Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 21


__ADS_3

Ia kembali! Akhirnya yang ditunggu selama ini datang. Ia memenagkan kembali kompetisi di luar kota. Anak yang bijak dan pintar ini adalah orang yang paling berharga. Bukan saja kepintarannya yang dilihat, begitu juga dengan sholeh dirinya yang menjadikan ia tampak sangat disegani saat ini oleh teman-temannya, maupun para kaum Hawa di luaran sana kecuali diriku.


Sudah sangat banyak prestasi yabg digapainya selama ini. Aku pun iri dengannya yang dapat seperti itu agaknya. Aku ingin sepertinya! Yang pandai dan taat kepada perintah Allah. Ia mengalungkan mendali itu di leher ku seperti biasanya. Ya, walaupun ini bukan atas namaku, aku sudah bisa merasakan kebahagian itu saat orang ternama mengalungkan mendali ini di lehernya.


Tetap dengan senyuman lebar yang khas itu, ia selalu saja menyayangi ku lebih dari apa pun. Walau penat ia tetap merespon kejaiman ini. Itu yang ku tunggu membuatnya marah, tetapi tak akan bisa sama sekali. Ia kakak yang sangat baik. Aku tidak akan menelantarkan kasih sayang ini begitu saja.


"Mengapa kau pasang foster idol mu itu dek?" Ia menanyakan hal yang aneh ini.


"Aku pun tidak sadar kak," Ku cabut foster yabg tertempel di dinding.


"Tidak sadar atau..." Ku potong begitu saja.


"Sudahlah kak jangan dibahas kembali!" Pipi ini memerah, seakan malu menyatakannya.


Aku sudah sangat tidak sadar akan semua ini, gila benar. Apa yang telah ku fikirkan sampai foster itu kembali ku tempel di dinding kamarku. Lihatlah! Ini bukan kemauan ku, tetapi entah siapa yang meletakannya di situ, tanganku? Ini di luar nalar saja. Dan tidak mungkin ia tertempel sendirinya bukan? Yap! Aku pasti tak sadar, dan baru tampak saat ini. Aneh bukan?


Muraja'ah kali ini menyenangkan. Ia kembali dan menjadikan ku tidak kesepian, tidak sendiri kembali untuk kali ini. Wajah yang cerah itu tampak ia sangatlah menjaga air wudhunya. Terkadang aku batalkan whudunya itu, jailnya diriku akan dia. Ia pun mencubit pipiku, dan menjadikan ku sampai merajuk sekejap. Jika ia ada, satu hari tanpa bertengkar rasanya tidak karuan. Pasti ada hal yang menyebabkan itu semua. Dan bunda akan menyindir, jika tiada keributan di rumah kali ini.


🍁🍁🍁


Jika dikatakan cinta aku akan menjawabnya dengan kata sayang. Biarkan lewat kata-kata ini, hanya sebatas kakak dan adik. Ia membuka semuanya. Apa maksud ini?


"Ra, jika kita nanti sudah menjadi suami istri kau akan apa?" Menjadikan mataku membulat seketika.


"Apa maksud kakak?" Diambang keseriusan.


"Lihat ayah dan bunda kakak! Mereka saling mengerti satu sama lain. Kakak ingin kita nantinya seperti itu." Tak sedikit pun bibir itu gemetar mengatakannya.


"Hah?!" Aku masih memikirkannya, belum ada respon sedikit pun.


"Kakak ingin menjadi imam terbaik bagi mu,"


"Dan kakak janji akan senantiasa menjaga hatimu itu, dan mempimpin mu menuju jalan yang benar,"


"Apakah kakak setuju dengan perjodohan ini?" Segera ku bertanya.


"Ma... Astagfirullah. Apa yang kakak katakan tadi. Mianhae, mulut ini kurang ajar sekali."


"Tolong jawab kak! Setuju atau tidak?"


"Apa yang kau tanyakan?"


"Dari tadi kakak memang tak sadar ya?"


"Hmm..." Ia menaikan bahunya kecil.


"Sudahlah!" Aku pun memukul bahunya kecil, dan meninggalkan tempat.


