BUMI KITA

BUMI KITA
Bab 36 "Samsul Ikut Komunitas Pecinta Alam Di Singapura"


__ADS_3

Pagi yang cerah di belahan bumi berbeda. Tepatnya di Universitas Nasional Singapura. Tampak Karsun yang sedang berusaha membujuk Samsul untuk ikut Komunitas Pencinta Alam di kampus tersebut. Tapi mau gimana pun caranya si Samsul tetap saja menolak ajakan temannya itu. Bahkan Karsun rela mengikuti si Samsul kemanapun ia pergi. Dirinya tak menyerah untuk membujuknya.


"Sul Sul tunggu, hayo lah Sul ikut klub ini ya ya," bujuknya sambil terus mengikuti dan mengganggunya.


"Gak, aku sudah bilang gak mau ya gak," tolaknya tegas.


"Sul Sul please bantu aku kurang satu orang lagi agar klub ini berjalan lagi," bujuknya lagi sambil memohon.


Si Samsul tetap menghiraukan Karsun yang mengikutinya hingga sampai di depan kamar mandi. Dirinya berbalik ke belakang karena Karsun masih saja mengikutinya.


"Sul ini....," ucapan Karsun terhenti seketika karena Samsul berbalik dan menatapnya.


Tatapan tajam Samsul membuat Karsun jadi sedikit takut. Setelah melihat Karsun merasa seperti menyerah, dirinya pergi melanjutkan acaranya ke kamar mandi.


"Huh susah bener sih ngajak Samsul," monolog Karsun yang kesal.


"Dah lah aku balik ke kamar dulu," katanya menyerah.


Akhirnya Karsun menyerah untuk hari ini dan memilih pulang ke kamarnya. Klub Pencinta Alam Universitas Nasional Singapura ini, sebenarnya sudah lama di tutup. Namun Karsun ingin berusaha membangkitkannya kembali bersama satu rekan Kaka Senior nya yang bernama Jonatan. Tapi untuk membangun kembali klub tersebut butuh kiranya 6 orang yang bergabung. Untuk sekarang baru ada 5 orang terkumpul termasuk dirinya. Karena kurangnya satu orang, klub itu tetap akan ditiadakan. Maka dari itu Karsun menargetkan Samsul untuk bisa bergabung dengannya walau kecil kemungkinan.


Sementara pindah ke lain negara yakni Indonesia tepatnya di Kampus Unsoed. Badrul and the gang rupanya sedang mencari masalah. Mereka berlima dengan sengaja menendang beberapa tumpukan sampah daun kering yang sudah dikumpulkan Pak Udin di halaman Kampus. Pak Udin yang sedang menyapu bagian lain itu, melihat aksi Badrul dan kawan-kawannya. Merasa tak terima hasil kerjaannya di buat berantakan begitu, Pak Udin dengan rasa marah langsung melemparkan sapunya ke arah mereka berlima.


"Dasar rombongan semprul," umpat pak Udin pada Badrul and the gang sambil melempar sapu miliknya ke arah mereka.


Badrul dan kawan-kawannya terkejut dengan hadirnya sapu yang tiba-tiba melayang ke arahnya.


"Haish untung tak kena ngagetin aja," ucap Badrul pelan setelah berhasil menghindar.


"Heh, Badrul ada masalah apa dengan bapak hah, kalian tau Bapak dari pagi buta ngumpulin sampah sampah ini. Yang harusnya tinggal di buang malah di ambrah-ambrah (berantakin) lagi," marah Pak Udin sambil berjalan menghampiri mereka.


"Ah Bapak mah lebay pake acara ngelempar sapu ke kita segala lagi. Kalau berantakan kaya gini nih, tinggal di bersihin lagi kan bisa," balas Badrul sambil sengaja menendang-nendang sampah didepannya.


"Yah Pak tangkep sapu Bapak, bersihin lagi tuh," ucap Badrul sambil melempar sapu milik Pak Udin ke arahnya dan menyuruhnya. Setelah itu barulah mereka berlima pergi meninggalkan hasil karyanya di tempat tanpa ada belas kasihnya pada Pak Udin.


Pak Udin langsung menangkap sapu miliknya yang berhasil ditangkap nya. Pak Udin seketika juga elus dada melihat kelakuan keponakan kepala rektor kampus yang kebangetan ini. Sambil memandangi Badrul dan kawan-kawannya berjalan pergi, Pak Udin bergumam kesal tentangnya. "Dasar keluarga kompak kagak bapaknya, anaknya, bahkan keponakannya, pokoke komplit ngeselin ne. Ada yang keluarga kaya ngeneh (seperti ini)," gumamnya heran.


