BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 35 "Frank Ditolak"


__ADS_3

Malam hari yang sepi dan dingin di kos-kosan cempaka. Tampak aku dan Budi yang sedang ngopi sambil ditemani makanan oleh-oleh dari Bandung kemarin. Di pohon alpukat yang sudah tak ada daunnya lagi. Sehingga langit malam tampak terlihat, namun bintang dan bulan hampir menghilang. Semakin larut bintang semakin menghilang dan cahaya rembulan mulai redup. Tapi kami berdua menikmati makanan kami sambil mengobrol.


"Lam, enak yoh iki peyem (Lam, enak yah ini peyem)," kata Budi sambil mengunyah peyem nya.


"Hooh rasanya meh pada karo tape tapi sejen (hooh rasanya hampir sama dengan tapi tapi beda)," ucapku setuju.


"Seruput kopi ne juga men tambah segerrr....," ujar Budi lalu menyeruput kopinya.


"Si Frank ngesuk jere arep ngedor Mba Lili ya, bakal diterima apa ora ya?" tanyaku tiba-tiba karena penasaran.


"Hem cara aku tah kaya ne Mba Lili nolak leh Lam (hem menurut sepertinya si Mba Lili bakal nolak deh)," jawabnya menebak.


"Hush Bud aja di dongak na kaya kuwe lah (hush Bud jangan di doakan seperti itu lah)," tegur ku langsung menyenggol tangannya. Kopi yang di pegang nya jadi muncrat sedikit,


"Eh eh mbok kocret lah ah (eh eh tumpah kan ah)," ucapnya sambil mengibaskan tangannya yang ke siram.


"Lagian sapa sing doangak na Lam, kur aku ra yakin tok si Frank bakal di terima koh (lagian siapa yang mendoakan Lam, cuma aku gak yakin aja si Frank bakal diterima gitu)," tukasnya.


"Moga bae (saja) di terima kalo di tolak paling si Frank nangis kejer," timpal ku sambil menyeruput kopi. "C'ah segerr...."


"Huwa-ha-ha 'dah lah lihat esok," kata Budi yang tertawa.


"Ya, wis wengi aku balik sit ya Bud (dah malem aku pulang dulu ya Bud)," pamit ku


"Iya Lam selamat malam," balasnya.


"Hemm," jawabku berdehem.


Keesokan harinya, suasana di kampus sudah tampak ramai tak terkecuali di ruang UKM. Tampak Bang Kris dan Mba Lili sedang berbincang bersama lainnya. Namun Bang Kris dan mba Lili duduk terlalu dekat dan diam-diam saling bergandengan tangan. Tak lama kemudian kami berlima juga sampai di Ruang UKM. Si Frank yang melihat Bang Kris dan Mba Lili saling berhimpitan langsung berjalan maju lalu masuk ditengah-tengah mereka berdua. Seketika pegangan tangan mereka jadi terlepas karena terkejut dengan kedatangan Frank yang langsung menyerbu di tengah. Si Frank bagaikan sisa makanan yang menempel disela-sela gigi.


"Frank, perasaan jagoan bera esih omber ngapa gusel ning tengah-tengah e Mba Lili karo Bang Kris (Frank perasaan tempat duduk banyak masih luas napa gusel ditengah-tengahnya Mba Lili sama Bang Kris)," kata ku padanya.


"Mbuh kuweh lam wis kaya selilit wae, nyempil (iya tuh lam udah kaya selilit aja, nyempil)," sindir Budi setelah menimpali ku.


Si Frank tak menghiraukan omongan ku dan Budi tentangnya. Dirinya malah menjawab singkat sambil menjulurkan lidahnya ke arah kami berdua. Setelah itu ia langsung memilih untuk mengobrol dengan mba lili gebetannya


"Belih weh (biarin weh)," jawab si Frank menjulurkan lidahnya. Ia pun beralih untuk mengobrol dengan Mba Lili.


"Eh, Mba Lili aku olih (boleh) duduk di sini kan?" izinnya padanya.


"Iya boleh Frank duduk saja," jawab Mba Lili mempersilahkan nya.


