
Deg...
"Apa yang kau katakan?"
"Aku tahu sangat, ya kau mencintai Dwi bukan? Ya, aku sadar aku hanyalah kau anggap sahabat. Tidak untuk seorang Dwi yang kau anggap lebih Ra. Di sini aku akan selalu berharap kau bisa peka terhadap ku. Tapi nyatanya tidak."
"K... Kau Jangan A... Asal Bi.. Bicara Tae!" Aku pun seketika gemetar.
"Aku tak asal bicara. Inilah kenyataannya. Dan aku ingin jujur sebenarnya Dwi juga mencintai mu. Ia tidak ingin meninggalkan mu. Walau dia bersikap sangat dingin, dan sempat memutuskan harapan mu. Aku yakin kalian punya rasa mencintai satu sama lain."
"Kau hanya berkata dusta,"
"Tidak Ra. Inilah kenyataannya."
Tiba-tiba...
"TAESOONN!!!" Sontak, panggilan itu!
🍁🍁🍁
Dwi sudah ada di bawah. Memanggil nama Taesoon. Mungkin, mereka ada janjian untuk bertemu di rumah pohon ini. Taesoon segera menyuruh ku untuk bersembunyi di sekatan antara ruang pertemanan dan ruang untuk sholat. Di dalam rumah pohon yang sederhana itu, ada dua ruang yang disekat dengan papan. Ya, ruang pertemanan di sekelilingnya ada rak-rak yang di susun dengan buku-buku novel bahkan sampai buku pelajaran. Dan di ruang sholat tertempel di dindingnya foto kami, di bagian belakang kiblat. Tidak besar namun cukup untuk mengenang nantinya.
Aku pun terduduk di ruang sholat itu, dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Awalnya, mereka saling membahas tentang sekolah, dan bahkan mengapa Dwi tidak terlalu dekat lagi kali ini dengan kami. Ya, saat inilah semua terbongkar, dan semua pertanyaan ku terjawab oleh mulutnya sendiri.
"Aku tidak ingin Zahra bersama yang lain. Sudah pernah ku nyatakan pada mu bukan? Aku sangat mencintainya. Namun, inilah diriku terlalu posesif. Aku sangat cinta dengannya, bahkan rasa saat ini yang sering sekali aku sakit ku musnahkan begitu saja. Aku ingin melindungi dia selalu Tae," Suaranya terhenti oleh tangisan yang mendalam. Dan baru pertama sekali dia menangis karena ku.
"Wi, aku tahu kau cemburuan. Ya, wajar kau marah dengannya. Tapi, tolong jangan sesekali menyakitinya dengan emosi yang naik itu Wi," Nasihat Taesoon akannya.
"Bagaimana? Aku tidak dapat mengontrol semua Tae." Tangisannya semakin tersedu-sedu.
"Sudahlah,"
Azan magrib pun berkumandang. Kali ini aku tetap terpaku dengan ucapannya saat tadi. Dan benarkah itu keluar begitu saja dari mulutnya. Atau itu seorang lelaki yang mempunyai suara percis seperti Dwi. Dan mungkin saja Taesoon membayar orang itu untuk menyatakan kepalsuan.
"Ra, ngapain kau duduk melamun di sini?"
"Hah, Dwi?" Mata ku lansung terbelalak melihatnya bahkan tidak dapat berkutip apa pun.
__ADS_1
"Hmm... Sudah ayo kita sholat!" Ajaknya.
"Ehmm... Aku tidak lagi sholat. Aduh, maksudnya lagi tidak bisa shalat."
"Oh, ya. Ya udah aku shalat dulu ya. Nanti kita pulang bareng."
Apa? Dia sangat berubah kali ini. Sikap dingin itu tiada lagi? Kemana perginya. Dasar aneh! Aku pun menuju kedepan duduk menatap langit bersama Taesoon saat ini. Ia menyenderkan kepalanya di pundak ku. Dan mata sayup itu akhirnya tertutup. Ya, aku tahu dia sudah sangat mengantuk saat ini. Apakah benar kami menginap? Ya tidak mungkin sekali.
