Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 30


__ADS_3

Aku pun meninggalkan tempat dan saat ini menuju kelas ku. Aku akan senang jika mereka sudah datang dahulu dari diriku, tapi sayang mereka belum datang jua. Tepat sepuluh menit berlalu Taesoon dan kembar tak seirasnya itu pun datang, ya siapa lagi kalau tidak Dwi. Saat ini seperti sedia kala, kami selalu cepat datang dari yang lain. Dan di dalam kelas tersebut hanya kami saja ada di sana.


Mereka tetap dengan tatapan sinis, melihat ku dan menyindir ku seolah aku sungguh anak cupu yang dikerjain genk most wanted. Aku semakin tidak bisa menahan ini semua, jika tidak pastinya Heonri akan menyelakai ku. Entah mengapa mimpi itu membawakan respon yang tidak baik sekali lagi pada Heonri. Aku pun dengan perasaan sungguh bersalah meminta maaf kepada mereka.


"Ha, seorang Zahra Afifah yang telah tidak ingin berteman dengan kita akhirnya balik!" Sindiran keras tanpa menujukan keraguan sedikit pun akhirnya terlontarkan.


"Mianhae," Ucap ku masih saja tetap.


"Ngapain kau di sini? bukannya kami tidak berguna lagi?" Ketus Taesoon lagi.


"Aku sudah memikirkannya matang-matang kok. Ya, ini salah ku. Terus terang aku hanya butuhkan kalian saja tidak lebih, Heonri akan mengkhianati ku nantinya." Terberai air mata begitu saja.


"Sudah-sudah jangan menangis! nanti imutnya hilang loh," Dwi menghapus air mata ini.


"Tidak!" Ketus si Taesoon.


"Apa sih Tae?" Tanya Dwi dengan kelembutannya itu.


"Zahra bukan imut, hanya aku yang dapat dikatakan imut sedunia tiada yang lain!"


"Kau ya! Sudah dewasa sikapnya masih kekanak-kanakan," Lanjut ku dengan masih tersedu, dan seketika menarik pipinya.


Akhirnya dari situ persahabatan kami kembali akur tanpa ada sedikit pun kekesalan diantara kami. Kali ini aku merasakan kehangatan dapat seperti ini lagi, dan canda tawa itu yang menjadikan aku bangkit tanpa berfikir panjang tentang bunga tidur yang buruk itu.


Jam pulang sekolah akhirnya tiba. Seperti biasa, kami pulang bareng. Sahabat yang selalu setia kemana pun kapan pun itu. Rencananya kami akan segera menuju rumah pohon itu untuk mengerjakan tugas yang sangat sulit, sehingga memungkinkan pulang agak larut untuk kali ini. Kami seperti biasanya membeli makanan recehan di seberang jalan sana. Namun, aku tidak tahu ada mobil melaju sungguh kencang, dan...


DBRAAKK...


"Kk... Kau t... Tidak K.. Kenapa-napa kan?"


"Taesoon!" Aku menjerit histeris.


🍁🍁🍁


Najis mutawasitha yang berwarna merah merona itu pun mengalir terus sampai jambangnya. Aku sudah tidak sanggup untuk berdiri, apalagi membawanya ke rumah sakit, karena ini pasal diriku yang terlalu terbawa suasana dan akhirnya dia yang menyelamatkan ku. Sebenarnya aku bisa dengan sendirinya menghempaskan tubuh ku dengan sendirinya agar terhindar, namun Allah telah berkehendak lain.


Dwi dengan cekatannya meminta tolong akan semua warga yang melintas, dan membawa Taesoon ke rumah sakit. Aku masih kaku, dan menangis tidak dapat terhentikan saat ini. Sesampainya di rumah sakit, ia pun lansung dibawa UGD saat ini. Aku tak dapat menahan tangisan yang sedu ini kembali lagi, bahkan ku tatap pintu ruang UGD yang tertutup rapat sekali, pastinya Taesoon akan baik-baik saja. Aku tetap dengan husnuzhan yang cukup matang.


Langkah kaki sekitar 6 orang lelaki, dengan langkah yang besar, dan wajah itu tidak asing bagi ku lagi. BTS! Datang dengan tanpa rasa ragu untuk menutup, dan tidak memperdulikan ARMY jika melihat wajah mereka yang tampan.


"Mana Taehyung?!" Dengus Namjoon di sana.


"Ada di dalam kak," Jawab Dwi dengan lesu.

