BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 24 "Kabar Angin Si Samsul Keluar Negeri"


__ADS_3

Keesokan harinya di Bandara Jendral Besar Soedirman.


Si Samsul dengan diantar oleh Ayah dan kedua temannya sedang menunggu panggilan dirinya untuk masuk kedalam pesawat. Ya hari ini adalah hari dimana Samsul meninggalkan kota Purwokerto.


"Yah jika aku pergi ayah akan sendirian apa gak kesepian?" tanya Samsul pada sang Ayah.


"Mana ada Ayah kesepian sudah sana berangkat," jawabnya dengan dingin.


"Kok Ayah begitu, aku tau.... Ayah sudah tak sayang lagi dengan ku kan," pikirnya sambil mengerutkan dahi.


"Ayah sayang makanya menyuruh mu pergi," katanya.


"Iya kah," ucapnya sedikit tak percaya.


"Terserah kamu saja, jaga dirimu dan jika kamu tak betah ya di betah-betahin aja," pesan sang Ayah yang tampak tak serius.


"Ish," desis si Samsul sedikit kesal.


"Bos selamat jalan semoga kau selamat sampai tujuan," ucap si Domu sembari melangkah memeluk bosnya itu.


Disusul Made yang kini memeluknya sambil berpesan. "Jangan lupakan kami ya bos." Ia lalu melepaskan pelukan dirinya dari bosnya


"Heh mungkin kalian berdua yang bakal lupa denganku," duga Samsul sambil memalingkan wajahnya.


"Tidak lah Bos, Bos ini selalu di hati kami," sangkal si Domu.


"Heleh," kata Samsul ragu.


"Sudah sudah berangkat sana nanti kau ketinggalan pesawat," suruh Pak Samsudin menghentikan salam perpisahan mereka bertiga.


"Iya iya Yah," jawab si Samsul sambil manggut-manggut.


Sebelum berangkat si Samsul memeluk kedua sahabatnya lagi dan ayahnya. Sementara di sisi lain Bandara, tampak si Frank yang sedang berjalan untuk mengantar Neneknya pulang ke tempatnya. Setelah acara makan-makan kemarin malam, Nenek Frank yang berasal dari Papua memilih untuk kembali pulang. Bersama dengan kedua orangtuanya, si Frank mengantar kepergian sang Nenek. Ya setelah pesta perayaan ulang tahun nenek nya kemarin, kini dirinya dan keluarganya mengantar sang nenek ke Bandara untuk kembali ke tanah Papua.


Ditengah sedang berjalan si Frank mendadak menghentikan langkah kakinya. Dirinya seperti melihat seseorang yang di kenalnya. Lalu ia berhenti untuk memperhatikan orang tersebut dan ia menyadari bahwa itu adalah si Samsul. Dirinya pun bertanya-tanya tentang apa yang dilihatnya.


"Kae (itu) si Samsul kan yah, tapi kok disini gawa (bawa) koper maning (lagi)," pikir Samsul dengan mata terus tertuju ke depan.


Dirinya terus memperhatikan dengan serius. Saking seriusnya dirinya sampai terkejut ketika di panggil oleh Neneknya.


"Prank ayo," panggilnya.


"Eh iya Nek," jawab si Frank sedikit terkejut.


Karena terkejut, si Frank pun akhirnya memilih untuk melanjutkan tujuannya datang ke situ saja.


Samsul kini sudah pergi ke dalam untuk menuju ke dalam pesawat. Lambaian tangan bagai tanda perpisahan mereka.


Di area lain, si Frank juga sedang memeluk Neneknya. Dirinya memeluk sang nenek dengan penuh kehangatan. Sebelum Neneknya berangkat, dirinya berpesan pada sang nenek terlebih dahulu.


"Nek hati-hati dijalan, jangan lupa jaga kesehatan, dan terlebih lagi kurangi aktivitas nenek itu ingat umur," pesannya pada Neneknya.


