinkan.
"Bapak ajarin mbok (kan)," pinta Budi padanya.
"Iya Den," jawabnya mengangguk.
"Mari tak antar ke tempat pembuatan," Pak solehun mengajak kami semua pergi ke pabriknya.
Disana ternyata bukan hanya pak solehun seorang tapi ada banyak orang lain yang membantu membuat kerajinan daur ulang tersebut. Banyak benda yang bisa dibuat dari sampah daur ulang, seperti tas; celengan; vas bunga; jam dinding; wadah gelas; dan masih banyak lagi. Barang-barang tersebut jika sudah jadi akan langsung menuju nilai pasar yang tinggi. Semua barang ini akan dijual di pasar terdekat. Jadi kita yang buat kita juga yang jual.
"Silahkan Mba mas e mau pilih gawe sing ngendi?(buat yang mana?)," ucap Pak Solehun mempersilahkan kami untuk memilih.
"Aku pengin jajal gawe tas kang bungkus kopi boleh pak kayong asyik, (aku pengin coba buat tas dari bungkus kopi boleh pak kelihatannya seru)," ucap si Clara unjuk diri.
"Ya boleh neng silahkan," katanya mempersilahkan.
"Mba juga pengin," ucap Mba Lili ikutan.
"Begitu juga aku Kaka," timpal Mba Betti juga.
"Kalau begitu sisanya terserah kalian ya," kata Bang Kris memberi tahu.
"Siap Bang Kris," ucap ku setuju.
Karena memilih sendiri aku tertarik dengan botol bekas yang di jadikan lampu hias yang sangat cantik nan indah, tak terlihat jika itu aslinya adalah botol bekas yang dihias. Budi dan Frank juga ikut memilih seperti ku.
"Bu, niku asale dari bekas botol kie Bu?(Bu itu asalnya dari bekas botol ini Bu?)," tanyaku padanya.
"Iya Mas," jawabnya mengangguk.
"Apik banget ora ketok nek itu asale sekang botol ini, (bagus banget gak kelihatan kalau itu asalnya dari botol ini)," ucapku kagum sambil memegangi botol bekas galon didepan ku.
"Bisa mbok ora ke duga, (bisa kan gak disangka)," kata Ibunya senang.
"Iya Bu kreatif Ibu e," ucapku.
"Pengin jajal bikin angsal mboten?(mau coba buat boleh tidak)," pinta Budi padanya.
"Yo angsal, mari jagong (ya boleh, mari duduk)," ucapnya mengizinkan.
"Eh Ibu nami ne sinten nggih? (eh ibu namanya siapa ya?)," tanyaku yang lupa menanyakan namanya.
"Bu Darti, bojone (istrinya) pak Solehun, mas-mas," jawabnya.
"Oh bojone toh (istrinya ternyata), salam Bu Darti kula (aku) Alam, niki (ini) Budi, lan niki (dan ini) Frank Bu," ucapku sedikit terkejut lalu aku memperkenalkan diri ku beserta kedua temanku.
"Alam, Budi , Frank, nggih nggih (ya ya)," ucapnya sambil menyebut nama kami satu-persatu agar tak lupa.
Aku, Budi dan Frank duduk dilantai. Dengan arahan dari Bu Darti kamu bertiga memulai membuat lampu cantik-cantik dari bekas botol tersebut. Tapi sebelum itu Budi meminta bang Doel untuk merekamnya menggunakan hp ku.
"Bang... Bang Doel tulung (tolong) bantu rekam ya," pinta Budi padanya.
"Siap Bud," jawabnya.
"Ini Bang makasih," aku memberikan handphone ku padanya.
Yuk ikut bikin, ikuti langkah yang kami bertiga lakukan ya. Bahan utama dari pembuatan ini, adalah sendok makan plastik bekas yang banyak; kater atau silet; botol plastik besar; lem tembak; lampu; serta cat untuk pengecatan. Jika sudah ada semua, yuk mulai bikin.
"Kie bahan semua ne wis lengkap (ini bahan semuanya dah lengkap), yuh meluni (ikuti) arahan ku ya," ujarnya.
