BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 28 "Prank Ala Frank dan Apesnya Geng Badrol"


__ADS_3

Tengah malam seluruh peserta camping dimintai bangun dan berkumpul di halaman depan tenda. Aku dan teman-teman keluar tenda dengan keadaan masih setengah sadar. Budi bahkan mengeluh padaku.


"Lam ngantuk aku, arep ana apa sih (Lam ngantuk aku, mau ada apa sih)?" tanyanya sambil mengeluh.


"Mbuh tapi roman-romane arep ana misi tantangan wengi (entahlah tapi roman-romanya mau ada misi tantangan malam)," jawabku menduga.


"Maksud mu kaya jurik malam gitu," tebak si Sinta.


"Ya dean aku juga ra ngerti (iya mungkin aku juga gak tau)," jawabku sambil mengangkat bahu


"Para hadirin peserta Camping yang kami hormati. Maaf karena telah membangunkan kalian. Kalian dikumpulkan disini karena akan ada misi penjelajah. Misi itu adalah kalian harus menemukan bendera tersembunyi. Ini untuk menguji kekompakan kalian dalam tim. Anggota tercepat akan mendapatkan hadiah spesial dari kami," jelas salah satu panitia acara.


Kami semua sudah ber tim sesuai asal kampusnya. Ditengah malam yang gelap kami semua mulai berjalan menyelusuri hutan. Agar tidak tersesat, setiap tim diberi peta dan alat komunikasi. Tak lupa juga kami semua diharuskan membawa senter untuk penerangan. Suara burung hantu dan lolongan serigala memadai suasana malam yang dingin.


NGUK NGUK AUUUU.... Suara burung hantu dan lolongan serigala ikut hadir dalam gelapnya malam.


"Glegek, Lam makin lama kok makin serem hutan iki," kata si Frank sambil menelan ludahnya.


"Wulu kuduk ku ngadeg kabeh gyeh (bulu kuduk ku berdiri semua ini)," ujarnya.


"Iya ditambah angin semriwing maning gawe bengis (iya ditambah angin semriwing lagi bikin mules)," ujar si Budi.


"Wis ra usah aneh-aneh laku wae waspada juga (dah gak usah aneh-aneh jalan aja, waspada juga)," kataku menghentikan semua pikiran aneh mereka.


Kami berlima terus menelusuri hutan. Gak lama kami menemukan bendera pertama kami di atas pohon Alba. Total bendera yang harus didapat minimal 5 bendera.


Sementara di sisi lain, tampak Badrol and the gang sudah tiba di pintu lokasi tempat camping. Mereka mulai menelusuri hutan. Disaat itu juga si Frank izin untuk buang air kecil. Tak sengaja dirinya melihat Badrol dan kawan-kawannya. Ia pun memiliki ide jahil untuk menakuti mereka.


"Weh bukane kae Badrol karo bala kucrute lagi pada ngapa ana ning kene (Weh bukannya itu Badrol sama teman kucrutnya lagi ngapain ada disini)?" pikir Frank sambil kencing sembari mengamati mereka.


"Bos lokasi kemah dimana lah sebenarnya kok kita malah masuk ke dalam hutan ini?" tanya si Domu mulai lelah ditempat.


"Mana ku tau bukannya kalian berdua tau," jawabnya dengan nada kesal.


"Kami berdua hanya tau nama tempatnya saja tapi tidak dengan lokasinya," jawab si Made.


"Dasar bodoh kalo begitu ngapain kita kemari kurang kerjaan," bentaknya.


DUARR, Frank tiba-tiba saja muncul dengan ekspresi menakutkan dimana senter yang dipegangnya di hadapkan ke muka sambil membentuk ekspresi seram. Tak terduga Badrol and the gang langsung terkejut dan lari kocar-kacir karena ketakutan.


"SET SET SETAN...," teriak Badrol dan lainnya ketakutan.


Mereka bahkan saling bertabrakan. Setelah korban prank nya pergi, Frank tertawa puas karena aksinya berhasil.


"Bwa-ha-ha-ha kena mereka," ucap si Frank tertawa senang.


