
Empat puluh hari sudah terlewati,hari ini tengah di adakan acara syukuran di kediaman Nero dan Mini,para saudara,kerabat dan teman sedang berkumpul di dalam.
Acara syukuran masih berlangsung dengan pembacaaan doa untuk menutup acara.Dan pukul sepuluh malam rumah pasangan suami istri itu sudah tidak ramai lagi,hanya keluarga dan kerabat saja yang tengah mengobrol di ruang tamu.
"Kapan HPL Laura Nan?" Tanya Mini pada adik angkatnya itu.
"Bulan depan ka,perkiraaannya"
"Sekarang ini aku sering mengalami kontraksi palsu ka,dan sangat susah untuk tidur" Laura menambahkan jawban suaminya.
"Nikmatin saja masa-masa itu,setelah anakmu lahir pasti rindu dengan hamil."
"Hon,apa kamu ingin hamil lagi?" Tanya Nero yang sesang menggendong Junior.
"Mungkin." Mini menjawab dengan santainya.
"Baiklah,nanti malam kita bikin."
"Itu tidak mungkin yank,aku belum suci dari Nifas"
"Kan ini sudah 40 hari hon,kenapa bisa lama begitu?"
"Karena batas waktu paling panjang Nifas itu 60 hari yank,namun apabila sebelum 60 hari sudah berhenti,makan di wajibkan untuk bersuci,begitupun kalau sebelum 40 hari sudah bersih maka harus bersuci."
"Terus kamu kapan hon?"
"Tidak tahu,kita liat saja nanti." Ucap Mini dengan mengangkat pundaknya.
__ADS_1
"Ka,kalian membicarakan hal intim di depan kami apa tidak risih?" Tanya Kenan.
"Apa kalian anak kecil?." Nero balik nanya pada Kenan.
"Iya,kami anak kecil." Jawab Kenan.
"Anak kecil yang memproduksi anak." Sambung Mini.
Mereka ketawa renyah malam itu,Nero yang menggendong Junior pun merasakan betapa bayi empat puluh hari itu merasa bahagia.
Hari demi hari usaha Garmen Nero semakin berkembang,cabang di dalam dan luar negri sudah banyak,satu bulan setelah syukuran Nero memboyong istri dan anaknya jalan-jalan ke Jepang sesuai janjinya dulu.
Kecurangan dan kebusukan paman Nero juga telah terbongkar,ternyata dalang kematian ayah Nero adalah ulah adik iparnya sendiri,dan perusahaan berada di bawah kendali Kenan.
Orang yang selama ini Mini cari pun sudah mendapat titik terang,orang yang membuat Bapaknya meninggal,kini telah meninggal pula.
Setelah kehadiran Junior mengisi hari pasangan suami istri itu,Nero menyerahkan semua kerjaan pada orang kepercayaannya,sementara ia hanya santai di rumah bersama keluarganya.
"Muhammad Junior Anderson." Ucap Mini.
"Ma ma ma mah." Celoteh bayi yang beranjak 7 bulan itu.
"Maem dulu ya,udah sore,anak mamah kan pinter." Mini menyuapi Junior dengan telaten,sampai MPASI itu habis tak tersisa.
"Pinter..satu mangkuk habis, anak soleh..."
"Anak Nero Hon,bukan Anak Soleh." Ucao Nero yang baru datang dari kamar.
__ADS_1
"Iya,Anak pinter anknya Nero,bukan Anaknya soleh." Mini menjawab ucapan Nero dengan becanda.
"Anak papah pinter banget ya." Nero menggendong Junior dari bangkunya,sedang Mini membawa bekas makan anaknya ke dapur dan kembali lagi dengan membawa teh dan kue bronis untuk suaminya.
"Terimaksih Hon." Mini tersenyum pada suaminya.
"Terus kapan bikin adik untuk Junior?" Pertanyaan Nero membuat Mini keselek bronis yang sedang di kunyahnya.
"Minum dulu hon." Mini pun meminum teh hangat yang di sodorkan Nero.
"Apa kamu bisa bersabar yank?,baru saja aku menormalkan tubuhku kembali,apa kamu senang melihat aku gendut kaya balon udara?."
"Haaaa...aku akan tetap menyukaimu walau tubuhmu berubah."
"Maa maa ma,papa pa apa." Celoteh Junior seakan ia menyetujui ide papanya.
"Bahkan Junior pun memberi sinyal,iya kan nak."
"Pa pa pa pa ,ma ma ma mah."
"itu mah,kemauan papa ya nak."
"Bukannya kamu dulu yang mengucapkan ingin hamil lagi Hon.?"
"Iya,tapi nanti kalau Junior sudah berumur 7 tahun."
"Apa??"
__ADS_1
next\=>