"Hehehe Mba Lili manis deh baik pula," puji Frank karena senang.


Tampak muka Bang Kris yang ditekuk karena sebal melihat Frank dekat-dekat dengan kekasihnya. Tapi sayangnya Mba Lili tampak senang mengobrol dengan Frank karena selalu saja tertawa ketika Frank bicara.


"Bud Bud, Bang Kris ngapa rain e (mukanya) ditekuk ya?" tanyaku pada Budi yang disebelah ku.


"Iya apa gara-gara Frank ***** karo Mba Lili," jawabnya tak pasti.


"Hush apa iya Bang Kris wis pacaran Karo Mba Lili," bisik ku pelan.


"Halah mbuh (entah) lah," ucap si Sinta yang puyeng. "Heh Lam jere rep takon (katanya mau tanya) tentang perubahan desa Ciliwung sawise (setelah) program bank sampah kembali dibuka ke Bang Kris," katanya mengingatkan ku.


"Hoo iya Sin aku kelalen (hoo iya Sin aku lupa). Akun lalu langsung bertanya pada Bang Kris mengenai perubahan warga Ciliwung setelah Bank sampah kembali dibuka. Apa warga disana menjalankan dengan baik atau kembali seperti awal lagi.


"Bang.... Bang Kris," panggil ku berulang-ulang.


"Dipanggil tuh sama adik junior mu." Tepuk Mba Betti dari belakang. Mba Betti yang baru saja tiba bersama kembarannya langsung menepuk pundak Bang Kris setelah melihat diriku memanggil dirinya berkali-kali.


"Hee iya Lam maaf maaf ada apa ya?" tanyanya langsung pada ku.


"Bang Kris kenapa toh kok kaya kagak mood begitu?" ujarku bertanya.


"Gak papa Lam katanya mau tanya tanya apa toh?" jawabnya mengulang kembali.


Mba Lili diam-diam melirik pada Bang Kris, dirinya berpikir kalo Bang Kris telah cemburu padanya sebab mengobrol asyik dengan Frank. "Hem apa Kris cemburu tadi ah senangnya berarti dia memang suka padaku," pikirnya dalam hati sambil senyum-senyum. Si Frank yang melihatnya jadi makin bersemangat karena menyangka Mba Lili sedang senyum-senyum padanya.


"Gini Bang aku penasaran dengan perubahan desa Ciliwung setelah kita pergi meninggalkan desa tersebut apa mereka menjalankan program bank sampah dengan baik apa tidak?" tanyaku panjang.


"Oh masalah itu Kowe tenang wae lam pemerintah sana sudah memberikan peringatan tegas pada warganya untuk tidak membuang sampahnya lagi ke sungai dan jika ketahuan mengabaikannya mereka akan diberikan sangsi berupa denda yang cukup besar," jawabnya.


"Wah bagus kalo begitu ka semoga dengan begitu mereka jadi kapok dan tidak membuang sampahnya lagi ke sungai," ucapku merasa senang.


"Aamiin kalo masih ada yang ngelanggar berarti kebangetan," kata Clara


"Hooh junior ku mereka berarti tak sayang dengan alam ini memilih untuk merusaknya yang akan berakibat fatal bagi mereka," sambung Mba Betti.


"Benar Kaka Betti," timpal Sinta.


"Huh jika temenan (beneran) aku bakal wadeh (sebal) karo (sama) mereka," ucap ku dengan nada kesal.


"Lah ngapa Lam?" tanya si Budi ingin tahu.


"Ya jelas aku kesuh (marah), alam bukannya dijaga malah dirusak ya aku sebagai kembarannya Alam semesta tak terima," jawabku.


"Wow Alam kalo ngamuk medeni (serem) weh," celetuk Budi menggoda ku.


"Lebih menakutkan lagi alam semesta, bisa membuat berbagai bencana untuk kita semua. Kalo aku mah paling hanya bisa nyentil mereka," jelas ku sambil membandingkan diriku dengan alam semesta sesungguhnya.


"Ha-ha-ha bisa ae Lam," timpal Budi tertawa.


