
Guru lansung menstabilkan keadaan. Ku akui hari ini menjadi saksi bahwa aku juga bisa kasar, meski ada guru di depan melihat. Aku tidak mau ini semua terjadi akibat fitnah yang bersangatan. Pastinya, memengaruhi fikiran setiap yang mendengarnya. Jika ini menjadikan seorang tercela, aku akan tak maafkan lisan yang buruk itu.
Kami pun masuk ke kantor guru, akibat peristiwa tadi. Bagiku ini salahnya, lebih banyak salah dia. Fitnah itu menyakiti semua orang. Apa! Jika dia difitnah bagaimana? Dasar pembawa kayu bakar! Sudah ku nyatakan jika seorang berbuat kasar pada ku aku akan lebih dari itu. Diselesaikan dengan minta maaf dari ku. Ya, ku akui saat itu aku bersalah juga, tetapi tak sudi aku meminta maaf pada seorang yang sukanya memfitnah.
🍁🍁🍁
Dwi pun menyatakan terima kasih itu. Aku bahkan tidak mengaharap kata-kata itu yang terpenting dia dapat terbebas dari perkataan sangat kasar ini. Ia kembali terseyum dan tidak menampilkan wajah yang masam itu. Sudah ku tebak, dia tak akan lama dalam hal ini. Tapi seorang Zahra tetap membiarkannya, dan bersikap dingin akannya. Sikap ini kembali lagi tanpa diminta, karena jika sudah dipancing umpan itu akan dilahap dan terperangkap akhirnya. Seperti sikap dingin ini yang telah terperangkap tanpa diminta.
Aku tak akan pulang dengannya kali ini. Tetapi apa? Mengapa suhu tubuhku sangat panas. Mungkin, sebab aku tidak menuruti ucapan bunda. Sebenarnya itulah sikap yang belum kalian tahu. Degil, akan semua yang dikatakan walau itu benar tapi ketika benak ini menyatakan tidak maka tidak akan. Saat itu Dwi membujuk ku, karena ia sudah tahu suhu tubuh yang panas ini. Tetap dengan penolakan mentah ku ajukan, Dwi hanya dapat terpaku dan menghela nafas panjang. Sekian, mata ku kunang-kunang dan saat itu aku tak sadarkan apa yang terjadi padaku.
Dimana? Aku seperti sudah Amnesia lupa akan keadaan kamarku. Oh, ternyata aku sudah di kamar. Tapi, siapa yang membawa ku? Tiba, bunda menghantarkan ember yang berisi air dan kain handuk. Agaknya, untuk menurunkan suhu tubuh ini.
"Bun! Siapa yang mengantar ku kemari? Saat tadi masih di sekolah, tiba sudah ada di sini?" Tanya ku ingin tahu.
"Oh itu, kak Rahul yang membawa mu sampai keranjang ini?" Hah kok dia?
"Sebelum kak Rahul, ada yang mengantar ku bun?" Tanya ku ingin tahu kepastian yang benar-benar pasti.
"Tidak ada, kak Rahul yang mengantar mu dari sekolah sampai di sini," Hah kok bisa kak Rahul sih?
"Kau saja baru nih sampai rumah. Bunda menelpon kakakmu untuk menjemput mu."
Jadi sampai larut aku di situ? Dwi tidak mengantar ku? Padahal, ketika mata ku kunang-kunang ia masih ada di belakang ku, tapi apa? Sungguh tega ia meninggalkan ku sendirian. Saat tadi ada mayat lagi, bagaimana dengan ku. Jika aku tiba-tiba saja siuman saat di sana, sendiri dan gelap, mungkin? Aku akan pingsan untuk kedua kalinya. Tak dapat terbayangkan oleh ku.
🍁🍁🍁
__ADS_1
"Kau ya, Wi tak ada rasa iba!" Ujar ku kesal padanya.
"Apaan sih Ra! Kenapa?" Tanya polosnya.
"Aku pingsan kok gak kau..." Aku memikirkan apa saat ini, terserahnya bukan? Sudah lupakan. Aku bukannya ingin lebih dingin kali ini.
"Kau pingsan!? Kapan?" Ia membalikan tubuhku.
"Sudah lupakan!" Aku kalah malu.
Beberapa menit teruraikan,
"Aku tidak akan membiarkan kau sendiri Ra," Ujarnya pelan.
"Apa!" Pernyataan itu mengejutkan ku.
Apa yang dikatakan ia benar? Tapi kemarin mengapa seperti ini, aku pulang bersama dengan kak Rahul. Mengapa dia agaknya seperti ini. Apa benar perhatiannya ada, tapi mana? Sungguh tak mungkin kali ini. Aku yakin kemarin aku ditinggal olehnya dan sampai malam hari barulah kak Rahul datang menjemput. Hanya alasannya saja. Ia bukannya cuek, dan tidak ada rasa iba yang berarti?
