Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 31


__ADS_3

Setelah apa yang telah kami ketahui bahwa pernyataan di hari yang lalu itu srkarang memang benar terjadi. Kami hanya dapat pasrahkan saja. Tetapi, dari salah satu member BTS ada seorang yang masih menyalahkan ku akan semuanya, dan aku harus ikut direnggut oleh polisi. Yap! Dia tak lain adalah Kim Namjoon leader para member. Ya, inilah yang menjadikan diriku kembali diambang kekesalan yang penuh dan bahkan tidak tahu bahwa ini adalah takdir dari-Nya.


Belum larut dalam kesedihan yang mendalam, sebab ia tidak akan dapat menikmati indahnya dunia kembali. Entah mengapa ia teringat dengan sahabat karibnya itu, Dwi. Ia bertanya kepada ku akan di mana keberadaan Dwi sekarang, tak terbiasanya ada suara yang khas itu terdengar sampai saat ini di gendang telinganya.


Dari sini aku tetap menyimpulkan kebenarannya, namun masih ku tutup rapat-rapat soal siapa yang melaporkannya. Kekesalan akan semuanya, menjadikan Taehyung semakin tidak karuan bahkan kepalanya semakin sakit dan harus perlu istirahat. Kami kembali keluar ruangan, dan membiarkan dokter menanganinya di dalam sana.


"Bagaimana ini? Sudah ku nyatakan mata Taehyung haruslah baik kembali. Agar ia dapat melihat indahnya dunia ini. Tetapi setelah ku nyatakan pada dokter, tiada satu pun stock, dan bagaimana ini?" Pernyataan dari seorang leader, dengan bisikan yang masih terdengar jelas itu.


"Jadi bagaimana?" Jungkook hanya dapat mengulang kata kembali.


"Atau kita bawa dia entah kemana?" J-hope menyarankan cukup bijak namun tidak jelas.


"Kemana coba?" Di ulangi kembali oleh Jin.


"Sudah nanti ada saja itu jalannya bukan?" Swag yang tidak dapat menstabilkan suasana.


Aku sangat penat melihat mereka selalu berdiskusi namun tidak ada sama sekali saran yang tepat untuk menunaikan kewajiban. Saat ini aku pun mencari angin, dan ingin sekali aku ke ruangan Heonri saat ini. Mungkin ia akan senang ketika aku pun peduli juga akannya?


"Perawat, di mana pasien yang ada di sini apakah dia sudah kembali?" Tanya ku penasaran.


"Maaf dia telah meninggal dunia beberapa menit lalu. Sekarang ia berada di ruang mayat." Dijawab dengan sangat sopan.


"HAAA???" Mataku terbelalak, dan akan turun kembali hujan lokal di pipiku saat ini.


Aku berlari dengan cekatan ke ruangan jenazah. Kini aku tak dapat membayangkan, jika dia telah meninggalkan dunia dengan sangat cepatnya. Ya, inilah takdir kubra yang tidak dapat terhalangi lagi. Jika Allah sudah berkehendak maka tiada lagi yang dapat mendustainya.


Di dalam ruangan itu ada ibu dan ayahnya yang menunggu jenazah, dengan harapan akan kembali lagi dan bisa bersatu dengan ibu dan ayahnya. Aku pun mendekati mereka, dan tak lupa memberi salam hormat kepada keduanya.


"Saya teman Heonri bu yang bernama Zahra," Ujar ku dengan tatapan tajam dan mengeluarkan air mata ke tubuh kaku itu."


"Ha? Kau Zahra?!" Ibunya sepontan memegang pundakku.


.


Ya, Heonri sempat mengatakan dia akan memberikan seluruh organ yang masih bisa, untuk didonorkan termasuk untuk Taehyung sendiri. Ha, aku jadi mendapatkan jawaban yang tersirat oleh para member saat ini.