"Ibu pake bahasa Indonesia aja ya, kon lewih ngerti (agar mudah dimengerti)," usulnya.
"Siap Bu Darti, soale mengko pada ra bisa ngetutna (siap Bu Darti, soalnya nanti pada gak bisa ngikutin)," jawabku setuju.
Kami bertiga pun mulai mengikuti langkah setiap langkah yang diajarkan oleh Bu Darti pada kami. Sementara bang Doel sudah sedari tadi merekam kami. Berikut adalah langkah-langkah membuatnya ya. Yuk mulai kan!
"Langkah awal patahkan gagang sendok," suruh Bu Darti pada kami dan permisa.
"Potesi diarah endase ya Bu? (di potong di ambil kepalanya yah Bu?)," tanya Frank memastikan.
"Iya Frank, jawabnya.
"Pake gunting Frank kon penak (agar mudah)," tawarku padanya.
"Pake tangan ra (gak) papa kan?" usulnya bertanya.
"Seterah pake tangan apa gunting ya anu pada wae," jawab Bu Darti.
"Iya Bu". Kami bertiga mematahkan sendok plastik satu-persatu. Dengan kerja sama yang baik sendok akhirnya selesai di patahkan semua.
"Terus wis di tugeli tinggal apa Bu? (terus dah di potong-potong tinggal apa Bu?)," tanya si Budi.
"Sekarang tinggal potong botol sesuai keinginan kalian," jawabnya. Ini adalah langkah kedua ya.
"Lah kaya Ibu wae lah (lah seperti ibu aja lah)," usul si Budi karena melihat Bu Darti yang sedang memotong botol plastiknya.
"Seterah Bud," ucap ku. Bu Darti hanya tersenyum melihatku. Aku juga mengikuti Bu Darti karena terlihat lebih mudah.
"Setelah ini apa Bu?" tanyaku.
"Sekarang tinggal susun ujung sendok," jawabnya. Ini adalah langkah ke tiga ya.
"Dah di potong tinggal susun bagian ujung sendok sesuai dengan gambar dan jangan lupa di lem," jelasnya
"Yah lem e siji edang ya (ini lemnya satu-satu ya)," Bu Darti memberikan lem tembak kepada kami satu-persatu. Disitu sudah ada stopkontak untuk mencolokkan nya.
"Siap Bu, makasih," ucapku.
Kami bertiga pun mengelem sendok-sendok tadi ke botol yang telah dipotong barusan oleh kami.
"Wis rampung? (dah selesai?)," tanya Bu Darti memastikan.
"Sudah Bu," ucapku.
"Dah Bu," ucap Frank dan Budi juga.
"Nah sekarang tinggal masukkan lampu melalu lubang yang ada, seperti ini," ucapnya sambil memberikan contoh pada kami. Ini adalah langkah ke empat.
"Lubang dhuwur (atas) galon ya," tambahnya mengingatkan.
"Iya Bu kaya kie (gini)," ucapku menunjukkan hasil pekerjaanku.
Bu Darti mengangguk tanda pekerjaanku benar.
"Nah dah di pasang semua, lampu sekarang sudah jadi, "ucapnya mengakhiri pekerjaannya.
"dah Bu penak (mudah) ya," ucapku sambil menunjukan hasil ku.
"Nah tahap terakhir cat dan hias sekresi kalian ya," suruhnya. Terakhir adalah pengecatan. Kami bertiga menurut dan mengambil kuas dan cat untuk memulai mengecat.
"Iya Bu," jawabku.
"Hayu mulai di cat kon mlisning ra ketok kaya barang bekas (ayo mulai di cat supaya cantik gak kelihatan seperti barang bekas)," ajak ku pada Budi dan Frank.
"Iya Lam," jawab mereka berdua semangat
Nah kalau kalian kurang jelas di bawah ini adalah gambar langkah-langkahnya:
"Wis dadi Lam (dah jadi Lam)," lapor Budi dan Frank dengan ekspresi senang.
"Iya aku be wis (iya aku juga udah)," ucapku.
"Bisa toh kalian?", tanya Bu Darti pada kami.
