BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 14 "STOP! Penebangan Liar"


__ADS_3

Tak di rasa kami para anggota dari UKM Pencinta Alam sudah seminggu menjalankan tugas di desa Kranji. Ini adalah hari saatnya tuk berpisah dan berpamitan pada warga desa. Pak Karso sangat berterimakasih pada kami semua karena telah memperbaiki kebiasaan warga desanya.


"Mas, Mba bapak matursuwun sanget kalih kalian mpun di rewangi selama seminggu iki (Mas, Mba bapak sangat berterima kasih pada kalian sudah di bantu selama seminggu ini)," ucap Pak Karso sambil menjabat tangan Bang Kris.


"Nggih Pak sami-sami kula sekalian seneng bisa bantu desa iki (iya Pak sama-sama aku dan lainnya senang bisa bantu desa iki)," katanya mewakili kami semua.


Saat kami ingin masuk ke dalam mobil, seseorang memanggil kami sambil berlari. Orang tersebut ternyata adalah Pak Solehun si pengepul serba bisa.


"Mba, Mas tunggu sit," panggilnya sambil berlari.


Kami semua menghentikan langkah kami dan menengok kearahnya, "Pak Solehun wonten napa Pak? (Pak Solehun ada apa Pak?)," tanya Bang Kris sopan.


"Niki bapak duwehi setitik olih-olihan nggo kalian pada (ini bapak punya sedikit kenang-kenangan buat kalian semua)," jawabnya sambil memberikan bingkisan yang dibawanya pada Bang Kris.


"Niki napa Pak?(ini apa Pak?)" tanyanya lagi.


"Sekedar dompet cilik (kecil) sekang (dari) bungkus kopi semoga kalian pada suka ya," jawabnya.


"Matursuwun sanget Pak (makasih banyak Pak)," ucap kami semua serentak.


Pak Solehun tersenyum pada kami karena merasa senang hadiah darinya diterima dengan baik oleh kami.


"Sami-sami Mas Mba," ucapnya.


Kalau begitu kula kalian pamit permisi. Sepisan maning matursuwun (Kalau begitu kami semua pamit permisi. Sekali lagi terimakasih)," pamit Bang Kris pada Pak Karso dan Pak Solehun sambil merapatkan kedua tangannya pada mereka dan menunduk. Dirinya lalu masuk ke dalam mobil bersama kami.


Pintu mobil tertutup perlahan menghalangi kami yang sedang melambaikan tangan pada Pak Kades dan warganya.


Tugas di Desa Kranji akhirnya selesai juga. Warga desa juga sudah terlatih menyetorkan sampahnya ke Bank Sampah. Dan bahkan sekarang anggota pengurus Bank Sampah sudah banyak dan tak akan kerepotan kembali. Selamat tinggal Desa Kranji semoga desa ini menjadi apa yang kami harapkan. Bebas sampah dan sungai kembali normal.


...🌳🌳🌳🌳🌳🌳...


Di akhir pekan aku diajak si Frank pergi berkunjung ke rumah kakeknya yang ada di tengah hutan. Tidak hanya aku saja, teman-teman lainnya juga. Kakek Frank bernama Ahmed Baskoro kakek dari ibunya. Rumah kakek Ahmed berada di tengah-tengah hutan. Beliau adalah pelindung hutan, makanya beliau memilih tinggal di hutan daripada di kota. Rumahnya cukup sederhana, tapi beliau tak merasa kekurangan sebab menantunya sering mengirimkan sembako padanya.


Kami berlima berangkat ke sana menggunakan mobil yang telah disiapkan oleh si Frank. Sayangnya mobil hanya bisa berhenti ditepi jalan, karena kami harus menyelusuri hutan untuk sampai ke rumahnya. Ruas jalan itu hanya cukup untuk di lewati oleh motor saja. Sebab si Frank juga sering menggunakan motor kakeknya dan melewati jalur itu.


Sementara di dalam hutan, kakek Ahmed sedang mencari kayu bakar di hutan. Tapi di saat dirinya sedang memungut kayu bakar, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang sedang membicarakan tentang hal mencurigakan. Dilihat dari gaya bicaranya sepertinya mereka semua bukan berasal dari daerah kami. Kakek Ahmad pun berniat mengupingnya di balik pohon Alba besar.