Sadar tak sadar ia sudah seperti itu. Pastinya ia menyetujui perjodohan ini bukan? Aku sendiri yang tidak meyetujuinya, dikarenakan apa? Aku sudah sangat sayang dengannya. Seperti kakak kandung sendiri, dan tidak mungkin aku mencintai kakak yang sudah ku anggap kakak kandung? Dia termasuk yang yang sempurna. Sudah ku katakan jika ia bukan kakak ku saja, sudah ku sukai dirinya dan mencintainya lebih dari cinta wanita lain saat ini. Aku sudah tidak ada rasa cinta, dan ingin menikah dengannya sebab alasan ini sungguh jadikan ku tetapkan pendirian.


Karier yang utama nantinya, dan kali ini aku harus menitih prestasi yang bagus dahulu. Jika keinginan ku tidak untuk hari yang dihiasi dengan usaha aku tak akan mendapatkannya bukan? Inilah yang ku maksud. Menikah dengan waktu yang sangat cepat, aku akan menolaknya. Dan percuma saja aku belajar sampai ke negri orang begini, nantinya tak dapat merasakan hasilnya. Sekian, hanya meminta seluruh penghasilan suami saja. Dan untuk apa aku sekiranya seperti ini? Ilmu ku tak akan ada gunannya juga.


Makan malam yang menyenangkan. Kali ini ada bibi dan paman juga. Agak ramai keadaan rumah saat ini. Aku inginkan seperti ini! Bukan hanya aku, bunda dan kak Rahul yang tiap malamnya menikmati makan bersama, kali ini semakin ramai dan menjadikan kecakapan terjaga. Tetapi, keributan masih saja tak berkurang sedikit pun. Padahal, ayah dan ibunya ada saat ini mengawasinya, ia tetap jail seperti biasa. Dan menjadikan ku merajuk akannya.

__ADS_1


Sungguh bosen mendengarnya, apalagi kalau tidak tentang sesuatu membuat ku geram akannya saja. Jika ini terus-terusan, maka aku akan pergi juga dari rumah ini. Dipercepat lagi! Ya, selesai SMA langsung menikah! Apa yang dimaksudkan mereka, takut aku akan bersama orang lain selain kak Rahul apa? Aku tak menyukai dari awal perjodohan ini. Alasannya, karena kak Rahul sudah ku anggap kakak kandung sendiri. Dan kakak Rahul agaknya menyetujuinya, ini menjadikan ku semakin murka saja.


Meninggalkan tempat itu, dan membanting keras kembali daun pintu kamar itu. Entah sudah berapa kali aku banting benda itu. Aku pun bersembunyi di selimut itu. Tidak terbiasanya, kak Rahul membujuk ku. Kali ini di mana dia? Apa dia pun menginginkan itu? Aku tidak akan biarkan ini. Perjalanan hidup ku masih panjang. Seharusnya mereka mengerti apa yangnaku mau. Dan mengapa menikah dini, ini perlu ditanyakan!


Tak berapa lama suara itu terdengar. membuka selimut yang menyembunyikan tubuhku. Dan mengelus air mata ini. Untuk apa ia perhatian pada ku? Seharusnya biarkan aku dalam tangisan ini. Ia bukannya sudah menyetujui, sama dengan semua anggota keluarga? Hanya aku yang tidak menerimanya.


"Ra, menurut kakak apa yang dikatakan kedua orang tua kita benar agaknya."


"Terus kakak mau pernikahan ini dilaksanakan setelah tamat SMA ini!" Ketus ku.


"Ya, itulah yang terbaik bagi kita. Bukannya ucapan orang tua itu selalu benar Ra?"


"Kalau aku tidak suka dengan ini?"


"Kau harus suka Ra, ini adalah amanah yang diperuntukan untuk kita."


"Aku tidak menyukai kakak!" Aku berlari meninggalkan kak Rahul, dan menuju taman belakang.


Siapa lagi yang menjadi teman curhat ku. Dwi telah lupakan kenangan ini, dan kak Rahul telah termakan oleh perseteruan itu. Bagaimana? Siapa yang akan mendengarkan hati kecil ini berbicara? Dan bagaimana jika perjodohan ini benar-benar dilakukan setelah tamat? Bulan! Bisakah engkau menjadi teman ku. Begitu juga Allah yang tetap mendengarkan curahan ini. Aku harus shalat istikhoroh!


