
Sembari menyiapkan barang untuk pulang. Telihat oleh sorot mata ku pisau itu ada dihadapan ku saat ini. Ku lihat dengan sangat tajam, apa sebenarnya kenangan yang ada di pisau ini bagi Dwi? Ku pegang dan ku lihat lebih dekat pisau tersebut. Tak sengaja...
"Apa yang kau lakukan dengan pisau ku?" Ia merampas dengan sangat kasar pisau itu.
"Aku hanya melihatnya Wi, tidak bolehkah?"
"Tidak!" Ketusnya.
"Mengapa?"
"Aku tidak suka saja kau memegang pisau ku ini, sudahlah aku mau pulang!"
"Kok tidak mengajak ku,"
"Kau pulang sendiri, punya kaki yang bagus bukan? Jangan manja!"
Semakin mencurigakan saja! Mengapa dengan pisau buah itu? Kejadian apa yang telah memengaruhi saat ini. Jika itu pisau biasa, aku boleh menyentuhnya bukan? Saat ini pun sikap yang dingin itu kembali. Untuk sekian kali dia tidak bersikap seperti itu, dan sangat telah lama sekali. Mengapa dengan pisau yang misteri agaknya dalam pandangan ku ini? Aku akan mencari tahu penyebab semuanya.
Jalan sendiri menelusuri lorong yang sudah sepi tampaknya. Ada yang menepuk bahuku dengan pelan. Aku pun melihatnya, dan seakan tiada seorang pun di sana. Mungkin aku sangat capek hari ini, dan berhalusinasi saja. Kemudian, tepukan sekali lagi. Apa ini? Aku mencari sekeliling, masih dalam keadaan yang sama. Aku pun mulai takut, dan berlari cekatannya. Tiba-tiba...
"Aaa..." Ada yang menarik tanganku.
"Mengapa, takut ya?"
"Kau ya, nakuti saja!" Ujar ku kesal.
"Mianhae. Oh ya, temani aku nonton yuk!"
"menonton apa nih?"
"Anime Jepang, One Piece,"
"HA? ONE PIECE?!" Mataku membulat seketika.
Ya itu adalah anime yang sangat istimewa bagi ku. Dia menyukainya juga? Tak ku sangka, tontonan itu menjadikan ia terikat juga. Aku sangat menyukai anime Jepang itu, dan untuk menggarap waktu luang aku akan menontonnya sampai tengah malam. Terkadang bunda marah akan ku. Tetapi, setelah menontonya mataku pun mulai parah rabunnya. Sebab itulah bunda melarang keras aku menonton anime itu kembali, tak mengenal waktu membasmi episode demi episodenya.
Pulang ini aku pun dengan semangatnya ikut dengan bujukan Taesoon yang sangat memengaruhi ku. Kami pun menontonnya di taman dekat dengan sekolah. Ia kalau menonton sendiri baginya tidak akan semangat, maka dari itu ia mengajak ku. Ya, lagi pula aku pun pemikat One Piece yang tidak dapat mengatakan 'NO' jika untuk menonton anime ini. Aku tidak dapat menahannya lagi, dan kali ini aku akan puas melihatnya bersama Taesoon, bahkan bisa saja sampai malam hari. Tidak akan penah menolak jika di ajak menonton, itulah diri ku. Zahra!
Benar saja kami baru sadar setelah jam menunjukan pukul 23:00. Aku tidak yakin, mana mungkin secepat ini waktu berjalan. Padahal masih sangat sedikit sekali episode yang kami habiskan. Itu pun dia yang mengajak ku pulang, barulah sadar langit mulai gelap saja. Dan syukur saja ia mengantar ku pulang, dengan mobilnya itu. Berbincang-bincang pasal adegan yang berada di anime itu, belum lama aku sudah pingsan tidak berdaya lagi. Dan terbangun sudah sampai di kamarku.
Serasa masih dalam sentuhan yang lembut itu. Sepertinya ada yang menyentuh pipiku ini, entah mengapa aku menatap foster Taehyung yang tertempel di dinding itu. Apakah dia yang telah menyentuh pipi ini? Masih terasa sangat hangat. Aku tidak yakin ini benar dia yang menyetuh pipi ini, mungkin saja bunda? Sudah lupakan saja! Biarkan itu menjadi pertanyaan yang tidak terlalu penting kali ini bagi ku. lanjutkan istirahat yang nyenyak, mana tahu jawaban ini ada dalam mimpi indah malam ini.
Tetapi masih saja ku fikirkan, bagaimana reaksi bunda kepada Taesoon ya? Apakah bunda tampak menyeramkan seperti biasanya? Mungkin saja, bunda bukannya tidak menyukai setiap teman lelaki ku siapa pun itu, termasuk Dwi sendiri. Usiran yang sangat keras itu akan terlontar, hanya saja aku tidak terbangun saat itu.