"Juragan Kadir pohon disini ternyata bagus- bagus, kapan kita akan menebang semua pohon yang cukup besar dan kokoh di sini?" tanya seseorang bawahannya.


"Lebih cepat lebih baik, tapi sepertinya kita harus menandai pohon mana yang harus di tebang," jawabnya. Lalu dirinya menyuruh bawahannya yang tadi untuk memberikan sebuah cat pada bawahannya yang lain.


"Supri cepat kasih cat satunya ke Ucup dan mulai menandai semua pohon disini," suruhnya.


Anak buahnya yang kerap disapa Supri itu menurut dengan perkataan juragannya. Supri dan Ucup adalah pengikut setianya Juragan Kadir. Juragan Kadir ini adalah salah seorang yang suka menebang hutan secara sembarangan. Atau yang sering di sebut dengan pembalakan liar. Sudah 10 hutan dari berbagai wilayah Indonesia yang telah dijelajahi untuk di tebang pohonnya. Tapi entah kenapa dirinya bisa lolos dari polisi dengan mudah dan tak di tangkap.


Ngomong-ngomong tentang pembalakan liar atau penebangan hutan secara liar, tindakan ini adalah tindakan yang bisa merusak alam dan habitat yang ada di dalamnya lho. Zat hara dalam tanah pasti akan hilang karena pohon yang harusnya sebagai penyangga malah di tebang. Akibatnya tanah menjadi longsor dan menyebabkan banjir serta hutan pun akan kehilangan fungsinya. Maka dari itu usahakan kita menghindari tindakan tersebut ya.


Disisi lain kakek Ahmed sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya. Didalam hatinya dia ingin melapor atas tindakan Juragan Kadir dan pengikut setianya. Dirinya pun memutuskan kembali terlebih dahulu untuk memikirkan caranya. Tapi saat ingin kembali, dirinya tak sengaja menginjak sebuah ranting di depannya hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras


KRETEK


"Siapa disana?" Juragan Kadir dengan cepat melontarkan pertanyaan dengan keras.


Dengan cepat pula kakek Ahmed berlari menjauh dari sana. Juragan Kadir yang penasaran mendekati ke sumber suara, tapi ternyata yang didapati hanyalah seekor kelinci yang juga menginjak ranting.


Sementara kami berlima sudah sampai di depan pintu rumahnya. Si Frank langsung berteriak memanggil kakeknya, "Kaki Kaki oh Kaki," panggilnya keras berulang kali. (Kaki disini berarti Kakek ya). Tapi ternyata tak ada jawaban yang keluar dari dalam rumah. Kami berlima pun memutuskan untuk mencarinya ke dalam hutan. Karena kemungkinan dirinya sedang berada di sana. Tapi saat hendak pergi mencari, kakek Ahmed muncul dengan nafas tergesa-gesa. Si Frank pun dengan cepat memanggil kakeknya kembali.


"Kaki (Kakek).....," teriaknya senang.


Kakek Ahmed menghela nafas panjang lalu menghampiri kami berlima, "Eh Prengki putune kaki dateng ternyata (eh Prangki cucunya kakek datang ternyata)," ucapnya senang juga. Lalu dirinya meletakkan kayu bakar miliknya ke sisi rumah.


"Iya Ki," jawabnya.


"Itu sapa kanca mu?(itu siapa temanmu?)" tanya kakeknya.


"Nggih Ki (iya Kek)," dirinya lalu memperkenalkan aku dan lainnya kepada Kekek Ahmed. "Kie Alam, Budi, Sinta, karo Clara ki (ini Alam, Budi, Sinta, sama Clara Kek)," ucapnya.


"Oh suwun ya dah pada jadi kanca ne Preng, (oh makasih ya dah pada jadi temennya si Preng)," ucapnya pada kami berempat.

__ADS_1


"Nggih Ki kula sekalian juga seneng kancaan karo Frank (ya Kek kami semua juga senang temenan sama Frank)," jawabku sambil tersenyum diikuti yang lainnya juga.


"Kancaku iki Kaki ku celuk wae Kaki Ahmed (temen-temen ini Kakekku panggil saja Kakek Ahmed)," ucap si Frank memperkenalkan kakeknya pada kami.


"Salam Kaki Ahmed," ucapku menyapa. Kami berempat pun bergiliran menyalaminya.


