Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 28


__ADS_3

"Ambilkan minum tolong!" Kami pun berkumur-kumur.


"Mengapa?" Masih ditanyakan olehnya.


"Kami puasa!" Serempak kami jawab pertanyaan yang sedari tadi dia cantumkan.


"Oh ya, aku sangat bodoh," Ia memukul kepalanya pelan.


"Tidak apa, ini adalah nikmat dari Allah untuk kami," Ujar Dwi penuh dengan kata-kata yang bijak itu.


"Ha, iya." Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


Ini adalah nikmat yang tidak di sangka. Dan bisanya aku dan Dwi tak ingat satu sama lain, kalau kami lagi melaksanakan puasa Ramadhan. Meski Taesoon masih dalam tanda tanya, tetapi ia pun lansung memberhentikan kunyahan yang ada di dalam mulutnya itu. Setelah semua telah diterangkan oleh ustazd Dwi, kini dia mengerti dan tidak akan memakan apa pun sebulan kurang lebih ke depan. Bahkan ia harus menahannya sama seperti kami, untuk menghormati orang yang lain berpuasa.


Sampai magrib kami di sana, menikmati kebersamaan bersama. Sampai Taesoon tidak tahan, ia diam-diam memakan kue itu kembali, tetapi tidak di depan kami melainkan membelakangi kami. Dasar, sikap kekananak-kanakan itu terus saja membuat tawa di sekitar terasa sangat hangat. Ia sering sekali membuat keanehan yang menjadikan wajah kami keriput akibat sering tertawa.


Sikap humor yang dia miliki mengalahi diriku saat ini. Lasak tidak bisa diam, bahkan ia sering joget gak jelas sekali. Udah gitu tak keliru kami terikut dengan gerakan yang aneh itu. Sehingga tampak sangat ramai, padahal hanya kami bertiga di sana. Setelah malam tiba, aku pun menuju masjid bersama Dwi, dan Taesoon kembali ke rumahnya, lesu tanpa banyak cakap. Mungkin sudah habis batrainya, setelah ia sudah puas ke sana kemari, jaili kami.


🍁🍁🍁

__ADS_1


MUSIM GUGUR!!!


Akhirnya tiba juga, yang ditunggu sejak lama. Saat ini menjadikan kerinduan untuk sekian kali musnah. Akhirnya ku dapat menikmati kedua kalinya musim gugur. Jika sekarang aku akan pulih menantikan musim ini, lewat kata-kata kiasan yang telah setiap hari ku terahkan lewat buku hanya untuk musim ini dan akhirnya ia datang kembali. Menampilkan daun yang berwarna kuning sampai ada yang berwarna jingga kecoklatan.


Album musim gugur yang tahun semalam ku buka dengan sorot mata yang sangat kaget. Melihat daun-daun yang telah kering kerontang. Bahkan warnanya bukan cantik kembali, seperti layaknya saat ku ambil saat itu. Aku pun terkikih kecil melihat daun-daun yang telah layu, dan tidak dapat dikatakan kembali warna daun itu.


Teringatlah pertama kali aku berjumpa dengannya. Di tempat yang sama, dan saat ini ia masih sibuk dengan Taesoon mencarikan daun yang sungguh menarik hanya untuk diriku. Berbeda dengan tahun lalu, aku harus mencari daun itu sendiri sampai aku merasakan penat yang belebih. Dan kini mereka datang mewarnai musim gugur ini. Dan kali ini kami akan selalu selamanya. Aku pastikan itu, namanya sahabat haruslah jangan sampai melupakan segala sesuatu yang telah jadi pengalaman di sini. Bahkan untuk musim yang paling kami sukai bersama ini.


Mata ku bukan hanya berpaling dengan album musim gugur ku. Melihat mereka yang berantam, saling berebutan daun yang gugur dan berbentuk cantik itu. Bahkan mereka berlari-lari tanpa kata penat, dan padahal keringat susah teruraikan. Aku kembali terkikih kecil, dan menjadikan panas antara mereka dikarenakan saat itu mereka bertengkar kecil layaknya anak kecil. Itulah diriku, bukannya meleraikan malahan memanasi situasi.