"Iya Bu gampang (mudah) ternyata," jawabku.
"Yah lam hp nya," Bang Doel memberikan hpku setelah selesai merekam kami semua.
"Makasih Bang Doel, maaf jadi ngerepotin," ucapku.
__ADS_1
"Gak papa, dah Abang pergi dulu ke Kris," katanya lalu pamit pergi.
"Iya Kak," jawabku.
Sekarang kami sudah bisa belajar membuat yang lain juga sendiri. Ada kain yang dijadikan keset hasil buatan si Sinta dan Clara. Ada tas dari bungkus kopi buatan mba Lili dan mba Betti. boneka dari sarung tangan rajutan bang Opik. Jam unik dari tutup botol buatan bang Kris dan bang Betrus. Dan terakhir lampu hias dari botol dan sendok plastik buatan ku, Budi, dan Frank. Setelah selesai semua barang-barang ini akan di jual di Pasar Cikebrok, Purwokerto. Pak solehun sudah memiliki lapak disana. Kami pun turut ikut menjual barang-barang hasil kerajinan yang kami buat sendiri.
Hayu saiki gari di dol mumpung pasar durung tutup masih jam 10. 00 masih ada waktu,(ayo sekarang tinggal di jual mumpung pasar belum tutup, masih jam 10.00 masih ada waktu)," ujar Pak Solehun.
"Iya Pak Solehun," jawabku.
Aku dan lainnya mengangkut barang-barang yang siap jual ke truk. Kami pun pergi bersama ke sana.
...π·πΉπ·πΉπ·πΉ...
Di Pasar Cikebrok, Purwokerto.
Pasar Cikebrok adalah pasar tradisional yang terletak di Jl. Kolonel Sugiri Cikebrok, Brubahan, Kranji, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kami semua akan menjual hasil karya kami disini. Kami semua pun menuju lapak milik pak Solehun untuk berjualan. Sekarang kami siap untuk berjualan. Tapi saat sedang berteriak untuk mengalihkan pengunjung yang lewat, seorang pedagang yang lapaknya tepat di depan kami, mengejek hasil karya kami dan pak solehun dengan seenaknya.
"AYO AYO DI BELI DI BELI KERAJINAN TANGAN ASLI GAWEAN PAK SOLEHUN KARO BOCAH UKM PENCINTA ALAM. HAYO HAYO PADA MAMPIR DI PILIH DI LIHAT DI BELI," teriakku menggunakan toak.
"Heh Solehun mungut bocah ngendi ko? esih wani bae dodol barang sampah kaya kuwe.(heh Solehun mungut anak dimana kamu? Masih berani aja jual barang sampah seperti itu)." Seseorang tiba-tiba saja menjulidi Pak Solehun. Ia adalah saingan pak solehun di pasar. Pedang itu juga menjual berbagai macam aksesoris bermerek dan berkualitas beda halnya dengan kami.
Aku merasa tak terima masa barang apik nan cantik ini dikatain. Aku pun dengan berani meladeninya.
"Eh Bapake aja salah iki barang udu sembarang barang, gawean tangan asli kiye,(eh Bapake jangan salah ini barang bukan sembarang barang, buatan tangan asli ini)," jelasku.
"Lah kiye lah mbe apik tas asli sekang kulit ula,(lah ini baru bagus, tas asli dari kulit ular)," balasnya.
"Dah biarkan jangan di ladeni jual aja," ucap Bang Kris menghentikan ku.
"Iya Bang Kris," ucapku menurut.
"Bapak ora kesuh (gak marah)?" tanya si Budi pada Pak Solehun.
"Ngapa kesuh Mas Budi biarin aja nanti juga Pak Kardi kesel dewek (capek sendiri)," jawabnya.
"Ok lah. Good Pak Solehun," ucapnya memberikan tanda jempol padanya.
Lalu Budi dengan di temani Frank pergi menarik pengunjung untuk datang dan melihat ke dagangan kami.
"Bu Bu hayu kesana deleng deleng sit mbok ana sing minat, (Bu Bu ayo kesana lihat lihat dulu siapa tau mau)," pinta Frank padanya. Dirinya telah mencegat seorang pengunjung dan memintanya untuk mengikutinya.