"Iya hayu mlebu, mlebu (masuk masuk)". Kakek Ahmed menyuruh kami semua masuk kerumahnya yang sederhana.


Aku dan lainnya sekarang sudah duduk melingkar di sebuah amben atau ranjang tanpa kasur milik Kakek Ahmed.


"Monggo ngunjuk sit (silahkan di minum dulu)," Kakek Ahmed memberikan air kepada kami semua, lalu dirinya duduk bergabung.


"Kaki deneng miki Kaki ngos-ngosan kaya tes di udag celeng?(Kek kok tadi kakek ngos-ngosan kaya habis di kejar babi hutan?)" tanya si Frank sang cucu.


"Kaki miki mlayu gara-gara ngindari wong wong sing arep ngerusak hutan iki (Kakek tadi lari gara-gara menghindari orang-orang yang mau merusak hutan ini)," jawabnya.


"Sapa sing arep ngerusak hutan Ki? (siapa yang mau ngerusak hutan Kek?)," tanyaku seketika.


"Ana wong telu miki sing kaki weruh lagi nandai siji-siji wit sing rep di tegor, kaya ne udu wong Jawa ketone kaya wong luar Jawa, (ada orang bertiga tadi yang kakek lihat lagi menandai pohon satu-persatu yang mau di tebang)," jelasnya.


"Terus kaki kerungu dalam kurun wektu seminggu kiye wit kudu wis di tegor (terus kakek denger dalam kurun waktu seminggu itu pohon harus sudah ditebang)," tambahnya.


"Ora (tidak) bisa di biarkan ini bahaya banget bisa-bisa hutan gundul gawe (jadi) longsor. kudu di cegah kiye (harus dicegah ini)," ucapku yang langsung merasa tidak terima dengan tindakan tersebut.


"Tapi gimana caranya lam pasti mereka udu kur siji (bukan hanya satu)," ucap si Sinta meragukan ku.


"Iya Mas Alam kaki wis nyelidiki ternyata ana wong 15 lewih sing melu. Markas e ana ning mburi hutan kiye (iya Mas Alam kakek sudah menyelidikinya ternyata ada 15 orang lebih yang ikut. Markasnya ada di belakang hutan ini)," sambung Kakek Ahmed memberi tahu.


"Hayu nyusup meng nganah jimot bukti ne (ayo nyusup ke sana, ambil buktinya)," usul si Budi antusias.


"NGWENG NGWENG NGWENG DUG UDUG," suara alat gergaji merek senso terdengar dan tak lama pohon ambruk seketika.


GUBRAK


'Suara apa kae (itu)?" tanyaku karena terkejut. Bukan hanya aku saja tapi yang lainnya juga.


"Kaki, bukane jere kaki ngenteni seminggu?(Kakek bukannya kata Kakek nunggu seminggu lagi?)" tanyaku memastikan.


"Mesti kae wit sing wis di tandani seurunge (pasti itu pohon yang sudah di tandai sebelumnya)," jawabnya menduga kembali.


"Hayu cek," ajakku pada semuanya.


"Lam aku ra melu aku Karo si Frank arep Meng markas e jimot bukti (Lam aku gak ikut sama si Frank mau ke markasnya ambil bukti)," izin si Budi padaku.


"Ok Bud aku juga arep midio wong sing pada nebang (ok Bud aku juga mau ambil video orang yang pada tebang)," ucapku.


"Ati-ati Prang, Mas Bud (hati-hati Prang, Mas Bud)," pesan kekek Ahmed pada cucunya.


Kami semua memutuskan untuk pergi mengecek. Tapi si Budi dan Frank berbeda arah dengan ku. Mereka berdua memilih untuk menyelidiki langsung di markas. Sementara Kakek Ahmed ikut denganku. Sinta dan Clara tak ikut pergi dengan ku. Aku menyuruhnya untuk melapor ke Polisi hutan atau Polhut Kota Purwokerto. Dan untuk buktinya, aku yang akan mengirimkan langsung setelah selesai merekam. Semoga saja tidak ketahuan.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Di tempat pembalakan hutan dilakukan. Aku dan Kekek Ahmed telah sampai di dekat tempat pembalakan liar dilakukan. Kami memilih tempat untuk bersembunyi agar tak ketahuan. Dengan cepat aku langsung mengeluarkan hp ku dan mulai merekamnya.


"Ati-ati (hati-hati) Mas Alam," perintah kakek Ahmed agar aku waspada.


