
Hari ini mereka para sahabat yang setia menunggu kedatangan ku kini telah malas menegur ku pagi-pagi, bahkan menatap wajah ini saja mereka ogah. Sedangkan aku hanya dapat menayakan dalam benak, dan menjawab sendiri.
Apakah ini adil? Aku hanyalah orang yang tidak mengerti apa yang di benaknya. Mau ia sudah sadar atas kelakuannya atau tidak itu terserah dirinya. Tetapi kita haruslah berhunuzdhan kepada orang yang salah, walau dia banyak salahnya. Mana tahu dia benar-benar istikomah saat ini, atau lebih tepatnya menyadarinya dan mengubah menjadi lebih baik di kemudian hari kelak.
Aku tetapkan jika dalam hal ini, ya sebenarnya tidak karuan tetapi aku akan tetapkan sekarang bahwa hal ini yang bersalah sikap kehati-hatiannya Dwi saja. Buktinya, Heonri selalu menyemangati ku untuk kali ini, tanpa rasa bosan diriku yang masih kekanak-kanakan ini.
🍁🍁🍁
Dan sekarang akhirnya aku pulang dengan Heonri, ia mengantar ku pulang dengan mobil mewahnya itu. Bagi ku ia memang sudah melupakan masa kelamnya. Tiba-tiba saja aku di bawa entah kemana dengannya. Aku bertanya, sangat risau akan semuanya. Namun jawaban dari dirinya hanya senyum yang jahat itu.
Ia kembali seperti Heonri yang dulu, aku mengira ini tidak akan kembali, tetapi ia telah mengkhianati ku. Aku pun berusaha dengan keras membuka pintu mobil yang sudah terkunci, bahkan sampai aku didiamin saja dengannya, ia tetap mengemudikan mobil di atas rata-rata. Aku tetap berteriak walau tidak terdengar sampai di luar sana.
Sampailah di rumah yang aneh menurut ku. Dengan daerah luar yang berantakan banyak barang-barang seperti bangku rusak berserakan, daun-daun kering yang bertaburan, bahkan rerumputan kering yang menjadi sampah ancaman. Rumah itu tampak sangat menyeramkan, kini aku selalu diambang ketakutan saja. Ia mengunci tangan ku, dan membawa ku ke dalam rumah tersebut, dengan menutup mulut ku dengan kain. Aku tidak dapat bergerak, dan hanya dapat menangis tanpa suara, sehingga air mata ini berderai di pipi sangat derasnya.
Sampailah di suatu ruangan yang gelap, tetapi di ujung sana ada lampu yang menerangi seorang pria bertubuh tegap, dan wajahnya di tutupi hodi hitam. Ia sepertinya menunggu kedatangan kami. Aku sudah entah memikirkan kemana-mana, dan mungkin ini akhir dari hidup ku. Ternyata Heonri masih saja tidak berubah, aku tak akan maafkannya lagi karena aku sungguh takut saat ini.
"Bos, ini anaknya," Ujar Heonri, sudah menyelesaikan tugasnya.
"Bagus sekali!" Wajah lelaki itu masih tersamarkan, dan tidak jelas hanya rambutnya yang terlihat, penutup kepalanya masih dikenakan, dan ia tertuduk sambil tertawa kejam.
"Bagaimana rencana ku berhasil bukan?"
"Ya," Hah dia ternyata kak Yoon Seon.
"Ikat tangannya dan dudukan dia di kursi situ!" Memerintahkan Heonri.
"Baik bos." Bersikap hormat.
Setelah Heonri mengerjakan perintah dari lelaki haus darah itu, ia membuka penutup mulut ku sehingga suara nyaring tangisan ini terdengar sangat keras di ruangan itu.
"Shtt... Tenang sayang, kau bersama ku," Ujarnya menjijikan sekali.
"LEPASKAN GAK?!!" Perintah ku tegas, dengan tangisan tersedu-sedu.
"Tidak mau! Aku sudah lama menantikan dirimu, dan tidak bersikap kasar tetapi apa? Kau malah menolak ku mentah-mentah. Saat ini kau bisa saja habis di tangan ku. Aku sudah muak dengan ini semua, dan hari ini aku akan bersenang-senang, menikmati darah merah yang segar."
Wajahnya semakin tampak sangat kejam. Ia memegang pisau silet saat ini, dan semakin dekat saja di punggung tangan ku, namun...
KDRAKK...
Pintu itu terbuka dengan hantaman yang keras.
"JANGAN KAU DEKATI ZAHRAA!!!" Teriak Dwi.
