
Pagi yang cerah di kota Bogor. Sinar matahari pagi menyambut alam semesta. Kami semua sudah bangun sedari subuh untuk melakukan sholat berjamaah di masjid terdekat. Setelah selesai melakukan semua itu, kami mulai bersiap untuk turun ke lapangan. Ya kita akan berangkat menuju Sungai Ciliwung.
Seputar mengenai Sungai Ciliwung. Ternyata Sungai Ciliwung adalah sungai bersejarah. Sejak dari jaman Kerajaan Pajajaran hingga masa Kolonial Belanda, sungai ini memainkan peranan penting bagi kehidupan masyarakat.
Sungai ini membentang dari hulu di Bogor, meliputi kawasan Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Cisarua lalu mengalir ke hilir di pantai utara Jakarta. Panjangnya 120 kilometer dengan luas Daerah Aliran Sungai [DAS] 387 kilometer persegi.
Namun kenapa Ciliwung kerap menjadi akara permasalahan penyebab banjirnya Jakarta? Inilah yang akan ku bahas dengan teman-teman lainnya.
Kami semua akhirnya sampai di lokasi. Kami yang sudah lengkap memakai sepatu boots langsung turun kebawah. Sungai Ciliwung sungguh keruh dan bau bahkan si Clara sempat enggan untuk ikut turun bersama.
"Aduh sungainya kotor banget bau juga, aku moh melu mudun lah (aku gak ikut turun lah)," ujar Clara enggan turun.
"Lho kok ngonoh Clar, hayu koh mudun (lho kok begitu Clar, ayo lah turun)," bujuk ku.
"Aku wedi banyu ne bakal gawe gatel-gatel aku (aku takut airnya bakal buat aku gatal-gatal)," ucapnya beralasan.
"Ora usah wedi, nek gatel-gatel ya gari adus wae sing resik (gak usah takut, kalo gatel-gatel ya tinggal mandi aja yang bersih)," sela si Budi.
"Hey kalian pada ngapain masih diatas cepet turun semuanya," suruh Bang Kris dari bawah sambil berteriak.
"Iya bang Kris sedala (sebentar) lagi otw," balasku berteriak. "Wis hayu mudun, wis denteni, bang Kris mulai ngamuk kae (dah ayo turun, udah ditungguin, bang Kris mulai ngamuk itu)," ajakku pada yang lain.
"Iya iya Lam, aku mudun berarti kiye (aku turun berarti ini)," kata si Clara dengan muka malas.
Kami berempat melihat ke arah Clara dan mengangguk bersama tanda dirinya harus ikut turun juga. Clara dengan berat hati akhirnya ikut turun juga.
Kami semua sudah memulai memungut sampah yang mudah di jangkau saja. Sedangkan di sisi lain sungai bahkan harus menggunakan alat catokan untuk mengeruk dan mengangkut sampah tersebut.
"Ya ampun iki (ini) sungai apa? Akeh temen sampahe (banyak banget sampahnya)," celetuk Budi terkejut
"Ciliwung Bud emang iya akeh sampahe (banyak sampahnya)," jawabku menyaut.
"Ko ngerti kali Ciliwung emang terkenal pisan akeh sampahe, mulane cokan dadi penyebab e banjir (kamu tau sungai Ciliwung emang terkenal pisan banyak sampahnya, makanya kerap jadi penyebabnya banjir)," kata ku memberi tahu.
"Iya sumber jakarta banjir biasanya dari sini," timpal Sinta membenarkan.
"Betul Sinta, sungai Ciliwung ini kerap menjadi pembuangan limbah limbah pabrik," saut Bang Kris tiba-tiba.
"Harusnya limbah pabrik sedurung (sebelum) di buang di olah sit (dulu) ya," pikir si Clara.
"Benar, kalo tidak di olah terlebih dahulu, komponen ekosistem di sungai jadi terhambat. Dan membuat habitat yang ada didalamnya mati," jelas Bang Kris setuju.
"Dah lanjutkan ambil sampahnya, Kaka juga mau kesana dulu." Bang Kris lalu pamit melanjutkan kegiatannya.
"Iya Bang," ucap kami berlima kompak.
Akar permasalahan sungai ini adalah kerena Sungai Ciliwung mengalir melalui tengah Jakarta dan melintasi banyak permukiman dan perkampungan padat sehingga menyebabkan sungai tersebut menjadi tercemar karena kerap kali menjadi tempat pembuangan limbah cair maupun limbah padat dari kegiatan pabrik maupun rumah tangga.
