
Keesokan harinya. Di bawah langit yang cerah dan sinar matahari yang menyilaukan mataku. Aku seperti biasa menjemput Budi untuk berangkat sekolah bareng. Tapi saat aku memanggilnya berkali-kali, Budi tak kunjung keluar.
"Bud Bud, mangkat durung (berangkat belum)!" teriakku keras.
"Bud, Bud!" teriakku lagi.
"Deneng amleng (kok sepi)," gumamku.
"Alam, durung mangkat (belum berangkat)?", sebuah suara datang dari belakangku. Aku pun berbalik.
"Eh Bu Las durung (belum) Bu. Lagi nunggu Budi," jawabku.
"Ra usah di tunggu si Budi wis melesat mau esuk (gak usah di tunggu si Budi dah melesat tadi pagi)," katanya.
"Wis mangkat (dah berangkat)? tumben ra ngenteni (tumben gak nungguin)," ucapku sedikit terkejut dan heran.
"Numpak (naik) apa Bu?" tanyaku ingin tahu.
"Motor, ibu miki weruh mangkat te (ibu tadi lihat perginya)," jawabnya.
"Oh kaya kuwe. Suwun Bu wis ngenehi ngerti (oh begitu. Makasih Bu dah beri tahu)," ucapku.
"Iya Lam," ucapnya,"Wis sana berangkat mbok keri bis (dah sana berangkat takut ketinggalan bus)!"
"Iya Bu. Wassalamu'alaikum," pamit ku.
"Waalaikum salam," balasnya.
Setelah itu aku langsung bergegas menuju ke halte untuk naik bus ke kampus. Sepi rasanya tak ada temen ngobrol seperti biasanya. "Ana apa ya? Apa Budi kesuh karo aku gara-gara wingi (ada apa ya? Apa Budi marah padaku gara-gara kemarin)?" pikirku setiap perjalanan.
Sesampainya di kampus aku langsung menuju kelas dan menyapa Budi serta yang lainnya. Tapi reaksi mereka berbeda dengan sebelumnya, mereka semua seakan mengabaikan ku dan hanya mengangkat tangan saja sambil tersenyum tak niat.
"Pagi Bud, pagi kabehan (semuanya)!" sapa ku.
Teman-teman ku hanya mengangkat tangan tanpa sepatah katapun. Reaksi Budi beda lagi, ia hanya diam dan memalingkan wajahnya. Saat aku bertanya tentang alasan dirinya meninggalkan ku dan ingin meminta maaf, malah ia mengajak yang lainnya pergi.
"Bud, kowe ngapa ninggali aku (Bud, kenapa kamu tinggalin aku)?" tanyaku.
"Heh Frank, kabehan meng kantin yuh! Kencot (heh Frank, semuanya ke kantin yuk! Laper)," ajak Budi pada lainnya.
"Tapi...," kata si Frank enggan meninggalkan ku.
"Hayu lah," tarik Budi padanya.
"Lam kita pergi dulu," pamit si Sinta padaku.
"Eh enteni (tungguin)," teriakku.
Tapi mereka tak mendengar ku dan pergi begitu saja tanpa menunggu ku.
Di Kantin Kampus.
Budi merasa sangat kesal dan kecewa padaku karena aku tak meminta maaf padanya.
Si Budi saking kesalnya padaku, ia sampai tersedak sendiri gara-gara menyedot minumannya terlalu cepat.
"Uhuk uhuk." Batuk si Budi sambil menutup mulutnya.
sabar Bud! sing alon senggane (yang pelan ngapa), suruhnya.
"Ko esih kesuh karo Alam, Bud (kamu masih marah sama Alam, Bud)?" tanya si Sinta.
"Ndadak sarana di takoni ya pasti Budi kecewa, aku be rada kecewa. si alam moso tega ngabai na batire demi si Emely (pake ditanyai ya jelas Budi kecewa, aku aja sedikit kecewa. Si Alam masa tega mengabaikan temannya demi si Emely)," ucap si Frank dengan nada agak tinggi
"Iya aku juga ra yangka (iya aku juga gak nyangka)," timpal si Clara.