"Iya Ki," jawabku menoleh sambil mengangguk. Aku pun mulai merekamnya.


"Tebang semuanya dan bawa ke markas, kita akan untung besar menjual kayu-kayu ini ke luar negeri," suruh juragan Kadir pada para bawahannya.


Juragan Kadir berniat untuk menjual hasil dari pembalakan ini ke luar negeri karena mendapatkan untung yang besar. Aku masih merekam diam-diam. karena sudah merasa cukup bukti aku mengakhiri rekaman ku dan langsung mengirimkannya ke sinta. Setelah itu aku menghapus jejak rekamannya agar jaga-jaga jika nanti di tanyai


"Para Bapak-Bapak permisi numpang tanya apa yang sedang bapak semua lakukan kalau boleh tau?" tanyaku dengan basa-basi.


"Heh bocah sama kakek tua ya jelas kami ini sedang menebang pohon apa kalian buta," jawabnya tak senang.


"Apakah Bapak-Bapak ini sudah mendapatkan izin untuk menebang pohon di hutan ini?" tanyaku kembali.


"Tidak, memang kenapa?" tanya balik pekerja disana.

__ADS_1


"Jika tidak ada izin Bapak semua bisa di penjara. Tercantum dalam Pasal 83 Ayat 1 Huruf b, Undang-Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, dengan ancaman pidana penjara maksimum 15 tahun dan denda maksimum Rp 100 miliar," jawabku menasehatinya.


"Halah bacot bocah suek," marahnya. Lalu para pekerja yang lainnya menatap kami dengan tatapan menakutkan.


"Dan satu lagi pak terdapat di Pasal 101 ayat (1) UU No 13 tahun 2013, Orang perseorangan yang dengan sengaja memanfaatkan kayu hasil pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara tidak sah yang berasal dari hutan konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 tahun," jelasku lagi menurut pasal yang berlaku. Aku mengetahui semua itu pastinya dari belajar lewat Mbah google.


"Kami ini sudah 15 kali melakukan ini, dan kami semua selalu lolos dengan bantuan juragan Kadir," saut pekerja yang sedang mau menarik mesin gergajinya.


Juragan Kadir yang dibicarakan muncul. Dirinya berjalan menghampiri kami semua sambil merokok, "Ada apa ini?" tanyanya.


"Juragan, Kakek dan bocah ini menganggu pekerjaan kita," tutur pekerja yang sedang memotong sebuah kayu didepannya menggunakan kapak besi.


"Mereka berdua bahkan mengancam kami," adu pekerja lainnya.


Juragan Kadir langsung memandang kami berdua dengan tatapan curiga. Aku merasa degdegan tak karuan begitu juga kakek Ahmed yang terlihat kakinya bergetar.


Sementara di markas kayu Juragan Kadir. Budi dan Frank berhasil merekam semua bukti yang ada. Tapi saat ingin balik, dua orang memergokinya.


"Heh apa yang kalian lakukan?" teriak dua orang bertanya dari belakang mereka.


Karena terkejut mereka berdua dengan cepat berlari menghindarinya. Dua orang tersebut mengejarnya dari belakang. Karena panik juga, kebetulan sekali si Frank melihat ada motor nganggur yang masih ada kuncinya. Dirinya pun mengajak Budi untuk kabur naik motor.


Bud Bud numpak iki cepetan (Bud Bud naik ini cepetan)," ajaknya.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan Markas tapi entah ada yang salah dengan motornya. Motor tersebut mendadak berhenti dan ternyata bensinnya habis.


"Ngapa mandeg (kenapa berhenti) Frank?" tanya Budi sambil menepuk pundaknya.


"Bensin ne entek (bensinnya habis)," jawabnya.


"Weh berhenti kalian berdua diam disitu," teriak orang yang tadi mengejar mereka.


"Halah kepriwe," ucap si Budi panik kehabisan akal. Tapi entah angin apa seketika dirinya mendapat ide. "Buang bae buang hayu mlayu sing cepet wae (Buang aja buang ayo lari yang cepet saja)," ujarnya memberikan usul dadakan.


Sedangkan dua orang tadi masih mengejarnya. Mereka berdua pun semakin panik, dengan cepat mereka berdua turun dari motor dan langsung lari kembali berlari. Dua orang itu semakin dekat saja, tapi karena mereka beruntung mereka akhirnya di pertemuan dengan dua anggota Polhut yang ingin mengecek ke markas yang sebelumnya sudah di jelaskan oleh Sinta dan Clara.