"Ada Pak buktinya mereka," saut seseorang tiba-tiba.


"Eh Pak Ali bikin kaget aja, maaf ya Pak belum beres juga," celetuk Pak Udin sambil minta maaf.


"Udah kagak papa, sini biar saya bantuin beresin," tawar Pak Ali dengan sukarela.


"Tidak usah Pak Ali kagak usah saya bisa sendiri kok, lagian Pak Ali kagak punya urusan lainnya apa?" tolak Pak Udin karena merasa tak enak.


"Tidak Pak Udin, kebetulan jadwal saya kagak banyak untuk hari ini, jadi biarkan saya membantunya ya," jelasnya.


"Baiklah Pak Ali, jika Bapak memaksa," ucap Pak Udin menyetujuinya.


Mereka berdua mulai membersihkan semua dedaunan yang tadi di berantakin sama si Badrul and the gang. Dengan bantuan Pak Ali, pekerjaan jadi lebih ringan.


Setelah membantu Pak Udin, Pak Ali lalu pergi ke Ruang Rektor hendak melapor ulah si Badrul padanya. Tapi setelah menjelaskan semua masalah yang di buat Badrul dan kawan-kawannya, Pak Rektor malah untuk membiarkannya saja. Aneh bukan? Malah yang salah di bela olehnya.


"Biarkan saja si Badrul hanya mencari kesenangan saja dia," kata Pak Samsudin sambil menyeruput kopinya dengan santai.


"Tapi Pak, mencari kesenangan boleh saja tapi Badrul ini sungguh sudah keterlaluan, ia dan geng nya selalu membuat pekerjaan Pak Udin bertambah," protes Pak Ali karena tak terima.


"Ya itung-itung Pak Udin dapet gaji tambahan lah dengan membersihkan halaman agak lama," katanya lagi dengan seenaknya.


"Tapi Pak Udin juga butuh istirahat Pak, dia sudah tua tapi selalu di kerjain olehnya aku kasihan padanya," jelas Pak Ali lagi.


"Kalo sudah lelah silahkan resign saja Pak Udin dari sini kalo begitu." Pak Samsudin malah menyuruh Pak Udin supaya keluar dari pekerjaannya saja. Bukannya memberikan solusi malah bikin orang naik darah saja dengan perkataannya.


"Sudah lah saya pamit permisi dulu sepertinya percuma ngomong sama bapak," pamit Pak Ali yang sudah tak tahan lagi.


"Silahkan pintu ada disana," kata Pak Samsudin sambil tersenyum dan menggerakkan tangannya tanda mempersilahkannya.


Setelah keluar ruangan, Pak Ali merasa sangat kesal karena selalu kalah dengan Pak Samsudin. Ia bahkan menggerutu di sepanjang jalan menuju kantornya.

__ADS_1


"Bener-bener keterlaluan, ku pikir dulu Samsul pergi tak akan ada lagi yang bikin onar, tengane (nyatanya) aku salah malah datang keponakan nya yang kelakuannya tak kalah rusuhnya dengan Samsul," monolog Pak Ali kesal sepanjang jalan.


"Pak Samsudin kenapa sih susah bener untuk menegur keponakannya itu malah milih membelanya. Jan angel angel wis angel," gerutunya sambil geleng-geleng kepala.


Mempunyai rektor seperti Pak Samsudin sepertinya sangat sulit. Selalu saja salah kaprah yang harus di tegur malah dibela. Yang tak salah malah kana hukum. Kapan Pak Samsudin sadar untuk bisa menghukum yang salah dan membela yang benar? Mungkin tunggu lebaran monyet datang kali ya, baru Pak Samsudin bisa sadar.


...🍄🍄🍄🍄🍄🍄...


Diruang UKM kami semua berkumpul. Tampak Frank yang tak bersemangat karena harus melihat Mba Lili, wanita yang sudah menolak dirinya. Bahkan suasana di antara keduanya jadi terlihat canggung.


"Heh Frank ngapa jadi diem-diem wae sama Mba Lili," bisik Budi padaku.


"Iya Bud jadi keton canggung kepriwe setelah kejadian kae (iya Bud jadi keliatan canggung gimana setelah kejadian itu)," jawab ku.


"Hush biarin aja lah, dah fokus ke depan, Bang Kris lagi jelasin," sela Sinta menghentikan kami sambil berbisik juga.


Kami bertiga mengangguk bersama, menurut apa kata Sinta untuk membiarkannya saja. Mungkin saja Frank masih sedikit ada sakit di hatinya.