"Iya Bu benar kata si Frank kalo bisa kurangi lah itu yang namanya senam erobik. Ibu kan sudah tua sudah lansia, Rius takut kalo penyakit encok nenek kambuh," tambah Rius, ayah Frank.


"Tenang aja nenek bisa jaga diri. Nenek ini senamun tua tapi jiwanya masih muda. Kalo encok ku kambuh ya kan ada Bi Mar yang bantuin," jelasnya agar mereka tak khawatir.


"Nenek ku memang nenek-nenek gaul hihi," gumam si Frank sedikit tertawa diakhir.


"Iya lah Bu yang penting yang sehat sehat," timpal Ibuku menurutinya.


"Ya sudah Ibu titip cucu Nenek ini yang tampan bagai tlepong ke kalian berdua," pesannya sambil bercanda.


"Ish nenek kok aku di samain sama tai kebo," protes si Frank tak terima.


"Bercanda sayang emang cucu nenek ini mau disamakan kaya sapa, Lee Minho," jelasnya yang membuat semua orang yang disitu sedikit tertawa.


"Lah nenek ku tau Lee Minho juga," gumam si Frank tak menyangka juga.


"Emang anak muda saja yang tau Lee Minho nenek juga tau," sahut Neneknya yang ternyata mendengar gumaman cucunya.


"Ha-ha-ha Nenekku ini memang paling gaul." Si Frank tertawa sambil mengacungkan jempol pada sang nenek.


Tawa pecah dari keluarga si Frank bahkan Nenek Frank sampai harus memegangi pipinya karena pegal tertawa terus.


"Sudah lah nenek berangkat kelamaan tertawa disini takut ketinggalan pesawat nanti," pamit Nenek Frank mengakhiri tawa sekeluarga itu.

__ADS_1


"Baiklah Bu hati-hati," pesan si Dewi, Ibu Frank setuju.


"Bi Mar jaga Ibu baik baik," pesan Dewi lagi pada pembantunya Nenek Frank.


"Iya Bu aku pasti akan menjaganya," jawabnya ramah sambil tersenyum.


"Dah Nenek sampai ketemu lagi," kata si Frank sambil melambaikan tangan padanya!


"Dadah cucuku sayang dadah semuanya," balas Nenek Frank sambil melambaikan tangan juga.


Nenek Frank pun pergi masuk ke dalam. Beberapa barang bawaannya di bawa olehnya dan sisanya di bawa oleh Bi Mar pembantunya. Nenek Frank ini senamun sudah lanjut usia tapi masih kuat saja. Padahal umurnya sudah 100 tahun. Keren and amazing bukan.


Setelah kepergian nenek Frank, mereka kembali ke rumah. Di dalam mobil Frank bertutur pada bapaknya barangkali ia mengetahui sesuatu tentang pak Samsudin.


"Yah aku tadi pas di bandara seperti melihat pak Samsudin dengan anaknya," tuturnya.


"Oh iya mungkin itu memang mereka, dari kabar yang Ayah denger pak Samsudin ingin memindahkan anaknya ke Singapura," jelas ayahnya sambil terus menyetir.


"Kenapa mendadak ya?" tanyanya.


"Ayah kurang tau, oh iya kamu mau langsung ke rumah alam sehabis ini," jawabnya sambil memindahkan topik.


"Iya Yah turunkan aku aja di terminal bus trans Banyumas. Nanti aku kesana sendir," pintanya


"Baiklah Nak, hati-hati ya kamu," pesan ibu Frank sebelum anaknya turun.


"Iya mah, baas Frank sambil tersenyum.


Mobil berhenti di depan terminal. Si Frank pun langsung turun dan tak lupa menyalaminya kedua orang tuanya.


...🌾🌾🌾🌾🌾🌾...


Di Desa Cikakak.