Apa yang dia lakukan di sini. Dan sementara aku saja sudah tidak peduli dengannya. Dia menjadi orang pertama tau akan tempat persembunyian kerja sama antara kak Yoon Seon dan Heonri ini. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Tak lupa digenggamannya ada pisau buah itu. Namun ia tidak menggunakannya, dilemparkan ke tanah pisau itu dan menghantam keras pipi tirus kak Yoon Seon, sehingga timbul bercak darah di sisi bibirnya.
Tidak mau kalah kak Yoon Seon pun membalasnya, namun dengan skill yang sangat takjub itu, akhirnya dia dapat menangkis balasan tonjokan itu. Aku hanya dapat membuka mulut lebar-lebar dan terpaku di bangku itu. Dan akhirnya inilah yang aku tunggu, kak Yoon Seon terkunci oleh Dwi dan kali ini ia tidak dapat berbuat apa-apa kembali, bahkan bergerak saja sangatlah susah.
"Sruutt..." Pisau yang sangat tajam menusuk dirinya dari bagian belakang. Mata ku terbelalak.
"HAAA!!! DWIII!!!" Aku menjerit dan meronta-ronta, agar dapat terlepaskan, dan membawa cepat Dwi ke rumah sakit mana pun. Sehingga air mata ini teruraikan di pipiku ini.
🍁🍁🍁
"Zahra kenapa dengan mu?" Tanya Heonri pada ku.
__ADS_1
"JANGAN DEKATI AKU!!!"
"Kau mimpi ya?"
"Ha?"
Beberapa menit aku memikirkan kejadian saat tadi...
"Aku mau turun di sini Heonri,"
"Tidak apa aku akan mengantar mu sampai di rumah,"
"TURUNKAN GAK!!!" Ketus ku perintahkan.
"Ok," Dia pun menurunkan ku, yang masih jauh dari daerah rumah ku.
"Memang tidak mau Ra, aku antar loh?"
"Tidak! Makasih." Aku pun meninggalkan tempat.
Mungkin ini memang bunga tidur yang buruk sekali, tapi seperti nyata kejadiannya. Aku pun berjalan sambil memikirkan mimpi buruk itu, dan tanpa disadari kaki ku sudah masuk dalam gerigi selokan yang terbuat dari besi itu. Susah untuk melepaskannya, dan akhirnya bisa juga. Makhlum lama melepaskannya dikarenakan tiada satu pun orang di sana. Aku pun tertitih-titih berjalan dengan memegangi kaki yang tergores sedikit akibat besi berkarat itu.
Sesampainya di rumah, sudah entah berapa kali aku mengetuk pintu rumah dan tiada yang menjawab. Entah kemana bunda, pastinya ia pergi ke pasar mungkin atau ke kedai membeli secukupnya persiapan nanti malam. Seorang lelaki datang saat waktu-waktu azan segera berkumandang. Mata ku terbelalak, kini ia datang.
"Ra, ngapain kamu di sini mana bunda mu?" Tanyanya.
"Tidak tau, aku tadinya baru pulang sekolah. Tidak lihat apa?" Ujar ku ketus.
"Ok, pegangin koper kakak dulu!"
"Wah, kakak dikasih kunci ma bunda, sedangkan aku tidak. Anak bunda aku atau kakak sih!" Kekesalan ku akannya.
"Jadi kau dari tadi di depan sana?"
"Iya," Diikuti anggukan.
Setelah terbuka lebar pintu rumah aku pun dengan cekatan mengambil handuk, dan menghempaskan begitu saja tas yang berat sekali itu. Aku tak mau kak Rahul duluan yang masuk, sebab aku ingin membersihkan tubuh ini terlebih dahulu, dan setelah itu sholat Magrib.
"Ra, kok duluan sih!" Ia sangat kesal, sampai mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi berkali-kali.
"Sabar dong kak!" Ujar ku santai.
"Cepatan dong dek, udah mau magrib kakak mau pergi ke masjid!"
"Sudah ku bilang sabar kak," Ia pun dengan sangat sabar menunggu ku.
ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR...
"Dek, udah..."
"Apa?"Aku pun keluar dengan memegang handuk, dan berbagai alat mandi ku sendiri.
"Sudah awas! Kakak mau mandi,"
Seperti itulah kami. Apalagi kalau pagi bertekak saja, sampai telinga bunda panas mendengar celoteh yang satu, nanti habis itu yang satu lagi, gak pernah akur satu sama lain. Tetapi, kami tidak dapat dipisahkan. Jika ada salah satu yang meninggalkan, maka saling cari satu sama lain, dan dalam satu hari dari antara kami harus menampakan diri walau dari video call.
__ADS_1
"Sudah siap sholat kak?"
"Alhamduliilah,"
"Kenapa kau pucat sekali Ra, sakit ya?" Perhatiannya.
