
"Mengapa dengan mu Ra?" Tanya Taesoon pada ku.
"Tidak apa. Dan untuk apa dia kemari?"
"Maksud mu aku Ra?" Tanya Dwi yang kebetulan sangat benar. Dan ku respon dengan anggukan.
"Apa salah ku kepada mu?"
"Kau yang bersikap dingin pada ku Wi, ingat tentang pisau buruk mu itu, aku tidak suka!" Ketus ku. Aku putar ulang, tentang keingin tahuan ku akan pisau buah miliknya.
"Apa kau katakan?" Ia membalikan tubuhku yang membelakangi mereka.
"Apa! aku tak salah bukan?" Ia pun menampar ku dengan sangat keras.
Setega itukah dirinya pada ku. Aku pun terduduk lemas, seakan mengingat kembali tangannya itu sangat ringan. Taesoon mengejar dengan cekatan Dwi. Aku tak banyangkan Dwi dapat seperti itu memeperlakukan perempuan. Aku pun tidak pernah sekali ditampar oleh seorang pun termasuk itu orang tua ku sendiri. Aku sangat tidak suka orang yang ringan tangan. Apa sih yang tersembunyi di pisau itu? Kejadian apa yang memengaruhi dirinya? Apa ini salah ku? Kalau begitu tolong maafkan aku.
Aku mengejar mereka, dan mencarinya ke sana kemari. Melihat mereka ada di lorong yang kosong. Apa yang terjadi? Mengapa dengan mereka? Bertengkar seperti itu, karena saat tadi? Benar saja, aku pun memisahkan mereka dan menyatakan ini adalah salah ku. Mataku menatap mereka berdua dengan tajam, dan bahkan sampai mengeluarkan air mata. Ya, hati kecil ku tak dapat menahan semua yang terjadi. Aku adalah orang yang lemah, aku akui itu, dan Dwi masih saja kesal dengan ku kali ini ia meninggalkan kami di tempat.
Sudah ku lupakan tentang sejarah pisau buah itu, dan kali ini menjadikan ku harus mengintevigasi tentang pisau itu. Sudah ku nyatakan pada Taesoon juga ini adalah salah paham akibat pisau buah yang sering digenggamnya. Dan kali ini kami akan mencari tahu tentang pisau buah itu, sebaiknya dikarenakan aku sudah sangat puas melihat sikap dingin itu akibat pisau yang sebenarnya memang sangat buruk itu. Mengapa ia sangat marah, dan sempat menghantam dengan tamparan ke pipiku. Itu tidaklah wajar bagi ku.
🍁🍁🍁
Melihat dia duduk rapi di bangku kantin. Menatap pisau itu, dan tak lupa pula mengupas sebuah apel. Aku sangat curiga saat ini, sama dengan seperti Taesoon. Sampai ke rumahnya pun kami intevigasi sangat detail setiap menitnya. Aku tak akan puas sebelum waktunya berakhir dengan sangat cepat. Taesoon pun mulai lelah, dan akhirnya ia tidak mau kembali jadikan tujuan ini, dan meninggalkan tempat.
Aku hanya dapat mengikutinya, lagi pula aku pun penat satu harian sudah mengintai tentang sejarah pisau buah itu. Kembali tanpa bukti apa pun yang dapat. Kali ini belum dapat dan aku terus saja mengintai ini terusnya. Tiada kata putus asa bagi ku. Selagi ini masih menjadi pertanyaan aku akan mendapatkan jawabannya walau sampai kapan pun.
__ADS_1
Sebelum meninggalkan tempat, Dwi ongmong dengan sendiri. Tetapi matanya tetap menatap lemah pisau buah itu. Ia sebenarnya adalah seorang 'Psikopat' pembunuh yang sangat haus akan darah. Sebenarnya ia telah berusaha menghilangkan sikap itu, dia tahu bahwa itu adalah dosa besar sejak sering mendapat pencerahan dari ustazd di luar sana. Dan kali ini sudah mulai menghilang, ia sangat bersyukur. Kali ini ia dapat hidup tenang tanpa ada kemaksiatan kembali. Karena itulah, ketika ada seseorang yang memegang pisau buah itu, ia akan menghantam seseorang tersebut, ia takut sekali jika orang itu seperti dirinya yang psikopat itu.
