
Meraih sesuatu yang baik. Libur telah tiba dikarenakan badai salju semakin mengulah. Ku respon pembaca lewat tulisan online yang tertera. Kakak tersayang ku pun masuk dengan sengajanya. Di tutupnya laptop itu, dan mengusap kepalaku dengan agak kasar. Mulailah, jail yang tidak ditunggu. Aku lagi konsentrasi, tapi nyatanya tak dapat, karena kakak yang selalu mengacau saja.
Biarkan dia dengan kejaimanya. Aku fokus memandang tulisan yang semakin banyak agaknya. Dwi calling! Apa ini? Ia rindu? Padahal baru baru pertama libur, ia sudah seperti ini.
"Ada apa Wi. Tumben," Ujar ku manyun.
"Bagaimana kerja kelompok kita?" Apa ini ia tak menanya kabar ku, dasar sombong!
"Sudah siap kok!" Lemas dan tidak seperti awal yang tersenyum bahkan kegirangan.
"Oh... Kalau begitu ya sudah." Sudah itu saja!
"Kau tidak..." Aku bodoh sekali.
"Apa? Kenapa Ra dengan ku?" Tanyanya bingung.
"Sudah lupakan!"
"Kau sehat bukan? Aku pun mulai rindu kepada celoteh bodoh mu,"
Hah! Jantung ini sepertinya sudah tak sanggup menahan detak yang datang cepat sekali. Akankah ia berhenti sejenak, jika benar aku akan mati untuk sekejap.
"Dasar! Aku tak berceloteh seperti itu, aku berbicara ada maknanya," Ia pun tertawa.
Tut... Tut...
Mengapa mati! Aku tak ingin cepat sekali seperti ini. Suara itu aku ingin lebih lama mendengarnya. Mungkin hanya sehari tidak berjumpa, tetapi serasa setahun saat ini.
Kak Rahul menatap ku dengan sangat tajam. Tadinya ia yang jaim, kini rautnya berubah drastis. Ia bertanya seperti biasanya. "Siapa itu, pacar mu?" Aku sudah bosen dengan celotehnya yang tak luput hilang. Ia kembali menampilkan raut cemberut itu. Aku pun masih membujuknya, kali ini ia tak seperti biasanya yang lansung tersenyum. Ia keluar kamarku, dan entah menuju kemana. Bukannya aku tak ingin mengejar, sebab masih banyak lagi yang ingin ku kerjakan kali ini.
Dalam 3 hari ini air muka masam itu tetap ditampilkannya dihadapan ku. Aku merasa bersalah sekali. Ia berperawakan seperti Dwi. Tidak mau aku sedikit pun dekat dengan lelaki, dan bagaimana supaya ia kembali seperti yang lalu menganggap ku adik terbaiknya. Bagaimana caranya, agar Dwi dan kak Rahul tidak marah dan diam karena aku dekat dengan seorang lelaki. Bila ini terus-menerus, mungkin aku tidak dapat menstabilkan keadaan dengan secepatnya. Seperti kali ini, ia tampak serius menonton tv. Aku harus ngapain sekarang, karena rasa bersalah ini ada kembali lagi dan seterusnya, tak tahu kapan berakhirnya. Dijelasin pun tentang yang berkaitan dengan air muka masam itu, mereka tetap seperti itu adakalanya. Bagaimana, cara menstabilkn keduanya bila telah masam wajahnya?
__ADS_1
"Kak... Kenapa sih 3 hari ini diamin Zahra?"
"Tidak kenapa-napa. Kau pasti tahu sendiri." Percis sekali seperti Dwi.
"Karena aku dekat sama lelaki lain selain kakak tersayang ku ya? Aku kan ingin lebih dekat sama teman kak. Kita bukannya harus memiliki banyak teman?"
"Iya, tapi bukannya kau dekat sekali sama yang namanya Dwi itu,"
"Biasa aja kok kak. Aku bukannya paling dekat dengan kakak?"
"Tidak kau berubah sekarang!" Tegas.
"Berubah? Tidaklah kak,"
"Iya." Ia pun menuju biliknya.
Mengejarnya sampai ia stabil sangat payah kali ini. Dibantingnya pintu kamarnya. Dan menguncinya, agar aku tidak masuk. Ku ketuk-ketuk sampai lama. Ia tak muncul juga. Tak bisa tertahankan, jika seperti ini agaknya. Mata mulai memerah, dan mengeluarkan air mata. Aku terduduk lemas dan bersender di daun pintu itu. Dan tak lama aku tertidur pulas. Itulah diriku sesudah menangis, mata lebam dan mengantuk. Masih bersender di daun pintu.
KDBUKK....
"Kak. Mianhae kak." Masih di lantai. Sebab kak Rahul tanpa aba-aba membuka pintu biliknya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Sudahlah ayo!" Ia membantu ku bangkit.
"Mianhae... Kak." Ucap ku tulus.
"Ya. Lain kali jangan dekat sekali dengan pria lain selain kakak. Kakak cemburu tau," Membingungkan sekali.
"Cemburu?" Tanya polos ku.
"S.. Sudahlah. Sana masuk ke kamar mu tidur di sana saja, jangan di lantai. Atau..." Ia memberi isyarat, menunjuk kamarnya.
