Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 12


__ADS_3

Sampai juga di tempat paling nyaman bagiku. Ya, rumah yang hangat seperti bekapan bunda semasa aku kecil. Aku inginkan bekapan itu lagi. Tapi, apa yang ku dapatkan saat ini,


"Dari mana saja kau? Lama sekali!" Ujar bunda yang ganas itu.


"Tadi bunda menyuruh ku," Jawab ku.


"Lama sekali, bersama dia lagi?!" Larangan bunda itu aku sangat tahu.


"Bunda, kak Yoon Seon telah menyelamatkan ku dari penjahat musim dingin!" Masih dalam kepolosan yang tak diduga.


"Oh!" Ujar bunda hanya itu. Ia langsung masuk meninggalkan tempat.


Tak berapa lama suara bunda terdengar kembali, manandakan kalau kak Yoon Seon sudah pulang. Akhirnya tanpa banyak waktu, kak tampan itu pun meninggalkan tempat. Aku jadi sangat malu akan sikap bunda kali ini.


Ku lihat di dalam ada kak Rahul, menonton tv. Ku mendekat, dan kembali bertanya seperti biasanya jika aku dekat dengan lelaki lain. Yap! Ia bertanya, apakah kak


Yoon Seon pacarku? Hanya ku bantah seperti biasanya. Ia sangat takut adik tersayangnya ini meninggalkannya akibat pacar. Aku tidak akan pacaran! Lagi pula itu diharamkan bukan? Mau lelaki setampan apa pun, jika ia mengajak untuk pacaran aku akan menolaknya mentah-mentah. Itu hanya mengakibatkan kekacauan yang berarti saja.


"Tapi dek... Ingat kemarin gak? Aduh bodohnya aku," Ujarnya yang aku tak tahu maksudnya.


"Ingat apa kak?" Jawab ku ingin tahu maksudnya.


"Kemarin kau diselamatkan oleh seseorang. Kau dibawa ke UKS." Pernyataannya.


"Tapi kenapa sampai larut, aku berada di sana. Mengapa ia tak mengantar ku pulang?" Tanya ku.


"Ia takut bunda akan marah,"


"Marah! Kenapa marah?"


"Tidak tahu lah." Ia menaikan bahunya.


"Kakak tahu ciri-cirinya?"

__ADS_1


"Gak kakak perhatikan kali."


Apa jangan-jangan dia yang membawa ku. Perhatiannya terhadap ku begitu besar. Aku sudah salah memandang dirinya. Maafkan aku. Apa benar dia yang mengantar ku ke UKS, kalau itu benar, apa! Aku sudah banyak bersalah kepadanya. Kenapa ia tak bilang kepada ku? Dan bunda marah, kenapa? Aneh sangat! Apa ia akan terkena mulut pedas bunda ketika mengantar ku pulang? Tapi... Hah ya! Bunda bukannya selalu marah kepada ku ketika mambawa teman lelaki, sebab pejodohan kami sudah diperuntukan.


🍁🍁🍁


Dwi duduk dengan wanita yang kemarin. Mengapa mereka dekat sekali sih! Aku sangat kesal. Kenapa seperti ini terus-terusan. Rasa ini tak tertahankan lagi. Coba jangan seperti ini sama-sama tak menampakan kesal bila salah satu kami dekat dengan lawan jenis. Tapi apa? Benar, aku pun termasuk pencemburu orangnya. Dia yang seperti itu, mengapa aku marah. Aku cemburu? Tidaklah, ini bukan kewajaran.


Mereka sudah pacaran? Tapi, mengapa hati ini risih dan panas. Perempuan seperti itu, tipe Dwi. Aku saja tak mau melirik wanita seperti itu lebih lama, tampaknya mereka saling suka satu sama lain. Ya, namanya pacaran! Aku semakin bodoh saja. Tak lama ia masuk ke dalam kelas. Apa yang ku lakukan sekarang? Mengucapkan terima kasih atau... Akh! Ini mengacaukan saja. Tetapi, aku masih memendamkan hal yang membuat mata ini panas, begitu juga dengan hati yang sakit sekian kalinya. Rasa apa ini? Itulah yang selalu ku tanyakan sendiri.


"Wi, terima kasih," Ucap ku ragu.


"Hah! Gak salah dengar. Untuk apa kau mengucapkan itu?"


