Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 27


__ADS_3

Bulan Ramadhan akhirnya masuk. Aku sangat semangat kali ini, bisa sahur kembali dan berbuka dengan makanan yang sungguh enak, apa lagi jika bunda yang memasaknya lezat ketika menikmatinya sangat tidak dapat dibayangkan kembali. 1 Ramadhan ini aku sangat senang bisa di negara orang lain, bahkan ini sudah masuk musim panas kembali sebab itulah masih ada rasa tidak senang hati ketika menatap di luar sana banyak dari mereka memanfaatkan bulan yang suci ini dengan berbuat zhalim.


Libur telah tiba, dan padahal aku lebih ingin lama dengan kedua sahabat ku itu. Rasanya aku ingin menceritakan semua yang terpendam ini kepada mereka. Apa yang akan mereka respon tentang di musim yang kebanyakan orang menyukainya, sebab libur bahkan entah karena apa.


Alhamdullilah, masuk ke kelas XII akhirnya. Tidak terasa sudah 1 tahun kurang aku menitih ilmu di negri orang. Dan tetapi yang menjadikan diriku agak cemberut, kali ini rangking turun satu. Lebih berfikir ke depan saja! Mungkin ini ujian dari-Nya agar aku lebih belajar giat kali ini. Termasuk dengan Taesoon juga dengan Dwi mereka pun turun, bahkan Taesoon turun sangat drastis. Aku saja tidak menyangka ini bisa terjadi. Semuanya turun tanpa terkendali, tetapi kami hanya menganggap rangking hanya formalitas tidak lebih. Karena itu aku tidak terlalu terpuruk karena ini.


Akhirnya kami berjumpa di tempat biasa. Saat itu mereka sudah ada di atas menunggu ku datang. Wajar saja anak perempuan sangat lambat agaknya dari pada lelaki. Menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu, dan diikatkan dengan tambang. Dan tidak disangaka-sangka,


Druukk...


"Au..." Bokong ini langsung terasa nyeri, akibat bertempel mesra dengan bumi.


"Ra, kau tak kenapa-napa?" Tanya mereka yang masih di atas sana.


"Melihat ku dari atas saja, tidak mau turun untuk membantu apa!"


"Ok!" Ujar mereka bersamaan.


"Seharusnya kau lebih hati-hati Ra," Celoteh Dwi.


"Entah ni Zahra, kita saja tidak sampai jatuh dari anak tangga ya gak Wi?"


"Betul tuh,"


"Bukannya tolongin aku bangun, malah kalian bertekak di situ."


"Bangun sendiri!" Bantah mereka, sambil tertawa terbahak-bahak.


Aku pun bangkit dengan tertitih, bahkan tidak ada satu dari mereka yang membantu ku untuk bangkit. Aku pun mengeluarkan sikap kekanak-kanakan. Aku mengharap mereka mengejar ku seperti biasanya, kini mereka bukan mengejar malahan tetap dengan tawa yang sadis itu. Aku pun tetap masih tetapkan pendirian sampai mereka sadar ini salah... Entahlah! Jika ku bilang ini salah mereka belum tentu begitu bukan?


Kembali ke rumah dengan langkahan kaki yang tidak biasa. Tiba-tiba datang suara yang berat itu menjumpai ku dan mengulurkan tangannya kepada ku. Ku lirik wajahnya yang cerah, dan kaget akan semua aku tidak mau jika ia sekarang menghampiri ku untuk membantu. Mungkin ia mempunyai niat tidak baik lagi kembali kali ini. Terlihat saja tulus, dan belum tentu ia seperti tampaknya sekarang? Aku tetap pendirian dan masih berjalan tertitih. Aku kembali menghempas tangannya dan mendorongnya sampai jatuh ke bumi.


Tersenyum kecil, dan bangkit sendirinya. Ia tetap saja mengikuti ku dari belakang. Aku tidak pedulikan itu, bahkan aku tidak ingin melirik sekali pun ke belakang. Tiba-tiba saja, sebuah mobil melemparkan air mineral yang masih ada isinya namun tutupnya terbuka, sehingga airnya membahasi ku. Terlihat oleh sorot mata ku, ia tertawa kecil di sana dan setelah puas, ia mendekati ku.


"Bukannya bersyukur dapat perhatian, itulah karma untuk mu Ra,"


"Diamlah!" Aku sangat kesal akannya.


"Sudah, naik ke mobil ku yuk! Ada hair drayer di mobil. Ya, itu punya tante ku. Yuk ku antar balik!" Senyum jaim masih menepis di bibir manis itu.


"Tidak usah!" Dengus ku.


"Nanti terkena karma lagi loh,"


"Terserah ku! Sudah sana pergi menjauh dari ku sekarang!"


