
Hari-hari ku semakin terpuruk. Aku sudah tidak menginginkan nikmatnya hidup lagi. Semua kebahagian ku sudah terenggut dengan adanya pertunangan ini. Bahkan, setiap hari diantar jemput dengan kak Rahul aku sangat merasa risih. Semua sudah tahu bahwa aku sudah dilamar oleh seorang pria. Cacian yang ku terima semakin membuat ku tidak inginkan hidup lebih lama lagi.
"Aduh, mukanya polos tapi kok begini sih. Hamil duluan ya?" Cacian pertama dan paling menyakitkan terlontar begitu saja.
"Mau saja nikah di usia dini seperti ini,"
"Dan kepintarannya untuk apa? Kalau hanya jadi sampah masyarakat,"
Sebagian mereka tetap mencaci ku. Padahal, aku masih mampu untuk mempertahankannya di hari ke-2. Tapi, hari ini sindiran dan cacian itu semakin menjadi-jadi. Aku pun selalu menangis, mau itu di kelas bahkan sampai di kamar mandi pun. Menatap wajah yang salah ini di sebuah kaca, menjadikan diriku semakin tidak berguna lagi.
Kring...
Telfon yang membuyarkan semua isak tangis saat ini. Aku pun menjawabnya. Namun, apa?!
"Ra, kau jumpai aku di*** jika tidak kau akan sungguh merasa bersalah. Calon suami mu ada di tangan ku sekarang, jika kau tidak akan datang kau akan tahu apa yang ku perbuat padanya."
Tuttt..
Sambungan telfon mati begitu saja. Aku tidak percaya dia telah merencanakannya matang-matang. Ya, aku sadar seorang psikopat pastinya seperti itu. Merencanakan sesuatu dengan strategi yang bijak. Kini aku pun menuju tempat yang ia kirim setelah selesai menelfon ku.
Gelap!
Itulah yang menjadikan suasana semakin mencekam saja. Saat ini aku pun terus menelusuri tempat mencari kak Rahul. Kak Yoon Seon memang sudah gila. Dia tidak memakai akalnya lagi saat ini. Dan apa salah kak Rahul akannya? Ini sungguh membuat ku panik, bahkan jika kak Rahul tersakiti aku tidak akan maafkan seorang yang sangat kejam ini.
Di ruangan yang pengap, dan gelap. Ya, di ujung sana ada seorang pria memakai pakaian serba hitam. Hanya terdapat satu lampu saja di sana. Menjadikan degup jantung ini semakin saja kuat. Aku pun mengeluarkan suara, walau masih dalam ambang ketakutan.
"Aku sudah di sini. Mana kak Rahul?"
Ia pun berbalik. Dan yang membuat ku tercengah, di sana sudah ada darah yang tercecer, tetapi kak Rahul tiada di sana. Aku pun menarik kerah baju psikopat itu, dan melontarkan kekesalan yang sangat berarti saat ini.
"Kenapa dengannya? Kau apakan kak Rahul?"
"Haha, aku sudah puas kali ini Ra. Walau dia melarikan diri."
"Kau gila ya!" Aku pun menamparnya, dan meninggalkan tempat untuk mencari keberadaan kak Rahul sendiri.
__ADS_1
Menulusuri jalanan yang gelap. Bahkan, aku tidak mengerti harus kemana mencarinya. Aku tidak mementingkan keselamatan lagi yang terpenting kak Rahul aku temukan. Dan ku tahu dia akan selamat. Rasa yang kehilangan ini membawa diriku semakin lemah saja. Ya, khawatir yang berlebihan dan entah ingin menuju kemana adanya membuat diriku semakin lemah, bahkan tak dapat begerak kembali.
Aku pun terduduk di trotoar, dan kali ini mengharap kak Rahul ada dihadapan ku. Tiba-tiba, dan tidak disangka-sangka.
"Ra, ngapain kau di sini?" Pertanyaan terlontar oleh suara seorang lelaki yang sangat ku kenal kali ini.
"Dwi?" Aku pun menatap wajahnya dengan lekat.
"Ayo bangkit!" Ujarnya.
"Aku tidak dapat bangkit lagi," Tetap terduduk lemah di atas trotoar. Ia pun membungkukan badannya.
"Yuk naik! Biar ku gendong." Apa-apaan ini dia sungguh perhatian akan diriku?
"Hmm... Baiklah,"
Malam itu, dengan perjalanan yang cukup jauh dia menggendong ku lagi. Dan tak dapat ku bayangkan walau hari ini aku sudah penat mencari kak Rahul. Tapi, tidak seperti Dwi yang rela menggendong ku sampai di rumah. Aku tidak menyangka, dia kembali berbaik hati. Padahal, mereka sudah tidak ingin menatap wajah ku saat di kelas. Tapi nyatanya semua itu hanya perasaan ku saja.
Sesampainya di rumah ku. Ia pun menurunkan ku dari gendongannya, dan memberi isyarat yang aku tahu maksudnya. Ya, ia penat menggendong ku dari jalanan yang sangat jauh sampai di rumah. Aku sudah mengerti, dari awal pun aku sudah memikirkannya. Namun, dia tidak bilang seperti itu. Setelah ia mengantar lansung pamit untuk pulang. Dikarenkan itu sudah sangat malam. Kasihan bukan?
🍁🍁🍁
Aku pun membuang begitu saja tas sekolah, dan lansung duduk di sisi kak Rahul. Menatap lekat luka besar, dan bahkan sangat kasihan akan dirinya. Dan pertanyaan ini selalu saja menghantui ku. Mengapa kak Yoon Seon sungguh tega? Apakah ini sikap sesungguhnya seorang Psikopat? Dan mengapa Dwi tidak? Apakah Dwi tampak perhatian hanya pada ku saja tidak untuk yang lain? Jika itu benar maka, apa yang telah mempengaruhinya. Sama dengan kak Yoon Seon juga, ia tidak ingin aku celaka, walau yang saat itu pernah sekali. Namun, saat ini sudah sangat sering aku membuat kesal ia pun tak menyakiti ku.