Ibu yang di cegat si Frank pun menurut dan pergi menuju ke lapak Pak Solehun.
"Dodol apa bae kie (jual apa saja ini)?" tanyanya pada kami setelah sampai di lapak kami.
"Bisa di lihat Bu ada tas cantik dari bungkus kopi, ada lampu, ana jam, akeh Bu gari (tinggal) milih," ucapku menyebutkan satu-persatu barang jualan kami.
"Lah ora Mas," tolaknya setelah melihat-lihat barang kami. Mungkin dipikirannya barang milik kami tak berkualitas tinggi dan mudah rusak.
"Bu ibu kiye bae dompet asli sekang bahan kulit, dijamin tahan air," tawar Pak Kardi padanya.
"Aku ke depan wae mas," ucapnya lalu pergi.
"Lah lah bu e aja pergi," ucapku merasa kecewa.
Ibu itu pada akhirnya tak membeli dan memilih ke lapak depan kami milik pak Kardi. pak Kardi ini adalah saingan Pak Solehun di pasar. Dirinya selalu menarik pelanggan milik pak solehun. Padahal tadinya pelanggan yang sudah singgah dan siap membeli jadi mengurungkan niatnya karena iming-iming an yang menggiurkan dari Pak Kardi.
"Kiye bae (Ini saja) Bu apik awet tahan air juga," Pak Kardi dengan bangganya memperkenalkan barang dagangannya.
"Pira kie (berapa ini)?" tanya Ibunya.
"100.000," jawabnya.
"Emong lah larang, (gak ah mahal)," tolaknya langsung.
"Sing 30. 000 ana (yang 30.000 ada)?" tanyanya lagi.
"Ya langka kiye bae apik kur 100. 000 be,(ya gak ada ini saja bagus cuma 100.000 kok)," tukasnya sambil membujuk.
"Ya wis (dah) lah nyah," dengan terpaksa ibu itu akhirnya membeli barang yang di tawarkan pak Kardi padanya.
"Suwun Ibu e," ucapnya senang sambil memamerkan uangnya pada kami.
Aku melihat kearahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ku melihat tingkah songong nya. Saat aku sedang melihati pak Kadir, seorang Ibu-ibu menanyakan keset kain padaku.
"Mas keset kain kiye pira regane?(mas keset kain ini berapa harganya?)," tanya seorang ibu-ibu mengagetkanku.
"Masa mas ra (gak) salah, kiye bahan e apik kur (ini bahannya bagus cuma 20.000)," ucapnya tak percaya.
"Iya Bu, ini dibuat dari tangan sendiri," jelasku.
"Bu Bu, gawean ne (buatannya) pak Solehun asli," tutur Frank padanya.
"Iya..?? Wis lah aku tuku (dah lah aku beli)," ucapnya terkejut dan akhirnya mau membelinya.
"Yah duit e (yah uangnya)," Ibu itu lalu memberikan uangnya pada kami.
"Suwun Ibu e," ucapku.
"Alhamdulillah," ucapku bersyukur.
Pak solehun senamun sedang di lapak tapi dirinya masih membuat kerajinan yang simpel lainnya seperti bunga kertas yang akan di taruh di vas bunga yang berasal dari barang bekas juga. Sedangkan kami terus berteriak dan menarik pelanggan untuk datang membeli. sangat disayangkan lapak pak solehun tak seramai lapak pak Kardi. Tapi pak solehun diam aja karena katanya rejeki susah ada yang ngatur.
Karena hari mulai siang, setengah anggota dari kami izin kembali terlebih dahulu termasuk bang Kris dan mba Lili. kini anggota kami hanya menyisakan 6 orang saja yakni aku, Budi, Frank, Sinta, Clara dan bang Opik. Sisa lainnya pergi ke kampus kembali karena ada urusan yang harus diselesaikan.
...πΊπ·πΊπ·πΊπ·...
Tiba-tiba semua orang pada rame bersorak bahkan berlari, para pedagang lain pun sangat terkejut, ada apa ini?. Terdengar seseorang memanggil nama pak presiden. Masa iya Pak presiden muncul tiba-tiba di sini.