🍁🍁🍁


Telah ku curahkan semuanya tadi malam. Seakan semakin lebam, aku akan bisa menyingkirkan semua yang membantah hati kecil ini. Apa yang dia lakukan? Mencari sesuatu tampaknya. Tanpa disadari...


"Wi kau mencari apa?"


"Nyari sesuatu yang amat berharga, dia hilang! Sejak tadi malam aku puas mencarinya di sekitar rumah."


"Apa yang berharga itu?" Jangan bilang... Cinta dari, ah sudah jangan biarkan ini memengaruhi ku.


"Apa! Kemana dia?"


"Itulah tidak tahu, kalau aku tahu aku akan tidak seperti ini agaknya!"


"Ok, aku bantuin ya," Ia pun mengaguk.


Sudah entah sampai mana kami mencarinya. Tak jua jumpa dengan barang yang paling berharga baginya itu. Bila tiada itu, bagaimana ia memakan buah kesukaannnya yaitu apel merah. Setiap ada waktu ia akan memakan apel, tetapi ini menjadikan ia perlu menahannya sekejap. Aku sungguh kasihan melihatnya seperti itu, harus dalam penderitaan yang mungkin masih dalam kategori sederhana.


Apa yang ku lakukan! Astagfirullah. Mengapa aku tak sadar, aku akan menjauh dari dirinya kali ini. Dan saat ini aku membantunya pula. Sikap iba yang berlebihan ini menghipnotis begitu saja. Tidak apalah kira-kira dapat membantu saja, tanpa ada mengharap apa pun. Meski untuk mengembalikan kenangan masa lalunya.


Penat mencarinya dikeliling kelas. Tiba-tiba saja seorang berbicarakan pasal mayat kembali untuk sekejap. Ada mayat wanita lagi! Sudah banyak tampaknya korban si haus darah itu. Siapa sih ia? Ia adalah orang yang sangat kejam. Ku lihat polisi berlalu-lalang di luar. Dan tak lama, salah satu dari mereka masuk ke dalam kelas kami. Memberikan bukti yang tak dipercayakan oleh sorot mata ku sendiri.


Pisau itu! Mengapa ada digenggamannya? Kami sejak tadi puas mencarinya, sampai di sudut-sudut kelas. Tanpa banyak waktu terbuang Dwi merampas pisau buah itu, dari genggaman polisi yang berperawakan tegap itu. Tatapan sinis oleh polisi akan Dwi. Dan apa yang terjadi? Polisi itu mengunci tangan Dwi dengan cekatannya. Dan menuduh ia adalah pembunuhnya. Mataku langsung menatap tajam ke arah polisi yang tegap itu. Seenaknya ia menuduh sembarang orang, ini tak bisa dibiarkan begitu saja!


Polisi itu membawanya ke tempat kejadian tersebut. Tanpa basa-basi aku mengikuti dari belakang. Mayat itu sudah di bawa ke rumah sakit, dan segera di otopsi. Setelah itu mereka membawa Dwi ke kantor polisi. Aku yakin bukan dia pembunuhnya. Dan pisau itu menjadi bukti yang nyata. Aku masih tidak yakin, jika dia setega itu. Atau kak Yoon Seon yang telah menstrategikan ini semua? Apa yang ku fikirkan, aku tidak boleh berprasangka buruk akannya. Berita ini tidak boleh sampai ke telinga ibudanya. Kasihan melihat ibunya, pastinya akan shock sekali.


Tetapi aku sungguh tidak tega. Tanpa basa-basi aku menelfon ibunya dengan cekatan, sampai aku tak memikirkan apa yang menjadi alasan ku kali ini. Agar ibunya tak perlu khawatir. Dan hari ini akan ku selesaikan siapa sebenarnya dalang dari ini semua. Aku yakinkan bukan Dwi orangnya. Dia saja kehilangan pisaunya dari kemarin, ada yang menjebaknya kali ini ku yakin itu. Pelaku itu menggunakan pisau buahnya, agar ia yang terkena imbas dari perlakuannya. Siapa yang tega melakukan ini dengan Dwi. Adakah musuhnya di sekolah ini? Tetapi siapa, agaknya dia tampak baik-baik saja, orangnya juga sosialitas. Tapi? Memang sih bila ia menyindir orang tak mengenal siapa orang itu, walau ya temannya sendiri.


