BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 7 "Malam Minggu"


__ADS_3

Pagi Harinya.


"Bud sarapan ra aku tuku rames loro (Bud sarapan nggak aku beli nasi rames dua)," ucapku memanggil dan menawarkan nasi rames yang barusan dibeli sambil mengangkat kantong keresek yang berisi 2 bungkus nasi.


"Oh ya tentu ngeneh Lam mlebu (oh ya tentu sini Lam masuk)," saut si Budi langsung dari pintu dan menyuruh ku masuk kedalam.


"Suwun Lam (makasih Lam)," ucapnya sambil melihati aku berjalan masuk.


"Iya," jawabku lalu duduk.


Aku masuk ke kos-kosan Budi. Kami berdua memakan sarapan kami dengan lahapnya. Bermodal hanya tempe orek dan balado telur serta se centong nasi, kami berdua merasa senang dan bersyukur. Kebetulan ini hari Sabtu dan kampus libur kami berdua berencana membersihkan kawasan kos. Kami berdua juga akan meminta penghuni kos di sini untuk ikut membantu.


"Bud bar sarapan ngomong Bu Las yuh supaya ngomong na penghuni kos-kosan kerja bakti," ajak ku pada Budi yang masih menguyah makanannya.


"Ya hayu, tapi tumben," jawabnya dengan mulut penuh nasi.


"Iya soale kawit wingi nyong deleng latar berantakan sampah ning ngendi ngendi tapi arep bersihi, amba pisan halaman kos-kosan kie. Jadi nyong perlu bantuan wong wong sing ana ning kene (iya soalnya dari kemarin aku perhatiin halaman berantakan sampah dimana-mana mau bersihin, luas banget halaman kos-kosan ini. Jadi aku butuh bantuan orang-orang yang ada di sini)," jelas ku sambil membereskan bekas makanan ku.


"Oh kaya kuwe (oh begitu)," kata Budi mengerti.


"Sarapan mu wis entek (sarapan mu sudah habis)?," tanyaku padanya.


"Ngko dela maning (nanti sebentar lagi)," jawabnya.


"Wis hayu (wis ayo)," si Budi mencaplok nasi terakhir lalu meremas kertas minyak bekas nasi dan dibuang ke tempat sampah.


Aku dan Budi pergi menuju rumah Bu las pemilik kos-kosan. Tampak Bu Las sedang menyirami tanamannya sambil bersenandung riang. Kami berdua pun memanggilnya.


"Lalalalalaaaaaa......" senandung riang ibu kos


"Bu las asyik temen," godaku padanya.


"Eh kowe Lam, Bud ana apa?(eh kamu Lam, Bud ada apa?)," Bu Las menengok ke arah kami.


"Hayu masuk," ajaknya.


Kami bertiga duduk di teras rumah Bu Las.


"Kiye Bu aku rencana ne pengin ngajak penghuni kos-kosan Kon pada kerja bakti soale aku lihat halaman kos-kosan pada berantakan," jelas ku langsung setelah duduk.


"Lah ngapa izin meng ibu gari ngomong dewek Karo penghuni liyane mesti gelem (lah ngapa bilang ke ibu tinggal ngomong sendiri sama penghuni lainnya)," katanya.


"Lah kaya Ibu ra ngerti aku karo Alam ra penak Bu aku isin (lah kaya Ibu tak tau aku sama alam tak enak Bu aku malu)," timpal si Budi.


"Iya Bu nek Ibu yang ngajakin pasti gelem ra nolak soale Ibu pemilik ke (iya Bu kalau Ibu yang ngajakin pasti mau gak nolak soalnya Ibu pemiliknya)," sambung ku.


"Oh kaya kue ya wis hayu (oh begitu ya sudah ayo)," Bu Las mengerti dan setuju lalu mengajak kamu berdua ikut memanggil yang lainnya.


Bu Las membawa corong speaker untuk memberikan pengumuman pada warga penghuni kos-kosan nya.


