
Hutan Gunung Slamet.
"Cici.. cuit... cici... cuit, ngak.. ngak," suara berbagai jenis burung bersaut ria berpadu memecah luasnya hutan. Hutan Gunung Slamet ini memang dikenal dengan banyak berbagai macam jenis endemik burung. Bahkan Elang Jawa yang dikategorikan sebagai hewan dalam daftar merah atau terancam punah juga ada di sini walau tak banyak.
Hari ini adalah hari pekan ku. Aku, Budi dan Sinta bersama Bang Kris, Mba Lili, dan Bang Opik pergi menjelajahi kawasan Hutan Gunung Slamet ini. Kami semua sudah membawa barang yang dibutuhkan untuk penjelajahan dan sudah berjalan menelusuri kawasan hutan.
Kami semua datang untuk melihat keadaan burung-burung yang disini, bagaimana habitatnya, dan bagaimana mereka bisa berkembang biak. Dengan bermodal teropong yang berkalung di leher kami, kami semua bisa dengan mudah melihat dan mengawasi mereka. Sesekali kami berhenti berjalan untuk melihat ke atas apakah terdapat spesies burung yang berkeliaran disekitar hutan menggunakan teropong milik kami.
"Lam Lam teropong mu adep na duwur, aku miki weruh ana Elang mabur melintas,(Lam Lam coba teropong mu di hadapkan ke atas, aku tadi melihat ada Elang terbang melintas)," suruh Budi padaku.
"Aku lalu menurut mengarahkan teropong milikku ke atas, "Oh iya, Elang Jawa Bud. Esih ana jebule,(oh iya, Elang Jawa Bud. Masih ada ternyata)," ucapku senang sambil terus mengarahkan teropong ku keatas.
"Memang Elang Jawa di kawasan hutan ini masih ada walau hanya sedikit," tukas Bang Kris padaku.
"Iya para juniorku, maka dari itu kita harus menjaga habitatnya agar tak punah. Makanya tadi pas kita masuk hutan ada larangan jangan memburu burung sembarangan," jelas Mba Lili.
"Oalah begitu ya," ucapku mengerti sedangkan si Budi dan Sinta hanya manggut-manggut saja.
"Bang Kris aku kesel, liren sit ya,(Kak Kris aku lelah, istirahat dulu ya)," pinta si Budi tiba-tiba.
"Istirahat lah jika kalian lelah. Kakak, Mba Lili dan Bang Opik akan pergi dulu," Bang Kris memperbolehkan kami bertiga istirahat dan berkata bahwa dirinya akan pergi duluan bersama yang lain.
"Nah Lam walkie talkie untuk kalian," Bang Kris lalu memberikan 3 alat komunikasi kepadaku dan untuk kedua temanku juga.
"Nanti jika ada apa-apa hubungi kami lewat itu," perintahnya.
"Baik Bang mengerti," aku mengangguk mengerti. Budi dan Sinta juga ikut mengangguk.
"Terimakasih Bang," ucapku setelah itu.
"Kalau begitu kami pergi naik dulu kalian berhati-hati lah," pamit Bang Kris pada kami.
"Para juniorku istirahat jangan sampai kalian kelahan Mba tunggu kalian di atas," kata Mba Lili lalu pergi menyusul Bang Kris.
"Te... sate ini baru permulaan dek, kalian pada harus mempersiapkan mental kalian lebih baik lagi taye," pesannya pada kami.
"Siap Bang," jawab kami bertiga kompak.
"Ya Abang manjat taye sampai jumpa taye," pamit Bang Opik.
"Dah kaka hati-hati," ucapku melambaikan tangan pada mereka. Budi dan Sinta juga ikut melambangkan tangannya.
"Kalian juga," teriak Bang Kris yang sudah lumayan jauh tapi masih mendengar suara kami.
Kami bertiga beristirahat sedangkan para senior pergi ke atas terlebih dahulu. Kami bertiga meminum air yang telah kami bawa masing-masing.
"Uh segerrrr.... Adoh yoh,(uh segarrr....Jauh yah)," ucap Budi setelah meminum airnya.
