
Seorang pria berpakaian serba hitam mendobrak pintu dengan keras. Dan sangat terkejutlah aku. Ia menghempaskan pisau itu digenggaman kak Yoon Seon, dan menghantam keras pipi tirusnya. Pembelaan kak Yoon Seon tak kalah dengannya, sangat pandai. Tiba-tiba apa yang terjadi... Lampu mati dan sangat gelap sehingga mata ini tak dapat melihat apa pun.
Saat itu aku hanya dapat terpaku dan tak dapat melihat apa-apa. Ini bukanlah yang ku maukan! Aku sangat takut gelap. Siapa pun tolong aku! Dari sini pertanda yang tak baik. Dan akhirnya lampu hidup. Kemana kak Yoon Seon dan pria berpakaian serba hitam itu.
PRAKKK...
Apa itu!
Aku pun mencari sumber suara itu. Sepertinya di dapur, aku pun menuju dapur dengan langkah perlahan. Tenangkan fikiran kali ini. Apa! Lelaki itu telah terperangkap. Bagaimana ini? Aku menolongnya atau... Sudah lupakan. Sekarang cari keadaan yang tenang. Aku tak dapat, jika dengan buru-buru, harus mencari strategi yang tepat.
Aku pun mengambil vas bunga yang berada di meja. Menghantamkan ke kepala kakak yang kejam itu. Agaknya agar lelaki yang berperawakan serba hitam ini, dapat membela dirinya lebih mantap. Aku tak berfikir kalau dia orang yang jahat. Mungkin? Dia seorang pencuri. Tetapi aku merasakan ada pertolongan yang berharga saat ini, dan ia bukan orang jahat. Setelah kak Yoon Seon pingsan. Lelaki itu membawa ku keluar, dan menjauh dari rumah itu.
"Kau siapa?" Tanya ku ingin tahu.
"Mengapa kau membantu ku," Lanjut ku.
"Terima kasih, tapi aku ingin tahu. Mungkin saja aku mengenal mu?"
"Sama-sama." Ia pun meninggalkan ku di tempat yang sudah tak jauh dari rumahku.
__ADS_1
Kalau dia orang jahat mungkin aku sudah habis juga. Tapi apa ini dia menyelamatkan ku? Siapa lelaki itu? Aku hanya dapat berkata dalam benak saja. Syukur, ku tak kenapa-napa. Allah masih menyayangi hamba-Nya. Alhamdulliah.
🍁🍁🍁
Jika ku ingat lagi kali ini menjadikan tanda tanya akan kemarin malam, sudahlah dia orang yang baik meski ia seperti itu agaknya misterius. Menggunakan masker dan berpakaian serba hitam itulah mendukung kalau orang itu benar-benar misterius akan kepribadiannya. Aku ingin berjumpa dengannya kembali!
Berjalan menulusuri koridor, sambil memikirkan pertanyaan ini. Terlihat oleh ku Dwi, ngapain ia di sana? Tepatnya di loker ku. Aku pun mendekatinya. Menegurnya, apa yang di perbuat di loker milikku?
"Wi, ngapain kau di sini?" Tanyak ku akannya.
"Tak kenapa-napa?" Ia membanting keras pintu loker itu.
"Ada apa di loker ku?"
"Yuk masuk!" Ajak ku. Aku tak ingin lama di sana. Jika ulat bulu itu ternyata sudah tertempel di tubuhku.
Kami pun menuju kelas, dan Dwi tetap menatap ku aneh. Ya, dia tahu aku sangat jijik dengan hewan itu. Tapi, sepertinya ada yang tak beres. Dari tatapannya menandakan ada kecurigaan ku akannya. Yap! Mata itu, ku tahu ia tak biasanya seperti itu. Sepertinya ada yang dia sembunyikan sejak ku tegur ia saat berhadapan dengan lokerku yang terbuka. Aku akan melihat loker itu nanti!
