Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 36


__ADS_3

"Kenapa, Ra?" Seseorang pun memegang pundak ku dengan kencang.


"Hah, bunda!?" Aku membuka mata, dan memeluknya erat.


"Kenapa?" Tanya bunda heran.


"Aku kira bunda hantu." Aku terkikih kecil saat membilangnya.


"Ya, emang bunda seperti hantu agak mu? Ehm..."


"Tidak bun, hanya bercanda. Just kidding!"


Hening dan terlalu tampak tengah malamnya. Namun kali ini untuk sekejap. Dan dimulai percakapan kembali oleh bunda.


"Tadi kau tidur dimana? Bunda lihat kak Rahul tidur di ranjang mu?"


"Aku tadi di dapur. Dan seketika tertidur, ya tengah malam gini terbangun akhirnya sholat tahajud. Dan bagi ku itu lebih baik bun,"


"Masyaallah. Anak bunda nih," Bunda pun mencium umbun-umbun ku.


Pagi yang nyata. Ya, memang setiap harinya seperti ini, udaranya sejuk nan asri. Tapi, andai kata aku bisa menggapainya lebih jauh. Maka untuk sekian kalinya aku akan mampu mengulang harapan yang tertunda, agar bisa ku ikhtiarkan lagi.


Dengan langkah yang pasti aku menuju sekolah tanpa merasakan kepahitan nantinya. Ya, sekarang aku harus tamat dengan nilai yang terbaik, harap-harap akan mendapatkan restu dan bisa diundurkan tentang berita pernikahannya. Wujud yang ada dengan kata pengharapan masih terduduk, namun nihil sekali agaknya. Aku sadar akan semuanya bahwa aku tidak akan mendapatkan ini. Dan kali ini aku sungguh sangat siap dan terima kasih telah menjadikan diriku bisa lebih indah saat ini.


Cercaan masih menyelimuti. Dan seseorang menutup telinga ku dengan tangannya. Aku pun menatap kebelakang. Ya, dia seorang yang menjadikan hidup ku kembali tenang, bahkan Allah mengerti bahwa aku inginkan teman sebagai tempat curhat. Namun, tidak akan bisa untuk kali ini. Itu sudah pasti!


"Ra, sudah lupakan semua mulut sampah itu. Kini kan bukan hanya kau yang dicerca. Kak Rahul di sana agaknya mungkin seperti itu juga bukan?"


"Hmm..." Air mata ku mulai mengalir begitu saja.


"Sudah! Aku tidak bisa melihat wanita menangis. Jangan menangis ya!" Ia pun menghapus air mata yang ada di pipiku. Aku pun mengangguk pelan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Bulan ujian UN pun masuk. Kini aku sudah tidak sanggup menahannya. Apakah ini berakhir dengan sakit yang bertubi-tubi? Semakin dekat dengan akhir, semakin hati ku jatuh mendalam. Tetapi, kini Dwi tidak lagi terlihat perhatian, bahkan aku sudah tidak dianggapnya teman lagi agaknya. Aku sudah sangat penat dengan ini semua. Dan Taehyung sendiri ia tidak bersekolah lagi, dikarenakan ia lebih baik berfokus pada kariernya dulu. Kini, aku sendiri dan masih memikirkan ke depan bagaimana.


Hari esok awal yang menjadikan ku semakin saja gelisah. Ya, UN dimulai dari esok hari. Seluruh siswa/siswi pun pada sibuk dengan les privatnya. Aku saja yang tetap belajar sendiri, paling tidak dengan kak Rahul. Ya, kak Rahul sudah ku anggap guru yang paling sabar menghadapi ku. Terkadang aku membuatnya kesal saja. Dan kali ini memang dia selalu juara umum, dan aku akan mencontoh dirinya yang dapat memakai otak kiri maupun kanannya.


Malam ini kami akan belajar lebih giat, termasuk dirinya yang sudah dikatakan duta. Kini, fikiran ku bukan untuk UN saja. Harus lebih memikirkan ke depannya. Inilah yang terkadang membuat diriku menangis sendiri, dan tidak dapat mengontrol diri sendiri. Sudahlah ini memang nasib seorang Zahra, gadis belia yang penuh cita-cita, namun harus dipupuskan dengan rencana orang tua untuk menikahkannya dengan seseorang.


