
Aku di sini akan menjadikan hati yang sakit bersamaan dengan sikap mu terhadap ku. Tetap sabar walau kau selalu menyingkir saat ini. Kedekatan itu menandakan jikalau aku akan pergi meninggalkan mu. Tetap selalu dekat walau sakit agaknya, masih terpendam kali ini.
Aku pun pulang saat ini kembali dengan angkutan umum, sebab kak Rahul kembali mengadakan kompetisi sains di lain kota. Rasa sepi semakin ada untuk kali ini, tiada teman untuk menghibur ku, dan di rumah hanya ada bunda itu pun bunda sangat sibuk mengurus rumah. Aku sudah sangat bosan hari-hari seperti ini.
"ZAHRAA!!" Aku menatap ke belakang, entah siapa yang meneriakan namaku dari ujung sana.
"Iya, hah?!" Ia datang, dan memanggil namaku!
"Ini bukannya punya kau?" Ia memberikan handpone yang tak lain handpone milik ku.
"Thanks," Aku mengharap ia akan mengantar ku pulang. Ya, itu pasti.
"Yuk sama ku pulang Ra!" Aku tercengah melihatnya.
"Sama Taesoon yuk!" Tiba-tiba Taesoon pun memberi tumpangan.
"Sudah sana Ra! Pacarmu menunggu mu,"
Apa yang dikatakan Dwi? Dia tak seperti dulu, yang marah jika aku dekat dengan seorang pria selain dirinya. Apa memang ia sudah tak peduli akan ku? Terus, ia melupakan kenangan lalu bersama ku, dengan secepat ini. Aku pun menstop angkutan umum yang agak dekat dari tempat ku menunggu, dan pamit dengan Taesoon. Mengucapkan maaf karena aku tak dapat menerima tawaran itu. Sebenarnya aku mau, lagi pula ongkos tak keluar, tetapi aku masih menjaga hati Dwi, dan mungkin saja bunda akan marah jika aku pulang membawa lelaki selain kak Rahul.
Isak tangis masih memenuhi keadaan. Aku tidak menyangka ini terjadi bagitu saja, sudah berapa hari ia pulih dari semua. Tetapi, ia masih saja amesia. Aku sangat kesal dengannya, ku akui dia orang yang semakin menjadikan naik pitam saja. Bila ia tidak amesia, aku akan memukul tubuhnya dengan sekuat tenaga ku. Ia sungguh tega! Apa salah ku? Di dalam angkutan itu mereka semua menatap ku dengan mata sorot yang terus saja terfokus akan diriku yang semakin mengeluarkan air mata ini.
Akhirnya aku sampai di rumah. Aku bisa mengeluarkan seluruh emosi akhirnya. Tetapi, terlihat oleh mata sorot ini. Taesoon tak lain Taehyung melihat ku dari balik pohon besar di ujung jalan sana. Untuk apa ia di sini? Apakah ia dari tadi mengikuti ku? Sudah lupakan! Dia dasarnya, hanya lewat kemudian mampir, tetapi ia tak ingin terlihat oleh ku. Aku akan masuk ke dalam saja. Sudah tidak bisa di tahan lama amarah ini.
Merebahkan tubuh ini, dan memukul-pukul guling yang ada di sisi, bahkan aku sudah seperti orang gila agaknya. Teriak tidak jelas. Aku sudah tak dapat menahan ini semua. Agaknya ini sebab ku, dan ku lempar kaca yang ada dihadapan ku itu dengan kotak pensil. Ia agaknya mengejek ku saja. Bunda pun datang menetralkan semuanya. Dan bertanya akan semua ini. Hanya ku respon dengan isak tangis, dan membekap tubuhnya dengan sangat erat. Ia pun tak ingin bertanya banyak pasal ini lagi. Ia hanya dapat terikut, dan menangiskan apa yang belum ku jawab saat ini.
Ketenangan ini datang setelah semua berakhir akan bunda yang sangat merespon ku. Saran itu menenangkan semuanya. Aku pun seperti biasanya merenungkan kembali, menatap langit yang cerah berwarna jingga itu. Dia! Untuk apa menatap dengan tajam ke daerah kamarku. Apakah dia sudah ingat? Mengapa ia melihat ke arah kamar ini. Ya, memang dia tak sengaja melalui daerah ini, tetapi? Bukannya sebelum ini ia pernah melirik daerah kamar ku tetapi saat ia belum kecelakaan. Setidaknya saat tadi ia sangat membenci ku, dan tak seperti biasanya yang selalu dekat dengan ku, mengambil apa yang ku berikan untuknya. Walau itu barang yang tidak disukainya.
__ADS_1
Aku pun menutup jendela itu dengan bantingan keras. Setelah ia membuang muka, saat aku menatapnya. Benar-benar ia telah lupakan semuanya! Aku tak akan kembali kali ini. Teman hanya untuk menjadikan hati ini sakit untuk sekian kali saja.
🍁🍁🍁
Sanggahan yang pastinya kami lontarkan dengan sangat baik. Setiap argument tanpanya sangat baik diterima oleh juri di depan sana. Aku sudah sangat biasa di depan, public speaking seperti ini. Pernah mengikuti lomba yang sangat banyak, berhubungan dengan public speking. Tetapi, di sisi ku dirinya, yang lebih mahir bersilat lidah. Yap! Dia seorang penyanyi terhadal, wajar ia tak ada rasa canggung bahkan gemetar saat di depan sana.