Dwi tiba-tiba memukul bahu ku pelan. Dan sehingga aku bergeser sedikit. Dengan sengajanya, sontak membuat Taesoon terbangun. Ia mengejutkan Taesoon, dengan berteriak layaknya warga yang menjadi korban kebakaran saja. Dan kemuadian mereka berantam kembali, seperti Tom and Jerry saja. Hmm....
Kami pun kembali ke rumah selesai Isya'. Dan kini mereka mengantar ku sampai di rumah. Bertemu dengan bunda lagi. Mereka dengan sungkan menyalim, dan kali ini sama tetap bunda senyum tulus. Ya, inilah yang telah lama ku inginkan agar tetap senyum kepada teman-teman ku.
Aku pun mengantar mereka sampai di pagar rumah. Ya, kita harus mengantar tamu pulang, itu adalah sunah dalam menerima tamu. Kini mereka pun pulang, dengan basa-basi sedikit yang membuat ku terkikih kecil.
"Jangan tidur malam-malam! Nanti Dwi khawatir loh," Seloroh Tae, dan dibalas dengan senggolan kecil dengan lengan Dwi akan bahunya.
"Apa sih," Ujarnya sangat jutek.
Mereka memang seperti itu agaknya sangat menyenangkan. Yang satu sangat dingin, dan yang satu lebih aktif dan menjadikan suasana tidak ada garing sama sekali, walau harus mendengar mereka saling bertikai antara pendapat satu dengan yang lain. Setiap hari harus seperti ini, menghadapi bocah-bocah yang terobsesi dengan argumentnya masing-masing. Haha...
🍁🍁🍁
Sekatika sontak bunda memulai percakapan yang bagi ku sungguh dalam hal keseriusan. Ya, tentang perjodohan ku dan kak Rahul.
"Ra, besok kau dan Rahul akan melaksanakan pertunangan. Jum'at bukannya jam pulang sekolah cepat bukan?" Maksud bunda sangat membawa ku pada hayalan yang berujung maut saja.
"T... Tunangan?"
"Iya, kami telah membicarakan matang-matang dengan paman dan bibi. Bagaimana menurut kalian?" Aku pun menatap tajam kak Rahul yang sedari tadi menunduk lemas.
"Bukannya kami harus menitih karier dulu bun, kamikan masih ingin menggapai cita-cita."
"Ini sudah kehendak antar keluarga masing-masing."
"Hmm... Ya bun," Aku pun merunduk ke bawah. Dan tidak dapat berkutip apa pun.
"Ya, undang teman mu juga si Taesoon dan Dwi itu ya!" Mulut bunda tidak bergetar untuk menyatakannya.
__ADS_1
"Hmm..."
Aku sudah sangat penat dengan beralasan lagi. Kini ku terima dengan lapang dada. Ya, ini mungkin sudah takdir ku untuk dijodohkan, bahkan aku sudah tidak ingin marah akan kenyataan ini semua. Dan hari esok aku akan mengabulkan semuanya, ya mengundang datang para sahabat ku untuk datang ke hari pertunangan ku dengan kak tersayang yang ku harap itu hanya sebatas adik dan kakak saja.
Pagi pun datang. Serasa aku tidak ingin berjumpa nantinya di dalam kelas dengan mereka. Aku tidak ingin menjadikan mereka terkejut akan diriku yang akan dilamar hari ini. Ya, aku masih seorang remaja umur 17 tahun. Masa remaja ini harus tidak berfokus untuk menikah, sebenarnya aku harus memikirkan matang-matang tentang harapan ku ke depan ingin berkuliah kemana. Namun, nyatanya orang tua inginkan aku nikah di usia dini.
Selangkah aku memasuki koridor, seketika sontak membuat ku kaget. Mereka merangkul ku, dan menanyakan kabar ku. Aku di situ jadinya sangat gugup untuk mengundang mereka. Rasa malu akan mereka yang masih ingin menitih karier. Sementara diriku, hari ini akan bertunangan. Ini tidak adil!