Aku inginkan ini lebih lama untuk 3 hari ke depan. Namun, waktu berkata lain. Saat ini kami sudah melalui jenjang yang terakhir kalinya. Wajar aku semakin tak menyangka nantinya. Setelah 3 hari ke depan, entah apa yang ku fikirkan kembali saat nanti. Dan mungkin aku sudah sangat tidak percaya diri nantinya.


Dengan waktu sekejap akhirnya UN berakhir. Kekesalan yang amat tragis. Ya, kini nilai pun sudah diberitahu. Nilai cukup memuaskan. Dan yang membuat ku semakin tidak karuan? Yaitu, celoteh mereka tentang perguruan tinggi terbaik. Aku pun di situ hanya dapat melihat dengan wajah yang masam dan penuh dengan kesibukan batiniah. Yang lebih membuat telinga ku panas.


"Ra, kuliah di dalam negri atau luar?" Tanya salah satu teman.


"Hmm... Tidak taulah!" Aku pun membantahnya begitu saja, dan meninggalkan tempat.


Menangis karena sesuatu hal tersebut menjadikan diriku emosional sekarang. Yang dulunya sering berbicara dan penuh perhatian kini ku perlihatkan amarah seorang wanita yang tersakiti oleh pernyataan yang tidak habisnya menjadikan hati sangat gelisah. Ya, aku sudah pasrah tapi hati bertindak lain. Dan bagaimana jika aku nekat. Nauzubillahiminzalik!


Sesuatu hal yang baru. Kini masuklah di hari yang paling menyedihkan untuk kami. Yap! Perpisahan yang telah lama menanti. Tangisan yang sungguh membuat suasana sangat terharu bak korban bencana alam yang selamat ini, dipenuhkan dengan kenangan yang selama ini telah tersirat. Kini film dokumenter perjuangan selama 3 tahun pun diputarkan untuk pertama kalinya. Menjadikan isak tangis semakin hangat saja.


Dwi? Kemana dia? Aku tidak melihatnya sedari tadi. Apakah memang tidak mau menikmati moment ini? Tapi mengapa dengannya? Tidak ada kabar sedikit pun tentangnya seminggu ini. Dan kali ini aku harus menjumpainya. Pulang dari sini aku akan kerumahnya dan mencari tahu kepastiannya. Dan tidak lama aku memasang niat,


"Banyak sih yang bilang seperti itu,"


"Kalau dia udah kembali. Akan aku dekati dia lansung. Mana tau jodoh, dan dapat sedikit ilmunya gitu," Aku pun lansung memasang muka masam, dan menjauh dari tempat.


Ia termasuk orang yang percaya diri bahwa dia akan mendapatkannya. Ya, aku suka dengannya. Dan padahal kami sudah menjadikan London tempat bersama untuk menitih karier. Namun, harapan ku sudah sangat musnah. Kini tinggal debu yang menyatakannya. Dari sini aku akan selalu senantiasa mendoa'kan dia akan baik-baik saja dan mendapatkan yang terbaik nantinya. Amin...


🍁🍁🍁


Pernikahan sudah berumur 2 tahun. Kini aku masih semester 4 dan sama dengan kak Rahul. Mual, bahkan aku tidak dapat menahannya lagi. Apa ini sebab tadi malam memakan nangka terlalu banyak? Aku tidak mengerti. Dan mata kak Rahul pun semakin berbinar. Ya, ia lansung saja membawa ku, tepatnya ke rumah sakit.


Sekian, dari pemeriksaan membuat jantung ini berdetak dengan sangat hebatnya. Ya, aku mengandung! Kak Rahul dengan mengucapkan hamdallah lansung bersujud syukur. Aku pun ikut terharu mendengarnya. Kini aku pun semakin ridho bila inilah takdirnya. Ya, penuh dengan kata hamdallah. Ku taruhkan dengan rasa sangat bersyukur padanya. Kini kami akan menjadi seorang ibu dan ayah nantinya.


Menjelang kelahirannya, kak Rahul pun memberikan asupan relegius, agar si bayi dapat menjadi Hafiz di hari kelak. Memandang langit yang biru lansung kak Rahul pun bertartil bacaan surah Yusuf, dan dengan suara yang merdu itu bagaikan langit tahu bahwa anak ini senang juga mendengarnya. Dengan kata lain, seluruhnya akan merubah yang dulunya aku memikirkan tidak enak punya anak. Namun, kali ini aku berfikir panjang. Jika anak tiada antara seorang istri dan suami, maka kini wajar dalam keluarga itu tidak terlalu menikmati indahnya berkeluarga.

