
Pagi yang cerah mentari masih saja bersinar, cahaya yang cerah juga mendukung hari pertama Dwi kembali ke sekolah kali ini. Kami mengayuh sepeda, dan menikmati udara segar pagi saat ini. Pukul 07:00, bel 15 menit lagi akan berbunyi. Taesoon belum tampak juga di saat ini. Kami duduk sambil mengulang hafalan Dwi yang belum disetor kepada guru.
Dari sisi yang lain Taesoon dengan mata pandanya itu datang, berjalan layaknya zombie. Matanya sangat sayup, dan menguap sepanjang jalan.
"Mengapa dengan mu?" Tegur sapa secara tak lansung dilontarkan oleh Dwi.
"Aku tak dapat tidur tadi malam," Ujarnya yang masih diambang agaknya.
"Dikerenakan apa?" Aku pun mulai bertanya kepadanya.
"Tadi malam mimpi pasal...."
Flash back on (Taehyung)
Mengalir air mata air yang sungguh jernih. Dan saat ini, aku membasuh wajah ku dengan air yang suci itu. Sangat dingin, sehingga rasanya aku ingin membasuh wajah ku berkali-kali dengan air yang murni ini. Tepat saat ini membawa ku pada kenyamanan akan sejuknya air mata air jernih tak ada yang menghiraukan.
Tepat di sisi ku. Seorang wanita yang berwajah putih pucat, dan menatap ku dengan lekat. Aku merasakan hal yang berbeda saat ini. Mata ku tak dapat melihat jelas wajahnya, tampak buram seketika. Namun suara yang keluar dari pita suara itu tergambar jelas. Bahwa dia adalah seorang wanita yang pernah mampir singgah di hati ku. Ya, dia adalah seorang ARMY yang setia namun tidak disangka hanya wajahnya saja yang rupawan, tetapi hatinya tak seelok dengan rupa itu. Siapa lagi kalau tiada Heonri nama panggilan akrabnya.
Aku hanya dapat diam di sana. Memandangnya lebih lekat, agar tampak wajah yang telah lama tak terlihat itu. Ia sungguh dingin. Ketika ia memegang tangan ku, suhu tubuhnya tak seperti orang normal, sangat dingin bahkan seperti mayat berjalan, aku menganggapnya. Saat itu, aku pun menghempaskan tangannya yang menggengam tangan ku. Dan aku pun meninggalkan tempat begitu saja, tanpa memikirkan bila ia akan sakit hati untuk kesekian kalinya.
Dengan tatapan tajam, ia kembali menghalangi ku. Kali ini tampak jelas wajah yang rupawan dan elok untuk dipandang seketika. Lantas, ia tetap berdiri dihadapan ku. Sontak!
"Tae, jaga mata ku itu. Aku telah memberikan mata itu untuk mu. Dan jangan kau ragukan, walau hari ini kau tak dapat melihat masa depan. Mata itu akan menyaksikan masa depan mu kelak, juga cerita demi rangkaian dia akan merekamnya sedemikian."
Ia menghilang begitu saja dihadapan ku saat ini. Aku telah hilang akal. Dan masih saja teringat, hingga ku terbangun dari tidur pada pukul 2:00. Tersontak, kini sudah saatnya untuk persiapan ke sekolah. Dan dari pukul 2:00, aku tak dapat memejamkan mata. Meski harus dipaksa sekali pun.
Flash back off (Taehyung)
Mata kami lansung terbelalak. Kali ini dia tetapkan mimpi yang masih tidak wajar. Ia menatap mata kami sangat lekat, dan menginginkan jawaban yang tepat. Benarkah mimpi tadi malam, dengan mata yang sekarang ia rasakan kehangatan melihat dunia kembali untuk saat ini. Ia sangat butuh jawaban kali ini.
Seketika terlontar begitu saja. Kami tak menyangka ini akan terbongkar. Dan padahal Taesoon sendiri sudah merasakan dari awal. Ya, ini adalah mata Heonri agaknya. Namun, masih saja ku sembunyikan, hal sebesar ini olehnya. Tetapi, mimpi itu sudah memberi isyarat, harus Taesoon diberi tahu tentang semua ini. Dan ia akan mengerti bahwa Heonri yang telah menyelamatkan pandangannya kembali hari ini sampai seterusnya.
"Tae, maaf kami tak memberi tahu mu dari awal. Ya, inilah yang sebenarnya. Mata itu, adalah milik Heonri. Dia mendonorkannya untuk mu. Beberapa bulan yang lalu dia telah meninggal dunia." Keluar begitu saja, tanpa basa-basi sedikit pun.
"Apa maksud mu Wi?" Ia mendorong Dwi, sebab pernyataan benar itu.
