
Cici cuit cici cuit kukuruyuk, suara kicauan burung dan kokokan ayam menyambut datangnya pagi. Kami berlima sudah bangun dan sudah selesai melaksanakan kewajiban kami yakni shalat subuh. Matahari sedikit demi sedikit memunculkan sinarnya. Suasana pagi menyambut alam semesta.
Kegiatan liburan kali ini, kami berlima berniat pergi ke sebuah Curug yang terletak di desaku. Curug di desaku ini disebut dengan wisata Antap. Letaknya di sekitar hutan Pinus sedikit naik ke Gunung. Karena letaknya yang memang di alam, membuat suasana disana menjadi sejuk dan asri.
Sekarang aku dan teman-teman ku siap berangkat. Digendongnya tas ransel yang telah di siapkan oleh kami berlima. Aku dan teman-teman lalu pamit pada Ibu dan Bapakku.
"Pak Bu, aku karo sing liyane hiking meng Curug Antap disit ya (Pak Bu, aku sama yang lainnya hiking ke Curug Antap dulu ya)," pamitku sambil menyalami tangan Ibuku.
"Iya sing ati-ati, ben tas ibu wis delahi sawijining panganan bekel nggo koko pada (iya yang hati-hati, tiap tas ibu udah taruh beberapa makanan bekel buat kalian)," pesannya sambil memberitahu.
"Halah matursuwun sanget Ibu ne alam, dadi ngerepoti (halah terimakasih banyak Ibunya Alam, jadi merepotkan)," ucap si Budi senang saat mengecek ke dalam tasnya. Tapi dirinya juga tak enak hati pada Ibuku.
"Hush apalah Bud kaya meng sapa wae (hush apalah Bud kaya ke siapa aja)," tukasnya.
Si Budi hanya terkekeh sambil menutup resleting tasnya kembali.
"Matursuwun Bu. Ibu e baik pisan (terimakasih Bu. Ibunya ini baik banget)," ucap si Frank juga sambil memuji.
"Matursuwun Bu, Ibu emang sing paling ngerti ni (terimakasih Bu, Ibu emang yang paling mengerti)," pujiku juga sambil mengacungkan jempolku.
"Matursuwun (terimakasih) Bu," ucap si Sinta dan Clara berbarengan. Teman-teman ku sangat senang karena mendapat bagian bekal makanan dari Ibuku.
"Iya pada pada (iya sama-sama)," balas ibuku dengan senyuman.
"Nganah mangkat, aja kelalen sore ne mancing karo bapak (sana berangkat, jangan lupa sorenya mancing sama bapak)," suruh bapakku sambil mengingatkan.
"Iya Pak lah," jawab ku mengangguk.
"Ya wis kita pamit. Assalamualaikum," pamit ku sambil menyalami kembali Ibu dan Bapakku. Temen-temen ku juga ikut menyalaminya setelah diriku.
"Waalaikum salam," balas Ibu dan Bapakku
Kami berlima mulai menggendong tas kami kembali lalu berjalan melewati perkampungan dan menyelusuri kali. Setelah kepergian ku, di rumah Ibuku marah lagi pada Bapakku karena mengajakku memancing.
"Bapak e kowe ngajaki alam karo batir-batir e mancing apa (Bapake kamu ngajak Alam sama teman-temannya mancing apa)?" tanyanya dengan nada tak suka.
"Iya lah emang ngapa?" jawabnya berbalik tanya.
"Mancing bae pegawean mu (mancing saja kerjaan mu)," sindir Ibuku.
"Ana turnamen mengke sore, lamon aku menang mbok lumayan (ada turnamen nanti sore, siapa tau aku menang kan lumayan)," ucapnya sambil menyeruput kopinya.
"Ya nek menang nek ora aja mancing meneh (ya kalau menang kalau nggak jangan mancing lagi)!" omelnya sedikit mengancam.
"Iya iya nek menang juga duite nggo Ibu e, mulane dongak na kon menang aja bada budu bae (iya iya kalau menang juga uangnya buat ini Ibu e, makanya doa kan aku supaya menang jangan ngomel-ngomel terus)," balasnya lalu menyuruh Ibuku berdoa.
"Ya wis," ucapnya setuju dengan nada ketus.
