Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 9


__ADS_3

Setengah jam diam menikmati indahnya gugur yang indah, kak Yoon Seon mengajak ku kembali ke rumah. Lebih awal dari biasanya. Kulit ku tidak terluka saat ini. Memang, tak baik suudzhan kepadanya. Ia adalah orang baik-baik. Wajah polos itu menandakan ia memang sebenarnya orang yang baik. Dwi saja yang terlalu berfikir negative thingking terhadapnya. Kalau benar memang ia melukai ku, mungkin hari ini aku telah lenyap digenggamannya.


Sampai di rumah lebih awal kali ini. Aku pastikan bunda terkejut melihat ku pulang lebih awal, dan ia tidak akan menampakan muka yang asam itu lagi. Aku tahu bunda marah hanya sehari atau beberapa jam saja, tidak mungkin ia lebih lama bersikap egois seperti itu kepada ku. Karena kasih sayang itu telah lama tercantum, dan mutlak untuk seorang ibu penyayang.


"Assalamua'laikum bunda! Aku pulang!" Ujarku.


"Waa'laikumsalam. Kok pulang cepat, gak main-main lagi," Sindiran masih terdapatkan.


"Bunda, oh ya bun. Kemarin belum kenalan dengan kakak ini bukan?"


"Hmm... Ya?" Sahutan malas itu.


"Kenalkan ini kak Song Yoon Seon,"


"Kak, ini bunda ku,"

__ADS_1


"Terus apa?!" Kata-kata bunda semakin kasar saja.


"Pulang sana! Ini sudah senja nanti larut sampai rumah," Bunda mengusirnya pulang dengan paksa.


"Bunda," Mata ku membulat seakan memberi isyarat.


"Hmm... Baik aku akan pulang. Selamat sore bu." Ia kembali dengan senyuman yang lemas itu.


Bunda tampak sangat tidak menyukai kak Yoon Seon. Sama seperti Dwi agaknya. Apa yang salah dari kakak yang rupawan dan baik ini. Mengapa? Banyak dari mereka memandang tajam, dan seakan ia penjahat yang diburon polisi. Memang tampangnya yang dingin itu menandakan kalau ia seorang yang individual, egois, dan tidak murah senyum. Tapi aku hari ini tahu, di dalamnya penuh dengan kemurahan hati dan senyuman yang ditunggu selalu terpancar saat ini. Bagiku ia orang yang baik dan sempurna.


Duduk di meja makan menyantap makan malam saat ini. Bunda membahas kak Yoon Seon kembali. Bunda ingin aku tidak mendekatinya mulai detik ini. Kenapa? Salah dia apa? Kewajaran dihapuskan oleh keegoisan seorang bunda. Bunda sangat takut aku pergi meninggalkan bunda selamanya. Apa ini? Bunda berfikirkan seperti itu. Kaka Yoon Seon bukannya pembunuh. Mengapa jadi aneh begini. Aku akan tetap dekat dengannya meski bunda melarang. Ia orang yang baik kok!


Benar saja, ada satu alasan lagi yang masih logis menurut ku. Ini tentang kak Rahul. Bunda tak mau aku dekat dengan lelaki lain, kecuali hanya kak Rahul. Perjodohan ini sudah diresmikan tanpa menanyakan persetujuan dari kami berdua. Mengapa ini terjadi? Ini menghambat semuanya. Aku inginkan punya teman lelaki di luar sana! Air muka ku lansung berubah drastis, dan ku tutup menyantap makan malam secepatnya. Walau masih tersisa. Ku banting daun pintu kamar, dan menutupi wajah dengan selimut.


Sekitar pukul 22:00. Suara yang tak asing bagiku, menyapa dengan kelembutan kasih sayangnya. Aku melirik sedikit dari balik selimut itu. Ternyata kakak lelaki tersayangku datang, membawakan bingkisan. Aku tetap berada di balik selimut tanpa merespon sedikit pun, perkataan yang keluar dari mulutnya. Sehingga...

__ADS_1


"Dek, ini sebab diriku bukan?" Ia membuka selimut yang menutupi ku.


"Ini bukan urusan mu!" Ku bantah, dan kembali menutupkan selimut itu.


"Dek, aku tahu kau marah dengan ku. Mianhae... Perjodohan ini bukan kehendak kita. Kakak tahu kau merasa terkekang, tapi..."


"Kak, aku bukan marah dengan mu," Ku peluk tubuhnya dengan sangat erat.


"Jadi apa yang menjadikan mu seperti ini dek?" pertanyaan itu akhirnya keluar juga.


"Perjodohan kita. Aku merasa sangat terkekang. Ok! Kalau kita dijodohkan, tapi aku ingin juga dapat banyak teman, termasuk seorang lelaki." Menangis tersedu-sedu.


"Kau begitu juga bukan? Merasa terkekang seperti ini."


"Hmm..." Ia hanya dapat mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2