Tepatnya di sawah milik Nenekku. Aku dan ketiga temanku sedang membantu Nenekku memanen padi. Bagi masyarakat Desa Cikakak yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani hampir sebagian besar memiliki sawah. Bulan Maret saatnya memasuki masa panen raya padi di Desa Pejengkolan. Para Petani menyambutnya dengan suka cita dan penuh rasa syukur. Akhirnya mereka bisa melewati proses menanam padi disaat cuaca yang tak menentu seperti air hujan yang hampir setiap hari mengguyur hingga angin kencang disertai petir pun perna melanda. Rasa was-was dan khawatir selama ini telah hilang saatnya siap memanen padi. Tanda padi siap panen adalah berwarna kuning.


Kami berempat menggunakan tudung untuk menutupi kepala kami dari sinar matahari. Laki-laki maupun perempuan kompak turun ke sawah walaupun ditengah sinar matahari yang menyengat. Panas tak lagi dirasa, lintah yang biasanya bisa menggigit kaki mereka saat di sawah hingga cangkang keong yang tajam bisa melukai kaki mereka pun tak takut untuk mereka hadapi. Semangat dan kerja keras mereka saat memanen padi patut dicontoh bagi kita semua. Tanpa ada petani tidak ada beras untuk kebutuhan pokok sehari-hari kita.


"GEBYAK GEBYOK GEBYAK GEBYOK," suara alunan seikat padi yang di pukul ke sebuah alat tradisional penggilas padi yang berbentuk seperti papan. Papan tersebut jika di jawa di sebut gebyokan. Selain gebyok ada alat lain yang wajib disediakan yaitu sabit atau arit, terpal/layar, dan kandi.


Cara memanen padi versi desa Cikakak yaitu pertama, tanaman padi yang siap dipanen dipotong menggunakan sabit/arit. Caranya genggam satu rumpun batang padi dan potong tepat di bagian bawah dan dikumpulkan. Kedua, genggam lah batang padi yang sudah dipotong lalu dipukulkan (disabet) berulang kali di alat gebyok hingga bulir-bulir padi rontok. Alat gebyok nya dialasi terpal/layar bagian bawahnya untuk mewadahi bulir-bulir padi yang rontok dan dikumpulkan. Ketiga, bersihkan bulir-bulir padi dari daun padi yang ikut rontok lalu masukkan kedalam kandi. Keempat, bulir-bulir padi siap dijemur hingga kering selama beberapa hari. Untuk menghasilkan beras padi perlu diselip terlebih dahulu.


"Lam iki sing wis di babadi kaki tulung gawa meng Nini mu nggo di gebyok (Lam ini yang sudah di tebas kakek tolong bawa ke nenek mu buat di gebyok)," pinta kakek pada ku.


"Iya Ki," jawabku sambil berjalan ke tempat kakekku berada.


Aku lalu memanggul setumpuk padi yang sudah di babad untuk di bawa ke tempat nenekku.


"Ni..., iki sepanggul meneh (Nek..., ini sepanggul lagi)," ucapku yang masih memanggul setumpuk padi di bahuku.


"GEBYAK GEBYOK GEBYAK GEBYOK selah ning kene Lam (taruh disini Lam)," suruhnya sambil terus menyabetkan padi ke papan gebyokan.


"Piwe cah ayu teyeng gali gebyok e (bagaimana anak cantik bisa pake gebyokan nya)?" tanya Nenekku pada Sinta dan Clara.


"Alhamdulillah teyeng ni (Alhamdulillah bisa Nek)," jawab si Sinta dan Clara. Mereka berdua lalu melanjutkan gebyokan nya.


"GEBYAK GEBYOK GEBYAK GEBYOK," suara alunan sabetan padi terus memecah alam.


"Cah ayu ayu pada pinter gebyok (anak cantik cantik pada pintar gebyok)," puji Nenekku pada mereka berdua.


GEBYAK GEBYOK GEBYAK GEBYOK. Sinta dan Clara hanya tersenyum tipis sambil terus membolak-balikkan padi yang sudah di ambil ku tadi.