"Sing ikhlas," ledek Bapakku sambil tertawa kecil.
"Iya," jawabnya.
"Semoga Bapake menang turnamen mengke (nanti) sore," mohon nya pada yang di atas sambil mengangkat kedua tangannya.
"Aamiin," jawab bapakku mengamininya.
"Wis tak tinggal sit gene biyung ngepet lombok (dah tak tinggal dulu ke rumah Ibu metik cabai)," pamitnya.
"Ya wis nganah, bapak rep lanjut medang karo nyeruput kopi sit (ya sudah sana, bapak mau lanjut medang sambil seruput kopi dulu)," balasnya.
Ibu ku lalu pergi meninggalkan bapakku sendirian. Bapakku sangat menikmati kopinya dan sepiring serabi yang Ibuku beli tadi di pasar.
Setelah 30 menit berjalan akhirnya kami sampai di Curug Antap. Deru aliran sungai menyambut kami berlima. Wisata yang satu ini lumayan rame. Keluarga, teman bahkan orang yang sedang berpacaran juga ada di sini. Mereka semua mengisi liburannya dengan bermain air atau sekedar jalan-jalan disekitar area Curug.
"Hayu foto ning duwur (ayo foto di atas)," ajakku pada teman-teman.
"Hayu hayu." Semua antusias setuju sambil mengangguk bersamaan. Kami berlima pun menuju ke tengah Curug lalu berfoto.
"Siji loro telu, cek rek!" Setelah kami berlima foto bersama, kami lalu pergi duduk di beberapa bebatuan yang ada di Curug.
"Di deleng deleng tempat e rada medeni ya (di lihat-lihat tempatnya sedikit menakutkan ya)," kata Budi tiba-tiba sambil melihat sekitar.
"Iya lumayan medeni sebab pinggir-pinggir e hutan mulane kudu ati-ati mbok ijig-ijig ana ula liwat (iya lumayan menakutkan sebab pinggir-pinggir nya hutan makanya harus hati-hati takut tiba-tiba ada ular melintas)," timpalku.
"Tapi tetep lumayan rame ya," ujar si Sinta. Dirinya bisa berkata seperti itu, sebab dirinya melihat banyak orang di atas bahkan ada yang baru saja tiba juga.
"Nek Setu Minggu lewih rame (kalau Sabtu Minggu lebih rame lagi)," kataku.
"Ana apa emang e (ada apa emangnya)?" tanya si Clara penasaran.
"Ana (ada) bazar panganan," jawabku.
"Ora ngomong (gak bilang)," kata si Budi tiba-tiba sambil mendorong ku. Aku terkejut dan karena dorongan si Budi yang sedikit kuat, aku hampir saja terjungkal ke air. Untung saja aku bisa mengimbanginya.
__ADS_1
"Lah emang ngapa?" tanyaku menengok ke Budi. aku lalu membenarkan posisi dudukku.
"Ya donge meng ngenehe Minggu wae (ya harusnya ke sini nya Minggu saja)," jawabnya sedikit menyesal.
"Noh," ucapku melirik pada si Frank.
"Frank!" ucap yang lain berbarengan sambil menatap si Frank.
"Iya soale nek Minggu ngesuk aku arep balik sit dadi ra bisa (iya soalnya kalau Minggu besok aku mau pulang dulu jadi gak bisa)," katanya.
"Hemm sayang pisan mesti akeh panganan enak-enak (hemm sayang banget pasti banyak makanan enak-enak)," ucap si Budi merasa kecewa.
"Wis ra usah sedih, sesuk maning nek esih denehi kesempatan (dah jangan sedih, besok lagi kalau masih diberi kesempatan)," ujarku.
"Emang ko bali arep ana apa (emang kamu pulang mau ada apa)?" tanyaku beralih ke Frank.
"Mbuh (tak tahu)," jawabnya sambil mengangkat bahu.
"Lah piwe (lah gimana)," ucapku sambil menggaruk-garuk kepalaku sebab tak mengerti.
Lima belas menit telah berlalu dan sekiranya cukup bagi kami bermain di sini. Kami berlima pun pergi ke kamar ganti untuk berganti baju. Sebab pakaian kami terkena air tadi.