"Ya bisa lah," ucapku sambil bersedekap.

__ADS_1


Jika alam semesta dirusak apa kita tak akan bakal ikut marah. Alam yang harus dijaga demi pelestarian Bumi kita malah dihancurkan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab. Tanah longsor banjir pembakaran hutan jika bukan ulah mereka ulah siapa lagi. Dampaknya bukan hanya jatuh para mereka tapi kita semua kena. Siapa yang akan jadi korban ya kita semua. Banyak korban berjatuhan akibat ulah manusia itu sendiri.


Belum lagi ditambah bencana yang besar seperti tsunami gempa dan gunung meletus, itu semua disebabkan karena kondisi bumi yang tak stabil. Maka dari itu kita sebagai warga Bumi harus berusaha menjaga dan melindunginya. Sebagai pelindung alam semesta ini aku tak terima dong alam dirusak bumi di serang.


...🌸💮🌸💮🌸💮...


Kembali pada kisah kami. Di halaman belakang kampus tampak dua orang sedang berbicara serius. Mereka adalah Frank dan Mba Lili. Sedang apa mereka berdua disana? Apakah ini tiba saatnya si Frank mengungkapkan perasaannya padanya? Menurut kalian teman ku ini akan diterima atau malah sebaliknya ya??? Entah apa yang diobrolkan nya, namun setelah selang beberapa menit tiba-tiba saja Mba Lili pergi meninggalkan Frank ditempat. Terlihat raut wajah kekecewaan hadir pada Frank. Sedangkan Mba Lili sendiri sudah kembali ke Ruang UKM menemui Bang Kris disana.


Kini di Ruang UKM tinggallah dua sejoli yang tersisa. Bang Kris pun jadi penasaran tentang Frank yang memanggil kekasihnya tadi. Ia pun berniat menanyakannya pada Mba Lili. Ya jadi setelah usai pertemuan tadi Frank secara mendadak mengajak Mba Lili untuk berbicara berdua di halaman belakang kampus. Mba Lili pun menyetujuinya dan membuat Bang Kris yang memperhatikan nya jadi penasaran akan mereka.


"Em.... Li tadi si Frank ngapain minta kamu menemuinya?" tanyanya ragu.


"Cemburu ya kamu Kris," goda Mba Lili meledek.


"Hey sapa yang cemburu aku cuma penasaran kok," tukasnya langsung.


"Penasaran apa penasaran, mau tau aja atau mau tau banget," goda Mba Lili sambil menabrakkan lengannya pelan ke lengan pria yang tampak merajuk ini.


"Tau ah," jawab Bang Kris sebal.


"Iya iya aku kasih tau, kamu tau si Frank suka sama aku ternyata," tuturnya.


'Hah dia suka sama kamu," celetuknya terkejut. "Huh terus kamu gak terima kan," lanjutnya.


Y"a gak lah aku kan sudah punya kamu dan aku sudah ucapkan baik-baik sama dia kok, sepertinya Frank mengerti," jelas Mba Lili padanya.


"Huh bagus lah tapi kasihan si Frank di tolak." Bang Kris akhirnya bisa bernafas lega setelah mengetahui kekasihnya menolak tembakan si Frank. Tapi dirinya juga merasa kasian pada Frank karena ditolak cinta pertamanya.


"Iya moga dia ketemu yang lebih baik dari aku," kata Mba Lili sambil memasukkan buku ke rak.


Mereka berdua lalu melanjutkan menyelesaikan tugas beres-beres ruangannya. Bang Kris dan Mba Lili sesekali bercanda dan seolah-olah dunia milik mereka sendiri.


Sore pun berganti malam. Seperti biasa aku dan Budi selalu duduk-duduk terlebih dahulu di bawah pohon alpukat sebelum pada akhirnya pulang ke kamar masing-masing. Kami biasa membagi cerita di bawah pohon alpukat dan sangat kebetulan sekali ada tukang bakso lewat. Karena kami berdua cukup lapar, aku pun memanggil mamang tukang bakso untuk menuju ke tempat ku.