Ibu Heonri akhirnya inginkan ini dapat diwujudkan. Ya, termasuk juga sebagai wasiat kalau dalam agama Islam sendiri. Ini termasuk hukumnya wajib, dikarenakan sudah menjadi dasar permintaan mayat sebelum dicabut nyawanya. Seperti agama Islam, mereka pun mengindahkan apa yang telah menjadi permintaan si mayat. Oleh karena itu aku jadi mengerti bahwa Heonri benar-benar sayang akan Taehyung, dan sehingga ia tahu bahwa Taehyung saat ini membutuhkan apa dari dirinya. Yaitu, organ vital ya kedua bola mata itu.


Akhir berlalu kini saatnya detik-detik Taehyung bisa melihat kembali indahnya dunia yang asri ini. Aku tak dapat bayangkan jika hari ini adalah hari yang terbaik dengan hitungan


3


2

__ADS_1


Dan 1


Maka hari ini menjadi bukti bahwa Taehyung bisa menikmati elok nan indahnya daerah yang sangat luas ini. Tak lama dalam tangisan kebahagiaan. Ia bertanya satu hal yang menjadikan kami terpaku secara bersamaan.


"Di mana Dwi?" Aku tidak dapat berkutip layaknya kerupuk yang telah terkena air.


"Dia telah banyak salah dengan dirimu Tae," Jawab Namjoon membuat kesal sendiri.


"Tidak!"


"Dia tidak banyak salah, apa yang dilakukannya itu terbaik untuk ku," Ujar Taehyung penuh ketegasan. Ia pun berjalan keluar mencari di mana keberadaan Dwi. Namun nihil ia tidak melihat batang hidungnya sedikit pun.


"Tae... Dwi kirim salam. Ia hari ini tidak dapat datang mengujungi mu," Jawab ku dengan terbata-bata.


"Mengapa dengannya?" Kembali terlontar begitu saja.


"Sudahlah yuk masuk kau bukannya masih lemah?" Namjoon merangkul Tae dengan sangat nyaman, dan memberi isyarat agar aku meniggalkan tempat. Aku pun menurutinya, walau harus menahan sakit setiap saat seperti ini.


Masih mengingat seorang lelaki yang sangat baik, dan menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan pertama untuk wajib disalahkan akibat terbarakan yang dialamai Tae ketika ia ingin meyelamatkan ku. Ia membuat sendiri skenario dadakan, agar apa? Supaya bukan diriku yang termakan siksaan di gerigi besi ini. Ya, dia pun susah menyatakan dengan para member BTS lain, kalau dia akan menggantikan hukuman ku.


🍁🍁🍁


Seminggu sudah terlewatkan begitu cepatnya. Kini akhirnya aku tidak sendiri lagi Taesoon sudah kembali, dengan wajah yang lugu dan kaca matanya yang bulat itu. Ia menjumpai ku, dan seperti biasa salam antar sahabat. Tak lupa dari seminggu semalam ia tetap mencari Dwi, dan pagi ini ia belum menatap sedikit pun batang hidungnya.


Dengan perasaan bersalah aku berbohong padanya kali ini. Ya, ku jawab Dwi sakit dan tidak bisa pergi ke sekolah, saat ini ia perlukan istirahat yang cukup baginya.


Deg...


"Anu... Dia tidak mau kita terlalu khawatir padanya." Ujar ku keterpaksaan.


"Bukannya ia semakin semangat ya?"


"Sudahlah lupakan saja semua yang ada yang terpenting kita doa'kan ia cepat keluar dari masalah yang rumit ini."


"Keluar dari masalah?" Wajahnya semakin menandakan pertanyaan kembali, dengan raut yang sangat polos.


"T... Tidak, maksudnya anu... Cepat sembuh dari sakitnya." Aku jadinya tak karuan saat ini.


Setelah beberapa menit hening. Ia kembalikan melontarkan pertanyaan yang kali ini memang nyatanya ia akan tahu nantinya tapi bukan hari ini akan ku beri tahu sendirinya.