Apa akhirnya yang terjadi? Mereka menyerang ku. Sebab ini semua salah ku. Ya, aku hanya diam duduk di bangku yang dijatuhi daun-daun itu, tetapi mereka malah menyalahkan diriku. Aku sebenarnya sudah tahu jawabannya, sebab akulah yang menjadi kompor saat ini. Aku masih tidak terima, sebab ini bukan salah ku seutuhnya. Dan bertekak satu sama lain, tanpa ada yang mengalah. Sampai...


"UNTUK APA KAU DI SINI?!" Sangat tajam mulut Dwi. Anak ini memang seperti itu agaknya.


"Tidak apa kan Ra?" Ia mengajukan pernyataan itu pada ku.


"Gak ada. Kalau mau kau cari teman yang lebih pantas untuk mu. Bukannya kami hanya seoeang anak desa saja,"


"Shtt... Kamu boleh kok gabung kami Heonri."

__ADS_1


"HAAA?!" Pekik Dwi dan Taesoon.


Mata yang penuh untuk dipercaya akhirnya meluluhkan hati kecil ini. Aku pun mengahargainya untuk bergabung tidak lebih dari sahabat pastinya. Ia hanya ingin bergabung di sini, bagi ku itu saja. Ingin lebih baik dari sebelumnya. Mereka berdua menatap dia sangatlah sinis, bahkan aku saja yang melirik mereka menampilkan wajah kusut itu sangat takut diterkam akan mereka. Setidaknya mereka lebih mengerti kalau anak ini mungkin mau merubah yang tadinya sangat mementingkan ego sendiri kini ia dapat berinteraksi dengan kami, yang terkenal sangat cupu termasuk aku dan Taesoon sendiri.


Ia membawakan kue bolu yang seluruh yang dilumeri oleh coklat. Yap! Inilah yang paling ku sukai. Aku bukannya menerima ia bergabung dengan kami terutama karena bolu coklat ini. Aku saja belum tahu kalau ia membawa bolu itu sebelumnya. Entah dari mana asalanya aku tidak tahu itu.


"Apa ini?" Dengan cekatan tangan Dwi menghempaskan bolu itu dari gengaman Heonri.


"Kalau kau mau ngeracuni Zahra jangan gini dong! Nama kau menusuk dia dari belakang. Aku tahu kok, kau hanya ingin memanfaati Zahra saja bukan?" Kritik Dwi sangat pedas itu padanya.


"DWI!!" Tegur ku, dan kemudian aku menamparnya.


"Ra, apa salah ku. Ini bukan salah ku. Ini faktanya dia masih tidak suka dengan mu. Dia mau kau cepat saja meninggalkan dunia, hidup ia akan tenang jika kau mati Ra,"


"AKU TIDAK PERCAYA DENGAN MU!" Aku berteriak dengan sangat keras.


"Aku saat ini menyatakan sebenarnya. Aku sayang sama mu Ra, sebab itu aku membuka kebusukan wanita ini. Kalau kau tidak percaya dan masih dengan keegoisan mu, lebih baik aku pergi. Assalamualaikum!" Ia pun meninggalkan tempat dengan langkah yang besar.


"Ra, kau sangat kejam!" Taesoon pun meninggalkan tempat.

__ADS_1


Merangkul ku dan mendinginkan suasana, aku lebih tenang sedikit setelah mendapat motivasi dari Heonri. Dan memang benar ia sudah sadar akan semua. Aku sangat pastikan itu. Dan belum ada yang dapat mencegah jika ini pernyataan ku, mereka iya nya terlalu suuzdhan dengan Heonri dan bisa saja dia sadar akan semuanya. Bagaimana pula dengan para penjahat di luar sana yang taubat nasuha, begitu juga dengan Heonri ia sadar akan semua perbuatan masa lalu yang suram itu tidak ada manfaatnya. Kini ia akan menjadi lebih baik, dan menjadikan dirinya tidak bersikap individualisme kembali.


__ADS_2