"Huh Lam kencot aku, kowe ana panganan (huh Lam laper aku, kamu ada makanan)?" tanya Budi sambil menarik badannya ke belakang.


"Lah langka koh senggane ana bakul apa lah liwat (gak ada koh, seandainya ada penjual apa lah lewat)," jawab ku sambil berandai-andai.


Ting Ting Ting Ting. Tiba-tiba saja ada suara panggilan alarm tukang bakso seraya memanggil kami berdua. Si Budi yang mengetahui asal suara tersebut langsung memiliki ide


"Weh lam ana bakul bakso liwat keh, kebenaran pisan (weh Lam ada penjual bakso lewat tuh, kebenaran banget)," katanya memberi kode.


"Eh iya set tak celuk (eh iya tunggu aku panggil)," ucap ku langsung memanggil Akang tukang bakso yang kebetulan sedang berhenti.


"Kang bakso.... gyeh ngerene gyeh (kang bakso.... sini dong sini)," panggil ku sambil menepuk tangan ku agar bisa terdengar oleh si tukang bakso.


Setelah mendengar panggilan ku, kang bakso pun segera membelokkan gerobaknya dan menuju ke tempat ku.


"Ya iya masa arep jaluk, eh tapi nek olih sih ra papa (ya iya masa mau minta, eh tapi kalau boleh sih gak papa)," jawab ku bercanda.


"Maning (maunya) sih tumbas (beli) lah kagak ada yang gratis bagi bakso Akang," katanya ikut bercanda.


"Haha iya iya, pesen loro (dua) ya sing pedes," ucap si Budi langsung memesannya. Dirinya sepertinya sedang lapar berat tak sabar ingin segera makan.


"Woke Mas-mas tunggu ya," kata Akang bakso.


Akang tukang bakso memulai meracik baksonya sedangkan kami menunggu sambil mengobrol.


"Lam, si Frank mau tutur Karo aku jere diri ne wis mantep arep nembak mba lili (Lam, si Frank tadi bilang sama aku katanya dia sudah mantep mau nembak Mba Lili)," tutur Budi padaku


"Iya..., terus wis dilakoni (sudah dilakukan)?" tanyaku ku menebak.


"Kudune tah uwis wayah mau tapi ya Frank langsung ilang bar kue ra keton maning gutul bali mbok (harusnya sih sudah pas tadi tapi ya Frank langsung hilang habis itu gak kelihatan lagi sampai pulang kan)," jawabnya.


"Iya, apa iya di tolak ya si Frank," kataku menduga.


"Mas, bakso ne (nya)," panggil Akang bakso sambil menyodorkan dua mangkuk bakso lengkap dengan pangsit pada kami.


"Eh iya kang kesuwun (makasih) ya," ucapku sambil menerima pesanan kami.


DUG UDUG UDUG UDUG. Tiba-tiba datang seseorang yang langsung turun dari motor Kawasaki dan duduk di sebelah kami sambil menghela nafas kasar.


"Lah Frank kowe toh (lah Frank kamu ternyata), celetuk Budi, "ganti motor cerita ne," lanjutnya menggoda si Frank sambil menyeruput mie bakso.


Frank tak berbicara sedikit pun, pikiran kami berdua jadi bertanya-tanya. Kami berdua akhirnya memutuskan bertanya padanya.


"Heh Frank muka ditekuk cemberut ganteng e ilang mengko (heh Frank muka ditekuk cemberut, gantengnya hilang nanti),' canda ku sedikit.


"Kowe kenang apa sih Frank (kamu kenapa sih Frank), cerita lah?" tanya Budi padanya.


Huwaa. Ditanya dirinya malah nangis kejer.


Kami berdua saling tatap, ini anak kenapa coba? Pikir kami berdua begitu. "Eh Frank kepriwe acara penembakan e jere (eh Frank gimana acara penembakan nya)?" tanya Budi karena penasaran.


"Huwaaa lam Bud huwaaa aku aku hiks." Si Frank malah makin nangis. Kami berdua jadi bingung sendiri.


"Diterima ya aku ikut seneng," tebak ku


"Ditolak koh hiks," jawabnya sambil mengusap air matanya.