Setelah pertemuan selesai kami bertiga mendekati Frank dan bertanya padanya. Para senior sudah duluan meninggalkan kami berlima. Jadi aman untuk berkomunikasi.


"Frank dirimu masih sakit hati sama Mba Lili?" tanyaku penasaran.


"Sedikit Lam, tapi aku coba untuk melupakannya mungkin benar kata mba lili kalo aku bukan jodohnya," jawabnya sedikit tak bersemangat.


"Ngomongin jodoh sepertinya aku tau dengan siapa Mba Lili berjodoh," sela Clara tiba-tiba.


"Dengan siapa?" tanya aku, Budi dan Frank berbarengan.


"Siapa lagi kalo bukan Bang Kris, jawab Sinta yakin sambil bersedekap.


"Masa???" Kami bertiga tak percaya.


"Lah kagak percaya coba jelaskan Clar apa yang kemarin malam kita berdua liat di toko es krim mixue," suruh Sinta padanya.


"Apa sing (yang) kalian liat?" tanyaku semakin penasaran.


"Dan menurut kalian itu wajar tidak? Ku tebak mereka berdua jadian," tanya Sinta memberikan pendapat pada kita bertiga.


"Apa mereka berdua pacaran?" pikirku.


"Hem mungkin saja iya tapi sepertinya Bang Kris dan Mba lili sengaja tak beritahu kita semua," jelas Clara.


"Hoy kantin yuh kencot, gosip wae," ajak Frank tiba-tiba karena tak mau mendengarnya lebih banyak lagi.


"Iya hayu hayu lah," ucapku sambil beranjak.


Kembali ke Singapura, demi membujuk Samsul, Karsun harus merelakan uangnya untuk membeli konsol game edisi terbatas. Dirinya sengaja pamer di depan Samsul agar si Samsul terlihat iri dan menginginkannya. Di kamar asramanya Karsun duduk di depan meja komputer nya sambil memandangi konsol game terbarunya yang sengaja diangkatnya ke atas.


"Hwaw Sem konsol game edisi terbatas berhasil ku dapatkan keren," ucap Karsun tiba-tiba, sengaja pamer pada Samsul.


"Lihat kualitas beh mantap bener, hebat, keren dan mantep," lanjutnya lagi sambil memandangi konsol game terbarunya.


"Edisi terbatas?" Samsul mulai tertarik dengan ucapan si Karsun.


"Merek xxxx itu?" Untuk memastikannya, Samsul memutuskan bertanya padanya. Karena dirinya tak percaya bahwa konsol game yang di incarnya juga telah berhasil di dapatkan oleh teman sekamarnya itu.


"Heh Sun darimana kamu dapat kan konsol game jenis itu? Bukannya hanya terbatas aku saja gagal mendapatkannya," ujar Samsul bertanya padanya.


"Hehe rejeki anak Sholeh, kau mau Sul, aku bisa pinjam kan untuk mu," tawarnya tiba-tiba. Karsun sengaja memberikan penawaran itu untuk membuat Samsul masuk ke klub nya.


"Benarkah! Mau mau." Samsul dengan antusiasnya langsung menerima tawaran tersebut.


"Et tunggu dulu tapi ada syaratnya," kata Karsun menghentikan Samsul yang sedang senang.


"Huh pake syarat-syarat segala ogah ah kalo begitu," keluhnya lalu langsung menolaknya.


"Gawat bisa gagal ini." Merasa rencananya akan gagal dirinya lalu memutar otaknya kembali.

__ADS_1


"Ah masa kamu tak mau jika kau bisa memenuhi syarat ku kau boleh deh memiliki ini sepenuhnya," tawarnya lagi yang lebih menggiurkan.


"Wah lumayan ini, apa aku terima saja ya, hem." Samsul berdiam diri sebentar sebelum pada akhirnya menyetujui tawaran Karsun untuk kedua kalinya.


"Woke apa syarat nya?" tanya Samsul padanya.


"Syarat nya dirimu harus mau masuk ke Klub Pecinta Alam dengan ku." Karsun memberikan syarat sederhana padanya.


"Alright (setuju), deal." Tanpa pertimbangan lagi, Samsul langsung menyetujuinya.


"Yes akhirnya lengkap juga," kata Karsun dengan senangnya.


"Woke ini untuk mu, ku serahkan konsol game yang telah ku dapatkan dengan penuh perjuangan, jaga baik-baik ya." Karsun lalu dengan berat hati menyerahkan konsol game yang sudah payah didapatinya pada Samsul. Semua ini dilakukan demi klub nya itu.


