Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 10


__ADS_3

Pagi ini serasa kurang enakan badan. Kepala ini sangat pusing, berjalan saja tertitih-titih. Kak Rahul merangkul dan menstabilkan tubuh ini. Rasanya tidak karuan saat ini. Bunda tidak mengizinkan ku untuk ke sekolah hari ini, tapi aku masih kesal akannya. Jika satu harian ini di rumah, semakin kesal aku dan pastinya ibu selalu membicarakan pasal semalam. Akhirnya, dengan terpaksa aku pergi menuju sekolah. Dikarenakan kak Rahul masih di rumah. Bunda tidak membiarkan ku pergi sendiri, menunggu bis menjadikan tubuh ini semakin lemah nantinya. Kini aku pun pergi bersamanya.


Masuk gerbang sekolah bersama dengan Dwi. Air muka yang masam itu kembali lagi. Sudahlah, ini memang tabiatnya. Tetap ku tunggu sampai ia memarkirkan sepedanya itu dan jalan menuju kelas bersamaan. Ia tampak marah kembali kali ini. Apa sih mau anak satu ini? Aku harus selalu bersamanya saja gitu. Terus tidak boleh dekat dengan lelaki lain, ini yang dia maukan?


Aku saat ini harus apa? Jika ku awali interaksi ini mungkinkah dia meresponnya. Alih-alih dia akan cuek, aku yakin itu. Tapi kalau seperti ini saja ketenangan tidak ada. Bagaimana kalau dia terus-terusan marah? Siapa yang akan menjadi temanku lagi untuk curhat tentang semua hal? Kecuali jangan sampai tersebut satu nama lelaki saja. Dia akan marah, bahkan setiap barang yang ada digenggamannya dihempas begitu saja.


Akankah aku harus mengatakan pernyataan ini? Atau hanya diam saja, tetap dengan pendirian, pasti dia akan mulai percakapan terlebih dahulu. Tapi? Itu tidak mungkin!


"Dwi, kenapa sih?"


"Gak papa." Jawaban dingin itu kembali datang terus.


"Kau marah ya, dengan ku?"


"Tidak!"


"Kau bohong ya?" Ujar kekanak-kanakan ku. Sambil melebarkan mulutnya kurang senyum itu.

__ADS_1


"Awas! Lebih sedikit dewasa kenapa!" Ia mengehempaskan tanganku cekatan.


Dasar kasar! Emang, hanya dia yang dapat kasar seperti itu. Aku akan lebih kasar. Inilah sifat ku sifat ku yang sebenarnya. Ia mengira aku tak dapat sepertinya yang dingin dan kasar, sifat itu sudah tertanam lebih dulu dari padanya yang saat ini.


🍁🍁🍁


Aku pun duduk tanpa melirik ke belakang sedikit pun. Tidak terbiasa seperti ini, diam dan hanya fokus ke handpone yang ku gengam. Tiba-tiba seruan seseorang dari belakang menegur ku.


"Ra, jangan main handpone saja! Nanti semakin rabun baru tahu," Tiada ku respon sama sekali.


"Zahra Afifah!" Ia mulai jail saja.


Tiba-tiba saja mereka datang bersamaan, sampai bisa di katakan kerumunan. Membicarakan sesuatu yang mengejutkan siapa saja mendengarnya. Ku akui ini tidak mungkin! Apa yang menjadikan ini? Pembunuhan? Itulah yang dikatakan mereka. Tapi siapa yang membunuh? Tidak mungkin salah satu dari kami. Ku ketahui dari kami tiada yang punya sikap pembunuh.Tapi...


Seperti ku, mereka menatap Dwi dengan sangat tajam. Seakan dialah pembunuhnya. Apa ini? Isayarat yang sangat tertebak, mungkin Dwi merasakan yang sama. Kalau aku menjadi dirinya aku akan pergi dari tempat dan menenangkan diri, seenaknya saja mereka berfikir seperti itu. Tapi itu masih tersimpan dibenak mereka, belum tentu yang aku prediksi benar agaknya.


Pisau buah yang sering digengemnya itu. Kami jadi berfikir negatif akannya. Aku tidak akan dapat seperti ini, dia bukanlah pembunuh. Mungkin saja mayat yang berada di lorong sempit dan gelap di lantai 3 itu korban bunuh diri. Ia sudah tak sanggup menahan beban hidupnya. Tapi kebanyakan dari mereka memandang dia korban pembunuhan. Aku yakikan bukan Dwi penyebab tragedi yang seram ini.

__ADS_1


Masih dalam perbincangan dalam satu kelas, suara guru yang keras mengejutkan kami sekalian. Aku langsung melipat cepat tanganku. Guru pun masuk, dan bertanya tentang kami perbincangkan. Belum larut dalam semua ini mereka lansung menyatakan,


"Siapa sih yang tega membunuhnya?" Pertanyaan itu membulatkan mata semuanya.


"Mungkin? Yang duduk di belakang Zahra bu!" Salah satu dari mereka lansung menuduh Dwi pelakunya.


"TIDAK MUNGKIN!!!" Pernyataan ku taruhkan.


"Pacarnya bela tuh," Sindiran keras dilontarkan kembali.


"APA KAU BILANG!" Ku bantah dengan hentakan kaki.


"Ya, Dwi bukannya sering menggenggam pisau buah. Dasar Psikopat. Uuu..." Apa-apaan ini?


"Dia bukan Psikopat yang kalian maksud. Kalau saja dia Psikopat, mungkin aku sudah tertusuk pisau ini dari belakang!" Ku genggam tangannya yang terdapat pisau.


"Ya tidak mungkin! Orang kau pacarnya ya gak?" Anak itu semakin membuat ku panas saja.

__ADS_1


"APA KAU BILANGG!!!" Ku tampar keras pipinya yang tirus tersebut.


Aku tak peduli dia seorang perempuan. Aku sudah panas mendengar kata 'pacaran' itu. Aku bukanlah pacar Dwi yang dinyatakan mereka. Aku tidak suka kata-kata itu. Mereka seenaknya menyatakan seperti itu, belum tentu mayat itu korban pembunuhan. Ku yakin bukan Dwi penyebab ini.


__ADS_2