Nama sungai Ciliwung sendiri diambil dari bahasa Sunda, โCiโ berarti air dan โHaliwungโ berarti keruh. Tak heran jika sungai ini tak pernah jernih dan selalu keruh terlebih lagi sudah keruh keruhnya di tambah sampah yang semakin menumpuk ya akan tambah tercemar pastinya.
Kami semua kembali memungut sampah nya kembali. Tiba-tiba saja kepala si Budi kena timpuk sesuatu.
"Aduh," celetuknya. Langkah kaki Budi langsung berhenti seketika.
"Walah Bu buang sampahe sembarangan temen kena aku tau," teriaknya dari bawah sambil melihat ke atas.
"Bodo amat, siapa suruh disitu," balas ibu yang membuang sampahnya dengan ketus.
"Halah sih," ucap si Budi terkejut sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Ha-ha-ha sing kena timpuk sampah," ledek si Frank.
"Berisik kowe Frank," suruhnya kesal.
"Warga ning kene pada medeni judes judes (warga disini pada menakutkan judes judes)," gerutunya pelan.
"Lam Lam bukannya itu Bank sampah." Sinta menepuk-nepuk pundakku sambil menunjuk ke sebuah bangunan yang tak jauh dari kami berdiri. Aku pun penasaran dan melihat ke arah yang ditunjukkan Sinta padaku.
"Iya tapi kayane Bank sampahe mati (iya tapi sepertinya Bank sampahnya mati)," dugaku.
"Hah abange sapa sing mati, abange kowe, Lam? (hah abangnya siapa yang mati, abangnya kamu, Lam)?" tanya Budi kaget mendengar hal itu.
"Ngarang kowe kaya aku duwe kakang (ngarang kamu kaya aku punya kakak)," sangkal ku.
"Lah terus abange sapa sing mati, kowe sin (lah terus abangnya siapa yang mati, kamu Sin)?" tanyanya beralih ke Sinta.
"Abang tanggaku," saut si Clara kesal.
"Iya innalilahi," ucapnya terkejut.
"Bank sampah kae sing (itu yang) mati, Bud," kata ku memberitahu.
__ADS_1
"Oh Bank sampah Lam ngomong ya," ucapnya yang kini sudah mengerti.
"Lah piwe rep ngomong, setiap aku rep ngomong mbe be manga wis nebak maning, ngomong maning (lah gimana mau ngomong, setiap aku mau ngomong baru aja manga dah nebak lagi, ngomong lagi)," gerutu ku.
"He-he-he maaf maaf Lam," ucapnya terkekeh, "endi Lam bank sampahe jere (mana Lam bank sampahnya katanya)?" tanyanya penasaran.
"Kae (itu) Bud," tunjuk ku ke arah yang sama seperti yang Sinta tunjukkan padaku.
"Oh iya yuh meng nganah tilik (oh iya ayo tengok kesana)," ajaknya seketika
"Hayu hayu," ucap yang lainnya setuju.
Akhirnya kami berlima pergi ke lokasi Bank sampah yang tidak jauh dari tempat kami. Kami terpaksa meninggalkan pekerjaan kami sebentar karena kami penasaran. Sesampainya disana kami mengintip keadaan didalam dari celah-celah pintu. Dipikiran kami penuh keheranan karena tempat itu sepi tak ada petugas bank sama sekali. Tiba-tiba saja ada seseorang yang memergoki kami.
"Punten, adek-adek ini teh saha (siapa)?" Suara bapak-bapak muncul dari belakang kami.
Kami semua langsung menengok ke belakang, "eh punten bapak mau tanya apa ini bank sampah?" tanyaku padanya.
"Iya Dik tapi sudah tak terpakai," jawabnya.
"Kenapa Pak?" tanya Sinta penasaran.
"Percuma saja warga disini tetap saja membuang sampahnya ke Ciliwung, hanya saja setiap tahun akan ada relawan yang bertugas membersihkan sampah Ciliwung," jelasnya.
"Oh begitu Pak," ucapku mengerti.
"Eh kalian ini apa termasuk relawan itu," tebaknya seketika.
"Iya Pak kami berlima dari mahasiswa Purwokerto," jawab ku mewakili.
"Oh Banyumas ya," tebaknya lagi
"Iya Pak," ucapku mengangguk diikuti yang lainnya.