"Bukannya kau saat aku pingsan kau bawa aku ke UKS?"


"Tahu dari mana kau saja pingsan?" Ia lansung membekap mulutnya.


"Ya, kata kakak ku," Ujar ku.


Sudah sampai sini saja, aku malas lebih lama berinteraksi dengannya. Muak aku. Meski masih banyak yang ingin ku tanyakan padanya, tapi sudahlah ku tutup saja. Ia saja masih tetap fokus dengan ponselnya, lupakan saja!


"Ra, ongmong-ongomong kau dengan kak Yoon Seon, pacaran?" Hah seketika ia membuka percakapan kembali!


"Tidaklah Wi," Jawab ku dengan tatapan yang membulat.


"Kalau kau dengan anak yang tadi?" Tanya ku akan statusnya dengan wanita itu.


"Tidak ada apa-apa, ya cuma teman," Ujarnya dengan santai.


"Ra, aku mau ngomong nih," Apa yang dia mau, pasal aku harus meninggalkan teman-teman lelaki ku lagi kali ini?


"Ya sudah, terus terang saja!"

__ADS_1


"Nanti pulang saja lah, oh ya pulang bareng ya!" Ajaknya.


"Tadak lah Wi. Maaf bukan menolak, tapi aku sudah ada janji dengan kak Yoon Seon. Mianhae..."


"Tidak apa-apa," Tatapnya malas.


Sekian aku bertanya-tanya apa yang ingin dikatakannya kepada ku. Tapi, jika ku tolak kak Yoon Seon, aku sudah berhutang darah dengannya. Bagaimana nih? Ikut dengan Dwi atau kak Yoon Seon yang belum tentu jadi. Melihat air muka Dwi yang seperti itu aku sadar, kalau ada hal penting yang ingin dibicarakannya tapi apa? Kalau aku bisa dibagi 2 aku akan dapat menjadikan mereka tidak merasakan kalau diriku lebih mementingkan salah satu. Ini mejadikan kepala pusing saja!


🍁🍁🍁


Di rumah kakYoon Seon! Biasanya tidak pernah seperti ini. Ya, mungkin karena dingin agaknya di luar sana. Aku pun menurutinya. Tidak masalah yang terpenting kemauannya, adalah tugas ku yaitu mengenal lebih jauh pelajaran Biologi. Organ-orang dalam manusia, ia sangat semangat tentang itu. Darah yang menjijikan dan amis itu ia sangat suka. Lagi pula ia inginkan pelajaran ini ada prakteknya, seperti membelah katak. Ia paling menyukainya. Aneh bukan?


Di rumah itu hanya ada dirinya. Megah sangat rapi dan bersih, itulah yang dapat ku tangkap dari ruang tamunya. Aku duduk menunggunya mengambil minum, sebab kita haruslah menghargai tamu. Sebagai kata pepatah 'Tamu adalah raja' aku hanya bergurau saja, tapi tetap ia menghargai ku layaknya raja.


Setelah beberapa jam berlalu. Ia pun menggapai tanganku dan menggenggamnya. Hah! Ini sudah tak wajar.


"Ra, maukan jadi pacar kakak?" Sudah tak waras nih,


"Maaf kak, tapi..." Belum sempat aku menjawab.


"Tapi apa? Kau sudah punya pasangan ya!" Matanya membesar dan merah seketika.


"B... Bukan gitu kak!" Ujarku.


"Jadi apa!" Ia sangatlah murka.


"Maksud ku, aku tak mau pacaran," Kegelisahan ini sudah di atas pemikiran.


"BOHONG!"


Ia pun mengambil pisau buah yang ada di meja dan ingin mau menerkam ku. Aku sangat takut! Ia psikopat! Aku salah mengenalnya, dia bukan orang yang baik selama ini ku fikirkan. Memasangkan wajah yang kejam dan haus darah itu. Ia tak mengenal siapa aku lagi. Tak ada rasa belas kasihannya. Kini pisau itu akan menusuk jantung ku lansung.


"TOLONGG!!!" Teriak ku sangat keras.

__ADS_1


"Tak ada seorang pun di sini sayang," Ia kejam dan menjadikan siapa saja memandangnya takut. Tak ada lagi ketampanan yang sempurna itu.


Ia semakin dekat saja. Aku menutup mata, inilah akhir hidup ku.


__ADS_2