Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 19


__ADS_3

Lewat lontaran surah-aurah terakhir, dan kali ini aku khatamkan Al-Qur'an 30 juz dalam 2 bulan ini. Seperti biasa, aku sangat senang ini yang menjadikan ku termotivasi terus agar menambah banyak kembali lagi di bulan-bulan selanjutnya. Masih saja terbawa, saat waktu kecil, yang saat itu khatam pertama kalinya. Aku pun sangat bangga dapat seperti itu, kini terulang kembali. Bunda yang biasanya biasa saja, kini membuat pulut kuning . Inilah yang menjadikan ku semangat terus mengejar khatam begitu banyak. Walau hafalan ini masih diambang kebaikan saja, tak kunjung pulih.


Setelah itu, membuka jendela. Awan itu masih gelap saja, ku tatap shubuh yang masih indah dengan cahaya rembulannya, dan menghirup udara pagi yang sungguh akan kenikmatan kali ini.


"Sayang... Nanti bawa ya pulut ini ke sekolah, kasih kepada teman-temanmu!" Perintah bunda akan ku.


""Baik bunda. Oh iya, bunda bungkuskan satu dengan sangat spesial ya bun! Soalnya untuk Dwi, nanti setelah pulang sekolah Zahra ingin ke rumah sakit menjenguknya."


"Ok baiklah," Tatapan sorot mata malas itu.


"Sama kak Rahul ya perginya! Jangan sampai sendirian. Awas kalau tak sama Kak Rahul, bunda tidak akan mengizinkan mu!" Ketus bunda.


"Baik bun." Ujar ku malas.


Saat ini aku pun memberikan apa yang menjadi amanah saat tadi. Mwmberikan pulut kuning ini untuk teman-taman sekelas. Dari situ aku dapatkan ada yang menerimanya dengan senyum manis, dan ada juga dengan menolaknya mentah-mentah. Tak banyak dari mereka yang bersikap kasar kepada ku. Ya, mereka masih sangat tidak menyukai perbedaan ini. Yap! Hijab inilah yang menjadi bahan celotehan tidak jelas tersebut.


Dari sini pertanda yang tak baik. Mereka membuang-buang begitu saja pemberian orang. Apakah ini salah masakan bunda yang kurang enak atau... Sudah lupakan saja yang terpenting merekalah yang kurang menghargai pemberian orang. Selagi ini masih ditindak aku akan keluar saja dari ruangan, dan menikmati indahnya langit kembali. Sekali lagi, aku tak akan membawanya ke sekolah.


"Kau lagi!" Dia sudah ada dihadapan ku dengan wajah polos itu.


"Boleh panggilkan namanya Zahra Afifah gak?!"


"Oh, saya sendiri ada apa kamu mencari ku?"


"Ini kata bu Heuonyung saya menjumpai kamu, tentang penelitian ini. Setidaknya kita bisa kerja sama dalam hal karya tulis ilmiah."


"Oh, ya boleh-boleh. Tetapi setelah ujian ya, bagaimana?"


"Boleh tuh, ok sampai jumpa nanti."


"Tunggu..." Ku lihat masih ada satu lagi pulut digenggaman tanganku.


"Ya, saya."


"Ini untuk mu, tadi bunda ku menyuruh membagikannya satu kelas ternyata ada lebih satu lagi. Ambil!"

__ADS_1


"Thanks." Ujar manisnya itu.


Benar bukan ia mirip sekali dengan... Aduh mengapa aku bodoh sekali. Tidak mungkin ia di sini. Lagi pula bukannya banyak urusannya selain ke sini, dan untuk apa ia belajar kembali, bukannya seharusnya ia sudah menamatkannya. Kepala ini dibuat pusing saja. Dan lebih baik aku kembali dengan menitikan pena hitam itu di secarik kertas. Menjadikan waktu yang senggang ini teruraikan oleh kata-kata elok dan indah.


Jam pulang sekolah pun tiba. Seakan seperti hujan akan turun jua. Aku akan tetap ke rumah sakit kali ini, dan dengan keteguhan hati lansung tanpa basa-basi meneruskan langkah sampai di depan pagar. Kak Rahul sudah menunggu ku dengan mantel hujan yang berada di jok dalam, ia sudah mempersiapkannya, akan tetapi seperti biasa aku tak akan mau memakainya, aku ingin air hujan itu lansung membasahi tubuh ini.