"Teman-teman. Maaf jikalau suatu hari nanti aku tidak dapat menitih harapan yang telah kita taruh di kertas yang tertanam itu bersama kalian. Dan maaf jikalau aku setelah tamat akan menikah," Aku pun mulai mengalirkan air mata.
"Maksud mu Ra? Bukannya, kau yang menyatakan bahwa kita akan menitih harapan itu bersama. Dan akan berjumpa di suatu hari nanti dengan kepastian yang hakiki. Ya, kita kan menjadi orang sukses Ra!" Semangat Dwi yang masih membara.
"Ya, tapi kali ini harapan ku sudah pupus," Aliran air mata ini tidak dapat terhentikan lagi.
"Mengapa kau jadi begini?" Tanya Dwi penasaran.
"Aku akan tunangan setelah selesai shalat jum'at, dan kali ini aku mengundang kalian akan datang." Mata mereka sontak terbelalak menatap ku.
"Kau benar saja Ra?"
"Hmm..."
Aku pun menceritakan mengapa ini bisa ku terima. Ya, sebenarnya aku tidak menginginkan ini. Target nikah ku pada umur 30 tahun. Namun, takdir berkehendak lain. Di usia ku yang masih 17 tahun ini, aku sudah memikirkan rancangan pernikahan nantinya. Aku tidak menyukai ini, tetapi tidak mungkin aku tetapkan ego ku. Karena apa yang telah menjadi ketetapan orang tua itulah yang terbaik agaknya di hari kemudian.
🍁🍁🍁
Selesai shalat jum'at di sana aku pun sudah dipakaikan baju serba putih kali ini akankah teman-teman ku datang? Itu tidak mungkin! Di depan sudah terlihat kak Rahul, yang berpenampilan formal dan ketampanannya semakin terpancar bagai seorang pangeran saja. Tetapi, tangisan ini tak henti-hentinya terus saja mengalir.
Aku pun keluar. Menjumpai calon suami ku kelak. Ku lihat sudah banyak orang di ruang tamu. Ya, keluarga ku diantaranya sahabat ku ada di situ juga. Dengan tatapan yang penuh kearah ku. Kali ini membuat ku semakin saja gelisah, bahkan aku sudah mengerti aku tak akan dapat menerima semua ini. Namun, waktu menjawabnya dengan sangat sadis. Cincin itu sudah melingkar di jari ku. Ya, ibunya sendiri yang melingkarkan cincin permata itu kepada jari manis ku.
Akhirnya acara selesai dengan sangat lancar, namun aku tidak dapat menerimanya dengan hati yang bersih. Aku sudah sangat tidak menyukai hari ini. Saat ini, ingin saja aku buang cincin permata itu. Namun, aku pun tidak dapat menolak takdir yang berlalu ini.
Kali ini aku pun menjumpai para sahabat yang selalu merespon harapan ku untuk mendapatkan apa yang ku mau. Ya, semangat mereka itulah yang menjadikan ku terus bangkit, walau celoteh yang selama ini menjadikan ku kembali terpuruk lagi, dan tak dapat bersemangat layaknya dulu bersama sahabat ku. Kali ini bagi ku semua harapan ku musnah. Dari kuliah ke London bersama Dwi, dan target nikah pada umur 30 tahun itu sudah tiada lagi dipandangan ku. Selesai dari SMA ini aku akan nikah, bukan dengan orang yang ku cinta namun kakak sepupu ku sendiri.
"Mengapa kau tidak menolak? Bahkan kau hancurkan masa depan mu. Kan jadinya kau seperti ini," Celoteh Dwi akan diriku.
"Mianhae Teman-teman," Aku pun terisak.
__ADS_1
"Sudahlah, lupakan saja! Dan selamat kau telah memilih yang terbaik."
Hati ku kini kembali sakit. Dia kembali dingin bahkan agaknya dia tidak akan peduli dalam hal ini. Ia tidak memberikan saran malahan semakin membuat ku pasrah akan semua. Rasanya, dia telah membuat ku semakin terpuruk, bahkan jika aku tiada iman untuk saat ini lagi. Aku akan bunuh diri!