Namun setelah mengerjai mereka dirinya malah tiba-tiba merasakan merinding diarea belakang lehernya. Dimana ternyata tempat yang dikencingi nya adalah pohon beringin besar.


Sebenarnya kita jangan kencing sembarangan juga ya karena mungkin bisa merusak alam juga. Tapi untuk kasus Frank ini karena kepepet dan tak ada kamar mandi di hutan. Maka dari itu dirinya memilih membuang air kencingnya di bawah pohon.


"HI-HI-HI-HI...," suara tawa tiba-tiba terdengar. Frank pun langsung berlari kembali menyusul ku dan yang lainnya.


Di lokasi tim ku berada, aku sedang berusaha meraih bendera ke 5 yang berada di sebuah pondok yang tampak menyeramkan. Saat aku sedang mengambil bendera tersebut, Frank datang mengejutkan kami semua. Dirinya berlari ketakutan sampai menabrak punggung Clara.


BUKKK


"HUWAAAA...," teriak si Clara kencang. Aku, Budi, dan Sinta ikut terkejut jadinya. Aku bahkan hampir terpleset karena teriakannya.


"Weh ini aku Frank," protes si Frank.


"Ish Frank gawe kaget wae (ish Frank bikin kaget aja)," ucap si Clara kesal sambil memukul pundak Frank.


"Frank ko sekang ngendi (dari mana kamu)?" tanyaku padanya.


"Aku tes pipis malah hiii.... (aku habis kencing malah hiii....)," jawabnya sambil menggetarkan tubuhnya.


"Apa sih?" tanya Budi penasaran dengan tingkah si Frank.


Melihat sekeliling nya, "Udu (bukan) apa-apa," jawabnya sambil nyengir.


"Lam piwe wis (Lam gimana udah)??" tanya Budi memastikan.


"Wis Bud akhire wis olih bendera terakhir (udah Bud akhirnya udah dapet bendera terakhir)," jawabku lega lalu turun.

__ADS_1


"Syukurlah ayo balik tenda," ajak si Frank tiba-tiba.


"Iya iya, ana apa sih aja gawe penasaran lah (iya iya, ada apa sih jangan bikin penasaran lah)?" jawab ku setuju sambil bertanya.


"Lah nek aku cerita mesti bakal melayu kabeh (lah kalau aku cerita mesti bakal lari semua)," jawabnya menduga.


"Ko ketemu Mba Kunti ya," tebak si Sinta langsung.


"Hush malah disebut na," ucapnya sambil menutup mulutnya dengan satu jari.


Tiba-tiba saja angin berhembus kencang kembali. Suasana merinding kembali hadir pada mereka.


"Nah nah kan merinding maning wis lah hayu balik wae," ujar si Frank.


"Iya lah aku be rada merinding," timpal si Budi.


"Ya hayu wis rampung iki (ya ayo udah selesai juga)," ucapku setuju.


Kami berlima akhirnya pergi, sambil berlari meninggalkan lokasi dan pulang kembali menuju tenda. Setelah kami pergi ....


"HI-HI-HI-HI...," tawa Kunti kembali hadir di pojok pondok ternyata. Dia tertawa melihat kami semua lari.


...👻👻👻👻👻👻...


Malam yang menyeramkan telah berganti menjadi pagi yang cerah. Mba Kunti pun sepertinya sudah pulang ke rumahnya. Aku dan yang lainnya keluar dari tenda. Sebelum melakukan aktivitas yang lainnya, kami kembali berkumpul di halaman depan tenda. Kami semua akan melakukan senam pagi bersama di alam terbuka.


"Satu dua tiga...," suara lirih Frank sambil menggerakkan kedua tanganku ke kanan dan ke kiri dengan lemas.


"Loyo temen Frank," ledek ku padanya. "Sing semangat lah," suruhku.


"Aku ra bisa turu (aku gak bisa tidur)," keluhnya.


"Gara-gara Kunti wingi wengi (gara-gara Kunti kemarin malam)," tebak si Budi.


"Iya suara ne menghantui ku," katanya.


"Hyuk," ledek si Clara padanya.


"Wis aja berisik senam sing bener wae (dah jangan berisik senam yang benar saja)," suruhku agar fokus ke senam kembali.