Setelah semua selesai, barulah kami pulang dengan berjalan kaki kembali. Untung kami sebelum ganti tadi, kami sudah makan bekal yang Ibuku siapkan. Dengan begitu kami berlima memiliki cukup tenaga untuk berjalan kaki kembali. Kami memutuskan untuk tidak memotong jalan dan memilih untuk berjalan di setiap ruas jalan raya kecil saja.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Ditengah-tengah perjalanan kami melewati bentangan sawah yang luas dengan menjulangnya pegunungan hutan Pinus. Tiba-tiba saja aku melihat ada kukus yang lumayan lebat dari arah hutan. Semakin ku perhatikan tampak ada pancaran api dari dalam sana. Aku pun bertanya pada temanku untuk memastikan penglihatan ku itu salah atau benar.
"Cah cah kae putih putih ngebul ning gunung udu kebakaran (teman-teman itu putih putih ngebul di gunung bukan kebakaran)?" tanyaku tiba-tiba menghentikan langkah yang lainnya. Setelah itu, aku langsung menunjuk ke arah gunung. Semua mata teman-teman jadi ikut tertuju ke arah gunung juga.
"Mbuh Lam tapi kaya iya (tak tau Lam tapi sepertinya iya)," jawab si Budi tak yakin.
"Eh eh kae wong-wong pada mlayu mlayu meng jero alas Pinus ana apa ya (eh eh itu orang-orang pada lari ke dalam hutan Pinus ada apa ya)?" tunjuk si Frank ke arah depan. Tampak banyak orang berlarian menuju ke dalam hutan Pinus.
"Apa bener?? aja aja (jangan-jangan)...." pikir ku yang tidak-tidak.
Kami berlima jadi saling pandang "KEBAKARAN HUTAN," ucap kami berlima berbarengan.
"Gian gian (buruan) aku penasaran," suruh si Budi tak sabar.
"Eh eh Pak stop sit aku rep takon (eh eh Pak stop dulu aku mau tanya)," cegat ku pada seseorang yang kebetulan ku kenal.
Bapak itu berhenti aku pun langsung bertanya padanya. "Ana apa pak mis deneng rame pisan (ada apa Pak Mis kok rame sekali)?"
"Ana kebakaran lam ning jero kana (ada kebakaran Lam di dalam)," jawabnya sambil menunjuk ke dalam hutan.
"Iya Pak," jawab ku mempersilahkan.
Kami berlima pun tanpa berpikir panjang langsung mengikuti Bapak itu menuju dalam hutan. Sesampainya di lokasi kebakaran kami terkejut mendapati api yang sudah menjalar ke bagian lainnya. karena lokasi kebakaran yang jauh dari jalanan, membuat petugas pemadam kebakaran kesulitan untuk memadamkan si jago merah. Tanah seluas 1 hektar tersebut habis di lahap olehnya.
Yang ku tahu dari orang-orang sekitar. Api bermula dari salah seorang yang sedang membersihkan dedaunan disana. sebab area tersebut sebenarnya sedang di buat untuk kebon jagung. Pemilik lahan sedang mengumpulkan daun dan bekas rumput yang berhasil di babad nya. Setelah selesai dikumpulkan, pemilik lahan membakar sampah tersebut. Karena suatu masalah, dirinya akhirnya pulang dulu ke rumah yang berada tepat di bawah hutan Pinus tersebut.
Lama semakin lama api ternyata semakin besar dan berhasil membuat daun yang terbakar kabur terbawa angin hingga menyentuh pohon disekitarnya. Alhasil sedikit demi sedikit kebakaran pun terjadi. Kebakaran di ketahui sebab ada salah seorang yang melihat banyak kukus di sekitar hutan dan langsung segera mengeceknya karena curiga terjadi apa-apa.
"Weh tengan tengan kebakaran ne anu ra di sengaja toh (weh ternyata kebakaran nya anu tak sengaja toh)," ucap ku setelah tak sengaja mendengar cerita para warga di lokasi.
"Iya pemilik e kepeksan ninggal na runtah e gara-gara deweke kencot ro wis bedug soale, dadi bali (iya pemiliknya terpaksa meninggalkan sampah daunnya gara-gara dirinya lapar sama sudah siang soalnya, jadi pulang)," saut salah orang disana menjelaskan.
