
"Kau pulang juga ternyata Wi."
"Iya rindu aku sama ibu," Ujar kasih sayang itu.
"Oh ya Ra, ni tolong kasih nenek. Bilang! Dari ibu Dwi. Pastinya, nenek tau."
"Iya nanti aku sampaikan."
"Sudah ya Ra, buru-buru soalnya. Assalamua'laikum."
"Waa'laikumsalam."
__ADS_1
Sudah sampai di situ saja? Ngapain dia ke sini kalau tak menanyakan kabarku terlebih dahulu, haruskah aku pancing dahulu? Dingin sekali dirinya. Aku pun berbalik menuju dapur, nenek pasti ada di sana! Kak Rahul di belakang ku. Raut itu kembali hadir. Selalu seperti ini! Tetapi, setelah ia melihat sebuah rantang digenggaman ku, ia tersenyum pulas, dan merampas rantang itu agar agaknya ia yang menerima rantang tersebut dari Dwi. Setelah itu nenek akan mengucapkan terima kasih padanya. Sungguh cerdik dia!
Aku akan sering ke sini, jika libur tahun ini. Dan bukan kali ini saja, aku pun dapat tinggal di rumah nenek sekejap. Agar selalu dekat dengan pandangan ku sekian kalinya. Bunda sangat setuju, agar aku dapat membantu nenek di sini. Sudah tahu tujuan ku untuk apa! Tidak usah dibilang dengan detail kali ini. Kak Rahul ikut dengan ku tinggal di rumah nenek juga. Aku ingin jauh kali ini darinya. Bila ia di sini, mungkin? Raut yang masam akan datang kembali. Hemm... Sudahlah pasti. Tetapi, aku sangat suka jawaban nenek kali ini, ia tidak diperbolehkan tinggal di sini. Mengapa? Karena kamar nenek hanya 1 dan bilik lain itu kamar mandi. Ia meringis, seperti anak kecil saja.
🍁🍁🍁
Seketika aku pun tinggal untuk beberapa hari ini di rumah nenek. Tak luput pun Dwi sangat sering ke rumah nenek, terkadang ia mengajak aku mengelilingi kota Medan. Tepatnya hari itu. Ia berjumpa dengan teman perempuannya. Tidak salah teman SMPnya dulu. Mereka tampak sangat akrab, dan sampai ia tidak merespon ku dengan cukup baik kali ini.
Adapun ketika Dwi dapat menggenggam dan mengajukan pernyataan maafnya. Teman wanitanya itu pun menghempaskan tangan Dwi yang menempel meski pakai lapis itu. Dengan cekatan, dan keras ia hempaskan begitu saja. Sudah ku rasakan mulai hari ini. Temannya itu ada rasa tidak biasa kepadanya. Mungkin? Ini hanya firasat saja, tetapi saat ini aku sudah merasakan itu akan benar-benar terjadi di kala waktu.
Malam yang menjadikan ku terpuruk, dan selalu memikirkan tentang dirinya yang tampak selalu mementingkan ego, tanpa tahu akan sesuaatu terjadi kali ini. Aku seharusnya, tahu bahwa dia tak sepadan yang ku bayangkan. Mengapa ia seperti ini, jika aku tak boleh mengapa dia harus dekat lawan jenis seperti sudah terkena lem antara mereka berdua. Sebenarnya sama dengan aku dan Kak Rahul, dekat tidak dapat dipisahkan oleh waktu, apapun itu. Tetapi, rasa yang ku alami ini, melihar raut masam itu akan ku kurangkan kedekatan kami. Saat ini dia telah menjadi pengkhianat!
__ADS_1
Tiba-tiba, siapa ini yang mengchat malam-malam begini. Lucunya ia masih menanyakan apa aku Zahra? Aneh bukan?
"Ini siapa ya?" Tanya ku balik.
"Kau tak perlu tahu aku! Sekali lagi jangan kau dekati Dwi, atau kau tahu akibatnya."
"Siapa sih? Seenaknya kau mengatur aku?"
"Aku pacarnya Dwi. Sudahlah ya Ra, dia tidak akan menyukai mu. Karena aku sudah resmi pacaran dengannya."
Dari situ aku tak membalasnya kembali. Siapa dia mengatur-ngatur hidupku. Dwi sudah berbohong kalau ia tak punya pacar selama ini. Nyatanya apa ia mengkhianati ku. Jika benar suara itu menandakan real dari semua ini. Tolong jangan ada rasa yang seperti dulu, kesepakatan antara batin dan akal sungguh berbeda. Ku sudah mengkhianati semuanya. Siapa wanita itu?
__ADS_1
Untuk kali ini aku kembali ke rumah, mungkin ia takut Dwi bersama ku dan lebih dekat dengan ku , percis sifatnya dengan kak Rahul tersayang.