"He em.... Bapak-Bapak Ibu-Ibu Mas-Mas Mba-Mba penghuni Kos-Kosan Cempaka hayu pada resik resik dalan karo halaman kos-kosan (he em.... Bapak-bapak Ibu-Ibu Mas-Mas Mba-Mba penghuni Kos-Kosan Cempaka ayo pada bersih-bersih jalan sama halaman kos-kosan)," Bu Las mengumumkan pemberitahuan kepada penghuni kos.


Penghuni kos-kosan satu persatu keluar dari kediamannya. Tapi aku melihat ada satu bapak-bapak yang keluar lalu tak lama masuk kembali. Sepertinya ia enggan melakukan bersih-bersih.


Para penghuni kos-kosan telah keluar sambil membawa alat-alat kebersihan seperti sapu lidi, cikrak, pancong dan lain-lain.


"Hayu mulai kerigan (ayo mulai kerja bakti)!," seru Bu Las pada penghuni kos-nya.


"Hayu!," seru mereka semua sambil mengangkat alat-alat kebersihan miliknya.


Mereka semua mulai melakukan kegiatan kerja bakti seperti menyapu halaman, mencabut rumput liar, membersihkan selokan dan masih banyak lagi. Aku mulai dengan menyapu halaman teras kos-kosan. Sedangkan Budi membantu yang lainnya membersihkan selokan depan Kos-Kosan n Cempaka.


Saat aku menyapu teras sekalian aku juga membujuk bapak-bapak tadi yang tak ikut keluar untuk melakukan kegiatan kerja bakti bersama yang lainnya.


"Tok tok tok," aku mengetuk pintu miliknya.


Bapak tersebut keluar, "Ada apa?" tanyanya.


"Punten pak hayu melu kerigan karo liyane (maaf pak ayo ikut kerja bakti sama lainnya)," tawarku padanya.


"Halah sana kerigan dewekan wae kadar wis akeh wong sing melu be (halah sana kerja bakti sendiri saja padahal sudah banyak orang yang ikut juga)," tolaknya secara kasar.


"Lah tapi Bapake juga penghuni kos-kosan apa salahnya ikut berpartisipasi. Lagian kebersihan itu sebagai dari iman Pak bisa dapat pahala," bujuk ku padanya agar ikut berpartisipasi.


"Nganah pergi wae aku anu wong males (sana pergi saja aku mah orang malas)," Bapak tersebut masuk kembali sambil menutup pintu dengan keras.


"Astaghfirullah males koh di pelihara," ucapku sambil mengelus dada.


Aku memilih melanjutkan menyapu terasnya. Setelah itu aku baru membantu Budi membersihkan selokan. Sampah di selokan ternyata cukup banyak. Aku membantu mengeruk sampah di selokan menggunakan cangkul ku.


Sedangkan Budi membantu membuang ke tempat sampah yang telah di sediakan.


Bapak-bapak yang tadi keluar sambil membawa sampah. Aku sudah senang akhirnya bapak itu ingin membuangnya sampah ke tempat sampah. Eh ternyata dugaan ku salah bapak tersebut ternyata membuang sampah ke selokan yang sedang ku bersihkan. Padahal sudah ada tempat sampah yang telah disediakan.


"Alhamdulillah Bapake gelem kerja bakti,(Alhamdulillah Bapaknya mau kerja bakti)," batinku senang.


"Plung," sampah di buang begitu saja olehnya.


Baru saja diriku senang ternyata aku tertipu oleh ku sendiri.


"Lah Bapake bagaimana kepriwe deneng di buang ke sini, kae mbok tempat sampah (aduh bapaknya gimana kok di buang ke sini, itu kan tempat sampah)," tegur ku lalu menunjuk tempat sampah yang ada di dekat si Budi.


"Pak Bapake salah buang apa Bapake ra weruh tong sampah segede ngene (Pak Bapaknya salah buang apa gak liat tong sampah segede ini)," sindir si Budi pada Bapak tersebut.


Bapak itu tak menggubrisnya dan memilih kembali ke kamarnya menghiraukan kami yang sedang menunggunya.


"Lam kae Bapak-Bapak sapa sih nggelani banget?(Lam itu bapak-bapak siapa sih nyebelin banget ?)," tanya si Budi pada dengan nada kesal.


"Mbuh aku ra ngerti (entah aku tak tau)," jawabku yang juga merasa kesal karena salah paham.


