
"Mengapa mata mu kok sembab?" Tanya Taesoon yang masih terbaring di ruang UKS, dan penuh dengan perawatan tim medis.
"Bukan kenapa-kenapa,"
"Kau bohong bukan? Mata mu tak yang manyatakan kebenarannya Ra."
"Tidak Tae,"
"Sudah, mana Dwi?"
"Di dalam kelas." Ku balas dengan tatapan malas.
"Hmm... Aku tahu kau ada masalah dengan Dwi. Ini sudah terbukti Ra,"
"Sudah lupakan saja!"
"Hmm... Kalian jangan seperti anak kecil dong. Bukannya kita sahabatan? Masak harus berantam layaknya bocah sih,"
"Hmm... Ya Tae. Kami tidak akan berantam kembali, aku balik ke kelas ya. Mana tau guru sudah masuk. Jaga dirimu ya!" Ujar ku, dan ingin tak lama memperdebatkan pertengkaran aku dengan Dwi.
"Ya Zahra." Ia mengangguk kecil.
Melewati balkon, dan kali ini membawa ku kepada keheningan namun tetap saja di kepala masih bercampur baur antara amarah dan dendam. Ku akui saat ini Dwi telah melupakan rasa yang penuh dengan kasih sayang antar persahabat yang kami bina bersama Taesoon juga, tetapi nyata tidak ia tetap saja dengan ego yang membuat semua orang menganggapnya tak seperti orang biasa. Ya, ia sungguh jahat.
Keributan di lorong yang sunyi dan agak gelap. Aku pun menelisuri, dan mendekat ke tempat yang agaknya seperti terjadi pertengkaran antar siswa. Aku pun berlari. Dan apa yang terjadi, menjadikan ku sontak sekejap berhenti dan membulatkan mata ku.
"DWI, KAK YEON SOON!!!" Aku menjerit, dan seketika mereka memberhentikan perkelahian.
"HAH?!" Mata mereka terbelalak melihat ku terpaku, dan seketika merapikan pakaian mereka satu sama lain.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Begini Ra. Inilah bukti cinta ku akan dirimu."
__ADS_1
Flash back on (Song Yeon Seon)
Aku tahu apa yang kau fikirkan. Ya, Dwi atau si Taesoon itu. Aku tahu semuanya berawal dari mereka sehingga kita tak ditakdirkan untuk lebih dekat layaknya dahulu. Coba saja aku bisa meraih hati mu, dan aku sangat bersyukur untuk ini. Karena kau telah hadir sebagai bintang malam ku.
Percaya bahwa aku tahu ini bukan dikarenkan Taesoon, sebab dia saja terbaring di UKS. Ya, ini dikarenakan Dwi. Dan entah mengapa aku sangat ingin membalaskan dendam, akibat ia telah membuat Zahra harus menahan sendiri deritanya. Aku awalnya belum mengerti, mengapa Zahra tersedu-sedu bahkan ia tak dapat menghentikan tangis yang sangat sedih bagi ku. Tetapi, apa? Dia tetap saja tidak ingin aku yang mendiamkan untuk sekejap tangisannya itu. Dan padahal apa salah ku? Mengapa dia terlalu benci pada ku.
Aku pun menelfon Dwi, untuk menjumpai ku di sebuah lorong yang tampak sangat sunyi. Di sana Dwi pun menyatakan kebenarannya. Ya, dia salah. Ia sudah berkata layaknya orang yang tidak pedulian dengan perasaan orang lain, apa lagi Zahra sahabatnya sendiri dan perempuan yang memiliki hati yang sungguh kecil, gampang dimasukin hati ketika seseorang berkata apa pun tentang dirinya.