"Iya tengan, sikile aku ngantek gempor,(iya ternyata kakiku sampai lemas)," timpal si Sinta sambil memijat kakinya.
"Aduh temen-temen aja nyerah lah jere arep dadi manungsa pencinta alam ya kudu siap hadapi resiko,(aduh teman-teman jangan menyerah lah katanya mau jadi manusia pecinta alam ya harus siap menghadapi resiko)," jelasku menyemangati mereka berdua. Aku lalu menenggak air minum ku.
"Iya Lam mungkin gara-gara mbe pertama," kata si Sinta.
"Ko ra kesel apa?(kamu tidak capek apa?)," tanya Budi padaku.
"Ya lumayan lah," jawabku sambil sedikit terengah-engah.
"Hayu jalan maning melasi sing liaya ne wis ngenteni,(hayu jalan lagi kasihan yang lain sudah menunggu)," ajak ku setelah merasa cukup beristirahat.
Aku, Budi dan Sinta berjalan kembali menaiki hutan. Baru lima langkah berjalan seketika aku mendengar suara cuitan seekor burung tak jauh dari aku berada. Tampa basa basi tanpa kode apapun aku langsung berbelok ke jalan berbeda. Budi dan Sinta yang melihatku jadi bingung. Mereka berdua memanggil namaku tapi aku menghiraukannya dan memilih terus berjalan mencari sumber suara.
"Lam Lam salah arah mbok lurus deneng menggok,(Lam Lam salah arah kan lurus kok belok)," panggil Budi memperingati ku.
"Hayu Bud tut na,(ayo Bud ikuti)," ajak si Sinta padanya.
"Iya hayu arep ngendi jan ne kae,(iya ayo mau kemana sebenarnya dia)," jawab si Budi semakin penasaran padaku.
Sementara aku berhenti dan terkejut melihat banyak jaring yang dipasang untuk menjebak burung agar terjerat ke dalam. Karena aku tak tega, aku langsung melepaskan beberapa burung yang terjebak di jaring. Entah itu jebakan milik siapa aku tak peduli yang penting burung-burung selamat dan bisa terbang bebas kembali ke habitatnya.
Saat aku mulai melepaskan satu-persatu burung. Budi dan Sinta datang menyusul. Mereka berdua juga sama terkejutnya dengan ku. Tapi mereka berdua takut untuk ikut membantu melepaskan burung-burung itu saat ku suruh untuk dilepaskan.
"Melasi pisan sabar ya tak uculna siji-siji,(kasihan banget sabar ya akan ku lepaskan satu-persatu)," ucapku berbicara pada burung-burung itu.
"Bud, Sin aja meneng wae rewangi aku bebas na manuk-manuk kiye lah,(Bud, Sin jangan diam saja, bantu aku bebaskan burung-burung ini lah)," tegurku agar mereka membantu.
"Lam emong lah aku wedi kaya ne kiye anu wis sengaja di gawe ning wong,(Lam enggak lah aku takut sepertinya ini sudah dibuat oleh orang)," tolak si Sinta sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Budi hanya manggut-manggut setuju dengan ucapannya.
"Lah belih ra udah peduli sing penting manuk-manuk kiye pada ucul mabur meng nggenohe,(biarlah aku tak peduli yang penting burung-burung ini bebas terbang ke tempatnya)," bantahku sambil terus melepaskan burung-burung itu.
"Sapa jere kiye sing nglakuk na? Cek cek cek,(siapa sebenarnya yang melakukan ini? Cek cek cek)," pikir sambil berdecak.
"Manungsa kiye mesti,(manusia ini pasti)," tebak ku bergumam sendiri.
Mereka berdua dengan rasa sedikit takut dan khawatir akhirnya ikut membantuku. Saat kami bertiga melepaskan burung-burung itu ke alam, tiga orang yang entah darimana datang menegur memarahi kami bertiga.
"Heh kalian pada ngapain ning kana?,(heh apa yang kalian lakukan disana?)," teriak seseorang dari belakang kami.