"Aku perhatian akan mu Ra,"


"Jangan sok baiklah kak. Aku tahu maksud mu kok. Sudah sana, kalau tidak,"


"Apa?"

__ADS_1


"Kau akan mencium ku,"


"Sudah hentikan! Pergi gak!" Aku pun membopong kayu yang tergeletak di pigiran jalan.


"Ok, galak amat sih."


Aku sudah sangat muak dengan kata-kata yang menjijikan itu, ketika keluar dari mulutnya itu. Bukannya seperti wanita yang lain, mendengar kata yang penuh menaikan syahwat siapa saja, mereka akan lansung senyum mayun bahkan pipinya sampai merah merona. Dikarenakan ia termasuk idol di sekolah, tetapi banyak dari mereka patah hati dikarenakan ia sudah tamat dari sekolah, dan banyak juga kakak kelas ingin satu kampus dengan dirinya. Bahkan kalau bisa mereka ingin satu kelas dengannya, dikarenakan tak bosan melihat wajah manis plus tampan itu.


Aku tidak ingin ia lebih lama di sekolah, agar ia tidak menggangu ku kembali. Dan pastinya ia cepat lupa akan ku, dikarenakan masih banyak wanita yang lebih dari ku di luar sana. Tetapi hari ini mengapa kami di jumpakan? Bahkan aku tidak inginkan saat-saat seperti ini kembali datang, dan biarkan aku bersama sahabat ku. Yaitu Dwi Hardiansyah dan Kim Taehyung, menitih ilmu bersama dalam satu tahun tanpa wajah lelaki yang haus akan darah itu.


Hari ini tiada yang memperhatikan diriku, tidak seperti biasanya sehingga aku menahan sakit ini sendiri. Padahal aku ingin berjumpa karena apa? Karena aku ingin menyatakan semua kekesalan pada musim yang panas ini. Tetapi tiada sedikit pun respon yang baik dari para sahabat ku. Tidak untuk mendengarkan, belum sampai di tempat sudah menjadi bahan candaan yang tak lucu ini. Korbannya bukan hanya perasaan yang kesal, tetapi bokong ku semakin nyeri saja.


Duduk di dalam bis, dengan tetap menahan sakit saat ini. Ku lihat chat dari salah satu sahabat ku. Ya, dia Taehyung sendiri.


"Ra, mianhae..."


"Untuk apa kau minta maaf, bukannya kau senang melihat ku menderita begini?"


"Bukan gitu, tadi hanya bercanda doang. Jangan merajuk gitu Ra, nanti imutnya hilang loh,"


"Banyak cakap!"


"Oh ya, besok bukannya hari ulang tahun Dwi?"


"Yuk buat kejutan!"


"Untuk apa! Kalian bukannya sekongkol menjadikan ku bahan candaan. Tidak mau!" Penolakan ku.


"Kalau begitu sekarang kita yang sekongkol mempermainkan dia esok hari. Yuklah, ya Ra."


"Ok!"


Lihat saja Dwi akan menderita esok, sama dengan ku hari ini yang penuh dengan kesialan. Ia akan merasakannya. Dan jebakan kali ini pasti menjadikannya jera untuk menjaili orang lain di hari kemudian. Aku suka jika ia sadar akan semua ini, telah mempermalukan ku bahkan hati ini masih sangat perih, karena aku perlukan adalah perhatian dari dirinya, malahan dibalas dengan candaan.


🍁🍁🍁


Seuol, 1 Jun 2018


Hari ini adalah hari di mana terbaik bagi Dwi. Ya, kali ini ia bertambah satu tahun, dari tahun yang kemarin. Kami pun sudah membuat banyak sekali jebakan, dan pastinya dia akan sampai menangis sebab penjebakan ini. Aku yakin, ia tidak akan pernah melupakan hari yang berbahagia, tetapi kami nyata ini agar ia dapat merasakan bagaimana diriku yang kemarin sakit menjadi bahan candaan mereka.


Tampak dari sana, ia berjalan santai di lorong yang banyak wanita pada melihat dirinya itu. Akhirnya yang di tunggu datang, dengan wajah cuek dan tampak dingin itu sehingga para wanita yang melihatnya lansung takut di terkam. Wajahnya yang seperti singa itu sudah banyak menjadi bahan gosip para wanita di sekolah. Dari kakak kelas, adik kelas, bahkan sebaya dengan kami. Tetapi, wajah yang cukup tampan itu, juga sangat menarik mereka para kaum Hawa. Sering mereka menanyakan tentang Dwi sendiri, statusnya berpacaran atau tidak? Itulah yang menjadikan ku geram saja.