Batang padi pasca dirontokkan namanya damen. Damen bisa digunakan untuk makanan hewan ternak seperti sapi dan Kerbau. Masyarakat di Desa Pejengkolan sering menyebut panen padi dengan istilah nyabet. Nyabet berasal dari bahasa jawa yang memiliki arti memukul-mukul kan. Maksudnya adalah saat memanen padi itu dengan cara memukul-mukul kan batang padi pada alat gebyok.


Sekarang aku sudah kembali ketempat ku membabat semua tanaman padi milik Nenekku. Karena cuaca yang lumayan cukup panas sehingga membuat tubuh kami menjadi mandi keringat. Si Budi bahkan sampai mengeluh pada ku.


"Puanasseee Lam," keluh si Budi sambil menyeka keringatnya. "Ko apa ra panas Lam (kamu apa gak panas Lam)?" lanjutnya bertanya padaku


"Lumayan Bud, tapi disambi angin lewat semilir dadi lumayan sejuk enak adem," jawabku sambil membabat beberapa tanaman padi lagi.


Ditengah-tengah kami semua sedang istirahat tiba-tiba suara keras seseorang memanggil kami dari bibir sawah.


"KANCA-KANCA (TEMAN-TEMAN).... I'M COME BACK BACK BACK," suara keras terdengar hingga menggema. Kami semua pun menengok ke sumber suara.


"Kae sapa ya Lam (itu siapa ya Lam)?" tanya Budi karena pandangannya kurang jelas. Terik matahari membuat pandangan kami semua jadi silau dibuatnya.

__ADS_1


"Sapa kae celak celuk (siapa itu panggil-panggil)?" pikirku.


"Kanca mu mbok iku (temanmu kan itu)," sahut Nenekku.


"Rada mirip si Frank," ucap si Budi pelan.


Setelah si Budi berkata kalo itu mirip si Frank, seketika kami menjadi saling pandang.


"Frank, wis balik meneh (udah balik lagi)???" ucapku seketika.


Teman-teman yang lainnya mengangguk untuk membenarkan perkataan ku.


"FRANK NYEBRANG MENG RENE NE NE NE (FRANK NYEBRANG KE SINI NI NI NI)," suruhku berteriak dan menggema. Karena si alam terbuka suara kami jadi menggema seperti ada beberapa suara lagi yang mengikuti.


"IYA LAM LAM LAM," sahutnya.


Si Frank lalu langsung menyebrang lewat pinggiran sawah menuju tempat kami. Sebelumnya si Frank sudah pergi ke rumah ku namun kamu berempat tak ada disana. kebetulan Ibuku sedang menjemur di depan jadi si Frank langsung bertanya dan akhirnya mengetahui keberadaan kami.


Di tempat kami duduk sekarang. Kami berempat duduk di atas Damen sambil mengobrol.


"Wis rampung urusan mu Frank (udah selesai urusanmu Frank)?" tanya ku padanya yang masih berjalan menghampiri.


"Iya cah (iya teman)," jawabnya. "Eh iya aku ana kabar sing bakal gawe ko pada kaget (eh iya aku ada kabar yang bakal buat kalian terkejut)," ucapnya memberi tahu kami sambil duduk di Damen.


"Apa cem?" suruh si Budi tak sabar.


"Si Samsul mabur meng (terbang ke) Singapura," tuturnya.


"Alhamdulillah aku biasa bae, syukurlah si Samsung lunga (pergi) ayem (damai) pasti rasanya," ucap si Budi yang tampak biasa saja.


"Hush aja kaya kue Bud (hush jangan begitu Bud)," tegur ku dengan senggolan ke sikunya. "Si Samsul mabur meng Singapura ngapa ya (si Samsul terbang ke Singapura kenapa ya)?" lanjut ku bertanya.


"Ngapa mikiri lam (kenapa di pikirin Lam)?" tanya si Budi heran.


"Aku penasaran, kayong ijig-ijig gweh (kok tiba-tiba gitu)," jawabku yang memang rada penasaran ini.


