
18 Mei 2018
Hari ini kak Rahul ingin kembali ke rumahnya, dan tak ingin tinggal di rumah. Aku hanya menatap mata yang lesu itu. Bunda pun bertanya padanya, mengapa ia meninggalkan rumah? Aku sudah tebak pastinya karena kemarin malam, bunda membela Taesoon dan memuji ketampanannya. Itulah kodratnya paling payah bila aku telah mencari teman lelaki, dan lagi pula bunda hari itu sempat bergurau ingin menjodohkan ku dengan dirinya. Bagaimana ia tidak kecil hati mendengar itu semua. Sementara ia sudah menyetujui perjodohan antara kami, yang telah disepakati kedua orang tua kami.
Pamit dengan ketulusan itu sehingga bunda tidak ingin ia secepat ini meninggalkan rumah, dan lagi pula bila ia tiada keramaian dan celoteh-celoteh yang kurang bijak tiada kembali. Aku tetap bersembunyi di tembok yang menyekat itu. Dengan perasaan bersalah kini aku tidak bisa seperti dulu, yang tiap harinya bercanda gurau dengan dirinya. Kenangan itu masih teringat, dan air mata ini tidak dapat tertahankan kembali.
Apa yang telah ku perbuat? Pastinya hati ku terluka bila ia jauh dari ku. Tetapi kekesalan ini masih terambang-ambang aku tidak dapat mencegahnya. Ia melihat ku di sekatan ini, dan aku pun berlari menuju kamar. Menutup wajah dengan bantal, dan menjerit sekuatnya hingga tangisan ini tak kunjung hentinya. Ini adalah salah ku, dan ku tak bisa memaafkan keegoisan ini. Bahkan aku tidak mau memaafkan diriku sendiri, karena kakak tersayang telah meninggalkan ku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya menangis kepergiannya saja. Tiada lagi teman curhat, walau sebatas saja. Dan kasih sayang yang lebih itu akan musnah seketika.
Aku tidak dapat bayangkan bila ia tiada di sisi ku. Walau pun kami masih tidak komunikasi untuk kali ini. Aku sudah sangat dekat, bahkan kami sampai dinyatakan antara satu dengan yang lain sudah direkatkan oleh lem yang sangat ampuh, tidak dapat dipisahkan. Maka kali ini itu tiada terambang lagi. Ya, kali ini dia sudah pergi meninggalkan ku sendiri, tanpa ada teman di sisi untuk kali ini.
🍁🍁🍁
Kali ini malam pun tiba. Sesaat aku sudah merasa sangat lapar, tetapi aku tidak akan makan jika kak Rahul tiada untuk ku kali ini. Jika aku tidak makan, maka entah apa yang terjadi nanti. Dan mungkin saja aku akan lemas untuk sekolah esok hari, bahkan tengah malam nanti aku akan makan kembali. Sebaiknya aku akan makan malam, menemani bunda yang sendirian. Jangan sampai karena keegoisan semuanya berpaling begitu saja dari diriku.
Aku pun menuju dapur yang gelap tanpa ada sekecil cahaya pun di sana. Dimana bunda? Tak biasanya dapur gelap gulita seperti ini. Mungkin bunda ke rumah kak Rahul, mengantarnya sampai di rumah. Aku jadinya sendiri. Dan pastinya ini sangat mengcekam. Aku takut berada sendirian di rumah. Sudahlah aku akan makan dulu, mana tahu bunda menyiapkan makanan di sana. Barulah aku akan menelfon bunda nantinya.
Klepp...
"Happy Birthday Zahra!" Teriakan kak Rahul dan bunda bersamaan. Mata ku tercengah seakan ini hanya mimpi belaka. Apa ini memang benar tepat hari ulang tahun ku? Aku lupa akan semuanya, dan berarti mereka sudah menyiapkan ini semua hanya untuk ku.
"Terima kasih." Kau pun memeluk mereka dengan sangat eratnya.
"Kau lupa akan ulang tahun mu sendiri. Mengapa terkejut sangat sih?" Tanya kak Rahul.
"Iya aku lupakan itu," Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal ini.
"Biasa Zahra banyak kegiatan sekolah begitulah agaknya, ulang tahun sendiri tak ingat," Sindir bunda dengan jaimnya.
"Bunda..."