Pertanyaan ini harus terjawab, tapi... Ada yang mengganjal di sana. Ulat bulu! Jika benar ada? Bagaimana ini? Keingin tahuan ku sangat bulat. Tetapi, ada yang menjadikan ku takut mengetahuinya. Buka atau tidak? Sudah, ku beranikan diri untuk membukannya. Apa ini, bunga dan secarik kertas. Itu bukan yang menjadikan mataku tercengah lebih dulu. Aku mencari-cari keberadaan makhluk kecil berbulu yang dikatakan Dwi. Tak ada, mungkin ia sudah pergi. Aman...
__ADS_1
Ku genggam sekumtum bunga dan secarik kertas itu. Ku telusuri kata demi kata yang puitis tersebut. Tidak! kata-kata itu sungguh indah meski tak seindah tulisannya. Siapa yang memberikan ini? Seorang lelaki atau wanita. Ku baca lebih detail kertas tersebut. Ya, ada nama pengirimnya! Syah, siapa dia. Dibawanya tertera, lelaki yang menyelamatkan mu malam tadi dari orang jahat haus darah itu.
Namanya Syah, tapi dari mana tahu dia sekolahku ini, terus dia tahu lokerku dari mana? Apa dia satu sekolah dengan ku? Dia di sini? Sebenarnya dia siapa? Pertanyaan yang bertubi-tubi datang dengan sendirinya. Tetapi, terakhir Dwi ada di sini. Atau Dwi yang bernama Syah itu! Mengapa ia perhatian sekali? Sudahlah, tak mungkin dirinya. Hanya orang yang fans barang kali akan diriku. Yang bernama Syah.
Jam pelajaran terakhir. Kali ini guru hanya bercerita tentang sejarah yang telah lama bertuah. Kami pun mencatatnya. Ya, aku selalu saja terlambat seperti ini. Nanti saja lihat buku catatan Dwi. Ia sangat fokus dengan bukunya itu, nanti saja ku pinjam. Aku hanya mendengarkan guru itu berceloteh dengan sangat semangat. Sebenarnya, aku sangat mengantuk, ia seperti mendongeng. Wajar aku sempat tertidur, menyandarkan kepalaku di atas meja.
BRAKKK....
Aku pun terkejut dan mengucek-ngucek mataku. Guru sejarah itu marah, karena aku menganggap dirinya pendongeng tidur siang ku. Menyuruh ku berdiri di atas kursi, dan mulailah wajahku merah padam, sebab malu. Dwi di belakang ku hanya senyum mayun, dan meledek ku. Lihat kau ya Wi!
Selesailah jam pelajaran pagi. Kini masuk jam pelajaran sore. Aku paling malas ini! Mataku ingin saja terpejam, dan ingin bermimpi indah siang ini. Tapi inilah yang menjadikan diri seseorang terdisiplin, harus menitih ilmu dan mempergunakan waktu dengan baik. Aku pun meminjam buku catatan Dwi yang kiranya dapat mengerti dari tulisan itu. Apa ini! Tulisannya sungguh buruk, ups... Sorry. Agaknya tampak seperti, tulisan Syah!
Ini memang sangat percis tiada bedanya. Aku memandang tulisan itu dan mencari tahu sebenarnya siapa pemilik tulisan di secarik kertas yang nama pengirimnya Syah itu. Aku tahu itu adalah nama samaran, pastinya.
"Dwi! Apakah ini tulisan mu?" Ku memberikan kertas itu padanya.
"Ngg...gak," Gagap tak menentu.
"Tapi, ku lihat sama dengan tulisan mu bukan?" Pertanyaan semakin ku lontarkan.
__ADS_1
"Sudah lupakan saja!" Ia tampak sangat mencurigakan saja.
Dari sini aku akan mencari tahu keberadaan Syah. Siapa ia, dan untuk apa ini? Aku yakin dia orang yang telah ku kenal sejak lama. Pertanyaan ini sudah ku tahukan detik-detiknya. Sekiranya Dwi tampak sangat mencurigakan.