"Oh kae Lam (oh itu Lam)," Bu las menghampiri kami berdua.


"Kae Pak Sardi emang wong e rada males (itu pak Sardi memang sedikit malas orangnya)," ucapnya memberi tahu kami berdua.


"Oh wis keton kang rai ne sing malesan (oh dah jelas dari mukanya yang malas)," sindir si Budi agak keras merujuk padanya


"Hush," tegur ku takut bapak-bapak tadi mendengarnya.


"Wis lanjut lagi koh," suruhku agar melanjutkan kerja baktinya.


"Iya Lam," ucap si Budi setuju.


Aku pun terpaksa membersihkan selokan lagi dan mengambil sampah Bapak tadi ke tong sampah. Sambil mengambil sampah aku sedikit bergumam entah karena kesal atau apa.


"Hualah dadi nambah pegawean kaya kiye. Jan....(Hualah jadi tambah pekerjaan kalau seperti ini, Aduh....)," gumamku berbicara sendiri.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, kerja bakti pun telah usai. Aku lalu berterima kasih pada semua penghuni kos yang mau ikut berpartisipasi.


"Bapak-Bapak Ibu-Ibu Mas-Mas Mba-Mba suwun sanget sampun di rewangi kerigan (Bapak-Bapak Ibu-Ibu Mas-Mas Mba-Mba makasih sekali karena sudah di bantuin kerja bakti)," ucapku berterimakasih pada para penghuni kos.


"Iya pada pada (iya sama-sama)," jawab mereka semua.


"Eh wong wong ngeneh pada medang sit (eh kalian ke sini dulu nyemil dulu)," panggil Bu Las yang ternyata sudah menyiapkan beberapa makanan dan minuman untuk kami semua.


Kami semua menghampiri Bu Las dan langsung mengambil makanan dan minumannya.Tapi sebelum itu kami semua tak lupa mencuci tangannya agar bersih dan sehat.


"Bu suwun sanget (Bu makasih sekali)," ucapku.


"Iya Lam pada-pada Ibu seneng kos-kosan rasane padang jembrang bersih kabehan (iya Lam Ibu senang kos-kosan rasanya menjadi bersih)," jawab Bu Las sambil tersenyum senang.


"Lam mengke wengi aja kelalen (Lam nanti malam jangan lupa)," si Budi mengingatku pada janji sebelumnya pada si Frank.


"Iya meng Alun-Alun mbok (iya ke Alun-Alun kan)," ucapku memastikan.

__ADS_1


"Hem...," jawab si Budi manggut-manggut.


...🌴🌴🌴🌴🌴🌴...


Malam harinya sebelum ke Alun-Alun.


Jam 20.00 WIB.


Aku sudah menunggu si Budi di bawah pohon alpukat seperti biasa bersama si Onel.


"Ko wis siap Lam?(kamu sudah siap Lam?)," tanyanya padaku setelah keluar dari rumahnya.


"Iya, hayu mangkat (iya ayo berangkat)," ucapku mengajaknya.


"Ko arep ngepit meng alun-alun?(kamu mau naik sepeda ke Alun-Alun?)," tanya si Budi sambil melihati ku yang sudah bersiap untuk mengayuh.


"Iya," jawabku santai.


"Lah apa ra kesel?(Lah apa gak capek?)," tanyanya lagi dengan heran.


"Lah terus naik apa?" ucapku berbalik tanya.


"Numpak Hero wae motorku. Tenang motorku wis standar ora bakal kedikep polisi (naik Hero saja motorku. Tenang motorku dah standar gak bakal ketangkap polisi) jawabnya sambil menunjuk motor Scoopy hitam di samping terasnya.


"Ya wis nyong titip Onel ditempatmu ya (ya udah aku titip Onel di tempatmu ya)," ucapku menyerah dan memilih menaiki motor bersama Budi.


Aku lalu menaruh si Onel di teras tempat Budi tinggal. Setelah itu aku baru naik ke motor Budi dan tak lupa memakai helm agar selamat sampai tujuan.


"Wis Lam (sudah Lam)," perintah si Budi yang sudah memakai helm di depan.


"Wis (dah)," jawabku yang juga sudah memakai helm miliknya.