Jebakan 1


Di depan pintu sudah kami letakan seember tepung agar ia malu, dan ku pastikan jebakan ini tidak melesat sedikit pun. Tak disangka wajahnya telah muncul di jendela.


"Teman, guru Matematika mau masuk itu!" Kami tersentak kaget.


KREKKK....


BOOMM....

__ADS_1


"Aa... Siapa yang telah melakukan ini?!" Suara yang keras bergeming di seluruh ruangan.


"Zahra dan Taesoon pak," Ujar mereka dengan sangat keras juga.


Kemarahan guru itu semakin meledak-ledak, dan kali ini kami mendapatkan hukuman yang sangat tragis. Ya, membersihkan toilet yang bersihnya Nauzubillah! Dwi tertawa kecil, seakan puas sekali dapat melihat kami termakan sendiri dengan jebakan.


Jebakan 2


Sudah kami siapkan yang lebih menyakitkan. Bukan untuk sakit hati kini kami harapkan di lututnya ada luka kecil, dan pastinya ia akan sangat terpekik akan semuanya. Bagi ku kali ini ia akan menjerit kesakitan. Ya, kami membuat jebakan yang sangat ampuh. Menarik tali di jalan yang ia lalui dengan sepedanya. Pastinya ia akan jatuh, dan meninggalkan luka di siku atau yang tadi ku katakan.


Di mana nih? Kok lama sekali ia lalui, apa mungkin ia tidak lewat daerah sini? Salah kaprah nih. Sementara Taesoon sudah terlihat mengantuk menunggu Dwi. Saat itu aku terkikih kecil melihat mata sayup dan wajah yang polos bak anak kecil menahan kantuk. Tiba-tiba...


DORRR....


"Apa yang kau tunggu Taesoon?" Tanya Dwi, mengagetkan dirinya yang sudah terkantuk saat tadi. Sampai wajahnya pun bercumbu mesra dengan tanah.


"Haha... Itulah, kebanyakan kerjain orang. Jadi terkena batunya sendiri bukan?"


"Ya, maaf," Ujar ku dengan malas.


"Seharusnya kau Wi yang minta maaf sama ku. Lihat wajahku kotor!" Seloroh Tae.


"Itu salah mu!" Jawabnya tak peduli.


Jebakan 3


Dekat rumah pohon, kami membuat jebakan yang sangat tragis. Yap! Lubang yang tertutupi oleh dedaunan. Kini ia akan termakan jebakan yang terakhir ini. Dengan santai kami bergandeng jalan menuju rumah pohon,


BRUKKK....


"Ya Allah!" Aku menahan tawa, begitu juga dengannya.


"Tae, ini ulah mu bukan? Sudahlah, yuk Ra, kita tinggalin saja dia di sana!" Dwi menarik tanganku.


"Ra ini gara-gara kau juga!" Ia pun kesal.


"Sudah ku bilang ini tidak akan berhasil," Aku teriak dari atas.


"Ya sudah tolongin dong!"


"BANGKIT SENDIRI!" Kami serempak jaim.


Setelah puas akan mengerjai Dwi untuk ulang tahunnya kali ini. Kejutan pun kami adakan. Yap! Memberikan sebuah kue ulang tahun, dan lilin di sisinya. Aku dan Dwi serempak menolak, agar lilin itu disingkirkan. Kami tidak inginkan hembusan lilin, dan wajar saja. Taesoon bingung sekali agaknya, sebab itulah Dwi menjelaskan dengan sangat detail, tetapi masih saja ditanyakan akannya. Payah memang menjelaskan pada Taesoon, haruslah dengan contoh, begitu pula dengan pelajaran agaknya kurang mengerti ia lansung mencontek Dwi yang berada di sisinya sementara Dwi pun tidak mengerti dan akhirnya bertanya kepada ku.


Akhirnya Dwi memotong kue coklat itu. Sengaja kami membeli coklat, karena aku sangat menyukai itu. Bukannya kue kesukaan Dwi yang dibeli, malahan kesukaan ku saat ini. Aku pun lansung merampas potongan pertama kue itu, padahal itu untuk dirinya. Mereka menatap ku tajam, dan saling pandang satu sama lain. Jangan heran jika di depan ku sudah ada coklat, dan pastinya aku habiskan sekejap.


Memakan kue sampai beberapa potong, dan tanpa terfikir sedikit pun. Bahwa...


"Weee..." Seketika serempak aku dan Dwi memuntahkan kue coklat yang sangat enak itu.


"Mengapa apa tidak enak?" Tanya Taesoon, penuh perhatian.

__ADS_1


"Tidak!" Aku dan Dwi saling pandang.


"Mengapa? Apa yang menjadikan kalian seperti ini? Ra, Wi."


__ADS_2