
Putih, tampan dan mempersona. Kesempurnaan ini yang menjadikan penuh suka cita.
Berjalan di trotoar. Kali ini aku harus menaiki bis kota. Asap kendaraan menjadikan kabut yang bergelombang di langit indah nan bersih dengan warna biru muda itu. Aku pun menutup mulut ku dengan masker. Duduk di halte, sembari menunggu bis datang. Tampak dari samping seperti...
"Dwi!" Sahut ku ia pun terkejut.
"Hmm..." Hanya senyum datar responnya.
"Kemana sepeda mu Wi?" Tanya ku penasaran.
"Mianhae. Anda siapa ya?" Tanyanya kembali.
"Ya Allah, Wi! Ini aku Zahra," Ku membuka masker itu dari mulut.
"Hah?!" Ia langsung meninggalkan tempat.
"Wi, tunggu!" Ku mengejarnya, dan dapat menggapai lengannya.
"Awas!" menghempaskan tanganku dengan sangat kasar.
"Auu..." Jatuh terhempas.
__ADS_1
"Ra! Kau tidak kenapa-napa?" Ia Berbalik dan mendekati ku.
Perhatian itu menjadikan sikap dingin dan egoisnya itu hangat di benakku untuk waktu yang lama, meski hanya sekejap. Mata yang menandakan kegelisahan itu menjadikan suatu amat berarti. Ambang hanyalan yang sejuk, jatuh termakan cinta sang pelita malam. Awal pertama tergores, tapi ia akan ukirkan rasa yang pokok, terindah, dan tercipta kasih sayang.
Sampainya di sekolah, ia pun langsung kembali menuntun ku ke UKS. Akhirnya aku merebahkan tubuh ini, di awali tatapan penuh kepadanya, seakan memberi isyarat terima kasih. Perasaan ini pertanda bahwa ia tidak ingin aku kenapa-kenapa karena keegoisannya. Masih ada rasa iba itu. Hmm...
🍁🍁🍁
Syukur, waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Tubuh ini sudah sangat lemah. Bunda lupa membawakan bekal untuk ku, dan kejadian saat tadi menjadikan tubuh ini semakin sakit dan lemas. Ditutun oleh Dwi, rasa ini tetap saja. Memang Dwi sempat membelikan nasi untuk ku santap. Dia tahu bahwa aku tidak menyantap nasi dari pagi. Seperti biasa, jika aku sarapan bunda tidak akan membawakan bekal, tapi sebaliknya jika aku sarapan ia tidak membawakan bekal. Karena aku akan membawanya pulang kembali, tidak ku sentuh sedikit pun sampai jam pulang sekolah. Saat itu, selera makan ku sudah tiada. Aku ingin membaringkan lebih lama saja tubuh ini.
Kakak kelas itu menepati janji, menjumpai hari ini setelah jam pelajaran berakhir. Ia menarik tanganku dengan cekatannya, dan membujuk ku untuk belajar bersama saat ini juga. Penolakan mentah-mentah diajukan Dwi semata. Ia sangat tahu tentang kondisi ku saat ini. Aku saja terkadang tidak terlalu memikirkannya. Tetapi kakak itu tetap dengan pendirian yang sangat egois itu. Matanya merah seakan pertanda ia akan meledak meruah-ruah.
"Apa yang salah dariku? Kakak kelas itu sungguh egois! Rasa ibanya mana? Aku sudah sangat lemas, ia tetap berasih keras. Esokan bisa? Dasar! Keegoisan itu dapat mengancam diriku untuk lebih lama." Batin. Hmm...
"Kita belajar di sini kak?" Tanya ku.
"Iya." Jawab singkat diikuti anggukan.
"Tolong ajarkan aku Biologi sekarang!" perintahnya.
"Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa?" Matanya membulat. Dan aku hanya tertuduk lemas.
"Mau tak mau, aku akan mengenal organ-organ dalam manusia. Ok!" Ujarnya pada ku. Kembali tertunduk lemas hanya itu yang dapat ku lakukan.
Kleekpp...
Aliran listrik mematikan seluruh lampu di ruangan tersebut. Mata ku gelap dan tidak dapat berfungsi seolah-olah buta. Aku berusaha meraba benda di sekitar, agar keluar dan dapat menerima cahaya kembali. Belum sempat membuka daun pintu.
"AAAA!!!." Pekik ku. Sepertinya ada yang sengaja membesitkan pisau di punggung tanganku.
"Hah?!" Tiba-tiba saja wajah kakak itu mengejutkan ku dengan flash handpone yang digunakannya.
"Kak, kita di luar saja yuk! Di sini sangat gelap," Bujuk ku.
"Kau takut? Tidak apa! Aku ada di sini bersamamu bukan?" Ia menolak.
"Hmm..." Aku hanya dapat mengangguk pelan.
"Hidupan flash mu juga!" Perintahnya dan ku respon dengan anggukan.
Flash handpone pun segera ku hidupkan. Dan tanpa banyak waktu terbuang, ku menerangi punggung tanganku, ternyata sudah terlumuri oleh darah. Matanya menghadap wajah sayupku, dan menatap luka yang cukup dalam ini. Tiada perhatian sedikit pun diperuntukannya. Dimana rasa ibanya untuk seseorang? Hanya diam dan terus memperintahkan ku untuk memperkenalkan organ-organ dalam yang ada pada manusia. Sikap egois itu sangat dahsyat, sehingga dapat memperuntuhkan semua orang.
__ADS_1
Akhir yang ditunggu-tunggu pun tiba. Terbebas dari pengekangannya. Ku akui ini sesuatu yang menyulitkan. Punggung tangan semakin ternganga, dan tubuh ini tidak dapat lagi digerakan. Mungkin? Akibat darah yang habis sebab sayatan itu. Aku hanya menghela nafas panjang dan cukupkan ikhtiar. Syukur saja ia mengantarku pulang. Hanya saja sampai saat ini ia tidak memperdulikan luka ku yang cukup dalam itu.