Cemburu. Dan baru kali ini aku mendengar kata itu dari mulutnya. Sikap berburuk sangka ku, naik seketika. Ya, aku beranggapan bahwa dia cemburu saat aku berduaan dengan Zahra. Aku tahu dia ada di sana juga, ketika aku memeluk hangat tubuh Zahra. Ia cemburu akan diriku. Ya, aku tak suka itu. Dengan cekatan aku lansung memukul pipinya itu, tanpa berperasaan kalau dia akan kesakitan layaknya preman kalah dalam pertikaian. Tetapi, ia tetap diam dan tak berkutip. Geram, aku ambil pisau, dan ku tusukan ke bagian perutnya. Namun, nihil pisau itu melesat.
Ia pun mengambil pisau buahnya itu, dan menyodongkannya ke bagian leher ku. Apa yang terjadi, tidak bisa ku bayangkan. Ia terduduk, dan menangis entah kenapa. Pisau itu masih saja digenggam, dan ketika itu aku tetap memukulinya, sampai ia marah dan menghempaskan pisau buah itu. Ia membalas pukulan ku yang bertubi-tubi dengan 2 kali lipat kecepatannya. Sehingga aku merasa dia adalah manusia terkuat. Aku sudah kalah dari situ. Lalu...
"AGRHH... MENGAPA DENGAN DIRIKU???" Ia menjerit layaknya hulk yang ingin menghabisi lawannya.
"Aku telah buta akan cinta. Ya, kau benar Yoon Seon. Aku cemburu dengan mu dan Taesoon. Semua lelaki yang dekat dengan Zahra. Bagi ku dia hanya milik ku seorang!" Lugas dan tanpa getar sedikit pun.
"AKU SUDAH LELAH MENAHAN SEMUA INI! DAN KAU JANGAN SEKALI-KALI MENDEKATI ZAHRA!!!" Ia mengampit kedua pipi ku dengan satu tangannya.
"Bukan kau saja, aku berhak juga menyukai Zahra Wi," Jawab ku dengan menghempaskan tangannya dari pipi ku.
"DIA HANYA MILIK KU!!" Wajahnya sangat dekat dengan ku. Sekitar 2 cm dari wajah ku. Matanya terbelalak merah, dan wajahnya sama percis seperti matanya itu. Merah padam.
Dan tiba-tiba saja....
"DWI, KAK YEON SEON!!!" Jeritan dari seorang wanita yang sangat tak asing.
Flash back off (Song Yeon Soon)
Dan apakah ini benar? pernyataan dari kak Yoon Seon yang belum tentu benar dengan apa yang saat ini Dwi rasakan. Ya, dari penyataan itu dapat ku simpulkan Dwi cemburu. Tapi, setelah selesai kak Yoon berbicara Dwi dengan cekatan meninggalkan tempat. Rasa penasaran ku semakin saja menggelegar. Saat ini aku hanya butuhkan jawaban dari Dwi dan tidak ada yang lain menghalangi.
Aku pun mengejarnya. Ya kali ini aku yakin dia ada di kelas, dimana lagi kalau tidak duduk diam di kelas sambil mengupas buah yang merah itu, dan memakannya. Pasti itu yang dikerjakannya. Tidak! Ia tidak ada di kelas. Aku pun kembali mencarinya, entah mau kemana arah tujuan yang terpenting aku akan mendapat jawaban dari Dwi sendiri.
Di tempat yang biasanya aku lalui, setelah kantin di sana ada taman belakang. Ya, seorang lelaki duduk sambil merunduk. Dari belakang postur tubuhnya seperti Dwi. Aku sangat mengenal postur tubuh itu. Akhirnya, aku pun menuruti rasa penasaran ku. Ku dekati, dan benar saja dia orang yang ku cari saat ini.
__ADS_1
"Wi," Ia sontak kaget, dan ingin melarikan diri lagi. Namun, tidak dapat. Tangannya sudah ku tarik duluan.
"Lepaskan!" Ia meronta-ronta.
"Tidak akan ku lepaskan!"
"Jawab dulu pertanyaan ku! Apakah benar yang dikatakan kak Yoon Seon saat tadi?" Lanjut ku.