__ADS_1


"Ini akibat kalian! Mengapa sih Taehyung mau berteman dengan kalian yang hanya anak SMA, apa ia sudah bosan dengan kita?" Celoteh Jimin.


"Mianhae ini sudah takdir dari tuhan kak," Masih dibalas dengan baik kali ini.


"Sudah-Sudah kita pastikan ini memang salah mereka berdua," Ujar Suga dengan gaya swagnya.


"Kita akan melaporkan mereka ini ke polisi saja!" Teriak Jungkook.


Kami tidak dapat berkutip apa pun saat ini. Ya, ini adalah salah ku, seharusnya aku tidak lunglai dalam hal ini, namun ini adalah kehendaknya. Tangisan ini semakin menjadi saja, entah sampai lamanya aku menunggu dokter menyatakannya. Saat ini Taesoon tak lain Taehyung BTS harus terbaring sana. Dan membuat ketakutan ini semakin menjadi-jadi, karena para hyung yang yang sibuk dengan ponsel itu berbicara agak kerasan.


"Halo, saya sendiri Kim Namjoon. Apakah ini dari kepolisian***?" Suara Namjoon terdengar dengan jelas, dan seketika ia menjauh dari tempat.


Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Serasa emosional ini tepat menghantam, dan tanpa rasa ragu harus melakukan apa yang terbaik untuk Taehyung sendiri. Ya, menerima laporan itu, walau dengan kecil hati.


"Ra, biar aku saja yang mengurus. Kau akan tidak terkena imbas ini semua. Cukup aku yang seperti ini," Ketulusan itu datang menyertai.


"Apa yang kau lakukan? Ini salah besar. Akulah penyebabnya Wi." Kau masih tersedu-sedu bahkan nafas ku sudah tak karuan.


"Shtt... Ini bukan salah mu! Memang, inilah kehendak Allah nyatanya, dan apa yang terjadi pasti ada hikmahnya," Ia menempelkan jari telunjuknya di bibirku.


"Bukan Wi, ini salah ku." Aku tetap dalam kekacauan.


Ia menarik ku ke dalam bekapannya yang hangat.


Dokter keluar dari bilik tempat Taehyung dibaringkan saat ini. Ku lepaskan bekapan yang hangat itu, dan kembali dalam tangisan yang tak kunjung hentinya. Leader dari BTS pun menatap tajam dokter itu, sama dengan halnya member-member lain, termasuk Dwi di sana. Apa yang menjadikan kami selalu dalam perselisihan ini, dan sangat membuat ku tak dapat berisak kagum, seketika BTS saat ini ada di depan mata. Mereka hari ini tampak sinis sekali. Apa lagi wajah J-hope yang terbiasanya dengan senyum khas kini teruraikan begitu saja.


"Bagaimana keadaaan Taehyung dok?" Tanya Namjoon akan dokter lelaki tersebut.


"Taehyung mengalami benturan di kepalanya, sehingga satu sarafnya putus sehingga itu mengakibatkan ia buta nantinya." Tangisan semakin histeris saja.


Aku semakin saja lesu, bagaimana jika dia mengalami kebutaan? Apakah aku harus mendonorkan mata satu ini? Sedangkan aku membutuhkannya, dan tidak mengkin bukan? Aku hanya mendonorkan satu saja, sebab dia punya 2 mata yang sungguh indah? Ya, ini salah ku. Dan apa yang bisa ku lakukan saat ini ya Allah?


Serrtt... Serrtt....


Ia menaiki kursi roda, dengan wajah yang sangat pucat dan didampingi dengan perawat wanita di belakangnya. Aku pun sangat terkejut, bukan orang yang biasa melainkan Heonri. Ia tersenyum manis pada ku, dan menyuruh perawat itu mendorong kursi rodanya kembali. Ia mengajak ku ke taman belakang rumah sakit, aku pun menurutinya begitu saja.


Hanya berfikir pada Taehyung yang kini akan kehilangan pengelihatannya untuk hari ke depan. Setelah sepertiga langkah meninggalkan tempat tadi, aku kembali teringat mimpi yang mengisyaratkan bahwa Heonri masih saja tetap dengan sikap kekejian itu. Aku sontak melepaskan genggaman ku dari pegangan kursi rodanya.


"Mengapa Ra?" Tanyanya masih dalam keadaan yang cukup diperhatikan.


"Tidak apa-apa?" Aku pun melangkahkan kaki ku dengan cekatan. Namun...


