
Akhirnya berakhir juga, aku sangat bersyukur sekali. Meski tak sesempurna para aktor dan aktris korea di luar sana. Ini saja aku sudah hampir pingsan memerankannya. Ku taruh wajah yang pucat ini di bantal, dan merebahkan sebentar di tempat tidur yang nyaman. Aku tidak akan menginginkan ada yang menganggu ku untuk kali ini saja, siapa pun orangnya karena aku sangat lelah.
Dengan sengaja ia mengjungkit-jungkit, berlompat-lompat bahkan berteriak. Aku tetap saja bersabar kali ini, nyatanya ia tak peduli dengan ku yang lemas ini. Aku tahu maksud ia menghibur ku, hiburan ini bukan untuk kali ini. Aku pun naik pitam, dan membentaknya tanpa kesengajaan.
"Mengapa dengan mu Ra? Kau tak seperti biasanya. Meski pun kau penat sekali pun."
"Sudahlah kak, aku sangat penat. Pergi gak!"
Tanpa basa-basi ia lansung meninggalkan tempat. Dan dengan raut yang seperti itu, ku sangat tanda kalau dia telah sakit hati. Aku pun saat ini tak mengerti dengan semuanya. Mengapa emosional ku naik sekali saat ini. Tak ada yang salah dengannya? Biasanya dia menghibur ku, sangatlah ku terima dan tak seperti ini ku respon. Syetan apa ini yang memengaruhi ku. Aku akan meminta maaf detik ini juga.
Aku mengejarnya yang menuju biliknya. Saat ini rasa bersalah ini menjadikan ku salah akan semuanya. Kakak yang sangat baik, nyatanya aku usir begitu saja, tanpa ada kesalahan yang fatal. Seperti biasa, jika aku tampaknya penat ia akan menjaili ku dengan sifat yang kekanak-kanakan itu. Tetapi, salah aku yang terlalu meresponnya dengan kata-kata yang menyakiti itu. Aku membuka perlahan pintu biliknya tersebut. Terdengar tangis yang tersedu-sedu, beserta celotehan akan sadarnya yang menjadikan ku naik pitam.
Jelas ini salah ku, dan mengapa ia seperti itu. Aku yang salah, dia yang menangisinya. Hati kecil itu sungguh membuat siapa saja melihatnya terbawa perasaan. Aku menghampirinya, dan meminta maaf akan kejadian tadi. Ku peluk dari belakang tubuh itu, dan ia merasakannya. Menghempaskan tanganku, dan...
"Ngapain kau di sini? Bukannya kau marah dengan ku, pergi kau!" Ketusnya, dan masih dalam sedu itu.
"M... Mianhae kak," Ujar ku pun tersedu sama akannya.
"Sudah, aku tak perlu peminta maafan itu lagi. Ini salah ku semuanya."
"Tidak kak!" Ku bekap tubuhnya itu.
"LEPASKAN AKU, SANA!!!" Ia mencoba menyingkirkannya namun tidak bisa, karena aku menahannya sangat kuat.
"Mianhae... Kak. Bukan kak Rahul yang salah. Ini sikap ku yang terlalu dengan kakak. Mianhae kak,"
"Kakak bukannya masalah untuk mu saja dek?"
"Tidak kakak adalah saran terbaik untuk ku, kakak paling baik se dunia." Ia pun membalas pelukan itu.
Setelah reda akan semua, kembali ke awal yang menyenangkan. Kini kami mulai dengan berlompatan di kasurnya seperti kanak-kanak saja. Memeragai seorang anak bayi, sampai berteriak sekuat-kuatnya. Bunda pun melihat kami yang sedang asik bermain, agaknya anak kembar yang masih kecil saja. Bunda terseyum pulas, dan pura-pura murka, akan semua kekanak-kanakan ini. Jika ini yang diinginkan kak Rahul saat ini, aku akan senantiasa menemaninya walau sepenat apa pun. Ia sama dengan ku tak mengenal kondisi sedikit pun.
Tiba-tiba saja, ia bertanya tentang bagaimana saat tadi tampil. Yap, dia tak dapat datang, dikarenakan banyaknya tugas saat tadi, ia harus pergi ke sekolah walau pun hari ini tanggal merah. Ya, baru teringat, ia inginkan teman untuk menghilangkan kepenatannya dalam mengerjakan tugas saat tadi. Tetapi apa? Aku meresponnya tidak baik. Ia bertanya, tentang naskah yang ku hafal, dan satu lagi adegan saat drama dimulai. Ia sudah tahu bahwa aku dan Dwi lah yang menjadi pemeran utamanya. Jadinya ia ingin tahu akan itu semua. Aku pun dengan kecil hati menceritakan singkat saja bagaimana kejadian tadi.
"Sudah sangat baguslah itu, tak ada terbata-bata," Ujarnya dengan senyum yang kurang menikmati tampaknya.
"Ya gitulah kak,"
__ADS_1
"Bagaimana dengan Dw..."