__ADS_1


Dan tidak perlu menunggu waktu yang lama. Saatnya dia menatap indahnya dunia. Eloknya seluruh alam semesta. Bahkan aku mengerti sekarang, bagaimana bunda senangnya melihat ku baru pertama kalinya datang kedunia. Kini awal yang baik bagiku. Ya, ku lupakan semua yang menyatakan aku sungguh gagal, tidak dapat melanjutkan cita-cita. Ternyata, inilah nikmat yang terbaik. Ini adalah hikmahnya, bayi lucu yang mungil ini anugrahnya. Aku akan selalu bersyukur atas keberkahan ini.


4 tahun berlalu


Kini kak Rahul pun sudah berkerja cukup memuaskan, dan kali ini aku dapat maju untuk ke negri yang ku harapkan ketika bersama Dwi saat itu. London! Kali ini aku akan menjumpainya, namun jika Allah mengkehendakinya untuk berjumpa di sana.


Menikmati leluasa negri yang ku idamkan sejak di bangku SMA. Saat ku ingin melanjutkan kuliah di sini. Dan tidak pernah ku lupakan seorang lelaki yang telah ku sebut saja nama setiap hari. Bahkan kak Rahul sendiri yang telah mengetahui bahwa hati ini hanya untuk Dwi. Namun, dengan rasa kesabarannya itu akhirnya ia tetap bertahan. Aku tidak dapat melupakan orang yang telah masuk untuk pertama kalinya. Tapi, apalah daya, aku harus tetap membuangnya jauh-jauh dan menaruh hati ini hanya untuk seorang suami.


Tidak! Kemana? Anak ku. Aku telah melamun saat ini. Dan sekitaran sudah ku cari tetap tiada. Aku sudah melupakannya. Ya, Allah tolong bantu hamba. Kak Rahul yang datang membawa makanan. Ia pun terduduk lemas, bahkan tidak dapat berkutip apa pun. Kini aku harus mencarinya kemana, ini salah ku semuanya! Menangisi yang tidak akan menyelesaikan masalah saat ini.


Aku kembali mencari, begitu juga dengan kak Rahul sendiri. Tiba-tiba ada yang menarik baju ku.


"Ya Allah! Kau kemana saja sayang?" Aku pun memeluknya erat.


"Sorry, tadi dianya sendirian. Katanya orang tuanya anda," Ia pun menatap ku lekat.


"Hah, Zahra?!"


"Dwi?!" Aku pun sontak kaget. Ini mimpikah?


🍁🍁🍁


"Ra, ini anak mu?"


"Hm..." Aku pun mengangguk.


"Ti... Tidak mengundang aku ya?!" Aku pun tanpa aba-aba, ingin meninggalkan tempat begitu saja. Namun, tangan ku di tarik olehnya.


"Ra, sebenarnya aku mau jujur. Ya, aku telah memendam perasaan ini sangat lama. Dan sebenarnya aku adalah orang yang gampang sekali cemburu. Bila aku tabah dengan ini semua, mungkin kita akan dapat berjodoh. Itulah diriku yang selalu pesimis."


"Wi..." Mata ku pun semakin berkaca-kaca.


"Ra, aku sudah sadar sekarang. Ya, karena kecemburuan yang berlebihan ini jadinya aku gugur mendapatkan mu. Maaf, bila selama ini aku tidak dapat untuk mempercayai mu kalau kau mencintai ku. Benar aku mencintai mu juga." Ia pun meninggalkan tempat.

__ADS_1


Saat itu, rasa sakit tetap tertanam semakin perih. Sungguh, jikalau dia menyatakannya di hari yang lalu. Aku akan memperjuangkan cinta ku. Ya, aku sudah sangat luluh akan dirinya yang dingin itu. Dan benar, aku pun orannya cemburuan. Ya, cemburu untuk gugur itu sangat menyakitkan. Rasa perih ini tidak akan hilang, dan tetapi ya aku akan menutupnya dan menanam kembali dalam-dalam. Inilah awal hidup, aku akan menjadi seorang istri dan ibu yang terbaik mulai detik ini. Amin...


THE END


__ADS_2