Cemburu Untuk Gugur

Cemburu Untuk Gugur
Chapter 17


__ADS_3

Seuol, 14 Jan 2018


Hari ini aku pun kembali ke kota yang sangat padat penduduknya itu. Kota para idol yang banyak memiliki penggemar di seluruh dunia. Mata ku pun tak habis-habisnya menahan kantuk yang berat ini. Dikarenakan tidak dapat tidur malam ini. Biasanya, bunda ada di sisiku. Kini dia masih ada urusan di Indonesia. Aku pun kembali dengan keluarga kecil kak Rahul yang berbahagia.


Untuk beberapa minggu ini aku tinggal di rumahnya. Menatap aliran yang kejam, apa lagi kalau tak rindu akan keadaan sekolah tercinta. Teman-teman, meski masih ada yang tak senang dengan kehadiran ku aku sangat rindu akan mereka semua.


Setiap harinya aku tetap diantar kak Rahul ke sekolah. Bagaimana dekatnya kami kalian akan mengerti. Kali ini sikap Dwi yang belum berubah, dia hanya mementingkan perasaannya sendiri, gampang sekali marah akan semua yang terjadi. Aku tidak suka sikap seperti itu, seketika ia dingin dan seketika ia sangat sosialitas orangnya. Kali ini, tetap dengan diam dan bersikap sangat dingin. Sudah ku tebak dari awal ia pastinya seperti itu. Ya, aku bukannya ingin menghindarinya, perasaan pacar Dwi bila aku di sini sangat dekat seperti sudah tertempel oleh lem, pastinya ia di sana menganggap Dwi di sini tak bermain serong, dikarenakan pacarnya itu orang yang pencemburu sangat.


Aku pastikan jika ia tidak berkata sepatah kata pun aku juga sama dengannya yang dingin. Ini untuk menjaga hati pacarannya yang berada di Indonesia itu. Perasaan wanita sangatlah lembut, dan gampang terbawa emosinya. Mungkin ini yang terbaik untuk kita, dan kali ini aku yakin bisa menghindari kau yang gampang bersikap dingin seperti itu.


🍁🍁🍁


Saat ini aku ingin ke kamar mandi, karena sudah tak tahan lagi buang air kecil. Dan handpone seperti biasanya aku simpan baik di laci. Setelah selesai dan sangat lega, aku pun kembali ke dalam kelas. Dwi! Dia menggenggam handpone itu? Tanpa seizin ku. Untuk apa dengannya handpone itu. Dan bukannya kami tidak saling interaksi untuk kali ini? Mengapa ini? Ada yang aneh nih!


"Untuk apa kau menyentuh barangku?" Ujar ku ketus.


"Ada yang menyuruh mu memegangnya?"


"M... Mianhae," Matanya lansung membulat dan berkaca-kaca.


"R... Ra, kau dapat nomor ini dari mana?" Ia menunjukan nomor handpone pacarnya itu.


"INI BUKAN URUSAN MU!!" Ku rampas dengan sangat kasar.


"Ra, mianhae sebenarnya..."


"Apa? Dia pacarmu. Aku sudah tahu itu Wi. Sudahlah kau jangan banyak bicara lagi!"


"Bukan begitu!"


"Bukan begitu, jadi bagaimana?"


"Dia temanku Ra, yang lalu kita jumpa dengannya. Di saat tadi menyatakan kalau suka dengan diriku. Aku hanya dapat apa? Dia bukan orang yang spesial bagi ku. Tetapi, dia mnganggap lebih dari sebatas pertemanan. Mianhae..."


"Sudah lupakan saja!" Aku pun meninggalkan kelas, sebab saat ini aku sangat kecil hati dengan dirinya yang sepertinya mengatakan kebanaran itu.


Hanya teman? Yang lalu itu. Mengapa ia seperti itu? Pacarnya bukan? Mengapa perempuan itu, jika benar kenyataannya Dwi tak berpacaran Alhamdullilah. Tolong katakan ini awal mula yang baik bagi pertemanan tanpa masalah. Seperti kemarin agaknya. Jika memang benar dia pacaran, aku yakinkan aku dapat meninggalkan masa-masa pertemanan ini dengan kecil hati. Tetapi, aku masih ada rasa tak senang dengannya yang dekat dengan perempuan mengaku pacarnya itu. Ia meminta maaf atas kesalahan temannya itu, mungkin ia pun ada rasa yang lebih, bukan sebatas teman saja, walau tidak untuk berstatus. Kiranya dapat dekat dengan teman wanitanya itu.