"Dwi!" Terpotong oleh telfon dari Dwi yang memanggil, telah 5 panggilan.
Aku menjawabnya, dan meninggalkan tempat. Menuju keluar tanpa pamit dengan kak Rahul.
Aku mengangkat telfon itu dengan sangat malas, sebenarnya aku lebih mementingkan perasaan kak Rahul saat ini. Tetapi, sudah 5 kali aku pun punya perasaan juga. Tak sepertinya yang dingin itu. Ternyata, hah apa! Ini adalah berita sangatlah buruk. Aku akan ke sana, dia tak akan kenapa-napa pastinya. Dia kuat, tak akan terjadi apa-apa saat ini.
Aku mengajak kak Rahul menuju tempat yang menjadikan ku panik saja. Dan tanpa disengaja air mata mulai membasahi pipi ini. Kak Rahul dengan rasa kasih sayang itu, ia menghapusnya perlahan. Dan bergegaslah kami ke tempat yang ingin dituju.
🍁🍁🍁
Rumah sakit
"Bu, apa yang terjadi padanya?" Aku pun tersedu-sedu sampai sekarang, mulai dari mengakhiri telfon tadi.
"Ia kecelakaan nak." Ibunya mulai tak bisa bangkit dengan kuat.
"Apa!" Aku pun mulai sangat lemas mendengar itu semua.
Pipi sudah banjir, dan mata pun mulai tak dapat menahan ini kembali. Aku tak menyangka ini semua terjadi padanya. Ya Allah tolong dia, jangan jadikan ini hari yang jadikan kesedihan berarti.
"Dwi mengalami kritis, dan butuh banyak darah."
"Hah!" Mata kami pun tercengah mendengar itu semua.
Ibu Dwi tak tahan akan semua ini, dan pingsan di rangkulan kak Rahul. Aku sudah tak tahan akan semua ini, apa yang akan ku lakukan? Tanpa basa-basi aku pun mengecek darah, sama atau tidak. Namun nihil. Sebelumnya darah ibunya tak sama, ia sama dengan ayahnya namun ayahnya tersebut sedang di Indonesia. Terakhir di situ hanya kak Rahul yang belum dicek, kemudian tanpa banyak membuang waktu ia melakukannya, walau pun ia takut dengan darah yang telah keluar dari tubuhnya. Darahnya sama dengan Dwi, aku pun mulai berhenti menangis sekejap, mataku seakan pertanda ini awal yang baik. Kak Rahul mendonorkannya.
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya, dan aku bersyukur sekali ada yang mendonorkan dengan rasa ikhlas kepadanya. Mata kak Rahul pun seakan menandakan ia ridho akan semua. Dokter pun melajutkan misinya, dan akhirnya berhasil. Saat ini beribu ucapan syukur akan Allah yang masih memberikan pertolongannya, kini Dwi dapat sembuh. Walau belum sadar, tetapi ini menjadikan ibu Dwi semakin tenang saja.
🍁🍁🍁
Pagi tanpa rasa kegelisahan tentang Dwi nantinya mejadikan ku terus berfikir ke sana saja. Hari ini haruslah ku nyatakan jika Dwi sakit, dan belum siuman juga. Agar ia tidak dinyatakan bolos seperti yang lalu. Aku harus katakan kebenarnya, jika dibiarkan mereka pastinya menyepelekan selalu Dwi yang masih terbaring saat ini.
Perempauan yang biasanya bersama Dwi datang menjumpai ku. Dengan teman-temannya, ia menatap ku rendah, dan apa yang dilakukannya? Ia menarik hijab ini, dan membully ku. Aku tak mengerti, mengapa ini semua terjadi. Ya, dia menyukai Dwi. Tetapi, aku ada antara mereka. Apa salah pertemanan ini? Jika dia suka dan cemburu, ok! Akan ku tinggalkan, tetapi hal ini menjadikan ku pun tak mungkin diam saja. Mereka yang mencorat-coret wajah ini dengan spidol, menjadikan wajahku semakin merah membara. Aku tak dapat seperti ini, karena jika aku disakiti seharusnya aku harus membalasnya dengan baik juga. Sifat pembalas dendam mulai, kali ini aku pun menjambak rambut yang terurai itu, kemudian berlari. Aku tak mau, semakin di sakiti dirinya yang lembut itu.
Bagi ku seluruh wanita memiliki hati yang lembut, meski ia membully tampaknya. Kecuali diriku, dikarenakan pembalas dendam ini tak dapat dimusnahkan dengan apa pun. Mereka tetap mengejar ku, walau tampak dari wajah itu penat mengejar.
__ADS_1
"Aduh... Mianhae," Ujar ku kepada orang yang telah ku tabrak.
"Mianhae... Ayo bangkit," Seorang pria.
"Terima kasih, sudah ku tinggal dulu ya!" Aku pun meninggalkan tempat dengan tertitih-titih.