Setelah selesai sholat isya'. Aku seperti biasanya belajar di kamar. Apa lagi besok guru memberikan ulangan mingguan, haruslah lebih untuk belajar malam ini. Kak Rahul pun masuk ke kamar, dengan luka besar tadi yang telah terperban. Ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang ku.
"Ra, bagaimanan menurut mu, kita akan dapat meraih cita-cita kelak?" Pertanyaannya lansung menusuk batin ku.
"Tidak akan mungkin kak," Aku pun berkata sebenarnya untuk kali ini namun tidak dapat berkutip lebih detail.
"Tapi, Ra kakak janji. Kakak akan selalu menjaga Zahra layaknya adik sendiri. Kakak tidak mau Zahra sakit, dan Zahra bisa menitih karier di masa depan. Kakak tidak akan melarang Zahra mau apa,"
"Sudah kak. Zahra tidak inginkan lagi. Zahra sudah tidak mau." Ucapan kepasrahan.
"Hmm..."
__ADS_1
Hening sekejap diantara kami. Dan akhirnya aku pun merebahkan tubuh bersamanya. Menatap langit-langit kamar. Ya, aku seperti itu, setiap setelah selesai belajar pastinya merebahkan tubuh ini. Seketika kak Rahul pun bicara kembali.
"Ra, kau tidak terima dengan perjodohan ini bukan? Apa kau ada yang lain. Maaf lancang."
"Ti... Tidak ada," Aku menatapnya lekat.
"Kenapa kau tidak inginkan jika ini lebih awal? Bukannya sudah kakak bilang kau akan bisa untuk menggapai cita-cita mu, tanpa kakak larang. Terus... Apa yang kau fikirkan lagi Ra,"
"Dwi," Ujar ku tak sadarkan diri.
"HAH!?"
"Ups... Aku lupa kakak kalau kami ada kerja kelompok dengan Dwi. Besok dikumpul." Aku pun dengan cekatan meninggalkan daerah kamar, dan duduk melamun di dapur.
Memakan cemilan yang berada di kulkas, dengan segelas susu putih sebagai temannya. Kali ini aku sudah tidak dapat beranggapan lagi, bahwa janji kakak Rahul nantinya benar. Dan aku sudah yakin bahwa setelah tamat, menikah, dan punya anak. Aku tidak inginkan secepat itu. Bahkan umur ku masih belia sangat.
Sungguh setiap aku memikirkan ke depan, pandangan ku hanya satu yaitu kegelapan akan pendidikan. Tidak sesuai dengan harapan ku yang menginginkan mendapatkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, bahkan beranggapan bisa sampai Prof. Saat ini harapan itu sudah berubah sangat hitam, dan tidak dapat lagi sebuah kertas yang tadinya penuh dengan tulisan yang penuh makna, kini harus tertumpah oleh cat hitam di seluruhnya.
🍁🍁🍁
Permandangan yang indah. Banyaknya angin sepoi-sepoi mengibaskan hijab ini. Sekiranya aku jadi tampak rileks saat ini. Tiada lagi memikirkan ke depan, bagaimana dengan hidup ku. Kini aku tampak lebih menikmati indahnya ciptaan Allah, dan meluasakan pandangan ku untuk lebih kepada kenyataan.
Di sisi ku ada seorang pria yang tidak tampak jelas dipandangan, kabur dan berbayang. Aku pun menyenderkan kepala ku di pundaknya. Tapi, terasa kami sangatlah jauh dan tidak bisa untuk bersama lagi. Padahal ia di sisi ku, namun aku entah mengapa beranggapan seperti itu. Ia pun menyodorkan bunga mawar yang berwarna hitam pekat.
"Jika kau rindu akan diriku. Kau lihat bunga ini, kau akan menyadarinya." Ia pun meninggalkan tempat begitu saja tanpa ada rasa iba untuk meninggalkan seorang wanita sendirian.
Sontak!
Aku pun terbangun. Ya, kini aku masih di dapur. Dan, sudah ku sadari memang sedari tadi aku sudah terlelap cukup lama. Ku lihat jam, masih menujukan pukul 01:00. Aku pun segera ke kamar mandi mengambil whudu dan sholat tahajud. Namun, ada yang membuat aku tidak khusuk dengan sholat malam yang sudah jelas termasuk sunnah mua'kad. Iman ku goyah, akan adanya gangguan syetan saat sholat tahajud.
Teman penyebabnya! Ya, mereka banyak berhalusinasi tentang kuntilanak yang akan menjumpai. Dan itu masih saja terbayangkan oleh ku, walau itu sudah cukup lama. Waktu SMP yang penuh dengan teka-teki saja.
Seperti langkah kaki mendekat. Jantung ku mulai berdetak semakin hebatnya. Kini aku sungguh sangat takut. Mungkin, jika benar saja aku akan pingsan di tempat. Dan semakin saja menjadikan ku gemetar. Bahkan, entah ayat-ayat apa saja yang ku baca saat ini. Tidak beraturan, dan kurang jelas. Keringat dingin menahankannya, begitu pula ingin membuang air kecil.
Krekk... Pintu pun terbuka pelan. Jantung ku mulai berdetak tidak karuan. Dan ada yang memukul pundak ku. Sontak!
__ADS_1
"AAAA!!!"Aku pun menjerit dengan hebatnya.