"Ra, tunggu!" Ia menarik tangan ku, langkah ini kalah akannya.

__ADS_1


"Apa?" Aku masih diambang ketakutan.


"Ra, inilah yang ku tunggu, aku dapat berjumpa dengan mu. Maka dari itu aku ingin mendonorkan seluruh anggota badan yang vital ini jika Taehyung membutuhkannya ambil dari salah satunya Ra," Mataku lansung membulat.


"Kau serius! Tapi mengapa kau seperti ini?"


"Aku sudah merasakan, jika kematian ku semakin dekat saja. Mungkin inilah namanya hidup, kita akan mati."


"Kau menderita sakit apa Heonri? Dan jangan pupus seperti itu. Berprasangkalah yang baik! Bisa saja yang Maha Kuasa berkehendak lain padamu," Memotivasi sedikit saja.


"Aku sakit jantung koroner. Ya, aku tahu. Tetapi, mati bukannya kita tidak tahu kapan dan dimana bukan? Ini hanya sesampaian dari ku saja.


"Ya, jika kau berwasiat seperti itu. Insyaallah aku akan melaksanakannya." Ia balas dengan senyuman yang tulus, bak pahlawan saja.


Aku pun mengantarnya sesampai di ruangan yang putih bersih itu. Ku baringkan ia di sana, dan aku pun pamit untuk meninggalkan tempat. Sampai larut kami masih tetap menunggu di sana. Para member sudah sangat muak dengan kami. Namun, tidak disangka J-hope dengan ramahnya mengizinkan kami pulang agar yang mengurus semuanya saat ini para member, dikarenakan kami besok masih harus bersekolah lagi. Aku dan Dwi pun pamit, tanpa direspon baik oleh mereka kecuali J-hope yang terseyum tulus itu.


🍁🍁🍁


Sudah 2 hari saja berlalu. Dikabarkan Taehyung masih saja belum siuman. Kini sepulang sekolah seperti biasanya aku dan Dwi akan ke sana. Dan menunggu kepulihannya. Tetapi...


"Dwi!" Kepala sekolah lansung ke kelas.


"Iya pak," Masih dalam tanda tanya.


"Ini pak anaknya," Kepala sekolah mengajukan begitu saja siswanya kepada polisi?


"Baik!" Dengan sigap, tangan Dwi lansung diborgol besi.


Saat itu aku hanya dapat tertunduk lemas, dan tidak dapat berkutip kali ini aku masih saja terbayang-bayang dengan Taesoon saat itu. Tetapi ku pastikan akulah sebab ini semua. Dan kali ini aku bangkit walau masih memendamkan rasa haru bersangatan. Aku pun mengikuti mereka dengan ketangkasan, dan aku akan melaporkan diriku bukan Dwi yang bermasalah saat ini.


Akhir dari semua aku terbebas begitu saja, sedangkan Dwi tetap menjalankan hukumannya. Semua ini sia-sia saja. Bagi ku jika ini yang menjadikan Dwi tidak membela ku maka ia tidak akan berurusan dengan pihak kepolisian kembali. Dengan tenang ia mengatakan...


"Nanti pulang kau jangan lupa menjenguk Taesoon, dan setelah ia pulih tolong sampaikan salam ku padanya." Aku pun lansung memeluk dengan eratnya. Dan tersedu-sedu di sana. Bagaimana tidak sedih? Ia kembali terjerat seperti ini kembali.


Jam pulang sekolah pun aku dengan rasa campur aduk, dan entah apa saja rasa yang ada ku beranikan untuk menjenguk Taesoon saat ini. Ya, mereka masih senantiasa menemani sepanjang waktu tidak hentinya bergantian. Dengan langkah yang cukup lama aku akhirnya sampai di tempat. Apa yang direspon sama dengan halnya kemarin. Namun kali ini mengejutkan sekali, ia sudah pulih. Kami segera memenuhi ruangan itu.


"Tae..." Ujar dari salah satu hyungnya itu.


Seketika sontak ia membuka matanya perlahan, dan...


"Kok gelap?" Tanyanya yang sangat membingungkan.


"Apakah kau tidak bisa melihat kami Tae?" Kini pertanyaan dialihkan oleh Suga.

__ADS_1


"Ha, mengapa ini?" Ia tampak sungguh tak mempercayakan hal ini. Apalagi dengan kami yang hanya dapat menatap kesedihan yang mendalam.


__ADS_2