Si Budi yang sedang melahap bakso nya terkejut sehingga bakso miliknya kembali masuk ke mangkuk. "Ko (kamu) ditolak Frank halah ko bisa?" tanya Budi langsung.


"Iya mba lili jere wis duwe gayutan terus terus (iya Mba Lili katanya sudah punya pacar terus terus)," jawabnya sambil mengambil mangkuk bakso milik Budi diam-diam. Sepertinya si Frank jadi ngiler melihat kami berdua makan bakso.

__ADS_1


Hap nyak nyam. Si Frank langsung melahap bakso bekas Budi tanpa menyadari bakso tersebut sudah masuk ke mulut Budi. Kami berdua yang melihatnya jadi terkejut dan bergidik jijik.


Merasa tak terima baksonya diambil, si Budi langsung ingin mencegatnya. "Eh eh..." Tapi aku menahan si Budi untuk membiarkannya saja.


"Tapi kae bekas ku loh Lam," protes nya.


"Apa?" Frank yang mendengarnya seketika terkejut dan berusaha memuntahkannya kembali.


"Huwee asyem apes bener aku wis ditolak malah siki mangan bakso bekas cankem (huwee asem apes banget aku sudah ditolak malah sekarang makan bakso bekas mulut)," gerutunya kesal sambil berusaha mengeluarkan kembali bakso yang baru saja ditelannya.


"Wahaha sapa salah main jimot (ambil) wae," saut Budi sambil tertawa.


"Ah Mas, pesen bakso sing pedes e poll." Frank langsung memesan bakso baru pada si Akang bakso.


Akang bakso dengan segera meracik bakso pesanan si Frank. Tak butuh waktu lama pesanan sudah jadi. Si Frank dengan cepat melahap baksonya. Bahkan sampai menambah beberapa kali. Katanya pedes bisa menghilangkan kesedihan. Malam sudah mulai larut kami bertiga sudah selesai makan. Giliran akan membayar aku meminta tolong Budi untuk membayarkannya dulu karena uang ku ada di kamar kos-kosan.


"Bud tulung bayar na bakso iki disit ya, duit e aku ana ning kamar (Bud tolong bayarkan bakso ini dulu ya, uangku ada di kamar)," pinta ku padanya.


"Lah aku sing bayar, pirang mangkok kuwe (lah aku yang bayar, berapa mangkok itu)," ucap Budi sedikit terkejut.


"5 Mas," saut Akang bakso setelah menghitung jumlah mangkok bakso pesanan kami.


"Deneng akeh (kok banyak)," celetuk Budi kaget.


"Kuwe si Frank kemaruk (itu si Frank serakah)," tutur ku.


"Mbuh lah Lam (aku ah Lam), aku lagi lara ati rasanya pengen mangan sing pedes, pas banget lagi ana bakul bakso (aku sedang patah hati rasanya pengin makan yang pedes, pas banget lagi ada penjual bakso)," jelas Frank sedikit kesal.


"Hoalah pantes Frank Frank," ya wis lah aku bayar loro bakso ya, kata Budi sambil merogoh saku celananya.


"Frank, kowe bayar dewek mbok (kamu bayar sendiri kan)?" tanyanya pada Frank untuk memastikannya.


"Lah melu bayar na sit lah Bud (lah ikut dibayarkan dulu lah Bud)," pintanya sambil menyantap bakso terakhirnya.


"Enak aja bayar dewek wis polah e mangan paling akeh aku sing kon bayar (enak aja bayar sendiri sudah makan paling banyak aku juga yang harus bayar)," tolaknya mentah-mentah.


"Halah Bud aku lagi lara ati tulung belas kasih e lah aku kelalen ra gawa dompet iki (halah Bud aku lagi sakit hati tolong belas kasihnya lah aku lupa ini gak bawa dompet)," bujuk Frank padanya.


"Hem iya iya, dadi pira kang (hem iya iya jadi berapa kang)?" Si Frank dengan terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk membayarkan si Frank. Dirinya lalu bertanya tentang jumlah harga yang harus dibayarnya.