Sementara di sebuah pondok yang kemarin. Badrol dan kawan-kawannya ternyata singgah di sana untuk istirahat. Entah mereka semalaman di hantui juga atau tidak oleh Mba Kunti. Mereka semua bangun dan sepertinya Badrol agak sedikit kesal.


"Asem kita udah nyasar di hutan ketemu setan gak jadi ngerjain orang malah kita yang dikerjain ini namanya," gerutu si Badrol kesal.


"Hayya sabar lah Bos sepertinya kemarin malam itu bukan setan ma," saut si Lang-Lang.


"Terus apa?" Badrol menoleh dan bertanya.


"Hayya oe orang liat mata pasang baik-baik tak itu manusia kaki napak ma (mata kalian pasang baik-baik tidak itu manusia kaki napak lho)," jawabnya menjelaskan.


"Lalu kenapa kamu ikut lari?" tanyanya lagi.


"Hayya ini karena Ling-Ling menarik ku ma aku juga terkejut kalian pada lari ma," jawabnya.


"Ish.... siapa orang itu berani sekali mengerjai ku," pikirnya mulai kesal kembali.


"Sudah lah ayo kita pulang ke basecamp aja ketemu alam dan kawan-kawannya juga enggak. Buang waktu aja," ajak si Badrol pada lainnya.


Dengan hasil yang sia-sia Badrol and the gang memutuskan untuk pulang kembali. Tapi sayang saat di perjalanan mereka malah di hadang oleh seekor babi hutan.


Mereka semua berlari dan akhirnya bisa keluar dari hutan juga dengan selamat.


"Hosh hosh hosh sial sekali udah di kerjain di kejar babi segala," keluh si Badrol kesal sambil ngos-ngosan.


"Udah lah Bos kita pulang aja rasanya aku pengen tepar ini," ujar si Domu.


"Yok lah pulang bener-bener sial," katanya setuju sambil bergumam.


Badrol and the gang pun pergi pulang ke rumah dengan menaiki mobil Badrol yang sudah terparkir dari semalam di pintu hutan. untung mobilnya masih kalo sudah hilang, lengkap sudah apes mereka hehehe.


Kembali ke laptop.


Kini aku bersama teman-teman lainnya dan peserta Camping mulai geladi bersih. Ya setelah senam selesai kami mulai bersih bersih untuk meninggalkan area perkemahan. Tapi sebelum itu kami sudah di beri sarapan yang lezat sebab tim kami ternyata menang dalam misi kemarin malam. Makanan lezat membuat kami berlima semangat. Mulai dari sampah kecil sampai yang berat kami punguti untuk dikumpulkan.

__ADS_1


"Cah aja ngantek ana sisa ya (teman jangan sampai ada sisa ya)," ucapku memberitahu.


"Iya Lam men disawang kepenak juga (iya Lam supaya dilihat enak juga)," saut si Budi


"Yo iya kudu resik kudu jaga alam juga kan kita (ya iya harus bersih harus jaga alam juga kan kita)," timpal si Sinta sambil memunguti sampah didepannya.


"Betul itu sin, deleng pada kompak pisan bersihin area kiye kabehan (lihat pada kompak banget bersihin area ini semua)," ucapku senang sembari membenarkan perkataan Sinta.


"Hooh menunjukkan kalo mereka semua termasuk kita adalah pecinta alam sejati," katanya.


"Eh Bud sampah mu keri ning mburi (eh Bud sampah mu ketinggalan di belakang)," kata Clara memberitahu tiba-tiba. Si Clara sudah memperhatikan si Budi sedari tadi yang tak jauh dari tempatnya.


"Ya salam malah diidek dewek pantes ra weruh (ya salam malah keinjak sendiri pantes gak liat)," ucapnya sambil menepuk jidatnya.


"Wakakay Budi Budi." Aku tertawa melihat ekspresi si Budi yang lucu ini.


"Cek ah," decaknya sambil menunduk mengambil sampah.


"Hemm dasar kowe (kamu) Bud," kata Clara sambil geleng-geleng kepala.


"Wis rampung kabeh cah (dah selesai semua teman)?" tanyaku pada lainnya.