Aku tidak menyangka, ia tidak marah dengan ku ternyata. Ini adalah untuk jebakan saja. Aku sangat tidak percaya, sikap itu telah terhapuskan oleh dirinya. Ia tidak marah jika aku mempunyai banyak teman lelaki kali ini, termasuk Dwi dan Taesoon. Lagi pula aku perlu sosiolitas dengan sesama walau dengan lawan jenis, yang terpenting pandai jaga diri saja. Aku pun memeluk kembali erat dirinya.
"Ehmm..." Deheman bubda mengagetkan antara kami. Segera kami pun melepaskan pelukan erat itu, dan kalah malu.
Memotong kue coklat kesukaan ku. Kali ini aku sangat senang dapat merayakan ini bersama bunda dan kak Rahul, walau tak semua keluarga tetapi rasa kehangatan tetap terjaga. Aku inginkan tahun depan seperti ini, bila Allah masih mengizinkan aku tinggal lebih lama di dunia ini. Ya, maut siapa yang tahu bukan?
Keesokan harinya aku pun menjumpai mereka di rumah pohon , tempat kami sering mencerna pemikiran satu sama lain dan terkadang mengerjakan tugas di situ juga. Mereka sudah mengechat ku untuk datang tepat waktu. Entah apa yang menjadikan mereka seperti ini agaknya, memaksa bahkan sampai mengancam bila aku tidak datang persahabatan kami akan hancur.
__ADS_1
Seketika aku telah sampai di tempat, mereka belum datang jua. Apa yang mereka fikirkan? Sudah mengancam datang jangan sampai telat semenit pun, kini mereka yang trrlambat datang. Bahkan sudah 1 jam aku menunggu dengan kebosanan yang bersangatan. Dan entah sudah berapa kali aku menelfon tidak di angkat. Apakah aku akan menunggu mereka? Karena aku sudah sangat penat di sini. Di mana mereka? Apakah ini hanya jebakan saja, hanya untuk candaan yang tiada maknanya. Aku sungguh kesal. Aku segera kembali dengan kepasrahan yang membuat ku geram saja.
Di tengah jalan mereka kembali menelfon ku bahwa mereka sudah sampai di tempat. Aku pun tidak memperdulikannya kembali. Ini hanya candaan yang sangat tidak ku suka. Apa maksud mereka seperti ini? Tidak lucu sama sekali bagi ku. Dan dalam perjalanan pulang, ada batu di depan ku. Itu ku tendang tanpa merasa bersalah, akibat sangat kesal pada mereka yang mungkin di sana meledek ku.
"Hah?! terkena orang gila!" Aku berlari terbirit-birit, sebab ia mengejar ku.
Aku pun sudah tidak tahan kembali, kali ini aku bersembunyi di semakan. Menanti orang gila pergi meninggalkan tempat. Aku tidak sengaja menendang sehingga terkena kepalanya itu. Lebih baik aku di sini lebih dulu. Tiba-tiba...
"HUWA!!! ULAT BULUU!!!" Aku pun keluar dari tempat persembunyian. Ulat bulu membuat ku panik, seketika...
"Di sini kau rupanya sayang," Ia mengejar ku kembali.
"Aku harus lari kemana lagi!" Teriak ku.
Syukur ada bis kota di sana. Dengan cekatan ku naik tanpa ada keraguan kembali. Bus itu pun jalan dengan sangat laju meninggalkan orang gila yang mengejar ku. Aku pun aman saat ini, dari kejaran orang gila itu. Sontak!
"Aku tidak ada membawa uang saat ini, bagaimana aku membayarnya?" Aku pun memikirkan dengan sangat matang, tidak terfikir kepada orang gila itu lagi.
"Bayar!" Ujar seorang di sana.
"Kalau tidak punya uang jangan naik dong! Dasar miskin! Sudah keluar kamu sana!" Dengan ketegasan itu ia mengusir ku, dan di berhentikan di tengah jalan.
"Jalan mana ini?" Aku pun diturunkan paksa.
Hah!? Aku tersesat saat ini!
🍁🍁🍁
Akhirnya aku sampai juga di rumah dengan jalan penuh lika-liku di sana. Aku saja tidak menyangka sampai di rumah. Fikiran ku tidak sampai ke situ agaknya, rasanya malam ini aku akan menginap di luar. Sampainya aku di rumah sudah isya. Aku pun sangat penat, ini pasal mereka yang berkhianat akan jumpa di tempat biasanya.