Beberapa menit aku duduk di luar menatap burung berterbangan di sana. Langit yang biru, menghiasi puncak langit permata asri. Elok indahnya lingkungan kali ini. Aku pun mencari-diksi terpilih. Yap! Apalagi kalau tak mengisi waktu luang ini.


Kring...

__ADS_1


Sungguh tak menyenangkan! Haruskah sampai di sini saja?Aku masih ingin menikmati indahnya permadani yang indah ini. Mencoret terus dengan pena yang berisi tinta hitam. Masuk, dan sangat malas aku tepat di belakang ku masih dirinya. Menatap ku dengan sorot mata yang tajam itu. Aku hanya menghadap ke depan saja, biarkan ia menatap ku. Aku sudah tak peduli kali ini.


Dari sorot mata itu ku tau dia sangat merasa bersalah saat ini. Tetap dengan sikap dingin ini, sangatlah sulit bagi ku. Aku tidak dapat seperti itu. Hanya dia yang dapat dingin tanpa mementingkan orang di sekitar. Hah! Karena itu sudah kodrat dia, yang dingin.


"Kali ini buat 2 orang perkelompok ya!" Kelompok apa? Ini namanya kerja sama bagi ku!


"Ibu bagi ya!"


"Seok Moon dan Chanteon."


"Teoyeon dan See Yoon."


Skip***


"Terakhir Zahra dan Dwi."


"APA?!" Kami serempak.


"Mengapa? Kalian tak suka?"


"S... Suka kok bu," Mengapa sih selalu dengannya yang dingin itu.


🍁🍁🍁


Di rumahku, kami mengerjakannya. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Aku terus saja membuat kerangka sendiri, tepatnya ini adalah kerja sendiri. Ia sesekali menatap ku, dan seterusnya hanya memainkan pena yang digenggam itu. Aku sudah sangat muak. Kapan dia membantu ku, begitu sama dengan ku. Dan seharusnya ia membuka percakapan tentang tugas ini.


"Ra, apa yang mau dibantu?" Tanyanya itu tak lama setelah ku mengharapnya.


"Tak perlu! Sudah kau duduk rapi saja di sana!" Kata suruhan itu sebenarnya sindiran untuknya.


"Oh, kalau begitu ya sudah kau saja yang kerjakan bukan? Aku mau pulang, sudah sore ini!" Apa yang difikirkannya itu, dasar tak punya perhatian sedikit pun.


"Ya sudah pulanglah sana!"


"Aku pulang ya?" Ia meninggalkan tempat dengan perlahan.


"Biar saja tak selesai, orang dianya tak mau membantu ku. Dasar boneka salju!" Ujar ku pelan.


"Tadi ku tawari bantuan tak mau," Ia mendengarnya?


"...." Aku pun tersipu malu

__ADS_1


Tunggu dibilang dulu, tidak bisakah dia sadar kalau di sindir saja? Kepekaan itu sangatlah kurang. Apa aku seterusnya begini. Hmm... Ya Allah cepatkan selesai tugas ini. Aku sudah sangat penat dengan semua ini. Dan sudah sangat muak dengan orang yang kurang peka. Bagaimana dia tahu aku sudah punya perasaan lebih kepadanya? Ah... Sudah aku tak akan menanam ini kembali. Kasihan temannya yang telah bertahun-tahun memendam perasaan yang sama, tetapi tak direspon sedikit pun olehnya. Aku tak akan terlalu kali ini, yakin bahwa dia hanya teman biasa tak ada istimewanya. Ok!


Dari situ dia terus saja melampirkan apa yang dia fikirkan untuk kerangka ceritanya. Aku hanya dapat menuliskannya, dan berharap ini cepat selesai. Ada salah satu kerangka yang menjadikan ku tercengah mendengarnya.


"Begini, setelah itu kau menjadi pacarku. Dikarenakan kau tak mau berpacaran, aku pun melamar mu lansung, tetapi pernikahannya nanti, takutnya jika tidak begini kau akan pergi dengan yang lain."


"Benar juga sih, karenakan kita bukannya seharusnya memperkenalkan agama sebenarnya?"


"Benar tuh!"


"Kalau kita benaran seperti itu pastinya..." Ia tampak tak sadarkan diri agaknya.


"Seperti apa?"


"Aha, sudah lupakan saja. Lanjutkan tugas kita!" Aku hanya tersipu.


🍁🍁🍁


Seterusnya dibacakan! Jika sudah tahu karya siapa yang paling bagus, setelah itu di dramakan! Ya Allah tidak untuk karya kami yang hanya murahan itu. Ku mohon, ini adalah karya yang sungguh kurang, jangankan dijadikan drama beneran nantinya. Masih didengarkan saja mereka pastinya tak mau. Sudah ini mendinginkan ku sekejap.