Setraumakah dirinya? Aku sudah sadar berarti dirinya tidak akan mau menjadikan orang-orang mempunyai sikap dingin layaknya seorang yang cuek akan keadaan. Dan lebih anehnya lagi pisau itulah yang menjadi untuk membunuh, sebab itulah yang menjadikan pisau itu setiap saat digenggamnya. Biar saja dia yang memegang karena pisau itu sungguh berbahaya baginya, karena sudah banyak nyawa yang tertindas. Kali ini ia tidak akan mau menghantam nyawa, sebab itu dia membasmi rasa haus darah itu dengan menupas buah walau tidak ada darah yang mengalir. Baginya itu sudah sangat puas, lagi pula apel itu berwarna merah. Itulah ia harus dapat berhalusinasi tinggi kali ini. Ia tidak mau dosanya terlalu banyak, dan masuk neraka nantinya. Nauzubillahiminzalik!
Ini adalah salah ku. Tamparan yang keras itu bukan karena dia murka tanpa alasan, sesungguhnya inilah yang terbaik bagi kami. Entah apa yang menjadikan dirinya setrauma itu. Dan untuk sekian kalinya aku maafkan sikap kasar tersebut. Aku tak menyangka orang yang agaknya seperti dia bisa saja menghilangkan sikap haus darahnya, dan mengganti dengan buah merah itu. Hal itu sudah termasuk berhasil bagi ku.
Masih tidak terima akan semua yang terjadi saat tadi. Taesoon pun akan menghantam keras kembali pipi Dwi, sebab dia telah bersikap kasar dengan seorang wanita. Ya, ku tahu dia orang yang sangat menghargai wanita layaknya barang berharga. Sikap pembalas dendam pun ada di dirinya. Aku mengira hanya diriku yang memilikinya, tetapi sama dengan ku ia perperawakan seperti itu agaknya.
"Lihat saja nanti pipi itu akan lebih parah dari pada kau Ra!"
"Kau akan membalasnya Tae, sudahlah ini salah ku juga bukan. Alasan itu yang menjadikan dia seperti itu bukan?"
"Tetapi jangan seperti itu juga Ra. Kau itu perempuan, seharusnya dia melindungi bukan menyakiti."
"Terus..." Aku mencoba membawa kedalam candaan sedikit.
"Sayang?"
"Sudah yuk pulang! Malas aku di sini." Ujarnya kesal.
Ia sangat lucu sekali, pantas saja banyak wanita yang terpikat dengan wajah tampan dan lucunya itu. Sebenarnya aku hanya melihat dari lucunya saja tak lebih dari itu. Menjadikan diriku tergila akannya, dan kali ini ia telah menjadikan halusinasi ku mulai kembali. Kata-kata itu seakan pertanda yang sangat berharga untuk hari kemudian. Aha, sudah lupakan! Aku jadinya semakin gila saja akhir-akhir ini. Kemudian ia mengantar ku pulang seperti biasanya.
Bunda tersenyum jaim itu melihat ku. Dan ketika ia pamit pulang, dan tak tampak lagi. Bunda bertanya tentang dirinya, ketampanan dirinya yang memikat bunda untuk mengetahui jati dirinya. Dan ku jawab pun dengan senyum manyun, pertanyaan bunda penuh dengan pujian akan dirinya. Sampai berfikir akan menjodohkan aku dengannya kali ini. Aku menatap bunda penuh, dan menunduk malu. Karena itu aku pun sudah lama inginkan seorang yang ku idolkan itu betul mencintainku sepenuhnya, itulah halusinasi ku yang menjadikan ku senyum-senyum sendiri.