"Berangkat," ucapnya lalu mengngeng motornya.


Alun-alun Purwokerto.


Suasana malam ramai di Alun-Alun ada banyak orang yang malam Minggu disana ada keluarga, teman ngumpul, bahkan ada yang sedang berpacaran juga. Para penjual makanan dan minuman juga ikut meramaikan Alun-Alun.


Tak sampai setengah jam kita berdua sudah sampai di alun-alun. Aku pun turun dari motor si Budi.


"Woy Frank," panggil Budi dari belakang sambil melepas helmnya. Si Budi memarkir motornya tepat di depan kita nongkrong.


"Eh kowe Bud, Lam," jawabnya setelah menengok ke arah kami berdua.


"Eh Sinta sama Clara ikut juga," ucapku terkejut melihat dua teman cewek ku ternyata ikut .


"Iya Lam kita berdua diajak sama Frank lewat chat," jawab si Clara.


"Owhh...," aku hanya manggut-manggut mengerti.


"Hey guys aku rep streaming video lah melu yuh," ajak si Budi tiba-tiba ke lainnya sambil menyiapkan handphone dan tong sis nya


"Hayu fansmu akeh Bud?(ayo fansmu banyak Bud?)," tanyanya setelah setuju


"Ya mesti seleb Vloger aku," jawabnya bangga.


Sementara aku mengobrol dengan si Sinta yang tengah duduk tak ikut bersama lainnya.


"Sin aku duduk sini ya," izin ku padanya.


"Iya Lam gari (iya Lam silahkan)," jawabnya sambil memandangi pemandangan malam.


"Ra melu ngvlog sin?(gak ikut ngvlog Sin?)," tanyaku.


"Ra lah aku ra minat (gak lah aku gak minat)," jawabnya.


"Oh njagong wae lah yah (oh duduk aja lah yah)," ujarku padanya.


"Lam hayu melu (Lam ayo ikut)," panggil si Budi seketika mengajak ku untuk ikut bergabung. Aku menolaknya dengan menggelengkan kepalaku.


"Hallo guys ketemu lagi sama si Budi sang pahlawan sekarang gue lagi di alun-alun Purwokerto bersama temen aku si item Frank karo si ayu Clara," ucapnya ke seluruh fansnya di Instagram sambil memperkenalkan kedua temannya yang ikut siaran.


"Salam salam Frank Clar," suruhnya pada Franky dan Clara.


"Hai," si Frank dan Clara melambaikan tangannya ke kamera.


"Bud aja ngomong item aku isin (Bud jangan bilang item malu aku)," protesnya pada si Budi karena memanggil dirinya item di layar.


"Lah kenyataan ne," gumam si Budi pelan.


"Weh Lam Sin ngeneh melu koh (weh Lam Sin sini ikut dong)," si Budi menengok ke belakang mengajak ku kembali bersama si Sinta sambil terus merekam.


"Iya Lam," ajak si Frank dan Clara.


Tiba-tiba Budi dan lainnya memanggil kami berdua yang tengah duduk bersama.


"Lam Lam Lam," panggil mereka bertiga.


:Apa Bud nganggu wae?" tanyaku kesal.


"Ngeneh koh (sini dong)," ajaknya lagi.


"Lah kalian wae aku isin (lah kalian saja aku malu)," tolak ku yang memang rada malu dan malas.


"Jan ya wis (huh ya sudah)," ucap si Budi menyerah padaku.


"Dopok karo Sinta tah di ladeni (ngobrol sama Sinta mah di layani)," gumamnya kesal padaku.


Tak lama saat Budi memutar kameranya memutari alun-alun dirinya melihat si Samsul yang sedang marah-marah dengan seseorang.


"Lam Lam," lagi-lagi mereka memanggil ku padahal aku sudah menolaknya.


"Apa maning (lagi)?" tanyaku setelah menengok ke arahnya.


"Kae sebelah tengen mu si Samsul du?(itu di sebelah kananmu si Samsul bukan?)," tanya si Budi padaku.


Aku lalu melihat ke sebelah kananku dan memastikan nya untuk Budi.