"Maaf Tae, kami tak dapat melakukan apa-apa. Inilah takdir. Dan ia mengikhlaskan organ dalam yang masih berfungsi, didonorkan kepada siapa yang membutuhkan. Termasuk dirimu."
"TIDAK?! TIDAK MUNGKINN!!! SEMUA BOHONG!!! ARGHH..." Ia mengepalkan tangannya, dan berlari entah kemana.
Aku tahu bahwa dia sudah tidak mengerti, harus apa dan fikirannya sekarang sedang tidak stabil. Amarah yang menggelegar, bahkan sampai ia mungkin saja marah dengan dirinya sendiri. Ia sudah tidak tahu harus melakukan apa. Kali ini, kami tetap mengejarnya. Namun, di pertengahan jalan ia berhenti, dan menggengam sesuatu benda tumpul. Ya, itu kayu balok.
__ADS_1
"AGRHH... PERGI KALIAN SEMUAA!!!" Ia tetap dengan amarah yang menggelegar.
"SANA JAHUI AKU!!! Aku sudah tidak mau melihat kalian, dan ini semua salah ku!! AGRHH!!!"
"Tae, ini bukan salah mu. Ayo, tenangkan hati mu yang panas!" Ujar ku dengan perlahan tapi pasti.
Dwi dengan cekatan menghempaskan kayu balok yang digengamnya. Dan membuangnya jauh-jauh. Tae sendiri pun tak kuasa lagi, dan entah apa yang terbesit difikirannya. Ia terduduk dan meraung-raung seperti agaknya anak kecil meminta permen. Aku pun mendekatinya, dan membekap tubuhnya dengan sangat erat. Ia masih saja tak henti-hentinya menangis di pundak ku sebagai tumpuannya.
"Ra, aku telah banyak salah kepadanya. Dan ia masih peduli. Bahkan sisa hidupnya itu aku tak dapat melihat untuk terakir kalinya. Sebenarnya, aku tahu dia wanita yang baik. Namun, keegoisan ku senantiasa membuang rasa yang hangat itu dan menguburnya dalam-dalam di dasar. Kali ini, aku sangat kecewa. Mengapa aku tak menerima cinta yang tulus itu Ra?" Ia kembali memeluk ku dengan eratnya.
"Tae, sudahlah. Ini bukan salah mu. Rasa itu hilang, sebab kau tahu mengerti bahwa hati mu bukan untuknya lagi. Jangan salahkan siapa pun, mau itu dirimu sendiri. Inilah yang dinamakan takdir, dan bila kau telah mencintai seseorang selain dia, dan sebab itu kau tidak meresponnya dengan baik. Jangan! Tolong, inilah yang terbaik untuk mu. Mungkin, ia adalah perantaraan Allah untuk menolong mu. Dan jangan salahkan masa lalu, coba lanjutkan saja apa yang dia pesankan dalam mimpi itu. Mungkin saja inilah yang terbaik untuk mu nantinya."
"Hmm... Aku sudah terlanjur mencintai mu Ra. Ya, kau benar inilah takdir yang tak dapat diragukan. Terima kasih banyak Ra, telah memberi nasihat terbaik untuk kali ini. Aku sadar, cinta ini tak dapat dipaksakan. Bukan salah siapa-siapa termasuk hati yang bicara kalau aku sudah melupakannya, dan mencintai mu apa adanya." Mata ku membulat mendengar kata-kata yang tak berapa singkat itu.
"Hmm... Sudahlah jangan menangis. Nanti malu di lihat orang banyak!" Ujar ku dengan kelembutan, dan menghapus sisa air mata yang masih tertengger di pipi tirusnya.
"Yuk bangkit!" Aku pun membangkitkannya, dan membopong dengan rangkulan. Ya, ia saat ini masih sangat lemas.
"Loh, Dwi mana?"
🍁🍁🍁
Ia tetap menggengam tangan ku erat, tidak memperbolehkan aku masuk ke kelas, aku harus menemaninya di sini. Namun, aku masih butuhkan siraman ilmu, dengan terpaksa aku pun membujuknya untuk percaya, bahwa aku butuhkan ilmu yang bermanfaat dari seorang guru. Ia tak bisa mengelak, dan dengan rasa yang tak akan menerima semuanya, dengan terpaksa ia melepaskan genggamannya, dan memberi isyarat jika nanti jam istirahat harus kembali. Ya, aku akan kembali, aku yakin dia sangat perlukan teman, di saat terpuruk dan tak tahu harus apa.