__ADS_1
"Tidaklah! Ini kamar kakak." Direspon dengan anggukan dan senyuman itu kembali lagi setelah 3 hari tidak terlihat.
🍁🍁🍁
Libur kali ini menjadikan ku lebih manja dengan seorang kakak lelaki layaknya kakak kandung sendiri. Dalam seminggu ini, kami melakukan banyak hal positif. Seperti, melukis bersama yaitu hobinya, menulis karya, dan salah satu yang tidak ketinggalan makan. Itulah yang mengisi libur kali ini. Yap! Kak Rahul dalam sebulan ini dan seterusnya ia akan tinggal di rumah kami. Jadinya, ramailah rumah, meski ya hanya 3 orang. Tetapi, sudah ku katakan, jika kami digabung maka akan terjadilah keributan yang menghantam, tak bisa diam satu sama lain. Nanti, ke kamar, di halaman, dan sampai ke kamar mandi tidak sama lah! Itulah, sebab kami kalau sudah jumpa tidak bisa dipisahkan. Bagaikan magnet yang saling tarik-menarik.
Dan kali ini masuk ke tahun baru. Ya, kami pun kembali ke Indonesia. Aku sudah sangat rindu akan ayah di sana, kakak perempuanku dan adikku. Rindu akan semuanya di Indonesia, termasuk teman-temanku. Kali ini merupakan hal yang terbaik dalam hidupku. Mataku terpancar luas, dan tak sungkan aku sangat ingin memeluk mereka satu per satu. Alasan ini menandakan kalau lebih nyaman di negara sendiri dari pada negara tetangga.
Kakak lelakiku. Tidak ikut bersama ke Indonesia tahun ini. Orang tuanya masih banyak urusan, agak sepi dan tidak dapat bercanda gurau kembali. Seperti biasa, jika aku dan bunda kembali, mereka juga akan sama. Tetapi kali ini berbeda, mereka masih saja diam di negara itu, karena suatu alasan yang logis.
Aku pun menulusri Medan dengan harapan rindu ini akan terkikis, bentar lagi aku berjumpa dengan teman-temanku. Masih banyak yang aku ingin tahu tentang pengalaman mereka. Agaknya agar bertukar pengalaman antara kami. Dibalik ini semua mungkin aku tidak dapat menyatakan bahwa aku sangat merindukan mereka. Kenapa? Jika aku melanjutkan sekolah di Medan, mungkin aku tidak menyimpan rasa rindu yang mendalam ini. Dikarenakan jarak rumah kami sangat berdekatan. Wajar saja tidak rindu, sebab itulah.
Mencairkan rasa yang telah lama terpuruk, akhirnya berjalan kami untuk menelusuri rasa itu kembali. Datang dengan tangisan kebahagiaan. Lewat lisan atau hati maka hari ini pertanda sang mentari telah datang menghiasi sekelompok wanita berjejer melihat ke atas sana.
Tak lupa kami menuju tempat lahir ku. Yap! Bandar Khalifah. Di sana ada nenek menunggu kehadiran kami yang telah lama meninggalkan kesan yang serupa. Bunda ikut dalam tangis bahagia begitu juga dengan ku walau hanya ikut-ikutan saja. Nenek di sana selalu saja memikirkan bahwa 2 orang anaknya, yaitu bunda dan ayah kak Rahul berada di negara orang lain. Nenek curhat dengan bunda pasal itu. Aku mendengarkannya sampai kantuk tak tertahan. Akhirnya, aku pun menuju kamar nenek untuk merebahkan tubuh sebentar.
Seperti biasa jika aku tidur tidak dapat mata ini menangkap cahaya yang terpancar hebatnya. Ku tutup jendela itu. Hah, gak salah lihat! Dia ada di depan mataku. Apa ini mimpi? Ku mencubit pipi tirus ini. Ya benar, ini nyata. Aku masih memikirkannya kali ini. Sudah lupakan! Ku lanjut menutup jendela tersebut.
🍁🍁🍁
"Nek..." Seperti suara...
Aku pun mengucek-ngucek mataku. Terbangun, dan akhirnya lompat dari temapt tidur. Ku mengintip siapa yang datang. Hah! Kak Rahul, tapi agaknya tadi seperti dia. Kak Rahul pun mendenggakan kepalanya, menatap ku jaim. Aku pun keluar dari persembunyian ku. Kembali lagi berantam, tapi itulah kami tak dapat terpisahkan oleh apa pun. Seperti sekarang, mereka tak pulang ke Indonesia nyatanya apa? Mereka pulang dan air muka itu menandakan penat.
Kak Rahul pun tak seperti biasanya, menggangguin ku untuk sekian kalinya, bahkan sampai menangis diriku dibuatnya. Kali ini tidak, ia hanya menghapus umbun-umbunku dan merebahkan tubuh di kamar nenek.
Ku lihat di luar sana, inilah yang sebenarnya tempat lahir aku sangat rindukan mu! Siapa lelaki yang menuju ke rumah nenek. Tampak dari jauh seperti dirinya. Aku rabun, tidak mungkin. Seperti saat tadi ternyata kak Rahul. Semakin mendekat ia, apa!
"Zahra!" Tegurnya.
"Dwi!"
__ADS_1