Aku terpaku dalam jaringan pesawat telfon kali ini. Masih terdengar sahutan ibunya di balik telfon. Alasan apa yang akan ku beri? Buru-buru sekali aku mengambil tindakan. Bagaimana jikalau ibunya tahu akan semua ini, dan mencurigai ku tentang kabar yang sakit ini. Tiba-tiba saja saluran telfon terputus. Aku sudah sangat khawatir akan perasaan ibunya jika tahu anaknya direnggut oleh polisi. Pastinya polisi menelfon ibunya. Dan bagaimana? Apa yang harus ku lakukan?


Jam pulang sekolah dipercepat dikarenakan polisi sudah mengetahui dalang di balik ini semua. Menurut ku Dwi hanya korban pelampiasannya. Tidak benar-benar ia pelakunya. Wali kelas pun menghadiri kantor polisi, aku hanya dapat mengikutinya dari belakang saja. Dan seketika hanya aku yang dapat membelanya di depan polisi yang tampak gagah itu. Dengan argumen yang cukup kokoh ku membela dirinya. Namun tetap hasilnya nihil. Malam ini Dwi tetap menginap di gerigi besi yang kosong akan barang layaknya rumah sendiri.


Menatap wajah lesu, dan sekiranya dituduh bersalah. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba saja, hah ibundanya datang dengan tangisan yang amat berharga. Ia mendekati anaknya tersebut yang sudah berada dalam gerigi besi. Isak tangis menyebar ke seluruh ruangan. Dan ibunya pun memohon agar anaknya dikeluarkan dari sana. Aku sungguh tak dapat membayangkan kejadian ini sungguh menyayat ku. Akan tetapi malam ini aku akan melakukan rencana ku untuk menyatakan kebenaran yang masih di ambang kegagalan ini.

__ADS_1


Malam yang mencekam pun akhirnya datang. Berbagai suara binatang menghampiri malam yang seram ini. Aku harus menuju tempat pembunuhan saat tadi. Ya, seperti awalnya pembunuhan ada di lantai 3 lorong yang sempit dan gelap itu. Aku akan menyelidiki siapa pelaku sebenarnya. Malam ini entah ada atau tidak pelaku itu menghantam korban yang lain.


Kali ini aku ditemani oleh Taesoon, ia pun ingin tahu juga siapa pelaku yang sebenarnya. Kami menyelidikinya dengan sangat fokus tertentu. Apakah ia datang atau tidak kali ini. Setelah beberapa jam tak kunjung datang, akhirnya ia pasrah begitu saja dan kembali dengan pernyataan orang di luar sana. Aku pun menatapnya tajam, dan marah. Setidaknya ia tidak boleh begitu saja berpendapat sama dengan yang lain. Bagaimana kalau itu bukan kebenarannya. Pastinya aku yakin pelakunya akan datang malam ini, dan menghantam mangsanya.


KREEKK.... KREEKK....


Ia datang membawa pisau lipat yang ada di belakangnya. Aku tahu itu ketika ia berbalik setelah menegur kami. Meski pisau itu tertutup dengan baju hitamnya. Dia orangnya, karena ia sempat ingin membunuh ku saat itu. Aku pun menarik tangan Taesoon dengan cekatan setelah ia meninggalkan tempat. Kami menginvetigasi dia yang aku yakin akan menyelakai malam ini korbannya. Karena pisau itu telah tampak oleh indra pengelihatan ku sendiri.


Lantai 2 saat ini, ya dia pandai mencari tempat. Seorang wanita yang berperawakan memakai pakaian senada menjumpainya. Aku nyatakan kepada Taesoon inilah yang sebenarnya. Bukan Dwi penyebabnya. Sorot matanya lansung membulat menatap wanita berambut panjang dan lurus itu.


"Zahra, dia..." Ia tampak sangat kaget bukan kepalang.


"Shtt... Diam! Aku membekap mulutnya, ia menghempaskan tanganku begitu saja.


"JANGAN KE SANA!!!" Larang ku, dan ku tarik tangannya keras.


"Lepaskan aku!"