Di posisi yang berbeda, si Emely sedang ditanyai oleh beberapa temannya yang penasaran akan kencannya dengan ku.
"Hem.... Emely gimana kencan mu? Katanya kamu pergi sama anak yang bernama Alam." Temannya bertanya sambil menyedot minumannya.
"Hem gimana ya...?" jawab si Emely berpikir.
"Gimana?Cerita dong," suruh teman satunya tak sabar.
"Emm.... gini, aku kemarin ngajak dia terus dia setuju." Si Emely memberitahu temannya dengan malu-malu.
"Terus terus," suruh teman-temannya makin penasaran.
Karena si Budi mendengar percakapan si Emely, ia makin kecewa padaku dan menganggap kalau diriku memang pergi bersamanya kemarin. Dirinya pun seketika beranjak dan mengajak pergi yang lainnya.
"Hayu lunga (ayo pergi)!" ajak Budi seketika.
"Arep ngendi Bud (mau kemana Bud)?" tanya si Frank. Saat si Budi hendak pergi, aku baru sampai dan langsung mencegatnya.
"Bud aku be teka koh kowe lunga (Bud aku baru sampai kok kamu pergi)," cegat ku di depannya.
"Minggir Lam!" suruhnya sambil menyingkirkan tubuhku.
Budi dan yang lainnya lagi-lagi mengabaikan ku. Terlihat teman-teman lainnya hanya merapatkan kedua tangan padaku tanda meminta maaf.
Aku pun pergi mengejarnya tapi seketika aku di hadang oleh Samsul dan kedua anteknya. Mereka menarik ku menuju gudang dan di sana aku di dudukan ke kursi seakan sedang di interogasi.
"Sul ada apa ya gered (narik) aku ke sini?" tanyaku tak mengerti.
"Lam aku mau tanya sama kamu," ujarnya.
"Tanya apa Sul?" tanyaku.
"Apa kowe kemarin jalan bareng karo pacarku?" tanyanya balik.
"Pacarmu sapa? Emely maksudmu," jawabku bertanya memastikan.
__ADS_1
"Iya, kamu jalan bareng kan kemarin?" si Samsul kali ini menekankan pertanyaannya.
"Gak Sul aku ra pergi sama Emely aku kena insiden," jawabku jujur.
"Set set ko bukane dah putus sama Emely ya. Berarti dudu pacarmu," tukas ku.
"Sembarang! Aku ini masih pacar Emely. Kapan aku putus dengannya?" bantahnya.
"Lah tapi si Emely ngomong dah putus sama kamu."
"Makin tak percaya aku. Kamu kok bisa tau pacarku ngomong begitu."
"Bos patutlah si Alam tau, Emely kan sekarang anggota UKM Pencinta Alam," kata domu memberitahu.
"Apa??Kapan si Emely masuk ke UKM mu?" tanyanya dengan respon terkejut sambil menunjuk ke arahku.
"Bukannya dia tak kuliah di sini," pikirnya.
"Bos, bos ini ternyata kudet. Pacar Bos dah pindah dari kemarin dan sering bersama Alam," tutur si Aldian.
"Benarkah," ucap Samsul kurang percaya.
"Heh Sul dah tau kan sekarang. Tenang aku ra bakal seneng karo si Emely," ucapku memberikan janji padanya.
"Aku dah boleh pergi mbok," izin ku pada mereka.
"Pergi lah Lam," suruh si Domu
"Iya sana pergi," timpal si Aldian.
"Alam cekel kata-kata mu kenceng. kalau ko suka sama Emely mati kau di tanganku," ancam si Samsul padaku.
"Seram kali kau Bos," kata domu sedikit terkejut.
"Tuh dengar bakal habis kamu Lam," ancam ulang si Aldian.
Aku hanya bisa menelan ludah sambil berjalan pergi setelah mendengar ancaman dari si Samsul.
Sementara di kantin, si Emely masih melanjutkan obrolannya dengan teman-temannya
"Iya terus terus," suruhnya karena makin penasaran.