Yakni sebelum jalan menuju tempat yang dituju hujan sudah membasahi kami, kak Rahul dengan cekatan melindungi ku dari hujan dengan tangannya itu. Ku hempaskan tangannya yang menghalangi hujan menerpa ku saat ini, aku ingin lebih menikmati hujan yang lebat ini. Ia pun tersenyum pulas, dan ikut bersama dengan ku menikmatinya. Dan ku segerakan menuju rumah sakit kali ini.


Sesampainya di rumah sakit, ia tetap tidak mengenal ku. Termasuk ibunya yang dari kemarin terus menunggu kepulihannya, kini aku tetap memberikan pulut spesial itu, hanya untuknya. Ia menatap ku tajam, dan setelah itu merunduk, membuka bingkisan itu dan menyuapnya perlahan. Ku marasakan hal yang aneh saat ini akannya, tapi apa? Ada yang menjanggal di sini agaknya. Sudahlah ku lupakan saja hal ini, hanya firasat yang tak baik saja.


🍁🍁🍁


Seminggu sudah terlewatkan. Aku sudah tidak sabar ke sekolah hari ini, dikarenakan dia sudah kembali seperti biasanya. Yap! Dia kembali belajar bersama kami kali ini. Ku berjalan di koridor, sambil membawakan makanan kesukaannya yaitu es krim vanila. Agaknya ia akan tercengah melihat ini, dan mengambilnya dengan sangat cekatan. Ia tak akan menolak pastinya, dan bukannya ini kesukaannya yang setiap siang hari dibelinya di kantin. Dan tak lupa ku beri ia juga sekantung apel, ini adalah buah kesukaannya juga bukan?


Apa ini! Wanita itu mendekatinya kembali. Sempat ia menatap ku yang berada diujung tetapi nyatanya ia menerima baik pemberian dari wanita beperawakan cantik dan putih itu. Mereka tampak sangat akrab, dan akhirnya wanita itu meninggalkan tempat, dan memberikan kiss bye kepadanya. Sangat menjijikan!


Aku pun mendekatinya, memberikan bingkisan ini. Ia menatap ku dengan sangat tajam. Salah kaprah aku kali ini, ia menghempaskan semua bingkisan itu dari genggamanku. Sakit dalam benak ku. Apa salah dengan ini semua, bukannya semua ini kesukaannya. Jadi, apa yang terjadi di dirinya kali ini. Tidak apa ia tak mengenal ku, tetapi apa salah ku dengan memberikan bingkisan ini. Apakah dia tak menyukai ini lagi? Sebab karena ia sudah hilang ingatan akan semuanya. Sudah ini bukan saatnya, dan aku pun terduduk lemas di tempat duduk ku tanpa menatap wajah itu lagi. Biarkan ia! Masih dalam masa mengingat sesuatu yang pernah ia rasakan selama ini.


Saat ini ia mengupas sebuah di belakang sana. Dan mengapa ia tak menginginkan bingkisan saat tadi. Masih sukanya ia dengan buah itu? Ini menjadi pertanyaan besar, dan di sisanya itu ada sekotak es krim vanila! Ini sangat mencurigakan.


"Kau yang salah! Aku tidak mau apa pun dari mu! Siapa sih kau mengatur-atur hidup ku?" Ujar yang sangat tegas itu.


"Aku temanmu Wi," Air mata ini mulai membasahi pipiku.


"Teman? Aku tidak mau punya teman seperti kau!" Ia me inggalkan tempat.


Aku sudah sangat pasrah, ia tidak sama sekali mengingat pertemanan ku dengannya yang lalu. Saat ini ia sangat membenci ku. Apa ini? Aku tak akan biarkan kenangan bersamanya terus musnah begitu saja. Wanita itu akan merenggut Dwi oleh waktu yang tak ditentukan. Hari ini menjadikan bukti bahwa Dwi akan mengingat ku kembali, tanpa ada secelah pun. Lihat saja, ini akan menjadi bukti aku dapatkan malam yang gelap, saatnya akan datang dengan menampilkan cahaya cerah memancarkan sinarnya kehadapan para pemuka.


🍁🍁🍁


Malam ini ku buka kembali hal yang cukup dengan sesuatu yang membuat ku dahulu terhipnotis sekali olehnya. Ku buka-buka catatan yang berhubungan dengannya. Tanda tanya ini akan terjawab. Yap! Dia sama dengan orang yang ku kenal, tetapi untuk yang lalu aku belum jumpa dengannya sama sekali, tapi inilah yang ku tunggu kehadirannya.


"Kau ngapain dek?"


"Tidak ada!" Aku pun menyembunyikannya di belakang.