Kami bertiga terkejut dan langsung menengok ke belakang.
"Gawat lam kayane kae wong sing duwe,(gawat lam seperti itu orang yang punya)," ucap si Budi memperingati ku.
"Iya Lam hayu kabur wae,(iya Lam ayo lari saja)," ujar si Sinta mengajak ku untuk kabur.
"Aja kabur hayu hadapi mereka, jika benar mereka pelaku dari semua ini, aku ra bakal meneng wae,(jangan lari ayo hadapi mereka, jika benar mereka pelaku dari semua ini, aku gak bakal diam saja)," ucap ku menolak dan memilih di tempat.
"Tapi....," si Sinta yang melihatku mengepal kedua tanganku dan kekeh pada pendirian ku langsung mengalah dan tak jadi kabur.
__ADS_1
Lalu satu orang mengecek hasil tangkapannya itu dan terkejut karena tangkapannya hilang semua.
Orang yang mengecek tadi kembali, mendekat dan berbisik pada orang yang meneriaki kami.
"Pak Ming'un tangkapan kita kabeh ucul, pasti mereka sing nglepasna,(Pak Ming'un tangkapan kita semuanya lepas, pasti mereka yang melepaskannya)," bisiknya. Seketika raut muka orang yang bernama Pak Ming'un itu langsung merah dan melotot ke arah kami.
Budi dan Sinta mulai ketakutan. Mereka bahkan bersembunyi di belakang ku.
"Heh kalian, bocah tengik wani wani ne bebas na dikepan ku,(heh kalian, bocah tengik berani-beraninya membebaskan tangkapan ku)," teriaknya marah pada kami bertiga.
"Iya jar jare ra angel apa gali gawe kalaan ne,(iya memang gak susah apa bikin jaringnya)," marah bapaknya satu lagi.
Aku lalu maju mendekat ke arah ketiga orang itu.
"Iya aku sing nglepasna Pak, apa salah?," ucapku memberanikan diri.
"Malah takon, ya salah lah sedina sewengi ngenteni hasil dikepan wis kena malah di cul na sepenake wae,(pake nanya, ya jelas lah salah lah sehari semalam menunggu hasil tangkapan kena eh malah di lepaskan seenaknya saja)," ucap Pak Ming'un mulai jengkel.
"Pak manuk manuk kae ukurane di lepasna, melasi nin pada,(Pak burung-burung itu ukurannya di lepaskan kasihanilah mereka)," ucapku menasehati.
"Iya kenang apa Bapake pada dikepi manuk, apa langka kerjaan liya?(iya kenapa bapaknya pada nangkapi burung, apa langka kerjaan lainnya?)," si Sinta mulai maju memberanikan diri.
"Dasar e mbok ning ngarep wis ana larangane kon aja nangkepi manuk. Kanapa masih di buroni?,(pada dasarnya didepan kan sudah ada larangan untuk tidak menangkapi burung. Kenapa masih di buru?)," ucapku dengan nada kesal.
"Kita nek ra nangkepi manuk nggo dedol, keluarga kita arep denehi apa. Ko ko pada tah nu bocah ingusan cah wingi ra gadang ngerti,(kita kalau tidak menangkap burung buat di jual keluarga kita mau di kasih apa. Kalian ini hanya anak ingusan anak kemarin mana mengerti)," jelas Bapak satunya lagi.
"Tapi kan Bapake pada bisa nggolet kerjaan liyane, melasi manuk-manuk kiye wis lagi setitik-setitik e malah di dikepi,(tapi kan bapaknya bisa cari kerjaan lainnya, kasihan burung-burung ini sudah lagi sedikit-sedikitnya malah di tangkai)" jelasku memberikan saran pada mereka.
"Aduh kiye bocah angel banget di omongi (aduh ini anak susah banget di omongin)," ucap Pak Ming'un pelan.
"Pak gawa wae kita sandra mereka,(Pak bawa aja kita sandera mereka)," usul salah satu orang tersebut.
Mendengar kata sandra aku langsung ingin kabur tapi kakiku tidak bisa digerakkan. Seakan-akan aku tak diijinkan pergi dari sana.