"Aku akhirnya ditolak," jawabnya sedikit kecewa.
"Kok bisa?" tanyanya temannya tak percaya
"Ya dia membatalkan janjinya padaku demi pergi menemui teman-temannya." jawabnya setelah menyedot minumannya.
...🍄🍄🍄🍄🍄🍄...
Di Kelas FMIPA.
Tak disangka dan dikira ternyata Emely juga sekelas denganku. Saat tiba dikelas ia langsung duduk begitu saja di sampingku. Teman-teman ku langsung menengok ke arahku dan memberikan tatapan tak mengenakkan. Begitu juga Samsul yang ada di belakang. Memandangi ku dengan kesal sambil menjotos-jotoskan kedua tangannya.
"Iya Bos tak salah liat kan aku ini," timpal si Domu.
"Aalaam...," ucap si Samsul sambil menggetarkan giginya.
Di bangku ku.
"Emely kowe disini juga?" tanyaku kaget melihat dirinya sudah berdiri di sampingku.
"Iya kebetulan sekali ya, kita juga sekelas." jawabnya sambil menaruh beberapa bukunya di meja.
"Aku boleh duduk sini kan?" tanyanya meminta.
"Silahkan," jawabku mengangguk.
"Makasih Alam," ucapnya sambil tersenyum.
Di bangku Budi dan teman-temannya.
"Ish si Alam piwe sih gelem bae (ish si Alam gimana sih mau aja)," ucap si Frank geregetan melihat ku.
"Biarlah Frank ra usah di urusi," suruh Budi padanya.
Pak Ali datang dan mulai memberikan materi tentang hewan dan tumbuhan langka yang harus di lindungi. Senamun sedang ada masalah, kita tetap bahas sedikit membahas tentang alam ya. Pembahasan ini akan di jelaskan oleh Pak Ali dosen kita.
"Hewan langka adalah hewan yang jumlahnya sangat sedikit atau sangat jarang ditemukan. Suatu spesies hewan dikatakan langka jika populasinya menurun dengan cepat dan jumlahnya di seluruh dunia kurang dari 10.000 ekor. Hewan langka ini dapat punah jika tidak dilindungi dan tidak ada yang menyelamatkannya. Hal tersebut dapat terjadi karena perkembangbiakan hewan langka tersebut yang sangat lambat, jumlah betina yang mulai habis, dan maraknya perburuan liar pada jenis hewan langka tersebut." jelas Pak Ali panjang lebar.
"Sedangkan tumbuhan langka adalah tumbuhan yang jumlahnya sangat sedikit atau sangat jarang ditemukan dan jumlahnya di seluruh dunia kurang dari 10.000 spesies," tambahnya melanjutkan.
Pak Ali menjelaskan dengan serius di depan. sedangkan kami menyimak dan mendengarkan serta mencatat hal yang perlu dicatat. Tak terasa pelajaran telah usai, kami semua keluar dan kembali ke rumah. Ya hari ini aku berangkat dan pulang sendirian. Saat aku sedang menunggu bus Budi lewat dengan motornya. Tapi ia lewat begitu saja tanpa menawariku untuk pulang bersama.
Di perjalanan Budi berpikir sendiri sambil mengendarai motornya. "Kae miki si Alam udu ya (itu tadi si Alam bukan ya)? Tapi deneng ngebis (tapi kok naik bus). Apa pit e bodol maning (apa sepedanya rusak lagi)?" pikirnya,"halah mbuh lah ngapa dipirkirna (halah gak taulah ngapa dipikirkan)." Si Budi kembali menfokuskan matanya. Seperti itulah yang di katakan Budi di setiap perjalanan menuju kos-kosannya.
Tak lama aku pun sampai di kos-kosan. Aku melihat Budi sedang mau masuk ke rumah. Aku pun bergegas memanggilnya dan langsung menghadangnya.
"Bud tunggu dulu set set," cegah ku dari depan sambil menyetop tubuhnya.