__ADS_1
Esoknya ia menjumpai ku dengan air muka yang semangat, dan memberikan ku sekotak coklat. Aku lansung tanpa aba-aba mengambilnya dengan sangat cekatan, dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih. Hah! Benarkah bunda sudah merubah semua keegoisan itu? Mengapa dia menyatakan bundaku baik bagaikan malaikat tanpa sayap. Mentari sudah mencahayai hati yang kecil itu. Alhamdullilah Ya Allah. Tidak disangka akhirnya yang ditunggu datang, cahaya Ilahi menerangi hati kecilnya.
Saat itu Dwi pun merangkul diriku dan dia dengan air muka yang sungguh cerah. Saat ini aku masih terfikir oleh sikap dingin itu. Ku hempaskan tangannya begitu saja, dan meninggalkan tempat. Mereka tetap di tempat.
🍁🍁🍁
Kak Rahul kembali lagi memegang album yang ku tatap dengan tak kunjung puasnya. Matanya memerah, dan mengkoyakan lembaran-lembaran foto biasku tersebut.
"Apa yang kakak lakukan?" Aku pun mengambil foto yang telah tercerah berai itu.
"Ini untuk menyadarkan kau kembali Zahra. Kakak tidak mau kau dalam kerugian yang berarti kali ini kembali."
"Apa yang kakak mau? Semua saja tidak boleh! Aku berteman dengan lelaki lain tidak dibolehkan. Kakak sudah sangat berubah, aku sungguh benci kakak yang sekarang."
"Pergi sana! Aku sudah muak dengan kakak!" Aku pun menarik tangannya ke luar sana.
Biarkan dia di luar sana. Aku sangat benci ia yang sekarang. Apa yang dia maksud sia-sia? Ia selalu tidak mengerti apa yang ku mau. Dan setelah murka barulah ia meminta maaf? Begitu saja! Sekarang aku tak memaafkannya kembali. Sudah sangat sabar aku dengannya yang penuh kecemburuan itu. Apa yang dia inginkan bukan untuk kebaikan ku kali ini. Ia sekarang tidak menyakini kemauan ku kembali ia sudah termakan oleh celoteh bunda yang kurang jelas itu. Selalu saja tentang perjodohan, aku menjadi stres akan semua ini.
Sampai malam pun tiba aku tetapkan pendirian. Walau perut sudah memanggil ingin diisi oleh sesuatu. Aku masih saja menyatukan foto biasku yang tercerai berai itu. Lihat ini! Wajah yang tampan itu akhirnya tampak sangat buruk. Aku kembali marah dengan perlakuan kak Rahul akan semua ini. Sudah aku akan membuangnya, Taehyung saja tidak menyukai ku dan untuk apa aku mempunyai perasaan lebih kali ini dengannya.
Tengah malam pun datang. Suasana semakin mencekam saja. Ku hidupkan lampu ruang itu. Aku sudah tidak tahan dengan perut yang sakit ini, dan aku harus keluar mencari makanan yang ada di dapur. Berat sekali pintu ini di buka, ada apa sih! Hah, siapa ini? Maling bukan? Aku pun mendekati wajah itu, lebih detail. Kak Rahul!
Kasihan tampaknya. Ha, sudahlah ia saja tidak peduli akan perasaanku. Seharusnya ia lebih mengerti ku dan menjadikan diriku tidak bosen akan semua ini, temasuk celoteh bunda sehari-hari. Sudah lupakan saja! Aku pun mengambil makanan di dapur, apa ini? Tidak ada satu pun. Dimana di letakan bunda makanan itu? Aku sudah sangat lapar. Jika tidak, tak bisa ku bayangkan. Malam ini aku akan tidak dapat tidur dengan nyenyak. Dan besok aku tidak sarapan kembali, agaknya aku akan sangat lemas bahkan tidak dapat bangkit dari tempat tidur.
🍁🍁🍁
"Ya Allah kalian kok tidur di lantai sih?" Suara bunda terdengar sangat keras.
"Hah!?" Kami pun tersontak kaget.
"Sudah, sana ambil whudu! Kita sholat Shubuh berjama'ah."
"Baik bu." Ujar kami serempak.
Apa benar tadi malam kami tidur di sini? Kak Rahul tetap dalam tidurnya. Hmm... Sudah yang terpenting ia tidak kedinginan. Meski yang berlalu tetaplah dilupakan saja. Aku tetap merasakan iba yang bersangatan, walau masih marah namun rasa sayang ini selalu ada hanya untuknya. Tidak akan ku biarkan ia kenapa-napa. Ia tetap kakak ku, walau membuat ku kesal saja.
Esok harinya dimana aku bersama Taesoon. Membincangkan pasal Dwi yang dari tadi tidak tampak. Mungkin dia terlambat. Ya, benar saja ia terlambat. Tidak seperti hari biasa kali ini dia tidak merespon kata-kata yang terlontar dari mulut ku. Aku baru ingat, kemarin ku hempaskan tangannya yang merangkul ku. Mungkin dia masih saja marah. Sudah lupakan!
Taesoon tidak karuan jika kami berdua hanya diam. dia pun mulai membawa suasana pembicaraan lebih berarti. namun, sama saja Dwi tetap diam. akhirnya saat pulang sekolah tanpa sepengetahuan Dwi kami menuju rumahnya. Dan disambut hangat oleh ibundanya. Tiba-tiba ibunya membicarakan pasal dwi dengan ku. Disitu Taesoon pun ikut membikin minuman di dapur bersama Dwi.