Sesampainya di dalam kelas. Aku lihat tiada guru saat ini. Ya, benar saja kali ini free class, dikarenakan guru rapat sebentar. Dan banyak sekali murid di luar, begitu juga Dwi yang sedang duduk di kursi yang tersender di sisi pintu kelas. Aku pun mendekatinya, dan menanyakan pertanyaan, mengapa ia tiba-tiba menghilang agaknya jin saja.
"Wi, kau tadi kemana? Kok tak tampak. Setelah cukup lama aku membujuk Tae?" Dengan polos ku tanyakan.
"Aku malas saja melihat seperti itu. Mata ku penat. Kalian bermesraan, itu bukannya dilarang dalam islam. Jika kau mengerti pasal ini, kau seharusnya jangan seperti itu. Sama saja kau berkhianat namanya."
"Bukan bermesraan...." Terpotong olehnya.
"Terus?"
"Sudah ku bilang, aku hanya membujuk dan memberi pencerahan sedikit saja."
"Kenapa sampai pelukan segala? Bukannya kalian bukan muhrim ya?" Ujarnya seketika aku tak tau harus menjawab apa lagi.
Sekejap hening, namun masih saja ia tetap duduk sambil memakan apel yang telah dikupasnya sendiri.
"Wi, setelah selesai dari sini. Mau nyambung perguruan tinggi mana?" Tanya ku mengalihkan jawaban yang saat tadi.
__ADS_1
"Ya, insyaallah mau keluar dari negara ini."
"Pulang ya? Mau lanjut di Indonesia?"
"Bukan, aku ingin di London,"
"Masyaallah... Oh ya tidak ada gitu perempuan nanti yang bisa kau jadikan istri nantinya. Mana tau kan, setelah beberapa semester menitih ilmu, setelah itu melamar anak orang?" Seloroh ku.
"Aku gak bakal gitu. Harapan ku masih besar untuk menjadi orang hebat, dan bisa memimpin di hari kelak. Tolong jaga kata-kata mu! So... Aku masih punya harapan. Dan kalau kau bilang seperti itu, yang pasti tipe ku tak seperti kau ini."
"Ya, aku adalah anak yang bodoh dan jelek. Wajar kau tak suka akan diri ku. Walau aku berharap lebih untuk itu. Ku anggap kau lelaki yang dapat menerima aku apa adanaya, tapi kau ternyata pengkhianat juga." Aku sudah sangat geram dengan dirinya yang dingin itu.
"Aku yakin, kau mempunyai tipe yang sangat sempurna. Sementara aku hanya seorang wanita yang tidak dapat menyempurnakan diri, termasuk menghias wajah dengan bedak setebal 2 inci." Aku pun memasuki kelas, dengan tangisan yang tersedu-sedu.
Aku sudah tak kuat menahan kata-kata si super dingin itu. Apa sih maunya? Aku tak mengerti semua ini. Dan baru kali ini kata-katanya sungguh menyayat hati ku. Sejak kapan dia pandai bicara layaknya orang yang tidak ada rasa iba sama sekali? Dasar kejam. Dan aku akan bisa membalasnya, untuk kali ini.
"JANGAN MANJA! Begitu saja lansung menangis, DASAR BOCAH!" Ia kembali menjatuhkan ku.
"Kau sudah berubah drastis Wi," Aku pun berlari ke UKS.
Ingin masuk kedalam ruangan. Namun, aku tidak ingin menambah beban Taesoon lagi. Kini aku harus mencari langkah yang bijak sendiri. Aku tidak ingin kesedihan ini sampai di hadapan seorang Taesoon. Jika sampai ini terjadi maka aku merasa sungguh bersalah. Dan cukup, aku sudah sangat tahu Dwi adalah seorang yang sungguh kejam. Seorang psikopat, dan tanpa ada rasa bersalah jika mengatakan sesuatu yang pedas.
Terus saja merunduk, dan sampai isak tangis ku ini tak bisa dibayangkan. Bagaimana sedih saat dilontarkan kata-kata menyayat itu. Aku tidak dapat menahannya lagi. Tangisan ini semakin menjadi. Dan....
"Hah!?" Mata ku sontak terbelalak.
"Aku akan selalu berada di sisi mu Ra," Ia memeluk ku dengan eratnya. Tangis ku seolah menjadi terhenti sekejap.
"Kak...." Aku lansung tak bisa berdaya dipelukan hangatnya itu.
"Ra, kakak akan selalu menjaga mu. Walau kau tahu kakak pernah sempat menyakiti mu dengan sayatan pisau."
Seketika aku mengingatnya kembali.
"KAU KEJAM, SANA!!!"
"Ra?" Ia terkejut, dan sontak melepaskan pelukan hangat itu.
"Kau bukan orang yang ku maksud, PERGI KAK!!!"
"Ra,"
__ADS_1