"Eh kabehan samperi si Samsul kayaknya kae lagi ngomehi wong (eh semuanya samperin si Samsul kayaknya dia lagi marahin orang)," panggil ku pada lainnya karena melihat si Samsul yang sedang marah pada seseorang.


"Hayu nyong penasaran (ayo aku penasaran)," ucap si Budi sambil menghentikan siarannya dan menaruh barang-barangnya di tas yang di bawanya.


Aku dan lainnya menghampiri si Samsul. Terlihat dirinya sedang marah-marah karena pemulung membuatnya risih. Pemulung tersebut terus mendekati si Samsul yang sedang makan sate.


"Apa sih pergi sana?", usirnya pada seorang pemulung.


Tapi pemulung itu tak pergi.


"Mau? Beli sendiri nggak mampu ya," tawarnya dengan ejekan yang tidak pantas.


"Dasar pemulung kotor pergi sana," usirnya lagi dengan hinaan.


Ingin di katakan apapun oleh si Samsul, si pemulung tetep saja kekeh tak mau pergi.


Pemulung itu malah mendekat ke arahnya. Karena si Samsul refleks seketika ia mendorongnya. Pemulung itu pun jatuh tersungkur ke tanah. Padahal pemulung itu hanya ingin memungut sampah yang ada di bawah mejanya. Aku dan teman-teman terkejut karena melihat si Samsul yang mendorong pemulung itu dengan kasar. Aku pun langsung berlari untuk menolongnya. Sementara temen-temen mengikuti ku berlari di belakang ku.


Saat sudah sampai aku langsung menolong bapak yang kurus kering untuk berdiri. Setelah itu aku langsung menegur Samsul yang tak sopan pada orang tua.


"Ayo Pak tak bantu berdiri," suruhku sambil membantunya berdiri dengan dibantu oleh si Sinta .


"Suwun Mas Mba (terimakasih Mas Mba)," kata pak pemulung itu padaku dan Sinta.


"Heh Sul kamu ini tak sopan banget itu kan orang tua," marahku langsung padanya setelah membantu pak pemulung.

__ADS_1


"Eh si Alam eh prajuritnya ikut juga. Ada pahlawan kemalaman nih," jawabnya malah menyindirku dan lainnya.


"Halah berisik ko Sung ko kuwe ya ra sopan ra weruh apa nek kuwe Bapak Bapak wis sepuh (halah berisik kamu sung kamu ya gak sopan gak lihat apa kalau ini Bapak-Bapak sudah tua)," marah si Budi juga padanya.


"Sangat tak sopan sekali," jawab si Clara sambil menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa kamu mendorongnya?" omel si Sinta pada Samsul.


"Halah cuma sentuhan tangan aja langsung tumbang. Aku itu risih sebab di liatin sama pemulung dekil itu dan ia malah mendekat ya aku dorong lah," jelasnya sambil terus melirik sinis ke si pemulung yang tak bersalah.


"Bukan begitu dek bapak cuma ingin mengambil bekas tusuk sate yang adek buang," bantahnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Tuh dengar Bapak ini cuma ingin ngambil sampah mu itu, lagian kamu Sul mangan (makan) koh bekas tusuk satenya nggak dikumpulin malah di ambrah-ambrah (berantakin)," omel si Sinta lagi.


"Bapak ini berniat baik lho Sul malah kamu dorong," ucap si Clara memberi tahu.


"Siapa sih mereka Yang?" tanya remaja cewek yang disebelahnya yang diduga pacar si Samsul.


"Orang kampung yang sok pahlawan," jawabnya sambil melirik sinis ke aku dan Bapak pemulung.


Emily Larasati mahasiswa yang berasal dari kota Jakarta itu adalah pacar si Samsul. Ternyata mereka berdua sedang malam mingguan berdua saja tanpa antek-anteknya.


"Heh pantas kalian ini cocok sekali dengan pemulung itu yang kismin dan kotor," si Emely pacar Samsul juga ikut-ikutan menghina kami. Bukannya dinasehati pacarnya malah tenyata sama sifatnya. memang cocok mereka berdua ini.


Bapak pemulung hanya bisa mengelus dada melihat perilaku kasar dan ucapan si Samsul dan pacarnya yang tak sopan itu.


