Cerita Cinta Pelaut Wanita

Cerita Cinta Pelaut Wanita
14 x tanggal lahir x bulan lahir x tahun lahir


__ADS_3

Akhirnya kami kembali ke kampus menggunakan truk AL yang waktu itu, tapi sekarang senior Opi berada di truk yang sama denganku dan berdekatan denganku. "nama kamu siapa, asal darimana?" tanyanya padaku mengingatkan aku tentang hukuman pengganti waktu itu, karena aku selama dua minggu ini kalau ketemu dia tidak pernah menyebutkan nama dan asalku sesuai seperti yang diperintakkannya. Oalah rupanya dia masih ingat hukumanku, gawat bisa-bisa ditambah lagi hukumannya nih, aku harus cepat-cepat menjawabnya biar dia tidak marah, "siap nama saya Lisya Ramadani, asal dari kota B" jawabku dengan lantang membuat temanku yang satu truk kaget, karena didalam truk sebelumnya sangat hening. "sudah tau" jawab senior Opi ketus, aku jadi malu sendiri. "kalian semua bernyanyilah, jangan berhenti sebelum sampai kampus" perintah senior Opi kepada kami, dan kamipun langsung bernyanyi lagu-lagu yang sudah diajarkan senior kepada kami, lalu tanpa kuduga senior Opi berbisik kepadaku, "hukumannya saya ganti karena kamu tidak mematuhinya, setiap hari harus setor bending kepada saya minimal lima puluh kali tapi boleh dicicil pada saat saya di kampus ataupun dikosan yang jelas harus limapuluh kali perhari" deg aku agak kaget, karena ternyata dia cukup kejam. "kenapa, kamu kaget?" tanyanya padaku, "siap tidak sen", jawabku berbohong, "tapi saya ijin bertanya sen" aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya, "apa?" jawab senior Opi, "berapa hari saya harus setor bending nya sen?" tanyaku, "2 minggu" jawab senior Opi, "siap sen jadi 14 hari kan?" ulang ku untuk lebih yakin, "enak saja saya belum selesai ngomong tau, 14 hari dikali tanggal lahirmu dikali bulan lahirmu dikali tahun lahirmu" katanya dengan wajah datar.


Apa? jadi jumlahnya 1.163.064 dong, dibagi 50 jadi 23.261 hari dong, kapan selesainya hukumanku sampai dia lulus kuliah pun pasti hukumanku belum lunas, pusing pala bebi, aku ngomong sendiri dalam hati, " kenapa, kamu kok jadi diam?" bisik senior Opi lagi, "siap tidak apa-apa sen" jawabku terpaksa, "ok, jadi kamu tidak keberatan kan? awas kalau ingkar lagi" ancamnya padaku, "siap sen" jawabku singkat "ingat kamu harus hitung baik-baik, jangan sampai korupsi" katanya lagi sambil menatapku dan pandangan kami pun beradu, masya allah aku baru menyadari kalau matanya sangat indah tapi seperti menusuk ke jantungku, aku langsung mengalihkan pandanganku dan pura-pura ikut bernyanyi bareng teman-temanku.

__ADS_1


Kami berhenti bernyanyi karena truk sudah masuk ke area kampus, kami turun dan langsung berbaris. Setelah kami diperbolehkan pulang, akupun pulang dengan jalan kaki dan bawaanku yang rempong, begitu juga Titi dan temanku lainnya yang satu arah dengan kosanku, tampang kami semua sama kusut, kucel, lecek, lemah, letih, lesu dan bau.


Sambil jalan Titi berbisik padaku, "Lies, dibelakang kita ada senior Opi" aku tidak menanggapinya, aku terus saja jalan sambil menjinjing tasku, tiba-tiba senior Opi sudah berjalan disampingku, mengambil tas dari tanganku dan dia berbisik "ambil tas nya sekarang dikosan ku sekalian cicil utangmu" lalu dia berjalan cepat menyalipku.

__ADS_1


💃💃💃💃💃


Para readers yang baik hati, kalau sudah baca tolong tinggalkan jejak ya!! klik like, author udah senang kok, apalagi ditambah vote dan komentar yang baik dan membangun pasti author berterimakasih banget.....😀😄😘😘🙏🏿

__ADS_1


__ADS_2