Aku sangat iri dengannya yang dapat seperti itu, sempurna akan semua yang berhubungan dengan karya tulis ilmiah ini. Aku sangat beruntung kali ini, punya teman pandai dalam berbagai hal. Ku akui dia orang yang sangat pintar. Dan bagaimana dengan kepintaran Kim Namjoon lagi! Kalau yang disebut aneh ini tampak sangat pintar? Sudahlah, jadinya mikirkan IQ orang saja tahunya, aku saja belum tahu IQ ku tinggi atau stabil.
Selesai juga semua ini, dan kami pun duduk di bangku peserta menunggu yang lain selesai menampilkan yang terbaik itu. Aku masih heran dengan semua yang dia lakukan. Apa maunya? Mengapa ia sekolah kembali? Bukannya dia sudah pernah sekolah SMA? Agaknya ia mencurigakan sekali,
"Taehyung, kau mengapa sekolah kembali sih?" Matanya lansung membualat seketika.
"Eh... Maksudnya Taesoon."
"Kau mau tahu saja! Sudah lupakan itu semua, jangan kau tanyakan kembali tentang itu! Dan jangan kau memanggil namaku dengan nama asli itu. Nanti..."
"Fans mu akan mengejar mu gitu?" Entah mengapa aku marah, apa salah fansnya akan mengejar?
"Mengapa dengan mu?"
"Sudah lupakan saja!" Pipi ini lansung memerah.
Bunda kembali dengan tatapan sinis itu. Aha! Ya, mengapa aku mau diantar olehnya sampai di rumah, sakitlah telinga ini kembali setelah celoteh itu tak kunjung pulih. Tanpa basa-basi, Taehyung maksudnya Taesoon, ku ajak ia menjauh dari daun pintu itu dan menyuruhnya pulang tanpa mengajaknya lebih dulu masuk. Dari pada bunda mengusirnya dengan paksa, seperti teman-teman lelaki lainnya.
Setelah memberi alasan yang tepat, raut itu hilang begitu saja. Dan aku sungguh bersyukur kali ini bunda tak mengungkitnya lebih lama. Ia menanyakan tentang saat tadi, berhasil membuat para juri tercengah atau tidak? Ya, ku jawab dengan yang kebenarannya. Maksimal sekali rasanya, hari ini kontes karya ilmiah yang pertama kali berhujung dengan maksimal luar biasa. Tetapi, tetap aku tidak boleh sombong.
Aku sendiri saat ini, kangen dengan dirinya, kakak tersayang. Siapa lagi kalau tidak kak Rahul. Saat ini dia harus bersaing untuk mendapatkan mendali. Ya, kami sekeluarga sering sekali mengikuti kompetisi Sains. Termasuk diriku yang saat ini harus merayakan sendiri. Tidak biasa sendiri, kini diriku galau merana di balik selimut.
__ADS_1
Kebosanan semakin mengacaukan saja, akhirnya aku pun mulai merangkai kamar dengan poster BTS. Ku ambil barang-barang yang telah lama tertanam di kolong tempat tidur. Ku pandangi wajah satu persatu personil. Dan ku tatap lekat wajah yang menjiwai ku untuk lebih lama suka akan dunia K-Pop tak lain ialah Taehyung.
Aku pun mulai mengetik, dan memberi ucapan selamat atas kerja sama yang memukau. Kini kami semakin percaya, bahwa hari esok akan datang lagi kompetisi karya ilmiah yang lebih menantang dan menjadikan diri lebih enjoy untuk mengikutinya.
Sampai larut malam, kami berbincang lewat pesawat telfon. Akhirnya ku tutup duluan, sebab kantuk tidak dapat tertahankan. Akhirnya besok hari aku harus menahan rasa kantuk yang berlebih.
🍁🍁🍁
"Zahra?" Seseorang menatap ku lekat.
"Hah, Taehyung?"
"Jika kau menyukai Dwi. Alangkah baiknya jangan terlalu suka. Nanti sakit,"
"Kau tidak paham ini Tae. Aku sudah janji, jika aku telah punya rasa terhadap seseorang aku akan percayakan. Bisa setia dan mendapatkan hatinya. Jadi aku dapat mengambil resiko dari ini semua. Walau aku sakit nantinya, tetapi aku puas akan usaha ku mendapatkannya."
"Jangan Ra. Kau bukan seperti itu orangnya. Aku percayakan kau. Kau akan tidak gampang move on dari semua. Sungguh payah. Kau tidak akan pernah merasa puas jika tidak mendapatkannya."
"Mengapa kau mengatakan seperti itu sih Tae?!"
"Sudah, dia bukan milik mu nanti Ra. Kau akan bersama orang lain bukan dirinya."
"Jadi? Maksud mu kau gitu?" Ia menggelengkan kepalanya.
"Tae, jawab aku!"
"Tae!"
__ADS_1
Sontak aku terbangun dari tidur ku. Dan ku lihat jam, sekitaran jam 06:15 sontak aku menjerit, dan lansung berlari ke kamar mandi. Hampir terpeleset di sana.