__ADS_1


"Apa ini? Kau masih suka dengan bias mu kembali lagi kali ini!" Matanya membulat, dan seakan larangan itu datang kembali.


"Tidak kak! Aku hanya bingung dengan salah satu lelaki yang akhir ini aku berjumpa dengannya."


"Siapa dia? Temanmu juga bukan?" Ia lansung menanyakannya.


"Tidak, di hanya lelaki yang cupu dan akhir ini ya, jumpa biasa saja. Wajah itu sama dengannya." Aku menunjuk foto yang saat tadi sempat ku sembunyikan.


"Berarti kau masih mengingat bias mu bukan?"


"Tidak kak!" Aku pun memukul bahunya dengan pelan.


Tidak ku sangka mata itu tak akan pernah sama dengan orang lain selain dirinya. Aku sungguh bisa membedakan, dan menyamakan orang dengan wajah yang seperti itu agaknya. Dari sini ada yang belum terjawab sudah besok akan ku tanyakan akan semua ini padanya. Lagi pula kami punya projek kerja sama dengannya.


Sudah ku buat jurnalnya dan tinggal ditambah sedikit olehnya dengan sepengetahuan penelitian yang dia lakukan. Setengah perjalanan ini, aku pun diam-diam menanyakan tentang dia. Yap! Namanya tak lain Kim Taesoon. Aku kira namanya Kim Taehyung, sudah lupakan inilah pertanda. Semakin dekat dengan fikiran ku tentang anak satu ini. Ya, dia mirip sekali dengan Taehyung BTS. Apakah salah aku berpendapat seperti ini? Ini hanya dapat ku fikirkan sendiri, tanpa melibatkan orang lain di luar sana. Dan jika benar ia sesuai dengan yang ku banyangkan mungkin kali ini jantung ku berdetak dengan sangat kencang. Tapi... Hmm... Sudahlah tak mungkin anak ini adalah ia!


Kami mengerjakannya dengan cekatan, dan tangan itu cekatannya mengetik mataku terhipnotis agaknya. Walau seperti itu, selesai jurnal ini dalam 2 hari juga. Wow... Aku tak dapat sepertinya. Itu sudah digabung dengan milik ku yang hanya dapat 3 halaman saja. Itu pun 1 minggu aku mengerjakannya. Tetapi cekatannya ia, dapatnya dalam 2 hari 16 halaman itu hanya isinya saja. Ia seperti layaknya robot, yang tak mengenal penat sedikit pun. Aku salut dengannya.


Kumpul karya kali ini. Aku anggap ini adalah suatu ikhtiar yang amat perlu dicontoh. Ia tak mengenal lelah, dan ingin cepat selesai. Aku sungguh salut kali ini. Aku akan berusaha semampunya kali ini, agar kemenangan ini ada dalam genggamanku dengannya. Jadi, inilah yang disebut dengan ikhtiar dan tawakkal yang amat perlu dicontoh orang di luaran sana. Aku hanya dapat memaksimalkan saja untuk kali ini, dan tidak dapat seperti layaknya dia yang teguh akan semua ini. Aku akan berusaha semampu ku teman!


Tak tersengaja. Kaca mata itu dilepaskan olehnya. Hah! Aku tak mimpi, apakah ini benar benar dirinya. Jantungku mulai bekerja tidak stabil, dan aku pun terpaku tak berdaya. Mataku hanya menatapnya dengan mata yang membulat dan mulut ini ternganga begitu ia melepaskan kaca matanya dengan gaya yang cool tampak dari wajah itu.


"Mengapa Ra?" Tanyanya belum sempat membuyarkan lamunan ku kali ini.


"Ra, jawab aku!" Ia memakai kembali kaca mata itu.


"Aha, mianhae Taehyung,"


"T... Taehyung? Kau s... Sudah tau?"


"Benar bukan kau Taehyung BTS?" Aku teriak tak terkendali.


"Shtt... Diam!" Ia membekap mulutku.


Apa ini? Dia benar bias ku. Aku tak mimpi bukan. Yap! Aku tak salah, dengan mata yang masih ada dalam benak ku. Pertanyaan ini terjawab. Dan kali ini aku sangatlah terpukau akannya. Dia dekat dengan ku? Aku sudah diambang halusinasi tingkat tinggi. Sebelumnya aku tak percaya. Kali ini terbukti bahwa dia adalah Taehyung, yang sebenarnya kali ini aku sudah tidak seperti dulu agaknya yang terlalu mencintai bias sendiri. Tapi? Apa yang dia lakukan di sini?

__ADS_1


__ADS_2