"Apa Lam? Minggir aku rep mlebu (mau masuk)!" katanya sambil mendorongku kembali.
"Set tunggu dulu aku rep ngomong karo ko (set tunggu dulu aku mau ngomong sama kamu)!" cegat ku lagi sambil memegang tangannya yang hendak memegang gagang pintu.
"Ngomong apa gagian (ngomong apa cepetan)!" perintahnya. Aku pun melepaskan tangan si Budi.
"Aku rep minta maaf meng ko. Aku wingi ra bisa teka (aku mau minta maaf ke kamu. Aku kemarin gak bisa datang)," ujarku berusaha untuk menjelaskan.
"Aku wis ngerti alasan mu ra teka, dadi siki semingkir. Balik nganah (aku sudah tau alasan mu gak datang, jadi minggir. Pulang sana)," ucapnya lalu mengusir dan masuk kedalam
"Huh angel temen arep jelas na. Aku kuwi ra lunga karo Emely Bud. Wong aku jempalit kang pit nyampe beyeka ne lara (huh susah banget mau jelaskan. aku ini gak pergi sama Emely Bud. Orang aku jatuh dari sepeda sampe pinggang ku sakit)," gumamku pasrah sambil berjalan menuju kos-kosan
__ADS_1
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
Itulah alasan Budi marah padaku. Dia menganggap aku dan Emely pergi bersama dan sengaja melupakan janjiku. Padahal ini yang sebenarnya terjadi padaku kemarin sore.
Flash back.
Di Kos-Kosan jam 15.10 WIB.
Aku yang tadi tidur langsung bangun dan bergegas sholat. Setelah sholat aku langsung berganti pakaian dan pergi menggunakan sepeda ku. Aku berniat pergi ke rumah pak Ali untuk membatalkan janjinya pada Emely. Karena bingung bagaimana cara mengabari si Emely aku langsung kepikiran dengan rumah pak Ali. Pasti si Emely ada di sana kemungkinan.
Selang beberapa menit aku sampai di depan gerbang rumah pak Ali. Saat sampai kebetulan sekali pak Ali keluar dan aku melihatnya.
"Pak Ali...," panggil ku dari pintu gerbang.
"Eh Lam ada apa?" tanyanya setelah menghampiri ku.
"Emely nya ada?" tanyaku.
"Oh dia lagi pergi ke salon untuk persiapan ke pesta nanti," jawabnya memberitahu.
"Kamu mau pergi dengannya kan?" tanya Pak Ali memastikan.
"Gimana ya Pak saya kesini mau batalin janji saya. Saya ingat ada janji lain yang lebih penting," tolak ku sopan.
"Oh gitu. Baiklah nanti bapak sampaikan," katanya.
"Makasih Pak. Kalau begitu aku pamit," pamit ku lalu pergi.
Sementara di Bioskop Rajawali.
Sinta, Clara dan Frank sedang menunggu kedatangan ku dan Budi. Tak lama Budi datang, tapi ia hanya seorang diri sehingga memunculkan pertanyaan dari ketiganya.
"Bud kowe dewekan endi Alam (Bud ngendi sampeyan Alam)?" tanyanya si Frank heran.
"Mbuh hp ne ra aktif. Paling lagi menikmati jalan bareng si Emely (tak tau hpnya gak aktif. Paling lagi menikmati jalan bareng si Emely)," jawabnya.
"Si Alam lunga karo Emely?Bukane wis janji karo dewek disit (si Alam pergi sama Emely? Bukannya udah janji sama kita duluan)," tanya si Sinta terkejut dan tak percaya.
"Mbuh aku ra ngerti (entah aku tak tahu)," jawab Budi sambil mengangkat bahunya.
Kowe Bud di takoni jawaban ne ra ngerti terus, mbok kowe tangga ne (kamu Bud di tanyai jawabannya gak tau terus)," kata Frank padanya.
"Wis lah tinggal bae (dah lah tinggal aja), ujarnya. hayu masuk," ajaknya sambil melangkah.
"Nanti Bud," cegat si Clara.