"Tangkap mereka ikat mereka di pohon," suruh Pak Ming'un kepada dua temannya.
Saat kedua orang itu ingin menangkap kami atas perintah Bosnya, aku dan Sinta langsung menghindar dan mulai melawan mereka.
Sementara Budi yang dari tadi bersembunyi di belakang pohon, langsung menghubungi Bang Kris untuk meminta pertolongan. Dirinya langsung mengambil walkie talkie dan menghubunginya.
"Bang Bang Kris halo halo 123 tes Bang Bang," panggilnya lewat walkie talkie nya.
Sedangkan di area berbeda Bang Kris dan lainnya sedang beristirahat sembari menunggu kami bertiga. Disaat itu juga ada bunyi kresek kresek dari walkie talkie milik Bang Kris. Ia pun langsung mengangkatnya.
"Bang Kris Bang Kris halo halo," suara Budi memanggilnya.
"Iya Bud ada apa?" tanyanya setelah mengangkat walkie talkie nya.
"Bang Kris cepetan mudun Alam ro Sinta pada lagi gelut karo wong cepetan,(Kak Kris cepetan turun Alam dan Sinta lagi berantem sama orang, cepetan)," lapor si Budi panik sambil meminta bantuannya.
"Baik Bud, Kaka akan segera ke sana," jawabnya setelah menerima pesan dari si Budi.
"Baik Kris," jawab Mba Lili siap.
"Taye masalah apa mereka ini taye," guman Bang Opik sambil melangkah berjalan.
mereka bertiga berlari menuruni gunung dengan bantuan kompas. Bang Kris sudah menerima sinyal darurat dari Budi.
...🧗🧗🧗🧗🧗🧗...
Sementara aku dan Sinta masih berusaha melawan. Si Sinta ternyata jago berantem juga. Aku jadi sedikit terkesan melihatnya. Sedangkan Budi yang tadi bersembunyi terpaksa keluar untuk mencoba melerai.
"Pak wis wis aja pada gelut," si Budi mencoba meleraikan pertengkaran kami.
"PUKK," tangan nyasar melesat ke pipinya.
"Aduh," si Budi bukannya berhasil melerai malah dirinya kena tonjok bapak yang bertubuh tinggi.
"Jan Bapake lara,(ih Bapake sakit)," ucapnya sambil mengelus-elus pipinya yang sakit.
"Pak wis Pak mandeg aja emosi kita bicarakan baik-baik," kata ku mencoba menghentikan pak Ming'un yang hendak menyerang ku.
"Halah berisik rasak na tendangan ku," ucapnya sambil berlari hendak menendang ku.
Aku menghindar dan tak diduga Bapak itu tersungkur ke tanah.
"Bocah asem ngeneh ko maju," tantangannya padaku sambil berdiri.
Saat aku ingin melangkah maju dengan rasa ragu, Bang Kris dan lainnya datang. Bang Kris langsung memuntir tangan Pak Ming'un dari belakang.
"Ampu ampun lara lara ampun," Pak Ming'un teriak-teriak kesakitan.
"Aku akan melepaskan mu jika kowe janji aja nglawan. Kita bicarakan baik-baik," ucapnya menekankan kata-katanya.
"Iya iya," jawab Pak Ming'un berjanji.
Bang Kris melepaskan Pak Ming'un, anak buahnya seketika juga berhenti menyerang teman-temanku.
"Pak perbuatan Bapak iki salah aja di ulangi," Bang Kris memberikan peringatan pada mereka.
"Tapi Mas, aku nek ra kaya kiye anak mbojo ku di empani apa?,(tapi Mas, aku kalau gak begini anak istriku di kasih makan apa?)," ucapnya bersedih.
"Bapak kan bisa cari kerja yang lain," kata Mba Lili memberikan solusi.
"Golet kerja saiki angel Mas Mba,(cari kerja sekarang susah Mas, Mba)," ucapnya.