Apa lagi ini? Bunda kemana saja sih! Aku sudah sangat penat sekali haruskah aku akan memasak. Sedangkan lampu saja masih mati semua, dan anehnya pintu tidak terkunci. Inilah kebiasaan bunda, ketika berpergian untuk belanja yang agak dekat dia lupa untuk mengunci. Setelah ia sudah belanja, pastinya bukan lama, bahkan sampai malam entah apa saja yang dibicarakan di sana. Biasa, ibu-ibu kebanyakan gosipnya bila sudah dapat komunitasnya.
PREETTT....
Bunyi terrompet memengaruhi hidupnya lampu. Kejutan kembali ku dapatkan. Kali ini ada Dwi dan Taesoon di sana. Meski sudah terlambat tidak masalah bagi ku, mereka sangat menghargai ku.
"Apa maksud kalian saat tadi menelfon ku untuk ke rumah pohon?"
__ADS_1
"Menjebak kau saja,"
"Dasar kalian ya!" Aku sangat kesal akan mereka berdua, dan memukul dada mereka pelan.
"Auuu... Tait" Ringis Taesoon.
"Tau gak? aku tadi sampai di kejar dengan orang gila, sebab kalian,"
"Hahaha... Dia suka tuh sama kamu dek." Ejek kak Rahul.
"Ini sebab mereka, terus tadi aku sembunyi di semakan, ada ulat bulu."
"Mianhae..." Ucap mereka serempak, sambil tersenyum manyun, dan bahkan terkikih akibat aku dikejar orang gila.
Dasar! Tidak tahu apa aku sangat takut saat itu? Mereka hanya dapat meledek ku. Aku saja sudah sangat tidak kuat saat ini, dan lebih parah ada ulat bulu di sana. Itulah yang menjadikan jantung ku berdetak lebih kencang dari biasanya, akibat aku sangat geli dengan hewan kecil berbulu itu.
Berjalan dari lobi, dan ingin memasuki kelas. Tangan ku kembali ditarik dengan sangat cekatan oleh dirinya. Siapa lagi kalau bukan kak Yoon Seon. Tak habis-habisnya ia mengganggu hidupku untuk kali ini. Aku sudah sangat muak dengan wajah itu. Ia memberikan sebuah kado yang tertata sangat cantik agaknya dari luar.
"Nanti saja bukanya, saat kau lagi duduk di bangku mu ya sayang!" Perintahnya, dan dengan kata-kata menjijikan itu aku sangat muak sekali.
"Iya," Ku jawab dengan sangat ketus.
"Kok begitu sih, jangan galak dong!"
"Sudah kau diam! Sana pergi gak! Kalau tidak ku lempar ini di wajahmu." Aku pun ingin menghantam kado pemberiannya itu ketanah.
" Ok!" Dengan langkah cepat ia meninggalkan tempat.
Aku sangat penasaran sekali dengan kado ini. Masih ingat benar ia dengan diriku walau terlambat hari, tidak apa sekali aku dengan kado pemberian ini tetapi rasa penasaran ku sangat kuat. Aku pun membukanya ketika duduk di kursi saat ini. Apa ini? Baju putih ada bercak darah, entah apa maksud dari semua ini? Tertulis di situ Dwi? Ada apa dengan dia?
Dan secarik kertas yang berisi tulisan "Aku sudah mengerjakan semuanya, dapat mengalirkan darah. Ya, dia ada di Lab Biolgi, carilah dia secepatnya! Atau kau akan menyesal selamanya." Dia menyebak ku saja, dan aku akan mencarinya, jika tidak dia akan berbuat nekat pada Dwi.
Menuju Lab Biologi. Air mata ini sudah mengalir di pipi ku. Ku buka dengan kuat, hingga tampak seperti dobrakan hebat. Aku tidak bisa membayangkan, dan ku tutup mata ini, tidak untuk dilihat. Aku tidak sanggup, jika memang benar dia telah berhasil melukai Dwi. Aku sudah negatif thinking saja akan semua ini dan jangan-jangan ia telah tiada. Bisa saja karena kak Yoon Seon termasuk orang yang sungguh nekat. Aku tidak mampu menahan semuanya, dialah orang yang bisa membunuh siapa saja.
Akankah aku membuka mata ini? Aku sangat takut, dan sedangkan aku masih tetap kaku di daun pintu ini, dengan mata tertutup. Aku harus kuat meihat ini semuanya! Kak Yoon Seon akan ku balas jika kenapa-kenapa dengan Dwi kali ini, lihat saja!
"Hah Dwi!" Mataku tercengah akan semuanya.
__ADS_1