Ku akui ini percuma saja ku sampaikan. Ia tidak akan tahu, bahwa aku sampai malam di sini. Dan satu lagi aku sangat takut gelap. Apalagi, kemarin ada mayat di lantai 3 itu menjadi mencekam saja! Jika ku siuman saat itu, aku tak bisa bayangkan bagaimana diriku malam yang gelap tanpa lampu di lorong terakhir kali lalui. Seram!
Setega itu Dwi kepada ku. Sampai larut aku berada di situ, tak ku maafkan dirinya yang telah menelantarkan ku di malam yang gelap dan mencekam kemarin! Apa salahnya dia mengantar ku pulang? Salahkah! Sudahlah, ini kejadian yang terlewatkan. Yang terpenting aku dapat menikmati hari ini kembali tanpa ada yang menghalangi.
🍁🍁🍁
Malam ini sungguh dingin, karena ini awal dari musim dingin kembali datang, dan menghapuskan kenangan bersama gugur yang indah. Aku tak suka dengan malam yang begitu dingin ini. Lagian, salju pun mulai turun sedikit demi sedikit. Ku pakai sweater harap-harap dapat menghangatkan tubuh ini.
__ADS_1
Dinginnya malam di musim ini. Ku tahu awal yang menyesatkan. Bunda, menyuruh ku untuk membeli bahan makanan pokok malam ini. Karena, sudah tidak tersisa lagi di dalam lemari es, untuk sebulan kedepan. Sudah ku bantah, kalau malam ini aku malas bergerak, lagi pula suhunya di atas rata-rata. Bunda memaksa dan tanpa banyak waktu terbuang, akhirnya aku menuruti kemauannya. Aku takutkan ia akan meledak-ledak. Dengan terpaksa aku pun pergi meninggalkan rumah yang hangat dan nyaman kali ini.
Aku telusuri jalan yang sepi ini. Grasak.... Grusuk.... Di semak-semak itu seperti ada sesuatu menakutkan. Tiba-tiba saja, tidak! Tas ku sudah dirampas oleh pencopet musim dingin. Apa yang harus ku lakukan, sementara aku sudah menggigil saat ini menahan dinginya malam. Ku coba mengejar namun apalah daya seorang wanita yang lemah ini. Aku terduduk di sisi trotoar jalan, harap-harap mendapatkan dompet itu kembali. Tanpa disengaja, apa ini? Dompet itu kembali! Mataku langsung membesar dan bercahaya kembali kali ini.
"Terima ka..." Apa ini? Dia meyelamatkan dompet ku.
"Kak Yoon Seon!" Aku terkejut.
"Kenapa kau di sini malam-malam begini?" Tanyanya akan ku.
"Tadi beli ini," Jawab ku. Menunjukan belanjaan yang banyak.
"Kau ya buat panik tahu gak!" Apa maksud ini?
"Kakak ya yang menggapai dompet ini dari penjahat musim dingin itu?" Tanya ku agak ragu.
"Haha... Penjahat musim dingin," Ia malah meledek ku.
"Ya." Jawaban polos ku.
"Sudahlah yuk pulang!" Ajaknya.
Masih dalam suasana yang mencekam itu, syukur ada kak Yoon Seon datang mengantar dompet itu kembali kegenggaman ku. Dan mengantar ku pulang, itu menjadikan ku lebih nyaman dari saat tadi yang mencekam, sendiri tanpa pengawal, paling tidak ada teman. Inilah teman ku yang ditunggu, membantu sekalian mengantar ku sampai kerumah yang hangat dan cahayanya tetap.
Masih dalam kata-kata itu. Ia panik? Benar saja? Tidaklah, dia bukannya orang yang cuek tanpa batasan. Apa yang ku fikirkan? Sudahlah, ada angin baik di dirinya kali ini. Membantu tanpa banyak bantahan, dan sikap dingin itu semakin lama terkikis saja. Syukurlah.
__ADS_1
Terlihat olehnku, hah Dwi menatap kami sinis di seberang jalan sana. Dengan mengendarai sepeda kesayangannya itu. Wajah itu sudah ku tebak, besok lihat saja dia akan marah dannmengeluarkan sikap dinginnya kembali. Apa maunya? Aku tetap jalan berdampingan dengan kakak tampan ini, agar ia tahu aku dapat menambah murka itu. Pembalasan bukan sampai sini, lihat saja apa yang ku lakukan selanjutnya!