"PAK JOKOWIIII," teriak beberapa orang memanggil nama Pak presiden.
"Bud ada apa ya rame temen (banget)?" tanyaku bingung
"Tak tau," jawabnya yang sama-sama bingung juga.
Si Frank yang tadi pergi untuk menarik pelanggan langsung balik dengan tergesa-gesa."Pak-pak presiden," katanya terbata-bata memberi tahu ku.
Dirinya terkejut karena melihat pak presiden bersama istrinya masuk ke pasar.
Ceritanya Pak Jokowi dan Ibu Iriana sedang ada pertemuan di gor satria Purwokerto. Saat mau pulang, mereka berdua singgah dulu ke Pasar Cikebrok untuk membeli oleh-oleh.
"Halah lombo ya ko (halah bohong ya kamu)," kata si Budi tak percaya.
"Temenan (beneran) Bud," ucap si Frank yakin sambil memberikan tanda suer.
Aku yang tak percaya memilih untuk berteriak lagi dan menghiraukan infomasi dari si Frank.
"HAYO HAYO BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, MAS-MAS, MBA-MBA PADA MAMPIR KE LAPAK PAK SOLEHUN, ANA BARANG UNIK DARI BAHAN DAUR ULANG. GAWE NE SEKANG SAMPAH TAPI ORA KAYA SAMPAH. APIK, ORA KALAH KARO BARANG BERMEREK, MARI MARi," teriakku kembali dengan lantang.
"ANA TAS, ANA JAM, ANA DOLANAN BOCAH HAYO DI TUKU DI TUKU MURAH MERIAH," teriak si Sinta juga.
Sementara Budi juga memilih untuk mundur ke belakang untuk melihat Pak solehun yang sedang merangkai sebuah robot mini dari bekas onderdil motor.
"Pak Bapak lagi bikin apa serius temen (banget)?, Ning luar jere ana pak Jokowi (diluar katanya ada pak Jokowi)," tanyanya sambil memberi tahu.
"Bud Pak Jokowi ngapa tilik meng ngeneh, (Bud, pak Jokowi ngapa mampir ke sini)," ucapnya tak percaya. Bapak lagi gawe robot kan onderdil bekas, jawabnya.
"Kuwe ngeneh, tulung ambil na mur ning ngisor mu,(itu sini in, tolong ambilkan mur di bawah mu)," suruhnya sambil menunjuk ke arah kaki Budi.
"Yah Pak", Budi lalu memberikan mur yang berada tepat dibawahnya padanya.
Pak Solehun lalu memasangkan mur nya ke bagian salah satu robot rancangannya.
"Bang Opik ya ngapa kayong sibuk dewek ra melu balik kaya liyane? (bang Opik ya ngga kelihatan sibuk sendiri gak ikut pulang kaya lainnya?)," tanyanya lagi beralih ke seniornya.
"Be be be sampeyan tanya aku lagi apa taye, aku lagi buat mobil-mobilan sama kapal-kapalan taye," jawabnya sambil terus mengotak-atik pekerjaannya.
"Oh kaya kuwe (begitu) Bang, apa boleh sih?" ucapnya bertanya kembali.
"Be be taye ya tentu boleh pak solehun dah ngizinin taye," jawabnya lagi.
"Aku iki kemutan pas cilik dadi pengin buat taye, (aku ini ingat waktu kecil jadi pengin buat)," tambahnya.
"Lanjutkan Bang, apik karya ne," suruhnya sambil memuji.
"Ya tentu," jawabnya siap.
Sementara di sisi lain Pak Jokowi dan ibu Iriana sedang bingung ingin membeli oleh-oleh apa untuk di bawa pulang. Beliau dan istrinya berhenti di lapak Pak Kardi.
"Pak, Ibu beli oleh-oleh apa ya?" tanya Bu Iriana yang masih bingung pada sang suami.
__ADS_1
"Seterah Ibu, Bapak nurut saja," jawabnya.
"Pak Jokowi sini saja ada tas dari kulit ula asli," tawar Pak Kardi seketika dari dalam lapaknya.