"Seket ewu (50 ribu) Mas," jawab si Abang bakso sambil menghitung harga kembali.


"Yah Kang suwun yo," ucap si Budi sambil memberikan lembar uang 50 ribu padanya.


"Rejeki rejeki laris manis Tanjung Periuk," kata Abang bakso sambil menyiprat-nyipratkan uang pembayaran ku ke dagangannya.


Akang bakso lalu memutar gerobaknya meninggalkan kami bertiga.


"Heh Frank, aja kelalen ya ganti ne dua kali lipat e (heh Frank, jangan lupa ya gantinya dua kali lipatnya)," panggil Budi sambil duduk kembali.


"Iya iya tenang wae," katanya.


"Duh duh asyem weteng ku lara, melu WC ya


(duh duh asem perutku sakit, ikut ke WC ya)," ucapnya sambil memegangi perutnya yang melilit. Dirinya langsung melesat pergi ke kamar mandi.


"Kuwe mesti lara weteng gara-gara kakehen sambel (itu pasti sakit perut gara-gara kebanyakan sambal)," tebak ku asal karena mengingat dirinya yang memesan bakso begitu banyak sambal. "Apes bener dirimu Frank sudah lara ati gari lara weteng siki (apes bener dirimu Frank sudah sakit hati tinggal sakit perut sekarang)," kataku.


"Frank Frank ha-ha-ha." Tawa Budi sambil geleng-geleng.


"Wis lah aku balik, si Frank nek esih lara weteng, kon nginum banyu anget ya (dah lah aku pulang dulu, si Frank kalau masih sakit perut, disuruh minum air hangat saja ya)," pamit ku sambil berpesan untuk Frank.


"Iya iya Lam ati-ati," ucapnya, "eh iya aja kelalen di sauri (eh iya jangan lupa di tebus)," teriaknya memberi tahu.


Si Frank segera pergi ke kamar mandi kerena sudah tak tahan. Dirinya seperti nya jadi lupa dengan kejadian siang tadi. Akibat insiden bakso Budi tadi aku juga ikut melupakan cerita Frank yang belum selesai. Sebenarnya sedikit penasaran tentang penembakan si Frank pada Mba lili ah mungkin cerita akan dilanjutkan setelah Frank selesai buang air besar nya. Aku pun juga pulang ke kos-kosan karena sudah mengantuk akibat kekenyangan. moga si Frank tak parah sakit perut ya.


Bersambung.....🌵🌵🌵


 


Part Frank ditolak tadi siang....


Mba Lili yang di panggil Frank untuk menemui mereka jadi bertanya-tanya karena tumben sekali Frank mengajak nya bertemu.


"Frank, ada apa ya panggil mba ke sini?" tanya Mba Lili padanya karena mendadak di panggil.


"Emm anu.... anu.... Mba mau jadi pacar ku tidak? Aku sudah lama menyukai mba dari awal masuk kuliah." Frank dengan sedikit ragu mengutarakan perasaannya pada Mba Lili.


"Hah dirimu diam-diam suka sama mba." Mba Lili terkejut mendengar pengakuan si Frank.


"Iya Mba, Mba mau gak pacaran sama saya," ucapnya lagi.


"Duh Frank tapi maaf mba tidak bisa menerimanya," jawab Mba Lili tak enak hati.


"Kenapa Mba apa aku kurang ganteng ro baik?" tanya Frank karena tak percaya dirinya ditolak.


"Bukan itu Frank mba sudah punya kekasih yang sangat baik dan mencintai mba saat ini," jawab Mba Lili menjelaskan. Si Frank termenung mendengar penjelasan mba Lili.


"Maaf ya mba duluan semoga dirimu ketemu yang jauh lebih baik dari mba," pamit Mba Lili lalu pergi.


Mba Lili pergi meninggalkan Frank yang tampak lemas. Hati Frank sangat sakit karena ditolak sama orang yang di sukainya. Dirinya pun tak lama, pergi juga dengan perasaan penuh luka, sedih dan kecewa.


Lanjut ep berikutnya.....🏃🏃🏃

__ADS_1


__ADS_2