"Kalian anak yang baik dan tak takut kotor, biasanya banyak relawan dari berbagai mahasiswa menolak untuk menjadi relawan Ciliwung," puji bapak itu bangga pada kami.
"Kenapa Pak kok pada gak mau?" tanya Budi penasaran.
"Ya kalian lihat saja sungai ini sudah seperti lautan sampah, katanya mereka takut terkena penyakit dan lain-lain," jawabnya sambil memandangi Ciliwung.
"Pak Le pulang dicariin malah disitu rupanya." Seseorang tiba-tiba memanggil bapak itu yang diduga istrinya.
"Baiklah Pak, silahkan," ucapku mempersilahkannya. Bapak itu tersenyum pada kami lalu berjalan pergi. Kami pun membalas senyuman tersebut.
Setelah bapak tersebut pulang, kami juga pergi kembali ke sungai untuk melanjutkan pekerjaan kami.
...๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ธ...
Disisi lain Badrul and the gang sudah sampai juga di sebuah hotel ternama di Bogor. Setelah mereka menaruh barang-barang milik masing-masing, mereka lalu pergi menyusul kami berlima ke lokasi Ciliwung. Para pengikutnya masih tak mengerti kenapa Bos nya mengajaknya ke lokasi Ciliwung yang kumuh.
"Bos Drul kita beneran mau ke Ciliwung?" tanya Made memastikan.
"Iya lah, kita kan mau gangguin mereka," jawabnya.
"Haduh Bos kurang kerjaan kali kau, kupikir kita ke Bogor mau ke puncak liburan gitu," ucap Domu yang tak percaya.
"Emang kenapa kalo kita bukan liburan hah?" tanyanya dengan nada marah.
"Gak gak Bos," jawab mereka berdua langsung diam.
"Hayya jadi tidak ma?" tanya Ling-Ling yang mulai mengeluh.
"Cus masuk mobil semua," suruh Badrul pada anak buahnya.
Mereka semua lalu masuk kedalam mobil, si Badrul sendiri yang menyetirnya. Tak sampai cukup lama, Badrul and the gang sudah sampai di area Ciliwung. Mereka semua turun dan melewati perkampungan.
"Hii sampah semua jijik aku ngeliatnya," ucap si Badrul lebay. sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Hayya oe (aku) juga sama ma, ih jorok ma," timpal Ling-Ling yang berpendapat sama.
Sementara kembali di posisi kami berlima. Kami merasa prihatin dengan keadaan disekitar. warga pada seenaknya membuang berbagai macam sampah ke sungai. Dan disaat kami melanjutkan memungut sampah kami berjumpa dengan beberapa anak yang sedang bermain di sungai. Kami berlima pun datang untuk menyuruh nya pulang. Apalagi cuaca yang sudah sedikit mendung, takutnya akan ada banjir datang. Tapi saat kami menasehati nya malah anak-anak itu menimpuk kami dengan berbagai sampah
"Hey anak-anak kok pada main disini sih?" tanyaku sambil menyapa.
"Emang kenapa ka? Seru tau," jawab salah satu anak gempal sambil bertanya juga.
"Lah bocah dolanan kipuh ning sampah koh jere seneng (lah anak mainan di sampah kok kata senang)," gumam Budi heran.
"Tapi De sepertinya akan hujan sebaiknya adek-adek sekalian pada pulang gih entar dicariin emak mu," sanggah ku menasehatinya.
"Heh heh kita timpukin mereka yuk kayaknya seru," bisik anak yang cukup tinggi kepada si gempal. Bukannya menurut apa kata ku malah mereka berbisik untuk melakukan hal seru lainnya.
__ADS_1
"Hayoo hayoo." Mereka bertiga mulai mengambil sampah-sampah yang disekitarnya lalu melemparkannya pada kami.
PLUK PLANG
"Aduh aduh wes wes (udah udah)," teriakku menyuruhnya berhenti. "Weladalah bocah Iki malah pada nyerang," ucap Budi yang tak terima.
"Ha-ha-ha lagi Sep lagi, suruh anak tinggi itu pada temennya. Dirinya sangat puas melihat kami tertimpuk berbagai sampah.
Anak-anak kecil itu terus-menerus melempari kami dengan berbagai jenis sampah. "Hey hey anak-anak manis, anak baik udah udah," ucap si Sinta membujuk mereka.
'Ish udah dong dasar anak-anak nakal," ucap si Clara yang mulai kesal.
