
Sambil memakan bekal yang dibawakan bunda, kami pun memperbincangakan masalah punggung tanganku yang terperban. Aku menyatakannya dengan sangat detail tanpa sepatah kata pun tidak terbaurkan. Mata itu langsung membulat dan menghentakan tangan ke meja. Raut wajah itu lansung berubah seketika, dan wajahnya merah padam. Ia menyalahkan kak Yoon Seon tentang tragedi ini. Tetapi ku bantah dengan sikap husnuzdan kepadanya. Ia tetap menyalahkan kakak itu penyebab ini semua.
Bayangkan! Ia tampak seperti itu sekali. Aku saja yang terluka tidak sampai berfikir seperti itu. Sebab ini cuma sayatan biasa saja menurutku. Mungkin? Terkena paku di dinding, sebab saat itu listrik putus dan aku meraba barang yang ada di sekitar, agar dapat membuka pintu Lab Biologi. Dan tak mungkin sekali kak Yoon Seon melukai ku. Agar apa, kalau benar yang dinyatakn Dwi? Jadinya membuat was-was saja.
Sudah saatnya masuk ke dalam kelas dan melanjutkan pelajaran. Kami pun masuk dengan canda-tawa masih memenuhi ruangan., meski hanya antara kami berdua. Tiba-tiba seorang wanita yang kelasnya berada di samping kelas kami mendekati dengan sengajanya. Oh ya... Aku ingat! Dia wanita yang duduk berdampingan dengan Dwi kemarin. Ia memberikan bingkisan, sekotak kue coklat.
"Hmm... Enak," Batinku. Aku tidak dapat menahannya.
"Untuk ku ya Wi?" Ku rampas dengan paksa kue yang dibawanya itu.
"Eh kok, untuk mu sih," Kesal terhadap ku.
"Bolehkan Wi?" Ku keluarkan jurus terhandal.
"Iya boleh." Ujarnya lembut kali ini.
"Itu kan untuk mu Wi?" Ujar gadis tersebut.
"Biarkan itu bersamanya. Dia pemikat coklat. Apa salahnya kita berbagi. Ini bukannya untukku. Kalau aku mau mengasih dia emang kenapa?" Ia tahu saja apa yang ku mau.
__ADS_1
"Tapi..."
"Tapi apa? Sudah kau masuk sana, nanti gurumu marah loh!"
Perintah Dwi akannya. Ia pun meninggalkan tempat dengan lemas.
Terima kasih Dwi.
🍁🍁🍁
Pulang sekolah aku pun lansung menunggu kak Yoon Seon untuk belajar bersama kembali. Kini entah di mana lagi kami akan belajar. Entah pun di Lab Biologi kembali. Aku ingin hari ini menikmati gugur untuk sekian kalinya. Rasanya sejuk, dan mata akan dapat menikmati indahnya daun tertiup oleh angin. Aku inginkan di taman yang sangat asri, sehingga senja ini tampak sangat indah.
Sebenarnya Dwi ingin mengantar ku pulang, seperti biasa. Tapi ku menolaknya, dikarenakan aku sudah diancam oleh kak Yoon Seon. Jika aku tidak menurutinya, ia akan bersikap kasar kepada ku untuk selama-lamanya. Dari wajah yang rupawan itu, terdapat perangai yang ganas. Aku takut ia akan berbuat nekat.
"Di mana kita akan belajar?" Tanyanya diikuti senyuman manis yang menyerbak jantung.
"Terserah kakak."
"Di taman saja ya? Enak anginnya,"
__ADS_1
"Ok!"
Inilah yang ku tunggu. Taman! Benar saja, doa ini lansung terkabul. Tanpa diminta berulang kali Allah mendengar ku secepat kilat. Kali ini aku dapat menikmati indahnya gugur untuk sekian kali lagi. Sudah berapa minggu ini aku hanya sibuk dengan tugas sekolah. Kali ini aku kembali gugur!
Yap! Duduk menikmati daun turun menerpa tubuh ini. Sepertinya aku tidak bosan-bosan dengan kejadian ini. Menikmati senja yang jingga, sehingga lupa akan semua yang ada. Inilah diriku. Setelah terhipnotis oleh jingganya senja di musim gugur yang sangat asik dan menyenangkan. Tentu saja tak bisa dibayangkan asiknya. Jika telah terlelap dengan taman yang sejuk nan indah ini.
Daun yang terbang itu sangat mrnarik perhatian ku. Ini adalah calon daun untuk mengisi album musim gugurku yang berada di rumah. Aku akan mendapatkannya. Sampai terjinjit-jinjit aku berusaha mendapatkannya, daun yang tertiup oleh angin itu. Dan mendarat...
"Aii... Dapat!" Ujar ku dengan semangat.
"Sungguh, tak sopan kau!" Sahutan itu mengejutkan ku.
"Aupp... Mianhae," Aku berbalik. Tidak disangka daun tadi mendarat di wajah kak Yoon Seon.
"Jika daun itu mendarat di wajah ku, jangan di ambil! Itu milikku." Ujarnya kesal.
"Tidak ini milikku!" Kekanak-kanakan ku mulai.
"Ini? Ini hanya untukku. Mengisi album musim gugurku! Jelas!"
__ADS_1
Dia merampas daun itu dari genggamanku.
Apa? Dia ada album musim gugur juga? Tak ku sangka. Ku mengira hanya diriku yang aneh, memiliki album tak jelas itu. Tapi apa? Dia seperti ku. Untuk apa album musim gugurnya? Kalau ia tak penikmat gugur yang indah?