"Gak tau, iya sih agak gak enakan badan aku nih, dan serasa dingin sekali,"
"Mana? Ya Allah, panas kali dek!" Tersontak kaget.
"Ini luka apa?" Ia penasaran luka yang saat tadi terkena gerigi selokan yang karatan.
"Tadi terkena gerigi selokan kak,"
"Pasti karatan kan?"
"Ya,"
"Sudah-sudah. Yuk istirahat di kamar, nanti kakak kompres agar tidak panas lagi,"
"Baik kak." Ujar ku lemah.
Dia pun menggendong ku, karena aku sudah tidak mampu menyeimbangkan tubuh ini dengan sendiri. Dan ia pun membaringkan perlahan, dan menutup tubuh ini dengan beberapa lapis selimut. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan seember air, dan handuk kecil. Ia mengkompres dengan tatapan penuh perhatian. Sehingga aku nyaman berada didekatnya.
Tertidur dan istirahat akan semua gangguan mau itu chat atau bujukan kak Rahul untuk lasak kini tiada untuk malam ini. Dan lebih tepatnya, aku tidur tepat pukul 20:00 setelah sholat Isya dan diberi suapan nasi oleh kak Rahul. Aku tertidur cukup pulas, dan terbangun pada pukul 03:00, aku inginkan sholat tahajud malam ini.
Aku pun menuju ke kamar mandi, seperti biasa untuk mengambil whudu terlebih dahulu.
Serrr...
Di balik pintu sana seperti ada seseorang saja, aku pun melihat di sekeliling tiada orang sama sekali. Aku kembali mengambil air dari gayung itu, kembali seperti ada orang yang berlalu di balik pintu. Aku coba mengintip sekali lagi tiada orang sama sekali, dan kini ku abaikan saja paling hanya halusinasi ku tentang film horor yang sering ku lihat bersama kak Rahul.
Setelah selesai mengambil whudu aku pun keluar dengan langkah yang pasti,
"AAAA!!! HANTU..." Aku berlari terbirit-birit mengunci kamar ku. Dan seakan jantung ini berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
"Ra, ini bunda Ra," Ia mengetuk pintu ku dengan kerasnya.
"Aku masih tidak percaya, dan kembali ku tutup tubuh ini dengan selimut agar dia jauh dari fikiran ku selama ini.
🍁🍁🍁
Pagi yang cerah dan kini aku sudah enakan dan menujulah aku ke dapur. Ku lihat bunda sedang asik menyiapkan makanan untuk pagi ini. Ya, seperti biasa bunda tidak akan memasak nasi goreng, dikarenakan pagi itu hanya untuk nasi putih saja, kalau tidak akan masuk angin nantinya. Ia menyiapkan makanan yang sungguh nikmat walau sesederhana ini. Dengan lahap kami habiskan makanan itu, sampai kak Rahul sudah tak sanggup untuk menambah kesekian kalinya. Ya, masih dalam masa pengenalan makanan kembali, setelah Idul Fitri terlewatkan di rumah nenek.
Sebelumnya bunda bercerita saat sekitar jam 03:00 tadi malam dengan logat yang terkesan sangat lucu bagi mereka, melainkan diriku yang hanya terpaku dan menatap sinis ketika mereka tertawa. Ya, mereka menceritakan diriku yang saat tadi malam takut akan bunda sendiri. Saat itu bunda memakai masker jadinya terkesan sangat menyeramkan bagi ku. Mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan kak Rahul sampai jatuh tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya akibat teramat lucu bagi mereka. Pipi ku lansung merah merona, dan hanya dapat tertunduk malu.
"Makannya Ra, kalau ke bioskop itu jangan ajak kakak nonton horor. Bukan kakak yang takut kamu kan?" Ia tetap merontah-rontah.
"DIAMLAH, BERISIK!!!" Ujar ku sangat ketus.
"Sudah-sudah, bunda udah penat lihat kalian bertengkar saja. Sudah sana pergi!" Perintah bunda.
"Baik bun." Kami laksanakan dengan baik, dan tidak lupa pula pamit.
Seperti biasanya kak Rahul mengantar ku terlebih dahulu. Kali ini ia masih aneh dengan suhu tubuh ku yang mendadak turun sangat drastis, padahal saat tadi malam panas sekali kini sudah pulih total. Ya, ku jawab dengan santai dikarenakan aku sudah mengerti bahwa 'Keterkejutan ku saat tadi malam membawa dada sesak, dan jantung berdebar sangat cepat. Kali ini pun keringat bercucuran, sebab Allah sangat sayang pada hambanya'
__ADS_1
"Masyaallah!" Kagum atas kata-kata mutiara yang ku copas dari google saat detik-detik ia berceloteh panjang.
HAHAHA...