"Hem Kaka-kaka ini pada gak asyik cemen semua masa kalah sama kita yang masih bocil," ledek anak yang tinggi.
"Mas timpuk Kaka-kaka itu lagi," suruhnya pada satu teman lagi yang umurnya jauh lebih muda dibawahnya.
"Hee.... dasar anak-anak bandel, cepet pulang ibu kalian pada yariin itu!" Suara bapak-bapak terdengar dari atas sungai.
"Sudah sono pulang emak kalian dah nyariin katanya,' suruh Frank sambil berkacak pinggang dan melotot.
"Hish ayo Sep, Mas, pulang," ajak si bocah tinggi pada dua temannya. Mereka lalu membuang sampah yang tadi dipegangnya kembali ke tanah dengan tak santai.
"Iya Ron," jawab mereka berdua kompak.
Asep, Dimas dan Roni, diduga itulah nama-nama bocah-bocah nakal tadi. Seharusnya mereka bertiga jangan di biarkan bermain di sungai. Bahaya juga jika tiba-tiba turun hujan dan air meluap. Apalagi cuaca hari ini sudah mulai menandakan akan turun hujan. Kami berlima juga segera naik ke atas karena akan turun hujan. Kami berharap banjir tak datang karena sampah Ciliwung masih banyak. Bahkan katanya butuh 99 truk untuk mengangkut sampah-sampah Ciliwung. Tapi karena cuaca, sampah Ciliwung hanya bisa diangkut oleh 33 truk saja. Kami berlima bahkan kaget mengetahui hal itu.
"Bang ini dilanjutkan besok apa?" tanyaku pada Bang Kris.
"Iya Lam cuaca sedang tak mendukung," jawabnya.
"Bang, lah sampah-sampah kiye kabeh rep diangkut karo apa (bang, sampah-sampah ini semua mau diangkut pake apa)?" tanya Budi penasaran.
"Karo (pake) truk itu sudah ada 33 truk yang mengangkut sampah," jawabnya sambil menunjuk ke beberapa truk yang berjejer berurutan.
"Innalilahi 33 truk akeh e (banyaknya)," ucap Frank tak percaya.
"Itu masih kurang lho," kata Mba Lili.
"Esih lah emang butuh pira (berapa) Bang?" tanya ku tak percaya.
"Kirane ana 99 truk dean (kiranya ada 99 truk mungkin)," jawabnya yang membuat kami berlima terkejut.
Mendengar itu sontak si Budi langsung terkejut. "Jabang bayi, 99 truk ngangkut sampah tok. Jan jan pabrik olah sampah sugih kiye tah."
Kami semua sedikit terkekeh mendengar ucapannya. Tiba-tiba saja....
Tes Tes. butiran kecil satu demi satu turun dari langit.
"Waduh mulai gerimis," celetuk ku.
"Hayu balik meng asrama sit, istirahat (ayo pulang ke asrama dulu, istirahat)," ajak Mba Lili segera.
"Iya iya Mba," ucap kami setuju.
Kami semua langsung berlari menuju mobil dan pulang ke asrama dulu untuk sementara. Kegiatan ini belum selesai semuanya, masih ada rencana Alam dan teman-temannya untuk membangun Bank sampah Ciliwung beraktivitas lagi. Bagaimana rencana mereka?
ย
POV si Badrol.
Badrol and the gang sekarang sedang berteduh di salah satu gubuk yang banyak sampahnya. Mereka terpaksa berteduh disana karena hujan yang semakin lebat. Badrol protes pada Made karena memilih tempat berteduh yang tidak estetik.
"Made kenapa kau membawa kita berteduh di gubuk kumuh? Jorok begini pula," protes Badrul padanya.
"Maaf Bos kita sudah bisa terlalu jauh dari mobil, percuma saja jika kita berlari ke sana pasti akan basah semua," jelasnya.
"Hemm iya juga tapi bau banget disini," ucapnya sambil menutup hidung dan mulutnya.
"Iya Bos aku juga rasanya pengen muntah ini Bos," timpal Domu yang mulai mual.
"Hayya oe tak suka tak suka ma," gerutu Ling-Ling kesal.
"Ling-Ling habis reda kita pulang saja ya," ajak Lang-Lang pada kembarannya.
Ling Ling mengangguk setuju ajakan kakaknya.
"Berisik kalian udah lah tahan tahan," suruhnya lalu pasrah.
ENG I ENG TURUTUTUT....
Bersambung....๐๐๐
__ADS_1