"Oalah kaya kuwe (seperti itu)," ucapku mengerti.
"Hem kudu ati-ati kie meng nganah e supaya ra kejadian maning (hem kudu hati-hati ini ke depannya supaya gak kejadian lagi)," ujar si Sinta.
"Iya. Hayu balik, Pak Polisi ne wis teka (ayo pulang, pak polisinya sudah datang)," ajakku setelah melihat petugas polisi datang ke lokasi.
"Ya hayu," ucap yang lainnya setuju.
Kami berlima pun meninggalkan lokasi kebakaran. Kami meninggalkan lokasi setelah api berhasil dipadamkan dengan bantuan warga sekitar. Sesekali kami juga ikut membantu sebentar. Di kabarkan juga pemilik lahan sudah di bawa ke kantor polisi untuk di interogasi terkait hal tersebut. Para warga juga ikut bubar dan melakukan aktivitas nya kembali.
Nah kawan ingat ya jika kita sedang ada di hutan dan ingin menyalakan api. Jangan sesekali di tinggalkan begitu saja. Karena kita tak tahu api akan merembet atau tidak ke area sekitarnya. Jadi perlu di jaga dan diawasi dengan hati-hati. Dan jika ingin di padamkan pastikan api benar-benar padam total ya.
...🐟🐟🐟🐟🐟🐟...
Sore harinya di Area Pemancingan.
Kami berlima sudah berpindah tempat sekarang. Kami berlima bersama bapakku sedang mengikuti turnamen memancing yang diadakan di dusun sebelah. Banyak orang dari daerah lain yang ikut turut serta dalam perlombaan memancing ini.
'SELAMAT DATANG PARA PESERTA TURNAMEN MEMANCING TAHUN 2023.' Spanduk besar menyambut kami semua masuk ke area.
Bapakku sudah mempersiapkan peralatan memancingnya dengan sempurna. Mulai dari kail, umpan dan ember juga sudah siap. Yang lainnya sudah memulai memancing. Begitu juga aku, Bapakku dan temen-temen.
"Hayu pak balang na pancingan ne, sing liyane pada wis koh (ayo Pak lempar pancingan nya, yang lainnya pada sudah)," suruhku.
"Iya iya sabar Lam bapak lagi pemanasan sit," jawabnya.
__ADS_1
"Halah suwe ne (halah lamanya)," keluhku.
"Punten Bapake Alam kiye wis mulai mbok (maaf Bapaknya Alam ini sudah di mulai apa belum)?" tanya si Budi sebab bingung.
"Wis Bud, hayu lah balang na pancingan ne (sudah Bud, ayo lah lempar pancingan nya)," jawabku sambil menyuruhnya.
"Jan Bapakku wis senggane pemanasan ne, dadak sarana ritual sit (Pak sudah dong pemanasannya, sampai acara ada ritual dulu)," sindir ku sambil melemparkan pancinganku.
"Kon olih Lam (supaya dapat Lam)," jawabnya sambil meregangkan jari-jemari nya.
"Yee nek ora olih berarti durung rejeki ne Pak (yee kalau gak dapet berarti belum rejeki nya Pak)," ucapku sambil mengikat umpan ke alat pancing.
"Kon olih koh men Ibumu seneng ra ngeresula maning (supaya dapat koh agar Ibumu senang gak ngambek lagi)," katanya.
Bapakku sudah mulai melemparkan kailnya setelah ritual entah apa itu selesai. Dengan umpan cacing yang sebelumnya telah di cari olehnya terlebih dahulu.
"Lam aku ra melu ya tunggu ning warung bae karo Sinta (Lam aku gak ikut ya tunggu di warung saja sama Sinta)," izin Clara pada kami tiba-tiba.
"Lah ngapa Clar?" tanya ku.
"Itu ...," tunjuk si Clara ke arah benda yang sedang di pegang oleh si Frank.
"Ah kie." Si Frank tersadar lalu iseng memperlihatkan cacing yang sedang di pegang nya ke arah Clara.
"Ish Frank." Si Clara yang sedikit kesal akhirnya menepuk tangan si Frank sehingga membuat cacing yang dipegangnya jatuh ke tanah.
