
Sesampainya di rumah, tempat istirahat terbaik bagiku. Tapi apa? Bunda mencegat ku di luar. Sebelumnya ia sudah menunggu ku di daun pintu itu. Aku dapat merasakan ini, kemurkaan bunda akan melimpah ruah, bahkan ledakan itu mengecamkan seisi rumah meski hanya aku dan bunda. Tapi tahulah jati diri seorang ibu yang sering berceloteh sangat panjang sampai panas di gendang telinga.
Mata itu membulat, dan sangat mencekam saja. Ia melirik lelaki yang berada di sisi ku dengan sangat tajam, seakan mau menerkam saja. Aku hanya tertunduk, diam sambil sesekali melihat kakak itu. Ia menyalim bunda, menunjukan kehormatannya kepada yang lebih tua dari dirinya. Raut bunda masih tidak senang akannya, sampai ia pamit pun bunda tidak sudi menatap wajahnya.
"Siapa dia? Pacarmu?" Tanya bunda penuh ketegasan.
"Tidak bun. Ia hanya kakak kelas ku,"
"Kok larut seperti ini, kemana saja kalian?"
"Belajar bareng bun." Ujar ku dan masih gemetar.
Bunda pun masuk dengan air muka yang kusam tanpa mengajak ku masuk bersamanya. Mungkin ia murka atas kelakuan ku ini.
"Semua ini sebab dirinya yang egois!" Bantah ku atas kelakuan kak Yoon Seon.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Tidak! Terlambat bangun. Aku langsung menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Tidak terbiasanya bunda seperti ini. Cukup pagi yang kacau untuk kali ini. Bunda tetap menatap ku sinis dan tanpa banyak bicara seperti biasanya. Tetap menyiapkan sarapan, tapi kali ini berbeda. Aku tahu, mungkin sebab kemarin yang pulang larut tanpa mengabari bunda terlebih dahulu.
Kali ini menaiki bis umum kembali. Supir kami dalam seminggu ini pulang ke kampung halamannya, sebab ayahnya meninggal dunia. Aku harus lebih cepat agar dapat tempat duduk yang nyaman. Itulah aku lebih suka memilah tempat duduk. Harus di sisi jendela, agar aku mendapatkan inspirasi untuk karya-karyaku.
Menjadi anak teladan, bagi ku sungguh menyenangkan kelas sebelum ada teman-teman yang dapat membuat keributan saja di dalam ruangan. Aku dapat mengekspresikan di secarik kertas. Paling ada Dwi yang menemani ku. Tetapi dia di mana? Kok belum datang? Tidak seperti biasanya. Ku akui dia anak yang tepat waktu., tetapi di mana dia? Mungkin beberapa menit lagi. Tapi setelah cukup lama, sampai sudah banyak teman-teman yang datang, batang hidungnya belum tampak jua.
Kring... Kring...
Bel masuk! Kemana dia? Atau dia tak datang? Aku sangat gelisah dan fikiran ku hanya tertuju padanya. Jam pelajaran 1, 2, dan sampai 3 belum datang. Sudah, dia tak datang hari ini. Aku meresa kesepian kali ini.
"Permisi, boleh saya masuk bu?" Mengejutkan ku.
"Mengapa dengan punggung tanganmu?" Pertanyaan itu membulatkan mata seluruhnya, begitu juga dengan ku saat itu menjadi lawan bicaranya.
"Hsstt... Diam!" Seorang dari mereka mendiamkan celotehnya.
"Tidak kenapa-napa cuma kemarin..." Terpotong oleh pertanyaan keras.
__ADS_1
"Kemarin kenapa?"
"DWI!!!" Sahut guru yang mulai kesal.
"Saya menyuruh kamu duduk untuk mendengarkan saya menjelaskan! Bukan di sana kamu bercerita!"
"Mianhae bu,"
"Siapa teman bicaramu di sana?"
"Anu... Zahra bu,"
"Hah, apa?!" Aku membulatkan mataku sekali lagi.
"Kalau begitu kalian berdua ke depan sekarang juga!"
"Angkat salah satu kaki kalian!"
__ADS_1
"B... Baik bu." Kami pun tertunduk.