"Napa?" tanyanya.
"Tiket Bud, tiket mlebu ne ning alam (tiket masuknya dari Alam)," jawab si Sinta.
"Apa iya, deneng si Alam sing nyekel tiket e (apa iya, kok si Alam yang megang tiketnya)?" tanya si Budi heran.
"Iya kae sing jaluk (iya dia yang minta)," jawabnya.
"Lah piwe si alam tengan tiket e juga karo dia (lah gimana si Alam, ternyata tiketnya juga sama dia)," kesal si Budi.
"Piwe siki batal berati (gimana batal ini berarti)?" tanya si Frank memastikan.
"Ya arep piwe maning (ya mau gimana lagi)," jawab si Budi pasrah.
"Coba telepon si Alam," usul si Clara.
Si Budi lalu dengan terpaksa menelepon ku.
Disisi lain aku sedang mengendarai sepeda ku dengan kencang. Aku merasa teman-teman ku pasti sudah menunggu ku apalagi tiket nonton ada padaku. Ya aku lah yang memesan tiketnya lewat online sebelum pergi hiking kemarin. Aku mengayuh dan terus mengayuh sampai tak sadar ada seekor ayam menyebrangi jalan. Aku pun terkejut seketika. Sepedaku hilang kendali dan menabrak sebuah pohon di depan. Tabrakan pun tak bisa di hindari. Aku terpental ke sebuah selokan yang berada tepat di belakang pohon.
"Jan ayam kurang asem," ucapku sambil menengok ke belakang.
"Eh eeh ehh," kataku kaget sambil menggoyang-goyangkan setang sepedaku.
"BRUKK," dentuman sepeda ku menabrak pohon
"Waaaa BYURR," diriku tercebur.
"Huwaduh...," ucapku sambil mengusap-usap pinggang ku.
Aku terpental dan basah semua tubuhku. Keadaan sepeda ku lebih parah lagi. Bannya menggelinding entah kemana. Setang sepeda juga meleyot tak karuan. Aku bersyukur tak ada orang yang melihat ku. Tapi aku sedih karena tak ada yang yang menolongku. Aku terpaksa naik ke permukaan sendirian. Ingin rasanya aku menelepon si Budi. Tapi apalah daya hpku pun hilang karena ikut terpental
"Innalilahi pit ku kiye, mbene be di dandani. haduh haduh (innalilahi ini sepedaku, baru saja di benerin. Aduh Aduh)," ucapku sambil memegangi kepalaku.
"Ala iya hpku menculat meng ngendi jere (ala hpku ke lempar ke mana lagi)," ucapku bingung sambil jelalatan lihat ke bawah.
"Alai lah wis pite bodol reot, klambine teles, hpne ilang pula (alai lah dah sepeda rusak parah, baju basah, hp ilang pula)," gerutu ku.
Sedangkan di Bioskop Rajawali si Budi sedang mencoba menelpon ku. Tapi tak terhubung ke hp ku. Ya jelas tidak terhubung, kan hp ku juga ilang.
"Bud, piwe diangkat ning Alam (Bud, gimana diangkat sama Alam)? tanya si Sinta.
"Ra. Pasti lagi menikmati kencane karo si Emely," jawabnya menduga.
"Terus piwe ra sida apa (terus gimana gak jadi apa)?" tanya si Frank bingung.
"Ora lah wis jam semene juga (gak lah dah jam segini juga)," jawab si Budi sambil melihat jam tangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Semakin gelap dan suara adzan juga berkumandang. Mereka pun terpaksa menyerah dan pulang kembali ke rumah.
Di samping itu, aku juga pulang ke kos-kosan. Menenteng sepeda ku sambil memegangi pinggang ku yang sakit. Tubuh ku basah kuyup dan air satu persatu menetes dari tubuhku membuat jejak di setiap jalan.
"Apes temen," gumamku setiap perjalanan.
"Eram eram, Jan." Aku geleng-geleng tak percaya nasib apes menimpaku hari ini.
__ADS_1
Bersambung.....🌵🌵🍄🍄