"Iya iya sudah sini tak rela sekali sepertinya," kata Samsul sambil menarik konsol game yang masih tergenggam cukup kuat ditangannya.


Samsul dengan senang langsung memakai konsol game tersebut. Si Karsun hanya bisa memandanginya tanpa bisa memakainya. Tapi tak pa lah katanya karena akhirnya klub tetap berjalan.


"Besok ikut aku ke ruang klub ya Sul ku kenalkan sama Ka Jonatan," ucap Karsun memberitahu.


"Siap siap, serang wus," jawabnya sambil terus memainkan konsol game nya.


Keesokan harinya mereka berdua sudah berada di ruang UKM Pencinta Alam universitas Nasional Singapura. Karsun masuk bersama dengan Samsul dengan senyum ceria.


"Good morning every body (selamat pagi semuanya)!" sapa Karsun penuh energik.


Sedangkan Samsul hanya menyapa lewat tangan yang diangkat nya saja. Mereka berdua lalu menghampiri semuanya.


"Hei Karsun, sit down sit down (hai Karsun, duduk duduk)," suruh Kaka senior yang bernama Jonatan itu.


"So which new member are you talking about (jadi mana anggota baru yang kamu bicarakan)?" tanyanya pada Karsun.


"This is Samsul, my roommate (Ini dia ka Samsul teman sekamarku). Karsun dengan segera memperkenalkan Samsul pada Kaka Senior dan lainnya.


"Sul, canal the chairman of this club is Jonathan Christopher (Sul, kenalkan ketua klub ini Jonathan Christopher)." Lalu Karsun beralih memperkenalkan kaka seniornya ke Samsul juga. Kaka senior yang di panggil Jonatan itu hanya mengangguk menanggapinya.


"Greetings, Bro John and all. I'm Samsul. Please guide for the future (Salam kenal ka john dan semuanya. Saya Samsul. Mohon bimbingannya untuk kedepannya). Samsul menunduk sopan setelah memperkenalkan dirinya pada semuanya.


Semua yang ada di sana bertepuk tangan menyambut kedatangan Samsul di klub mereka.


"All right, everything is complete, let's start with a light discussion first (baiklah, semuanya sudah lengkap kita mulai dengan pembahasan ringan dulu). Karena semuanya sudah lengkap, pembahasan pertama pun dimulai. Pembahasan di pimpin Jonatan yang sebagai ketua klub tersebut. Sedangkan Samsul dengan sedikit tak suka terpaksa mengikuti kegiatan sampai selesai.


"You're good (baik ka)," ucap semuanya kompak.


"Sebenarnya malas sekali aku ikut klub seperti in,i tapi demi Karsun dia sudah merelakan konsol game nya untuk ku, aku harus mencobanya dulu," monolog Samsul dalam hati.


Sukses untuk klub mu, Sul, semoga dengan ini dirimu berubah jadi anak yang cinta akan Alam dan isinya. Tak merusak bumi melainkan melestarikannya.


Bersambung.....🌻🏵️🌻


Part Karsun tengah malam di sebuah Warnet dekat sekolah.


Terlihat dirinya sedang meregangkan kedua tangannya, bersiap untuk perebutan edisi terbatas Konsol game merek xxxx.


"Aku harus dapatkan ini agar Samsul bisa mau bergabung dengan ku, dia pasti sedang mengincar benda ini juga," monolog Karsun sambil terus melakukan peregangan.


"5 menit jam 12 teng dimulai," ucapnya tak sabar.


"Huh aku harus fokus, woke 10 detik lagi." Suasana mulai menegangkan hadir padanya. Sebab bukan dirinya saja yang menginginkannya, tapi puluhan juta orang di dunia menginginkannya. Hal yang mustahil untuk bisa mendapatkannya, bukan. 3, 2, 1 hitungan mundur di hitung olehnya.


"Perang dimulai...," katanya.


Dengan keterampilan kecepatan tangannya dan dengan raut muka seriusnya, dirinya memulai memencet-mencet tombol keyboard dengan cepat. Suasana yang gelap dan menegangkan. Satu jam berlalu dan.... Horeee.... Sorak Karsun dengan senangnya lalu disambung tertawa.


"Wow really can't believe it (waw sungguh aku tak percaya ini), aku bisa dapat kan ini huwaw waw," ucap si Karsun tak percaya akan hasilnya itu.


"Ha-ha-ha-ha akhirnya ku dapatkan dirimu," tawa Karsun menggelar memenuhi warnet yang sepi.

__ADS_1


Lanjut episode berikutnya 🏃🏃🏃


__ADS_2