Bu Irian melihat ke arah Pak Kardi yang sedang menunjukkan barang dagangannya.
"Ibu mau ke sana?," tawarnya pada sang Istri.
"Enggak lah Pak, tas kaya itu dah banyak," jawabnya menolak.
Sementara di Lapak Daur Ulang. Ya itu adalah nama lapak pak Solehun.
"HAYO HAYO DI BELI AJA SUNGKAN-SUNGKAN BARANG APIK BAHAN DAUR ULANG," aku masih berteriak terus sampai ada pelanggan yang singgah.
"ASALE SEKANG SAMPAH TAPI RA KAYA SAMPAH APIK, MEWAH ORA KALAH KARO BARANG BERMEREK," si Sinta juga berteriak menyauti.
"Pak kesana saja aku penasaran," ujar Bu Iriana.
"Ya hayu," ajaknya setuju.
"Maaf Pak," ucap pak Jokowi menundukkan kepalanya ke arah Pak Kardi lalu berjalan sedikit sampai ke lapak kami.
Saat aku ingin berteriak kembali, aku langsung berhenti karena terkejut.
"DI BE...," ucapku terhenti dan langsung memanggil namanya secara spontan.
"PAK JOKOWI," teriakku kencang dengan masih menggunakan speaker. Aku pun langsung tersadar dan segera mematikan speakernya.
"Maaf maaf Pak," ucapku.
"Halah Pak Jokowi sama Bu Iriana aku kaget," ucapku lagi.
"P-Pak boleh salim," pinta si Frank gugup padanya.
Pak Jokowi mengangguk sementara Bu Iriana hanya tersenyum. Aku, dan teman ku yang ada di sana langsung bersalaman dengan beliau dan istrinya.
"Kaya mimpi aku," ucap siFrank masih tak percaya.
"Iya Frank senenge," ucap si Clara merasa senang juga.
"Mas-Mas jualan barang daur ulang?" tanya Ibu Iriana pada kami.
"Iya Bu Iriana," jawabku mewakili teman-teman.
"Kalau boleh tau yang bikin siapa ya?" tanya Pak Jokowi seketika.
"Itu Pak di belakang orangnya," jawabku sambil menunjuk ke arah Pak Solehun yang sedang serius membuat robotnya.
"Pak Solehun ada Pak Jokowi," ucap si Budi memberi tahu.
"Apa iya ana," gumamnya masih belum percaya dan terus menunduk kebawah mengotak-atik robot buatannya.
"Lihat disit Pak," suruh si Budi padanya.
Pak Solehun seketika langsung terbengong sebentar lalu beranjak menghampiri.
"Pak-Pak Jokowi I-bu Iriana ada apa ya?" tanyanya dengan gugup.
"Bapak yang buat ini Pak?" tanya Bu Iriana lagi.
"Iya Bu Iriana," jawabnya sambil tersenyum.
"Gini Pak, istri saya tertarik dengan hasil karya bapak kami berniat ingin membeli Semuanya untuk di bawa pulang," jelas Pak Jokowi padanya.
"Se-semuanya," ucap Pak Solehun terkejut.
Kami semua terkejut dan senang karena mendengar hal itu. Pak Jokowi dan istrinya tak tanggung-tanggung membeli semua barang dagangan Pak Solehun tanpa tersisa.
"Aku gak salah denger Pak Jokowi?" tanyanya memastikan.
"Iya Pak, kami berdua sangat tertarik dengan hasil karya Bapak apalagi lampu di sana dan tas itu," jawabnya sambil menunjuk kedua barang itu dibelakang.
"Oh itu bukan punya saya Pak, itu di buat oleh Mas-Mas dan Mba-Mba ini," tukasnya dengan lancar.
"Kalau robot dan mainan disana siapa yang bikin?" tanya Bu Iriana sambil melirik ke arah robot dan mainan di dalam.
"Pak Solehun Bu," jawab ku mewakilinya.
"Bapak yang bikin?" tanya Bu Iriana memastikan.
"Iya Bu, kalau robot tapi belum selesai tinggal sedikit lagi," jawabnya.