Kak Rahul ternyata ada di belakang, mendengarkan percakapan antara aku dan bunda dan kali ini wajah masam itu terpancar kembali. Aku tetap menceritakan panjang lebar tentang Taesoon, yang sangat memikat itu. Tiba-tiba ia tak terlihat kembali. Mungkin, marah akan semuanya. Aku tahu itu. Coba saja ia mengerti diriku, mungkin aku tak akan membalas seperti ini agaknya. Sudah, biarkan ia dengan kekesalan yang berarti itu. Dan kini aku akan terus menjadikannya kesal, sampai ia sadar dengan sendirinya.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Aku tahu apa yang disukainya, dan sebagai pemintaan maaf, berbicara baik-baik tentang pisau itu, mengambil bukti yang kuat, bahkan aku akan terus mensuport dirinya untuk lebih dekat dengan ajaran agama. Membawakan apa yang di sukainya sebagai pemintaan maaf. Ya, ini adalah salah ku dan aku harus meminta maaf akan ini.
Sesaat ia melihat ku malas, dan kali ini aku tetap duduk menanti respon yang terbaik. Tanpa ada menyetuh sedikit pun buah yang ku bawakan, matanya tiada melirik sekali pun untuk itu. Dan bagi ku hanya akulah yang dapat meyempurnakan ini. Kali ini ku bujuk sampai ia mau, akhirnya berhasil ia pun menerima maaf ku dan kembali meminta maaf akan sikap kasar yang kemarin. Itu sudah ku lupakan, hanya kekeliruan yang berarti saja. Dan kesalah pahaman ada saat itu.
Menceritakan tentang pisau buah itu. Ya, aku memancingnya agar menjelaskan tentang sejarah dari pisau buah itu sangat detail. Padahal aku pun sudah mengerti mengapa ia seperti itu agaknya, karena aku ingin lebih detail maka ia menjelaskannya. Tak ada satu pun disembunyikan lagi kali ini. Inilah yang yang disebut dengan sahabat sebagai teman curhat juga, dan janganlah kita menyembunyikan sendiri karena itu hanya dapat sakit di hati saja.
Tiba-tiba saja ada tangan tergenggam mengahantam pipi tirus Dwi. Aku pun sangat kaget, apa maksudnya ini? Tanpa ada rasa bersalah kali ini ia menghantam begitu saja. Sudah ku jelaskan tetapi inilah sikapnya yang sangat bisa menghargai kaum wanita. Kejadian kemarin bukannya aku pun sudah memaafkannya, namun ia masih geram akan Dwi. Aku sudah tahu dirinya tidak akan rela bila seperti ini kejadiannya.
"Apa maksud mu Tae?"
"Sudah kau yang salah, tanya sama diri ku sendiri. Jangan tanya dengan diriku, jika kau merasa bersalah."
"Apa salah ku?"
"Kau tidak tahu!? Apa salah mu? Sungguh kau orang yang sangat egois Wi." Ia ingin menghantam pipinya untuk kedua kalinya.
"Ia sudah menyadarinya, sudah jangan kembali seperti ini kita bukannya sahabat?" Aku pun mencegatnya.
"Sudah, ayo minta maaf Tae!"
Aku pun meceritakan semua yang menjadikan Dwi tampak sangat kasar.
"Maafkan aku Tae, aku sadar ini adalah salah ku. Ya, kau sangat tahu derajat wanita bagaimana, karena suatu alasan tertentu yang menjadikan ku trauma aku spontan seperti itu. Mianhae..." Ucap ketulusan itu.
__ADS_1
"Maafkan aku juga Wi. Jika aku ada salah selama ini. Ya, itulah trauma mu. Sebaikanya akulah yang harus meminta maaf duluan." Mereka pun saling berpelukan satu sama lain.
Aku tahu mereka tak akan lama seperti ini, dan kali ini aku tersenyum puas melihat mereka baikan, saling menganggap dirinya salah dalam hal ini. Kali ini aku harus berupaya mensuport Dwi yang masih ada diambang ketraumaan. Begitu juga dengan Taesoon sendiri.