Saat membacakan di depan apa ini, harus dipraktekan. Sudahlah apa yang terjadi pada ku. Wajahku semakin merah padam saja. Dia pun tampak malu-malu. Ini semakin mejadikan ku malu, dan kaku dalam pertemanan. Sudahlah entah apa jantungku ini, berdetak semakin tak karuan. Dan bagaimana nanti bila jadi drama benaran, sudahlah tak dapat dibayangkan!


Semua bertepuk tangan, apakah ini bagus? Menurut ku ini hanya cerita yang rendahan. Tidak seperti karya yang mereka semua buat bersama pasangan mereka. Ups... Maksudnya, aa... Sudahlah aku mulai tak sadarkan diri. Ibu guru itu pun mengumumkan karya siapa yang terbaik untuk kali ini. Dan tolong, jangan milik kami! Aku tak mau bila ini di dramakan. Saat di pentas seni pula, aduh sudahlah apa yang ku banyangkan. Kali ini tidak akan terjadi percayalah!


"Karya yang terbaik adalah..." Jantung sudah berdetak dengan sangat cepatnya.


"Karya Zahra dan Dwi!" Semua pada bersorak ria.


Apa yang mereka fikirkan? Aku sangat lemas mendengarnya, seketika mereka seperti itu. Senang melihat orang menderita saja! Sampai, tanpa merasa bersalah sama sekali, mwngucapkan selamat pula. Dan terus menyalim kami berdua andaikan mendapatkan kemenangan yang berarti sekali. Fikir mereka aku senang dengan semuanya? Tidaklah aku sudah sangat penat. Jangankan di suruh menghafal setiap bait dialog, buat cerpen itu saja setengah mati. Sudahlah tak bisa ku banyangkan nantinya dapatkah aku memaksimalkan pertunjukan. Dan waktunya hanya 1 minggu bagaimana ini. Belum lagi memikirkan ujian yang seminggu ke depannya diadakan. Aduh... Mau pecah ini otak, tampaknya kali ini tak dapat kembali memaksimalkan nilai agaknya.


Seminggu ke depan.


Jantung hampir lepas agaknya. Sudah tawakkal saja, ikhtiar sudah dilaksanakan. Mungkin ini di akhiri dengan kegagalan, sudah pasti. Aku hanya dapat pasrahkan semua ini kepada-Nya. Masih terbata-bata lagi, sudahlah kepala ini semakin pening, dan lemas plus gemetar. Tangan mulai dingin, agaknya seperti mayat hidup, kaku dan kekurangan oksigen. Sungguh menjadikan hari ini aku tak hidup dalam kehendak sendiri. Fikiranku hanya tertuju pada pertunjukan nanti mungkin inilah yang dikatakan secara rasionalnya, aku akan menjadi mayat hidup.


Cepat sekali waktu berjalan, kali ini drama yang kurang akan semuanya, termasuk dengan persiapan antara kami akan di mulai. Mataku mulai menyatakan ketidak siapan akan semua. Aku akan memaksimalkannya tetapi inilah yang menjadikan keraguan di atas rata-rata. Setidaknya aku sudah meminta maaf kepada Dwi jika terjadi kesalahan meski tidak fatal, tetap ku nyatakan inilah akhir yang tidak ditunggu oleh ku. Mianhae... Wi.


Dia tampak biasa saja. Ia pun memberi keyakinan kepada ku, ini hanyalah drama yang biasa, dan jika aku terlalu tegang itulah yang dinamakan dengan semua pernyataan ku saat ini. Aku menatap wajah itu dengan lesu, ku pandangi wajahnya, biasa tanpa ada masalah. Sangat berbeda dengan ku yang tegang. Aku pun mengucapkan 'Bismillahirahmanirrahim' dengan itu aku adem tak tegang sekali kali ini.


Masuk pada pemula, masih dalam ketenangan. Kali ini part yang menegangkan. Jatuh dari sepeda, yang menjadikan kaki ini dan siku tangan terluka. Ia mengecup siku yang terluka. Terasa nyaman, agaknya tak seperti drama. Aku pun menikmatinya tidak tegang dan kaku kembali. Dari situ, tampak sikap perhatian itu. Seperti nyata dan menjadikan ku lupa akan semua yang menjadikan ini takut. Tolong seperti ini seterusnya. Tiba-tiba...


Prrookk... Prrookk...

__ADS_1


Tepukan tangan itu membuyarkan semua. Apa ini?


__ADS_2