"Kalau yang satunya?" tanya Pak Jokowi penasaran.
"Saya taye," jawab Bang Opik yang sudah berdiri di belakang pak solehun.
"Kita berdua mau juga tolong dikemas ya Mas Mba," katanya lalu meminta kami untuk mengepaknya juga.
"Siap Bu Iriana," jawab si Sinta semangat dan senang.
Kami semua langsung mengepak semua barang dagangan Pak Solehun ke tas belanja yang telah kami siapkan juga dari bahan daur ulang. Termasuk mobil-mobilan dan kapal-kapalan milik Bang Opik juga ikut dikemas ke dalamnya.
"Ini Bu semuanya jadi...?" ucap si Sinta terhenti karena tak tau harga semuanya.
"Pira Lam?" tanyanya.
Aku menghitung harga semua barang menggunakan kalkulator.
"1.000.000 Sin," jawabku memberitahu.
"Semuanya satu juta Bu," ucap si Sinta mengulang jawaban ku untuk memberitahunya.
"Ini makasih ya," Bu Iriana tersenyum sambil menerima bungkusan oleh-olehnya dari si Sinta.
Pak Jokowi sedang ada didalam menunggu Pak Solehun yang sedang menyelesaikan robot rangkaiannya. Setelah 15 menit menunggu, Pak Solehun akhirnya menyelesaikan robot rangkaiannya.
"Ini Pak dah jadi," ucap pak solehun memberitahu.
"Harganya berapa Pak?" tanya Pak Jokowi padanya.
Berapa ya Pak Jokowi, aku belum memikirkannya," jawabnya masih bingung memikirkan harga yang pas untuk karyanya.
"Gimana dengan 1.000.000?", tawarnya sambil bertanya.
"Jangan Pak kemahalan aku moh," karena terkejut Pak Solehun dengan cepat menolaknya.
"Ini untuk bonus buat Bapak, karya Bapak ini bernilai luar biasa. Jadi terima saja ya Pak," jelasnya sambil membujuk Pak Solehun.
"Baiklah Pak, kalau begitu terimakasih banyak". Akhirnya pak Solehun menerima tawarannya. Dirinya langsung memberikan robotnya pada Pak Jokowi.
"Sama-sama Pak," ucapnya.
"Semoga cucunya senang ya," harap Pak Solehun pada Beliau.
"Amin," jawabnya.
"Pak Jokowi aku boleh minta foto buat kenang-kenangan," pinta si Budi seketika
"Boleh dong hayo foto disini apa didepan toko," ucap Bu Iriana setuju sambil mengajak kami semua.
"Dimana aja Bu Iriana," ujarku.
Kami semua pun foto bersama Pak Jokowi dan Ibu Iriana di depan lapak Pak Solehun. Karena tak ada yang bisa memotret kami, Bu Iriana pun memanggil seseorang. Dan orang yang dipanggil ternyata adalah Pak Kardi. Dirinya dengan hati terpaksa menurut padanya untuk memotret kami.
Kami semua sekarang siap di foto mengikuti aba-aba Pak Kardi yang tampak tak ikhlas dan iri kepada kami.
"Satu dua tiga siap.....cekrek," suruhnya agak tak bersemangat sambil menekan tombol kameranya.
"Maning (lagi) Pak Kardi yang ikhlas," pinta si Budi padanya.
"Hufh.., Pak Kardi menarik nafas panjang. Sudah..?" tanyanya pada kami.
"Dah Pak Kardi," jawab kami semua.
"Satu dua... cheese," ucap kami serentak.
"Cekrek," Pak Kardi menekan tombol kamera nya.
Setelah selesai berfoto, Pak Jokowi dan ibu Iriana pulang dengan membawa oleh-oleh penuh yang di beli dari Pak Solehun. Kami sambil melambaikan tangan kepada beliau merasa senang dan lega. Pak Solehun apa lagi dirinya sampai hampir menangis melihat dagangannya di borong oleh orang terhormat. Sementara Pak Kardi hanya bisa gigit jari merasakan iri melihat kami semua.
Bersambung.....πΌπΌπΌ
__ADS_1