Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 14


__ADS_3

Malam ini seperti biasanya sunyi tak ada suara seorang pun di luar sana. Mungkin? Mereka tak mau keluar seperti ku yang hanya ada dalam balutan selimut nyaman. Aku ingin tidur lebih cepat malam ini. Ku tutup jendela yang terbuka itu, aku tak dapat terkena cahaya silau rembulan yang bersinar malam ini. Hah! Tampak dari bawah, Dwi melalui rumahku. Ia melirik ke atas yang tertuju kamar ku di sana. Kami saling menatap. Ia lansung buang muka, dan tersenyum manyun. Hanya ia yang di luar, tapi untuk apa ia malam-malam keluar?


Lisan yang mengatakan bahwa malam ini sunyi seketika. Tapi apalah daya seorang wanita penikmat senjanya gugur yang indah diinginkan, kini musim itu meninggalkan ku tanpa pamit. Ku telusuri jalan kota Seoul dengan turun salju yang tak begitu padat. Aku tahu ini yang terbaik juga. Karena malam ini tampaknya lebih nyaman dan senantiasa mengiatkan kembali tentang indahnya musim dingin di pelupuk hati. Apakah aku akan berpindah begitu saja kepada musim dingin, dan meninggalkan kenangan bersama gugur? Tidaklah! Aku tetap menjadikan gugur nomor satu, dan selalu di hati. Ku nikmati salju yang turun itu, sehingga tak memikirkan dinginnya malam yang menusuk hingga tulang. Hah!


"Kau harus jadi milik ku!" Ujar seseorang pria, tak lain adalah kakYoon Seon.


"TIDAAKK!!!" Bantah ku keras.


"Kau harus jadi milik ku! Tidak ada yang boleh menyentuh mu selain diriku." Apaan ini, tidak mungkin!


"Jangan dekat dengan ku!" Aku pun lari terbirit-birit.


"Tunggu, Ra jangan lari!" Ia mengejar ku. Dan terakhir sekali aku terpojok di sudut.


Hilang akal benar ini orang! Kenapa aku harus mengenal seseorang yang seperti ini. Kejam, dan haus akan darah. Tetapi, cintanya sungguh luar biasa. Sampai, aku tak dapat menarik kehendak ku sendiri. Keegoisannya sungguh tak terpercayakan. Apa yang akan dilakukannya. Siapa pun yang ada, tolong aku!


Ia semakin mendekat, dan membawa pisau silet digenggamannya. Mendekatkan pisau itu akan diriku. Aku tak dapat menyadarinya lagi, lemas dan kepala ini semakin sakit saja. Wajah ku mulai pucat, tubuh terpaku dan ingin menangis seketika. Ia mendekatkan pisau itu di pipiku, menggoreskannya cukup dalam.


"AGRHH..." Pekik ku. Pedih tak terbayangkan


"Cukup, ku mohon jangan sakiti aku!" Aku merintih, dan menahan sakit.


"Tolong? Kau akan mati. Jika kau tidak ingin bersama ku. Teriaklah semampu mu. Hahaha..." Kikih yang menakutkan.

__ADS_1


"AAAA!!!"


🍁🍁🍁


Apa yang terjadi? Aku masih hidupkah atau aku sekarang sudah di alam kubur. Tapi, seperti kamarku? Ada minum tertera di meja itu. Ku ambil dan ku teguk dengan cekatannya. Leher ini tak putuskah? Aku memeriksanya begitu teliti, hingga melihat pipi yang masih bersih tanpa ada luka sedikit pun. Apa itu hanya mimpi? Sepertinya, banar-benar nyata agaknya.


Aku pun bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Hari ini ku harap mimpi itu tidak terjadi untuk kali ini. Dia ada dihadapan ku bagaimana ini? Apa yang terjadi pada ku nantinya. Hah! Syukur ia hanya senyum pada ku. Kak Yoon Seon buat kepanikan ini bertambah saja. Tapi, kemana dia pergi? Itu bukan urusan ku. Tetapi, mencurigakan sekali. Aku akan mengintevigasinya lebih lanjut!


Ku mengikutinya dari belakang, tanpa sepengetahuannya. Ia menuju lorong yang sangat gelap. Apa ini! Semakin mencurigakan saja. Seorang wanita yang cukup menawan ada di sana? Apa ini, apa mereka ingin bercumbu mesra? Itu mungkin saja.


"Kak Yoon Seon. Aku sudah lama menunggu mu." Ujarnya.


"Tenang, aku ada di sini sekarang bukan?" Benar saja mereka akan bercumbu mesra di sini.


"Kak, mau apa ke sini mengajak ku?" Tanya penasaran itu.


"Mana kak?" Ia pun tampak jijik sama seperti ku, ketika dikatakan ada seekor ulat bulu.


Ia menusukan pisau lipat itu di bagian perut wanita tersebut. Dan meringislah ia. Kak Yoon Seon mengeluarkan kikih yang tajam dan mengerihkan. Benar! Ia pelaku dari pembunuhan sebelumnya! Tanpa diketahui aku berteriak sekuatnya. Ia menatap kearah tempat persembunyian ku. Dengan cekatan aku pun meninggalkan tempat.


Tapi, semua berakhir. Aku tertangkap basah olehnya. Ia pun mengejar ku. Meski aku berlari dengan sangat cekatannya, aku masih saja kalah dengannya. Ia pun menggenggam tanganku kuat. Dan, tiada lagi ketampanan pada dirinya, hanya wajah yang haus darah itu. Aku sangat takut! Apa yang terjadi di bunga tidur itu terjadi hari ini.


Dengan cekatan pisau itu kembali melayang, dan tanpa mengenai kulitku. Siapa ini memakai seragam sekolah? Ia menyelamatkan ku dari maut ini. Apa dia yang bernama Syah itu? Aku harus membuka masker yang ada di mulutnya itu. Tetapi, aku harus tahu apa memang ia Syah?

__ADS_1


Setelah akhir dari semuanya. Aku pun tertolong kembali kali ini.


"Apakah kau yang bernama Syah?" Tanya ku ingin tahu sebenarnya ia siapa?


"Iya." Ia pun mengangguk.


"Lepaskan masker itu!" Aku pun melepaskan maskernya dengan sengaja. Aku sudah tak tahan dengan ini semua!


"Hah?!" Apa ini? Dia yang menyelamatkan ku selama ini.


"Mengapa kau diam sih Wi?"


"Mianhae," Merasa bersalah.


"Sudah tak apa, terima kasih banyak," Ujar ku.


"Zar sebenarnya aku mau bicara empat mata sama mu," Ujar yang menyakinkan itu.


Kring...


"Bukannya aku gak mau ngeresopn sekarang Wi. Mianhae..."


"Ya sudah gak papa,"

__ADS_1


"Yuk masuk!" Ajak ku.


Ada apa ini dia selalu meminta waktu untuk berbicara dengan ku? Hanya saja ada halangannya. Apa yang ingin dikatakannya? Aku akan memberikan waktu itu nanti, agar ia puas mengatakan semuanya kali ini. Tetapi, Aku sudah tau jawaban tentang Syah ia adalah Dwi Hardiansyah. Mata itu masih menyiratkan sesuatu yang terpendamkan. Karena dia adalah orang yang cukup dingin. Aku suka itu, meski ia tampak kasar ketika ada yang menyakiti hati kecilnya itu.


__ADS_2