"Ah sing aku ngerti tah jere bapakku, si Samsung di konkon pindah ning Bapake. kayane Bapake Samsul wis nyerah ngerumat Samsul sing delep (ah yang kutahu kata Bapakku, si Samsung disuruh pindah oleh bapaknya. sepertinya Bapaknya Samsul udah nyerah menjaga si Samsul)," jelas si Frank sambil menduga.


"Yes langka Samsul, Made ro Domu mesti langka bala ne (yes gak ada Samsul, Made dan Domu pasti gak ada temennya)," kata si Clara yang senang mendengar kabar itu.


"Iya ra bakal wani kae cah loro macem-macem karo kita (iya gak bakal berani itu anak dua macam-macam sama kita)," timpal si Sinta.


"Hem apa iya?" pikirku diam sambil menghadap ke langit.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Setalah 3 Minggu liburan semester pun selesai. Kami berlima juga sudah berada di Purwokerto kembali. Si Budi agak terlambat datang ke Purwokerto karena waktu kita berlima pulang, dirinya turun di Ajibarang untuk pulang kerumahnya selama 1 hari. Dan hari ini adalah hari dirinya kembali ke kos-kosan cempaka. Dan di kos-kosan cempaka kami berdua telah siap untuk berangkat kuliah kembali. Untung kami berangkat siang jadi bisa berangkat bareng lagi.


"Jan be bali langsung mangkat kuliah bae (Jan baru pulang langsung berangkat kuliah aja)," keluh si Budi tak bersemangat.


"Sing (yang) semangat Bud," suruhku.


"Iya Lam tapi aku iki kesel durung be ana sedina aku liren, awan ne malah mangkat (iya Lam tapi aku ini capek belum aja ada satu hari aku istirahat, siangnya malah berangkat)," ucapnya sedikit kesal.


"Wis nasib dadi bocah kuliahan (sudah nasib jadi anak kuliahan)," kataku sambil bersiap menggowes.


"Hayuk lah mangkat kalas jam loro kiye (ayo lah berangkat keburu jam dua ini)," ajakku langsung kepada Budi.


"Iya iya," jawabnya lalu menaiki si Raider.


Kami berdua pun seperti biasa mengendarai sepeda kesayangan kami. Ada si Raider sepeda Budi dan si Onal sepeda ku. Kami memilih untuk memotong jalan agar cepat sampai. Baru jam setengah dua lebih kami berdua akhirnya sampai di tempat parkir


Saat kami selesai memarkirkan sepeda milik kami, kami berdua pun berjalan menuju kelas. Namun tiba-tiba berapa motor mengagetkan kami berdua.


"BRUM BRUM BRUM BRUM," suara beberapa mesin moge mengagetkan kami.


Kami berdua pun berhenti seketika. Para mahasiswa juga jadi keluar untuk menonton. Frank Sinta dan Clara juga keluar menghampiri kami. Disusul Made dan Domu.


"Ana apa kiye (ada apa ini)? Kae (itu) sapa toh geber geber motor panas panas? Berisik," tanya si Frank penasaran tapi sedikit kesal.


"Mbuh aku be weruh, sapa ya (tak tahu aku juga baru liat, siapa ya)?" jawabku sambil berpikir.


"Mu Mu lihat mereka keren sekali," ucap si Made terkesan sambil terus menepuk-nepuk bahu Domu.


"Hish sakit lah aku juga tampak dan benar kali mereka bahkan lebih keren dari Bos kita," kata domu sedikit kesal padanya namun terkesan pada rombongan moge itu.

__ADS_1


Sebenarnya siapa mereka ini apakah mereka adalah mahasiswa Unsoed juga. Asap tebal dari knalpot mereka membuat kami semua tutup mulut dan hidung. Udara siang yang sejuk jadi sedikit berpolusi karena ulah mereka. Yang lainnya termasuk kami berlima hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sebab geram dengan aksinya. Tapi berbeda dengan Domu dan Made yang terlihat terkesan dengan aksi mereka.


Bersambung.....πŸ„πŸπŸ„


__ADS_2