Di tukang sate yang sedang di jajah Samsul. Si Frank yang tak kelihatan ternyata sedang mengobrol dengan si tukang sate.


"Pak Bapake kae bocah pesen nginuman apa?(Pak orang itu pesan minuman apa?)," tanya si Frank tiba-tiba pada tukang sate.


"Maksudmu bocah lanang sing nganggo klambi kotak-kotak kae (maksud kamu lelaki yang memakai baju kotak-kotak itu)," jawab pak pedagang sambil menunjuk si Samsul.


"Iya Pak," ucap si Frank mengangguk membenarkan.


"Pesen jus tomat," Pak pedagang langsung memberi tahu pesanan si Samsul padanya.


"Oh....," seketika ide jahil muncul di benaknya.


"Eh Bapake miki ana sing goleti (heh bapaknya tadi ada yang nyariin)," ucap si Frank berbohong.


"Sapa?" tanyanya.


"Bakul sosis bakar jere arep jaluk tusuk satene (penjual sosis bakar katanya mau minta tusuk satenya)," jawabnya memberi tahu.


"Oh iya tak sana dulu. Mas tulung tak tunggu ni sit ya," si pedang sate percaya begitu saja dengan ucapan si Samsul dirinya langsung pergi dan berpesan padanya untuk menjaga kedainya sebentar.


"Siap Bapake," jawab si Frank sambil mengangkat alisnya.


Setelah Bapak tukang sate pergi mengantarkan tusuk sate ke penjual sosis bakar, si Frank melancarkan aksinya. Dia menaruh sambal 5 sendok ke jus minuman milik si Samsul tanpa ada orang yang melihatnya.


Si Frank melihat tukang sate sudah berjalan kembali, ia pun langsung mengembalikan gelas seperti semula.


"Heh Mas bohong kamu bakul sosis Ra jaluk tusuk sate koh (heh Mas bohong kamu penjual sosis gak minta tusuk satenya)," protesnya langsung karena merasa dibohongi.


"Iya sih anu.... berarti aku salah denger tadi pak maaf ya," jawab si Frank pura-pura tak tahu sambil menggaruk kepalanya.


"Ya wis ra papa, nyong tak ngateri jus e sit (ya sudah tak apa, aku mau nganterin jusnya dulu)," si pedagang sate memaafkannya lalu pergi mengantarkan pesanan si Samsul.


"Dasar sekumpulan orang kismin seenaknya aja marahi pacar orang," bela Emely marah lagi pada kami semua.


"Eh seenaknya bilang kita kismin, kismin gini berotak cerdas dan berakhlak ga seperti mu dan pacarnya," oceh si Sinta menyindir si Samsul dan pacarnya.


"Mas Mba ini jus pesenan masa e," Pak pedagang sate menaruh jus pesanannya di meja.


"Loh aku ga pesen," ucap si Samsul bingung.


"Aku yang pesen yang," kata Emely memberi tahu sambil tersenyum manis padanya.


"Oh makasih sayang," ucapnya sambil tersenyum padanya.


"Hiiiii...," kami semua geli melihat tingkah mereka berdua yang sok mesra di depan kami semua.


Si Samsul meminum minumannya sambil tersenyum ria ke arahnya dan.........


"Glegek ...," jus masuk ke tenggorokannya. Si Samsul terdiam lama sampai efek pedasnya sampai ke puncak otak.


Jeng Jeng Jeng.....


"Pedesssssssss," teriaknya kencang sampai muka si Samsul seketika berubah memerah karena kepedesan.


"Yang kamu kenapa?" tanya Emely panik.


"Air....hu ah....air Yang," jawabnya sambil mencari-cari air putih.


Karena panik, Emely bingung ia akhirnya memberikan air sembarangan yang ada di meja yakni air bekas kobokan.


"Buwaah," si Samsul memuntahkan air kobokan nya.


Aku dan lainnya hanya bisa tertawa kecil melihat reaksinya itu. Bapak pemulung juga ingin tertawa tapi menahannya karena takut. Dirinya hanya bisa menahan tawanya.


si Frank datang sambil tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha-ha.... rasak na Sul jus tomat rasa sambel hwa-ha-hay," ucapnya sambil tertawa terpingkal-pingkal menunjuk-nunjuk si Samsul.