"Aku aneh dengan mataku ini Ra," Ujarnya dengan membelalakan matanya, dan memdekatkan ke wajahku.


"Mengapa dengan matamu? Bukannya matamu baik-baik saja bukan?"

__ADS_1


"Ya, aku seperti mengenal mata ini. Tapi setelah ku fikir-fikir tidak mungkin bukan?" Keanehan dari pernyataanya membuat kepala ku berputar sekali.


"Apa maksud mu Tae? Jelaskan dengan detail!"


"Jadi gini. Perasaan aku ini adalah mata Heonri. Ya, karena ketika aku berpandangan dengan kaca, rasa sakit ini masih ada karena apa? Ya, mata yang indah tapi tersayat ini."


"....."Aku tidak dapat berkutip apa pun kali ini.


"Ra, kok gak direspon sih. Aku bagi mu hanya sebatang kayu saja ya?"


"Sudah lupakan! Tentang apa yang kau fikirkan. Lebih baik kau banyak bersyukur saja dapat menatap indahnya dunia ini kembali."


"Iya, aku akan selalu senantiasa mensyukurinya. Terima kasih Ra." Ucapan manis itu, dan ku respon dengan anggukan.


Pulang sekolah kali ini, entah mengapa ia mengajak ku ke rumah Dwi untuk menjenguk dan mencari kabar saat ini tentang dirinya. Aku lansung keringat dingin dan tak dapat berkutip, ia tampak sangat penasaran akan Dwi yang tiada kabar untuk absen, ya walau aku nyatakan ia sakit saat ini.


Dengan cekatan ia mengayuh pedal sepeda, aku pun sangat lelah mengejarnya saat ini. Entah apa yang menariknya untuk menjenguk Dwi. Sesampainya di rumah yang kecil dan hanya dapat lebih kurang untuk 3 orang saja, segera ia pun mengetuk pintu dengan perlahan. Tidak ada respon sama sekali. Ya, aku sadar Dwi saat ini bukan berada di rumah melainkan ia berada di gerigi besi yang cukup menyiksa bagi seorang pelajar, saat ia inginkan mendapat pendidikan kali ini.


Taesoon merasa sangat bersalah, mengapa saat Dwi sakit ia tidak dapat kabar dimana keberadaan Dwi sekarang. Ia tertunduk lemas, bahkan meyenderkan kepalanya ketika aku mendekatinya. Ia tampak seperti anak kecil yang menginginkan sepotong kue. Dan tampak dari rautnya, sangat berat untuk meninggalkan kediaman Dwi saat ini.


Aku pun dengan berat hati mengatakan sebenarnya untuk kali ini. Kasihan melihatnya harus seperti ini. Yang menginginkan wajah sahabatnya untuk sekali saja terhadapankan di wajahnya. Aku yakin, dia akan sangat terkejut agaknya saat ini. Tapi inilah yang terbaik untuk dirinya yang masih dalam kehangatan persahabatan.


"Tae, maaf. Kau sudah sangat penat mencari dimana keberadaan Dwi bukan?"


"Ya, dimana dia Zahra?"


"Dwi ada di penjara," Ku jawab dengan sangat lesu.


"Apa maksud mu?"


Dari saat itu ia sadar dan bahkan dengan cekatan genggaman tangan yang sangat cekatan menghantam pohon yang amat besar disebalahnya. Sampai darah pun mengalir begitu saja. Ya, sudah ku tebak ia akan murka sangat akan semua ini.