"Kiye bae aku punya solusi bapak-bapak bisa membiarkan burung-burung berkembang biak di alam terlebih dahulu, terus Bapake bisa jual dengan cara adopsi. Bapak bisa mengirimkan foto dan video burung yang tengah bertelur dan menetas sampai terbang. Contoh seperti ini sudah ada di Daerah Menoreh dan itu berhasil Pak," Bang Kris menjelaskan satu solusi yang ia sebelumnya pernah dipelajari.
__ADS_1
"Baiklah kami akan mencobanya," jawab Pak Ming'un setuju.
Aku hanya bisa menyimak saja terkagum-kagum dengan Bang Kris yang bisa dengan mudah menasehati dan memberikan solusi pada mereka.
"Terimakasih atas sarannya Mas dan kami minta maaf telah membuat kanca-kanca Mas cecel," ucapnya meminta maaf pada kami semua.
"Nggih Pak saiki Bapak bali ngenehi ngerti maring warga liyane cara mau kiye ya,(ya Pak sekarang Bapak pulang kabari warga lainnya cara tadi ini ya)," saran Bang Kris pada bapak-bapak itu.
"Nggih nggih Mas matursuwun kita pamit,(iya iya maaf. Terimakasih, kita pamit)," pamit Bapak-Bapak itu.
Orang orang tersebut lalu pergi turun gunung meninggalkan kami.
...🏊🏊🏊🏊🏊🏊...
Sedangkan di Anakan Pantai Cilacap Jawa Tengah.
Tampak Bang Betrus sedang menjelaskan nama dan fungsi dari alat diving pada Frank dan Clara.
"Ini pasti kalian tau, ini namanya Mask atau Masker untuk melindungi mata," tebaknya lalu memberi tahu nama alat dan fungsinya.
"Itu aku tau Kak," jawab si Clara.
iya kak, jawab si Frank juga sambil mengangguk.
"Yang kedua Regulator Selam berfungsi untuk mengalirkan udara ke mulut saat bernafas di dalam air. Penggunaan alat ini adalah dengan bernafas melalui mulut. mengerti," jelasnya lagi.
"Mengerti Kak," ucap mereka berdua sambil manggut-manggut.
"Kalau fungsi yang lainnya bagaimana sudah paham?", tanyanya pada mereka berdua.
Aku tadi malam sudah mempelajarinya kak, tapi aku sedikit lupa dengan alat itu," ucap Clara sambil menunjuk ke alat yang berbentuk seperti sabuk itu.
"Oh ini namanya Weight belt/Integrated Weights ini semacam alat pemberat bagi kita di dalam air," jelas Bang Doel yang kebetulan sedang memasang alatnya di tubuhnya.
"Oh begitu," si Clara dan Frank mengangguk mengerti.
"Sekarang kalian berdua sudah paham?" tanya Bang Betrus lagi memastikan.
"Sudah Kak," jawab mereka berdua.
"Kalau sudah kalian berdua pakailah semua alat ini, setelah itu kita mulai menyelam ke dalam," suruh Mba betti pada Frank dan Clara.
"Siap Kak," jawab mereka kembali.
Frank dan Clara bersama Bang Betrus, Mba Betti dan Bang Doel sudah memakai alat diving dan kini mereka siap menyelam ke dasar laut.
Biota laut disana cukup banyak dan bersih Terumbu karang juga begitu banyak. Ikan-ikan kecil menghampiri Frank dan lainnya. sesekali mereka memotret keindahan alam itu. Mereka semua bersenang-senang di dalam laut sampai kembali ke permukaan.
"Wah bagus banget miki ning njero laut yah,(wah bagus banget tadi di dalam laut yah)," ucap si Frank kagum plus seneng.
"Iya Frank apik pisan, miki aku akhirnya isa ngetul iwake langsung ning mbayu. Senenge,(iya Frank bagus banget, tadi aku akhirnya bisa menyentuh ikan langsung di air. Senangnya)," timpal Clara yang ikut merasakan senang juga
"Iya tujuan kami disini itu untuk mengecek apakah warga sekitar pantai menjaga pantainya dengan baik atau tidak," jelas Mba Betti pada mereka.