"Wah parah kamu Frank awas ya hua hua," marah si Samsul setelah mengetahui dirinya menjadi korban kejahilannya si Frank. Dirinya masih merasa kepedasan kerena efek pedasnya sampai ke ubun-ubun.


"Makanya jangan belagu jadi orang hahaha," ucap si Sinta sambil terus tertawa.


"Karma buatmu Sul karena gak sopan sama bapak ini," kataku padanya.


"Sung Sung mukamu abang jembrang (merah banget) ha-ha-ha," si Budi tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.


"Hayu Yang kita pulang aja," ajak Emely pada Samsul.


Si Samsul menurut dan pergi sambil menunjuk-nunjuk ke arah kami berlima. Sekarang si Samsul dan pacarnya Emely sudah pergi meninggalkan kami semua dengan perasaan kesal.


"Pak aku kalih kanca ku bantu bapak ya bersih-bersih (Pak aku sama temenku bantu bapak ya bersih-bersih)," tawarku padanya.


"Aja mas mengko klambi mas karo mba e sing resik kotor (jangan Mas nanti baju kalian kotor)," tolaknya karena taku baju kami jadi kotor setelah membantunya.


"Mboten napa napa pa kita iklhas membantu (tidak apa-apa pak kita iklhas membantu)," jawabku diikuti anggukan teman-teman.


"Aduh matur sewun sanget mas kalih mba (aduh terimakasih sekali mas dan mbanya)," ucap si pemulung terharu dan senang karena ada yang mau membantunya.


"Sami-sami Pak kita semua malah seneng bisa bantu (sama-sama pak kami semua malah senang bisa membantu)," jawab ku.


"Iya Pak itung-itung ngurangi sampah sing ana ning Alun-Alun (iya Pak itung-itung mengurangi sampah yang ada di Alun-Alun)," ucap si Budi menimpali ku.


Aku dan temen-temen mulai memungut sampah dari ujung alun-alun ke ujung alun-alun lainnya. Kami berlima memungut sampah sambil membawa kantong kresek untuk menaruh sampah yang di pungut. Bapak pemulung dan juga teman pemulung lainnya ikut rame-rame membersihkan seluruh Alun-Alun. Hampir setengah jam kami berlima memungut sampah membersihkan Alun-Alun. Bahkan sampai pengunjung yang tadinya banyak kini hanya tinggal sedikit. Kami berlima masih membantu bapak pemulung.


Saat kami berlima sedang memungut sampah, Pak pemulung memanggil kami berlima.


"Mas Mas Mba Mba liren sit (Mas Mas Mba Mba istirahat dulu)," panggil pak pemulung pada kami berlima.


"Nggih Pak (iya Pak)," saut ku dan temen-temen.


Kami berlima menghampiri bapak pemulung dan duduk di pinggir jalan sisi alun-alun.


"Nah nginum nggo kabehan, maaf ya bapak cuma bisa ngenehi wedang Aqua gelas tok sing murah (nah minum untuk kalian, maaf ya bapak hanya bisa memberikan air Aqua gelas saja yang murah)," Pak pemulung membawa lima Aqua gelas yang dibelinya dan di berikan satu persatu ke kami.


"Nggih pak ga papa matursuwun (iya Pak tak apa terimakasih)," ucapku sambil tersenyum di ikuti yang lainnya juga.


"Bapak ya matursuwun (Bapak juga terimakasih)," Pak pemulung juga tersenyum pada kami. Dirinya terlihat bangga dan senang kepada kami yang telah mau membantunya. Kini Alun-Alun sudah mulai berkurang sampahnya. Kami semua jadi lega dan nyaman karena tak ada lagi sampah yang berserakan.


Kami berlima tersenyum ceria sambil menyedot air Aqua gelas. Senamun hanya air aqua gelas kamu berlima sangat senang dan bahagia karena bisa membantu membersihkan Alun-Alun. Bersama pemulung lainnya kami berlima terus bersenang-senang sampai kami berlima pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Bersambung.........🍁🍁🍁


__ADS_2