"Sudah ikuti aku kau akan aman!" Ia menarik tangan ku, hingga ke dalam kelas yang kosong. Bersembunyi di balik pintu itu.
Benar saja, aku tak diketahui oleh mereka. Menatap wajah itu, sepertinya aku mengenalnya tapi di mana? Tidaklah ini hanya halusinasi ku saja. Ia tampak sangat polos, dan termasuk anak yang cupu. Memakai kaca mata bulat, dan memegang buku novel yang sangat tebal bagi ku. Yap! Terpenting aku sudah terhindar dari mereka, dan dia telah menyelamatkan ku. Aku pun mengucapkan banyak-banyak terima kasih, dan setelah itu meninggalkan tempat dikerenakan salah satunya itu kelasnya yang pastinya bukan kelas ku, dan jam pelajaran pertama segera dimulai. Sebelumnya aku menatap tajam mata itu, sepertinya ku mengenalnya. Sudahlah ini hanya halusinasi yang kembali lagi, aku sudah lupakan itu.
Jam pelajaran akhirnya berakhir jua. Sekarang saatnya Menuju tempat yang ditunggu sejak awal, apa lagi kalau tak ke rumah sakit, menunggu siuman itu. Alhamdullilah dia akhirnya sudah pulih. Tetapi apa ini? Dia tak mengenal aku! Bukan aku saja begitu juga dengan ibunya yang sejak tadi menunggu siuman dan kepulihannya. Ia amnesia, dikarenakan benturan hebat yang menghantam kepalanya, sehingga banyak kekurang darah, dan sarafnya mulai tidak diperuntukan. Kali ini sedu kembali di wajah ibundanya. Anak kesayangnya itu melupakannya. Bagaimana aku marah? Sedangkan inilah takdirnya.
Aku hanya dapat memberi motivasi yang singkat, agar ibundanya tersebut lebih tenang, walau tak seelok dengan kak Rahul yang memberi motivasi itu. Dan seketika Dwi mulai menatap wajah ibunya itu dengan sangat tajam, dan mulai kepalanya terasa sakit, akhirnya dokter terpanggil untuk beberapa kalinya lagi kali ini. Aku tak bisa bayangkan kalau dia memberontak akan tidak kenalnya dia dengan ibunya itu. Jika aku menjadi ibunya mungkin aku akan menangis setiap saat.
🍁🍁🍁
"Kak, seharusnya Dwi itu diberi tahu dengan baik-baik bukan?" Curhat dengan kakak ku itu.
"Hmm... Ya."
"Biarkan saja ia tak mengenal ku, tetapi ibunya lihat! Kasihan sekali beliau, aku lihat tadi matanya tak dapat mengeluarkan air mata itu kembali."
"Zahra, dengarkan kakak! Ini adalah takdir-Nya, sudah doakan saja ia semoga cepat pulih saat ini, dan dapat mengingat masa lalunya. Termasuk mengingat mu." Ia terseyum jaim, dan menarik hidungku pelan.
Kami membincangkannya di malam yang cerah, dengan cahaya rembulan itu menghadap wajah kami. Aku pun meletakan kepala ini di bahunya yang bidang, dan menutup mata agaknya silau dengan cahaya itu. Ia mengehelus umbun-umbun ini, agaknya aku bisa nyaman dan dapat tertidur. Tak lama aku sudah tak sadarkan diri. Benar saja aku terbangun, sudah ada di dalam kamarku. Terima kasih kak Rahul paling baik.
Jika ini yang terbaik maka ia akan berpaling dari ku. Siapa dia sebenarnya, kaca mata bulat itu menandakan hal yang kurang beres. Aku sangat mengenalnya, jadi apakah dia benar-benar orang yang ku kenal? Malam ini sampai 1:00 aku tak dapat memejamkan kembali mataku, setelah terbangun. Lewat sinar itu kembali ku pandangi malam pekat, tetapi telihat indah penuh dengan bintang-bintang yang bertaburan. Mengapa aku terfikir olehnya, yang baru ku kenal saat tadi. Bagi ku ia orang yang pernah ada dalam hidup ku tetapi tak pernah untuk berjumpa sedikit pun. Aduh... Aku pun pening saat menyatakan ini. Ku baringkan kembali tubuh ini, dan coba terlelap. Tak bisa!
KREAKKK....
"Ra, kok belum tidur?" Tanya seorang bunda yang memperhatikan ku sejak tadi agaknya.
"Tidak ada bun, mungkin saat tadi sudah tertidur di taman belakang, ku letakan kepala ku di bahu kak Rahul, kemudian terlelap. He..."
"Ehm... Sudah-sudah, itukah yang menjadikan alasan mu?"
"Tidak juga sih bun, aku memikirkan Dwi, ups..." Ku bekap sendiri mulut ku..
__ADS_1
"Apa yang kau katakan?"
"Tidak ada! Sudah selamat malam bun." Ku tutup wajah ku dengan selimut ini.