"Ibu mau mengatakan kepada nak Zahra, boleh?"
"Silakan bu!" Ujar ku lembut.
__ADS_1
"Dwi sebenarnya..."
"Ibu, sudahlah tidak usah. Zahra bukannya penat juga. Ini Dwi ambilkan minum untuk kita ya?" Ia tampak memberi isyarat akan ibunya. Meninggalkan tempat dengan menatap ke arah kami saja.
"Aku ikut Wi." Ujar Taesoon.
"Ibu tadi mau bilang apa?" Tanya ku penasaran.
"Dwi sebenarnya..."
"Aduh, mengapa dinding diletakan di sini sih!" Ia tampak sangat kesal.
"Kau tidak kenapa Wi?" Aku mendekatinya, dan memegang kepala yang sakit itu, akibat terbentur oleh dinding.
"Terima kasih."
Ia pun kembali untuk mengambilkan air di dapur, dan aku hanya manyun sendiri. Kembali ke tempat semula, memberi pertanyaan yang sama kepada ibunya. Tetapi, ia tidak merespon tentang Dwi. Mengapa sebenarnya Dwi? Itu masih dipertanyakan. Dan kali ini aku tahu, Dwi sudah mulai tidak membenci ku. Aku akan lebih akrab kali ini, dan jangan sampai ia kembali membenci ku seperti dahulu. Biarkan yang berlalu dan ini awal yang baik. Dia akan baik-baik saja, layaknya yang lalu kedekatan kami akan kembali dalam waktu yang sangat cepat. Aku yakin itu.
🍁🍁🍁
Pagi yang cerah dengan mentari kuning memancarkan sinar yang sangat silau. Ku tatap langit itu biru muda, dan awan yang berwarna putih bersih adanya. Embun yang masih tertengger di daun yang hijau itu, ku percikan ke wajah ini. Menantikan doa-doa sang pemimpi akan di kabulkan hari ini juga. Ku lihat di ujung lorong sana, sebuah mading dikerubungi banyak dari mereka. Aku pun mendekatinya, ternyata itu berita tentang Dwi yang telah keluar dari gerigi besi. Aku pun meninggalkan tempat, mungkin itu berita yang tidak sepanas layaknya nanti akan terjadi. Tenang dan lihatlah nanti!
Jam pelajaran ke 2 datang. Siswa dan siswi berhamburan, padahal belum waktu untuk istirahat. Apa yang terjadi di luar sana? Walau kami sudah dilarang untuk keluar ketika pergantian guru mata pelajaran, itu tetap saja dilanggar oleh para siswa di sini. Seluruh umat di dalam kelas melihat apa yang terjadi. Mengapa ada polisi kembali? Dwi akan direnggut di kembali? itulah pertanyaan yang mereka bicarakan dengan temannya.
"Hah! Kenapa dengan kak Yoon Seon dan Heonri. Mereka direnggut! Bukannya Dwi penyebab ini semua? Ini tak jelas."
Aku hanya tersenyum puas melihat mereka para penjahat itu tertangkap. Tetapi, dia membuang muka dan menangis agaknya melihat ini semua.
Aku pun mengejarnya sampai di lorong yang sunyi tiada seorang pun di sana, sebab mereka semua pada melihat para penjahat itu direnggut oleh pihak berwajib. Membujuknya agar melupakan semua kegelisahan. Aku akan menenangkan keadaan saat ini, ia tampak sangat prustasi. Entah mengapa ia kembali memeluk ku. Aku pun semakin canggung kali ini. Hah! Dwi. Bagaimana jika ia mengulah seperti layaknya dulu. Aku tidak akan bisa mengembalikan masa lalu itu dengan cepatnya.
Kemudian seketika Taesoon pun akhirnya sadar, dan meminta maaf. Melihat wajah itu aku tidak akan puas-puasnya, karena rasa ini kembali. Dan aku pun heran akan semua ini, mengapa aku bisa menyukai lelaki lebih dari satu. Yap! Taehyung atau Dwi? Tidak mungkin aku seperti ini agaknya. Mereka saja tidak menyukai aku, sebab banyak hal yang belum ku ketahui. Rasa ini akan ku buang jauh-jauh, dan perasaan ku saja. Lupakan, dan kejar Dwi yang menampilkan wajah cemberut itu kembali.
"Wi, mengapa kau?"
"Kau yang mengapa dekat dengan Taesoon?"
"Kau seperti dulu tetap ya Wi," Aku pun senyum manyun.
"T... Tidak, lupakan! Ya sudah kau sama dengan Taesoon sana!"
"Nanti ia marah bila kau dekat dengan diriku, di sini!"
Tidak, dia bukan melihat ku melaju, dan tidak tampak dihadapan mereka kembali. Kali ini aku duduk diam masih memikirkan Dwi yang dingin itu. Mereka pun menjumpai ku saat ini, dan kembali menghibur ku. Ku tidak memperdulikan Dwi sama sekali. Sakit hati masih memengaruhi benak yang kesal ini terhadapnya.
__ADS_1