"Itu semua fitnah. Sudah ku bilang, kau bukan tipe ku dan aku tidak suka wanita seperti mu. Sudah pergi sana!" Ia menghempaskan tangan ku dari genggaman yang erat itu. Dan mendorong ku, sampai jatuh.
Melarikan diri dari tempat tanpa membantu ku bangkit. Rasa yang terpuruk akan kesaksian mata ku, dan terekam jelas di telinga ku bahwa dia tidak akan mencintai ku. Rasa sakit ini membawa ku kepada tangisan yang tak dapat tertahankan perihnya. Kini, aku masih dalam sakit yang luar biasa. Hati ini seperti dicabik-cabik. Dan coba saja aku tahu dari awal, mungkin aku tidak akan merasakan keperihan yang bertubi-tubi ini.
Mengapa aku sampai punya rasa lebih kepadanya? Apa kelebihannya? Dia sama dengan Taesoon, lelaki yang dapat membuat ku tersenyum. Dan mengapa rasa ini ada? Aku sudah mendeskripsikannya sebagai cinta, namun ia merespon dengan bantingan keras. Apa yang menjadikan hatinya sangat beku. Ya, aku rasakan bukan diriku yang tepat untuk ada bersamanya di hari kemuadian. Itu sudah ku prediksikan. Namun, nyatanya aku masih saja memendam rasa yang suci ini.
Aku selalu berdoa setiap saat agar dia peka. Namun, nyatanya sahabat tetap untuk menjadi sahabat tidak untuk sesuatu yang lebih. Ya, akulah yang berlebihan dalam hal ini. Lewat kata menyayat itu aku tahu bahwa aku akan mundur. Ia sudah memberi isyarat yang sungguh membuat hati ku hancur dan kali ini ku tetapkan aku akan mundur, tidak akan membuat dirinya terlalu sibuk dengan diriku yang masih inginkan rasa yang lebih dari dirinya.
Ku simpulkan, apa yang dikatakan kak Yoon Seon hanyalah dusta agar diriku dapat tersenyum dan tak akan kecewa dengan sikap Dwi. Namun, Dwi lansung menjatuhkan ku. Aku sudah sadar, bahwa hari ini aku mundur mencintai orang yang tidak memiliki rasa yang sama. Kali ini aku mundur Wi!
🍁🍁🍁
Hari berlalu begitu cepat kini tiada lagi persahabatan antara Dwi, Taesoon dan aku. Ya, Dwi sendiri asik dengan pisau buahnya itu juga dengan ponsel yang tidak tahu kami apa yang dikerjakannya dengan barang elektroniknya itu. Rasa ketidak peduliannya semakin tinggi bahkan ia selalu tampak tidak pernah lagi melontarkan senyumnya itu kepada siapa pun, termasuk guru.
Kali ini hanya kami berdua yang terduduk melamun di rumah pohon persahabatan yang kami bangun bersama Dwi. Mengerjakan tugas yang diberikan hanya berdua saja dengan Taesoon. Taesoon sendiri sangat tidak kuasa menahan kerinduan akan Dwi di sini. Ia sangat suka candaan yang terlontar oleh Dwi, walau itu garing menurut kami. Ya, dia adalah anak yang sangat dingin sehingga Taesoon sering sekali menjailinya ketika sedang mengerjakan tugas atau pun memakan cemilan yang kami beli sebelum menuju ke rumah pohon itu.
Aku pun tak dapat membayangkan bagaimana rasa perihhnya ditinggalkan sahabat, bahkan aku sudah menganggapnya lebih dari seorang sahabat.
"Ra, aku kangen dengan Dwi. Walau dia ya terkadang nyeselin, kalau udah ngomong singkat banget."
"Hmm..."
"Ra, kenapa sih Dwi selalu begini? Apakah dia setiap saatnya harus bersikap seolah tidak peduli akan dunia luar. Termasuk perasaannya terhadap dirimu?"
Deg...
__ADS_1
"Apa yang kau katakan?"