"Dan ternyata warga di sekitar sini sudah terlatih untuk menjaga biota lautnya," sambung Bang Betrus
"Iya Alhamdulillah para nelayan juga sudah banyak yang memancing para ikan dengan cara yang benar," timpal bang Doel juga ikut senang.
"Memang dulu mereka tak seperti ini bang?" tanya si Frank pada seniornya.
"Iya juniorku dulu warga di sini masih memancing dengan menggunakan pukat harimau akibatnya biota laut menjadi rusak," jawab Mba Betti menjelaskan.
"Tapi sekarang mereka semua sudah sadar dan sudah dijelaskan oleh pemerintah serta sudah ada dendanya bagi orang yang melanggarnya. Warga disini di awasi ketat untuk tidak melakukan hal yang dapat membahayakan ikan-ikan di laut ini," sambung Bang Betrus ikut menjelaskan.
"Oh begitu kak. syukurlah mereka sudah kembali kejalan yang benar," kata si Clara lega.
"Iya aku ikut seneng denger e," ucap si Frank menimpalinya.
Sementara aku, Budi dan Sinta yang masih di kawasan Hutan Gunung Slamet. Kami semua berhenti di area pada rumput luas dan terlihat Gunung Slamet menjulang tinggi di depan. Kami semua hendak melakukan shalat Dhuhur dan Ashar dengan cara dijamak. Sebelumnya kami semua telah mengambil air wudu di sungai terdekat. Kami melakukan shalat dengan di pimpin oleh Bang Kris. Kami semua melaksanakan shalat di alam liar dan menghadap ke arah gunung.
Sekitar sepuluh menit kami semua sudah selesai shalat dan hendak turun kembali ke jalan biasa. Tapi saat sedang turun gunung kami di hadang oleh seekor babi hutan yang kalau di tempat ku namanya 'celeng'. Kami perlahan mundur dan berdiam diri tak bergerak sesuai yang sudah diajarkan sebelumnya.
Sekitar lima belas menit kami menunggu, berdiam diri sampai aku mulai merasakan pegal di area kaki di tambah getaran kakiku yang tak berhenti-berhenti karena lama berdiri. Kami semua mengawasi pergerakan babi hutan itu. Babi hutan tersebut hanya berkeliaran disekitar kami sampai akhirnya tubuhnya berbalik dan berlari kencang. Kami semua lega karena bisa lolos dari bahaya.
"Huh syukur celeng e wis lunga nyong deg-degan banget,(huh syukur babi hutannya dah pergi aku deg-degan banget)," ucap Budi merasa lega sambil mengelus dadanya.
"Pada Bud rasanya jantungku ini pengin copot," si Sinta juga ikut merasakannya.
"Iya sikil ku ngantek wis geter ngenteni celeng sing ngayer-ngayer ra lunga-lunga, ditambah atiku sing dag-dig-dug ser kiye,(iya kakiku sampai gemetaran menunggu babi hutan yang berjalan ditempat tak pergi-pergi, ditambah hatiku yang dag-dig-dug ser ini)," kataku pada mereka.
"Aman semuanya," Bang Kris menanyakan keadaan kami semua.
"Alhamdulillah aman Bang," ucapku sambil melihat sekitar sudut hutan untuk memastikan. Akut takut akan ada bahaya yang menghadang kami lagi
"Yok kita turun," ajaknya.
"Baik Bang," ucap kami bertiga.
"Kalian harus waspada jangan sampai kita bertemu hewan buas lagi," pesannya pada kami lalu baru berjalan menuruni hutan.
"Siap Bang," ucap kami bertiga lagi.
"Pelan-pelan," perintah Mba Lili pada kami semua.
"Baik Mba Lili," jawabku.
Kami melanjutkan perjalanan kami dengan hati-hati dan terus waspada. Dan sampai akhirnya kami semua keluar dari hutan dengan selamat. Inilah jiwa penjelajah pantang menyerah walau nyawa bagai taruhannya.
__ADS_1
Bersambung.........🧗🧗🏊🏊