"Ya wis nganah (ya sudah sana)," kataku mengizinkan.
Clara dan Sinta akhirnya memutuskan untuk melipir dan pergi ke warung saja untuk menunggu. Sesekali mereka berdua karena bosan menunggu pergi memutari area pemancingan untuk melihat-lihat.
Sementara Bapakku, aku, Budi dan Frank masih menunggu ikan mencaplok umpan dari kami. Disela-sela menunggu ikan datang, kami berempat mendengar dua orang yang sedang mengobrol tentang kebakaran hutan tadi.
"Pak Jo hutan Pinus sing ning (yang di) gunung kontra kebakaran ya?" tanyanya.
"Iya miki (tadi) pada rame-rame deleng," jawabnya.
"Iya, aku malah be ngerti miki sekang Pak Bau (iya, aku malah baru tau tadi dari Pak Dusun)," katanya.
Sedangkan disisi kami.
"Ana apa sih deneng nyong kerungu kebakaran, Lam (ada apa sih kok aku dengar kebakaran, Lam)?" tanya Bapakku sambil melemparkan pancingannya lalu duduk.
"Iya Pak miki pas aku bali sekang Curug ana kebakaran ning gunung kontra (iya Pak tadi pas aku pulang dari Curug ada kebakaran di gunung kontra)," jawabku.
"Lah jar ku bapak ngerti (lah ku pikir bapak tau)," kataku sambil menengok kearahnya.
"Ora Lam bapak sedina kiye golet cacing ning ngulon gene nini mu (gak Lam bapak sehari ini cari cacing di rumah nenekmu)," jelasnya.
"Oalah," jawabku.
"Apa kebakaran ne gede?" tanyanya.
"Lumayan Bapake Alam," jawab si Budi sambil membenarkan posisinya.
Bapakku hanya manggut-manggut dan tiba-tiba kail bergerak-gerak sendiri bertanda ikan terkena umpannya. "Eh eh olih apa kiye,' kata Bapakku terkejut.
"Junjung Pak tarik terus," suruhku antusias.
Benar saja saat di tarik ikan lele Dumbo yang cukup besar berhasil di tangkap nya. "Mantep bapak ke," ucapku mengacungkan jempol kearahnya. "Di kilo Pak," suruhku padanya.
Lalu Bapakku memanggil panitia dan menyuruhnya untuk mengilo hasil tangkapannya itu. "Berapa Pak?" tanya Bapakku pada Pak panitia.
"10 kilo," jawabnya.
"Wih mantep pee," ucapku kagum.
Selang beberapa jam kami mengikuti turnamen tibalah saatnya pengumuman pemenang. Disangka tak dikira ternyata bapakku masuk nominasi juara ke dua. Ya senamun juara kedua kami semua sangat senang. Setelah bapakku menerima hadiah yang berupa uang dan ikan hasil tangkapannya, kami semua pulang dengan perasaan senang dan puas
"Asyik e Ibu pasti seneng iki," gumamnya senang.
"Bapakku beee jago ne," pujiku bangga.
"Keren Bapak e Alam," puji si Budi juga.
"Bapakmu hebat Lam," puji Sinta dan Clara sambil mengacungkan jempolnya.
"Ra disangka Bapakku menang. Seneng e," kataku sangat senang.
"Bapak lewih seneng," timpalnya.
"Kenapa Pak?" tanyaku
"Sebab aku saiki bisa bebas mancing," jawabnya lalu berjalan duluan sambil mesem-mesen. Gimana tak senang Bapakku mendapatkan juara dua lomba memancing yang tak di sangka dan dikira. Dirinya sangat puas dan senang dengan hadiah uang 750.000 ditambah hasil ikan yang di dapatkan nya boleh di bawa pulang.
__ADS_1
Kami berlima saling pandang karena tak mengerti perkataan Bapakku. Aku, Budi, Frank Sinta dan Clara juga saling mengangkat bahu. Barulah setelah itu kami tersadar kalau bapakku sudah jalan duluan. Kami berlima pun berlari mengejar Bapakku yang sudah berjalan di depan sambil bersenandung.
Bersambung.....🧗🧗🧗🧗