Sesampainya di penjara yang tepatnya mengurung Dwi di sana. Taesoon menampilkan wajah yang lusuh, sampai akhirnya air mata itu terberai kembali. Ia mendekati Dwi dan meminta maaf, dikarenakan ia sangat bersalah saat ini, tidak ada untuk membela kebenaran yang telah menjadikan Dwi harus terpuruk di gerigi besi ini. Senyuman yang khas itu tetap Dwi lontarkan walau ia tahu temannya yang sangat merasa bersalah itu telah habis akan kepercayaan dirinya sendiri. Ia tetap memukul pundak Taesoon dengan pelan dan berkata " Inilah yang terbaik untuk ku agaknya, aku dapat melihat mu kembali dan bisa melihat. Maaf aku tidak dapat menjadi pendamping mu saat kau belum siuman. Jika ini awal yang mempertemukan kita kembali dari yang lalu dengan candaannya. Mungkin inilah akhirnya kita dapat menangis bersama melewati emosional yang menggalih. Dan biarkan rasa itu terkuraskan, jangan kau ambil langkah yang tak baik, dan bahkan sampai menyelakai hyung mu sendiri." Semakin tampak tersedu-sedu Taesoon saat ini, bahkan aku pun tak sanggup melihat kejadian yang sangat berharga ini.


Polisi akhirnya memberikan kesenggangan Dwi keluar dan bisa bertatap lansung dengan kami. Saat itu Taesoon membekap tubuh yang agak tegap itu seakan kerinduannya pada Dwi telah sangat lama tidak berkomunikasi satu sama lain. Ya, itu sudah tentu. Mengalir air mata di pipi keduanya, begitu juga dengan ku yang tidak tahan akan kepedihan yang mendalam saat ini. Taesoon berjanji akan mengeluarkan Dwi apa pun itu caranya. Dan untuk kesekian kalinya Dwi akan terbebas kembali.


🍁🍁🍁


Hari yang begitu tidak menjadikan keraguan untuk membebaskan Dwi. Saat ini 6 anggota BTS duduk dengan rapi, tampak dari wajah yang sangar layaknya mafia sedang di sidang saat ini, Taesoon yang menjadi pembela Dwi sang terdakwah. Saat ini jantung ku lebih cepat berdetak, setelah melihat banyak sekali orang yang penuh dengan tatapan serius itu.


Dengan sangat cekatan hakim memulai persidangan ini. Mata ku sudah tidak tahan menahan air mata, haruskah aku senang atau malah sedih melihat mereka semua berbeda pendapat dan harus berurusan dengan hakim segala. Kini pengacara Taesoon yang membela Dwi dengan logat yang tak mampu orang biasa berpendapat dengan seadil-adilnya. Ya, beradu dengan pendapat pengacara RM sendiri yang tampak berwibawa dan mempunyai skill luar biasa. Kini jantung ku seribu kali lipat berdetak lebih cepat dari biasanya.


Argument-argument yang cukup memuaskan antara pihak satu dengan yang lain. Tetapi kali ini doa ku hanya satu. Ya, Dwi dapat terhindar dari gugatan, dan argument yang diberikan pengacara RM kalah telak dengan pengacara Taesoon sendiri.

__ADS_1


Keajaiban datang dengan tak disangka. Kini doa itu makbul. Aku tak menyangka gugatan atas Dwi selama ini terputus, dan tiada lagi yang dapat mengurung dirinya di gerigi besi tersebut. Dengan tangkasnya ia sujud syukur dan haru yang bersangatan memenuhi suasana di ruangan tersebut. Kini pun Taesoon sendiri tidak akan melepaskan rangkulan yang mendalam kepada Dwi yang telah selesai melampirkan rasa syukurnya kepada Allah. Namun, RM sendiri ia masih saja cemberut dan bahkan pulang dengan hentakan kaki ke bumi dengan kerasnya.


Tampak dari wajah itu aku sadar dia telah kalah telak, dan sangat tidak percaya akan mengalami kejadian yang memalukan ini. Ia berharap ia akan menang dengan argumentnya, namun nihil ia telah terpuruk akan argumentnya sendiri. Kali ini kami pun merayakannya dengan syukuran kecil-kecilan, membeli makan kepada kaum dua'fa di jalanan yang tidak dapat menikmati rasa senang, seakan mereka belum mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok untuk dirinya sendiri, bahkan keluarganya.


__ADS_2