"Wis Lam," jawab mereka.


"Hayu gari pada bongkar tenda sing liyane wis pada (hayu tinggal pada bongkar tenda yang lainnya sudah pada)," ajakku.


"Hayo eh seurung kuwe buang sit sampahe (ayo eh sebelum itu buang dulu sampahnya)," ucap si Budi setuju sambil mengingatkan.


"Oh iya kelalen, yuh lah (oh iya lupa, ayo lah)," celetukku.


Kami berlima dan lainnya setelah membersihkan seluruh area camping tinggal berbenah untuk bersiap pulang ke rumah. Akhirnya acara kemah Bumi Kita berjalan dengan lancar. Ini bukanlah kemah atau camping biasa. selain untuk mengenal alam sekitar, kita juga bisa sharing ilmu tentang alam lainnya lewat berbagai komunitas Pencinta Alam dari kampus lain. Bisa nambah pertemanan satu sama lain.


...🪵🪵🪵🪵🪵🪵...


Di sisi lain rumah Pak Samsudin.


Terlihat Pak Samsudin tengah duduk sendiri sambil termenung. Melihat ke depan dengan tatapan kosong. Dirinya sedang merasakan rindu pada sang anak yang tidak lain adalah Samsul. Sudah beberapa Minggu ini Pak Samsudin tidak mendapatkan kabar dari anaknya.


"Sul kabar kamu disana gimana?"


"Udah lama tak dengar suara mu"


"Huh harusnya ayah tidak menyuruh mu pergi," sesalnya.


"Ayah beneran kesepian,"


"Si Badrol pun jarang tengok,"


Pak Samsudin terus bergumam sendiri sambil menatap langit. Dulu waktu Samsul pergi dirinya biasa saja. Sekarang tak ada kabar mulai lah dirinya merasa rindu. Samsul bagaikan ditelan bumi hilang kabar entah kemana.


Istrinya Maemunah juga belum menghubunginya beberapa Minggu ini. mungkin istrinya masih sibuk dengan kegiatan travelingnya. Pak Samsudin sudah beberapa kali menelpon istri dan anaknya tapi selalu saja telepon berada diluar jangkauan. Susah sinyal kah atau masalah yang lainnya di Singapura. Sebenarnya keberadaan si Samsul di luar negeri baik-baik saja atau tidak ya. Kalian penasaran begitu pula dengan ku.


Sementara aku dan Budi kini telah kembali ke kos-kosan. Bus yang kami tumpangi berhenti. Tanpa sepatah kata Si Budi langsung turun dan berlari pulang. Aku bahkan sampai ditinggal olehnya.


"Jan Bud aja pelayon sing sabar be mudun kiye (duh Bud jangan lari yang sabar baru turun ini)," teriakku memperingatinya.


"Kanca-kanca aku disitan (teman-teman aku duluan)," pamit ku cepat pada yang lain. Setelah itu aku langsung berjalan menyusulnya.


"Dah Alam," balas si Sinta sambil melambaikan tangan.


"BUD AWAS TIBA AJA PELAYON.... (BUD AWAS JATUH JANGAN LARI....)," teriak si Frank meledek.


Budi tak mendengar teriakan si Frank dan memilih tetap berlari. Bus mulai melaju kembali. Aku pun segera menyusul si Budi yang sudah jauh didepan.


"BUD.... enteni (tungguin) ngapa....)? protes ku sambil berteriak.


"Lah Lam kowe lelet aku pengin gagian gutul kiye, kangen kasur (lah Lam kamu lelet aku pengin cepetan sampai ini, kangen kasur)," jawabnya menyauti.


"Lelet lelet nana asal selamat," gumamku lalu berjalan pergi menyusul Budi.


Akhirnya acara kemah Bumi Kita ditutup dengan sempurna. Banyak pengalaman dan pengajaran yang didapat ketika mengikuti kegiatan ini. Ini bisa jadi untuk menambah pengetahuan serta wawasan kita. Dengan camping di alam terbuka, kita jadi lebih dekat dan kenal dengan alam. kalo alam diriku ini sudah kenal kan ya he-he-he.


Bersambung......🧗🧗🧗

__ADS_1


__ADS_2