Aku pun menarik tangannya sangat kuat, dan mejauh dari tempat. Entah apa yang difikirkannya? Matanya itu memerah seketika, dan ingin saja ia ke tempat itu. Aku sabgat melarang, ini bukan waktunya. Jika ia tetap berkehendak mungkin saja ia pun leyap di tangan pelaku haus darah itu. Aku mencoba tenangi dirinya sekejap dan membiarkan ia menyatakan semuanya, mengapa ia seperti itu agakanya.


Perempuan itu sebenarnya dialah yang dikejar selama ini olehnya. Mengapa ia kembali dalam masa SMA. Dikarenakan wanita itu adalah fansnya yang telah menjadikannya luluh akan perasaan. Dia telah membuat Taehyung terpanah, dan seakan benar ia wanita yang baik agaknya. Aku sangat sakit, mengapa keduanya menyukai wanita itu. Termasuk dengan Dwi juga. Ya, memang ia rupawan dan kharisma itu tetap terjaga. Mengapa ini menjadikan ku sakit kembali. Sangat sulit melupakan semuanya. Aku tahu mereka agaknya seperti pacaran, Dwi dan wanita yang kelasnya berada di sisi kami. Apa salahnya jika Taehyung terpanah juga akan kekharismaan itu. Ini tidak adil!


Aku pun membawa Taehyung tak lain Taesoon kembali ke tempat tadi. Belum terjadi apa-apa dengan wanita itu. Mungkin saja ia membuat ancang-ancang sekejap. Bagaimana cara untuk membunuhnya.


"Kak Yoon Seon untuk apa mengajak ku ke sini?" Tanyanya dengan lembut.


"Kerja sama kita akhirnya berjaya juga," Sambil mengeluarkan kikih yang meyeramkan.


"Benarkah? Dwi sudah masuk penjara?"Apa ini?


"Ya benar sekali! Aku sudah sangat puas, dan akhirnya Zahra nantinya menjadi milik ku selamanya tiada yang mencegah ku kembali."


"Biarkan saja, Dwi di gerigi besi itu. Hal itu yang terbaik untuknya. Dan Zahra tidak akan lagi memaksakan kehendaknya, untuk mendekati Dwi sayang ku itu." Meraka pun tampak sangat kompak.


"Kau pun dapat puas bukan? Setelah mehantam mangsa malam itu, dengan pisau curian pula itu. Hahaha..."


"Shtt... Atau ku bunuh kau!" Ia menunjukan pisau lipat itu.


"Jadi, kau sudah berani kali ini kak?" Meraka pun tertawa terbahak-bahak.


Taesoon pun meninggalkan tempat dengan lesu. Sedangkan aku sudah cukup bukti kali ini. Rekaman ini akan menjadi bukti untuk esok hari. Melihat wajahnya seperti itu, aku sangat kasihan dan inilah yang menjadikan ku sadar jika ia sungguh sakit atas pengkhianatan ini. Perempuan yang telah ia sukai telah mwngkhianti cintanya. Padahal aku sangat tahu sungguh banyak wanita yang menyukainya, tetapi perempuan itulah yang beruntung mendapatkan hati seorang Taehyung, maksudnya Taesoon.


Aku pernah menyukainya, dan sampai sekarang aku masih ingat akan hati yang pernah bergejolak itu. Jika salah satu wanita suka kepadanya juga aku akan marah, walaupun ia sahabatku sendiri. Tapi, aku sudah tahu saat ini ia masih dalam perjuangan menggapai cinta wanita itu. Dan kini wanita itu hanya cinta dengan temanku. Yap! Dwi orangnya. Semakin sakit hatiku kali ini.


Baru kali ini aku tampak ia mengeluarkan air mata karena wanita. Masih banyak yang menyukainya, termasuk diriku jika ia suka juga aku akan berpaling hanya untuknya juga kali ini. Wanita mana yang tidak mau dengan pria ini. Mengejarnya sampai ke seberang jalan sana. Aku akan menghiburnya dengan seyum kotak miliknya itu harus tetap selalu ada. Sayang kalau cemberut. Taehyung tidak boleh cemberut, sebab wanita doang,


"Taehyung tunggu!" Aku masih tertinggal. Ia sudah ada di seberang jalan sana. Menangis tanpa henti.


"Jangan menangis kau harus kuat!" Tiada direspon sedikit pun olehnya.


Citt...


"AAAA!!!"

__ADS_1


"ZAHRA!!!"


__ADS_2