"Pak Pak, tulung aku Karo kancaku areo di tangkep wong loro kae Pak. Kae pelakunya (Pak, Pak tolong aku sama temenku mau di tangkap dua orang itu. Itu pelakunya)," adu si Frank pada kedua anggota polhut sambil menunjuk ke arah dua orang yang masih mengejarnya.


Dua orang itu mendadak berhenti dan berfikir untuk kabur tapi tak bisa karena peringatan sudah keluar.


Akhirnya dua anggota Polhut berhasil menangkap kedua pelaku tersebut. Sekarang tinggal nasib ku dan Kekek Ahmed yang masih di tahan oleh juragan Kadir. Juragan Kadir tadi menatap kami penuh kecurigaan dan meminta paksa untuk menyerahkan hpku padanya. Aku pun terpaksa memberikannya, setelah itu juragan Kadir langsung mengecek hpku mulai dari pesan, video dan lainnya yang tersimpan di dalamnya.


Juragan Kadir selesai mengecek dan akan memberikan hpku kembali karena tak ada apa-apa disana. Namun ketika aku akan menerima hpku kembali, hpku bergetar tanda pesan masuk. Juragan Kadir pun mengurungkan niatnya dan kembali mengecek hpku dengan membuka pesan tersebut. Pesan itu berisi laporan Frank padaku tentang misinya yang telah selesai. Karena juragan Kadir membaca dan tercantum ada kata markas didalamnya. Ia pun menyuruh anak buahnya untuk menangkap ku beserta Kakek Ahmed. Dirinya curiga kalau markas yang dimaksud di pesan adalah markas miliknya.


Sedangkan di sisi lain anggota Polhut sedang di arahkan oleh Clara dan Sinta untuk menuju ke tempat ku berada


"Pak sebelah sini," ucap Clara memberi tahu.


Lalu suara gergaji mesin lagi-lagi berbunyi dan pohon kembali tumbang,


NGWENG NGWENG NGWENG DUG UDUG


GUBRAK


Mereka cepat-cepat berlari ke arah sumber suara. Sedangkan diriku sedang berharap temen-temen yang lainnya berhasil dan bisa lolos.


"Pak jangan di tebang, teriakku mencegahnya". Diriku tak bisa apa-apa karena tubuhku diikat di pohon yang belum ditebang. Begitu juga dengan Kakek Ahmed yang sama nasibnya denganku.


'Hutan ini harus dilindungi tolong hentikan bapak-bapak," timpal kakek Ahmed memohon sambil berteriak.


"Diem di situ jangan bergerak atau akan ku potong dirimu bersama pohon ini," ancam juragan Kadir sambil menarik mesin gergajinya kembali.


"Angkat tangan kalian, kalian semua di tangkap atas tuduhan melakukan pembalakan liar hutan ini," suruh para anggota polhut dangan peringatan tegas. Aku dan kakek Ahmed merasa lega karena akhirnya bantuan telah tiba tepat pada waktunya.


juragan Kadir dan anak buahnya terkejut mereka semua langsung angkat tangan dan diam. Dengan sigap anggota Polhut langsung menangkap dan mengamankan mereka semua. Tak terkecuali juragan Kadir sendiri. Sementara Clara dan Sinta membebaskan aku dan Kekek Ahmed. Sedangkan Budi dan Frank masih bersama anggota polhut lainnya mengamankan barang bukti berupa, gergaji mesin senso, oli, kapak kayu dan tiga buah sepeda motor. Mereka semua kini di bawa ke kantor polisi dan akan menerima hukuman sesuai pasal yang telah di tentukan. Sebelum itu, para anggota Polhut atau polisi hutan berterima kasih pada kami semua kerena telah melaporkan tindakan kejahatan ini padanya.


Ingat hutan adalah paru-paru dunia. Jika hutan di rusak bagaimana dengan nasib makhluk hidup di dalamnya. Kita sebagai manusia harus selalu melindungi hutan dan menjaganya, jangan melakukan tindakan seperti juragan Kadir dan anak buahnya ya. Jika tak ingin di penjara seperti mereka.


Bersambung......🌵🌵🌵

__ADS_1


__ADS_2