Cerita Cinta Pelaut Wanita

Cerita Cinta Pelaut Wanita
Shock terapi


__ADS_3

Akhirnya sudah jam empat sore, saatnya ganti jaga dari bas dua ke bas satu, karena bas satu sudah datang beserta oiler jaga, maka Ajo, Azis dan Lies pun langsung pergi meninggalkan ruang mesin setelah serah terima jaga.


Joni yang sedang mabuk pun di ajak mandor ke atas karena jam kerja harian mereka telah selesai.


"Payah lu Jon, masa kalah sama kadet, kadet aja udah gak mabuk." Kata mandor sambil naik ke tangga menuju kamarnya, sementara Joni diam saja tidak menyahut.


Padahal sama s


aja, walaupun Lies sudah tidak muntah tapi dia masih merasa pusing sehingga tidak bisa mengerjakan apa-apa, jangankan menyelesaikan tugasnya, berdiri aja dia limbung.


Sesampainya di kamar Lies langsung memaksakan mandi walaupun sambil goyang-goyang, kemudian wudhu, pada saat sedang wudhu tiba-tiba kapal miring ke kiri, Lies hilang keseimbangan dan dia terjatuh membentur dinding kamar mandi.


Antara sedih dan pengen ketawa, ingat syair lagu : jatuh jatuh sendiri, sakit sakit sendiri, bangun bangun sendiri.... ternyata pengalaman berlayar seperti ini membuka pandangan di kepala Lies, yang dulu dia berpfikir pelaut itu banyak uang kerjanya enak, tidak mikirin bayar kontrakan, tidak mikirin bayar listrik, tidak mikirin biaya makan tetapi baru mengalami sekarang bahwa semua itu harus ditebus dengan penuh perjuangan, bahkan nyawa taruhannya.


Selesai dari kamar mandi Lies langsung solat ashar setelah menelepon ke anjungan menanyakan arah kiblat, karena kalau berlayar kapal selalu berpindah-pindah haluan, tapi Lies yakin Allah maha mengetahui yang penting dia solat dengan niat kearah kiblat, walaupun mungkin pada saat solat tiba-tiba kapal berpindah haluan.


Solat pun penuh perjuangan, saat sedang ruku lies hilang keseimbangan lagi dia hampir terjatuh tapi buru-buru kaki kanannya melangkah ke depan satu langkah kebelakang satu langkah, karena kapal masih terus miring kanan miring kiri kadang berayun ke depan dan ke belakang, entahlah seperti apa solat lies saat itu, tapi dia tetap melakukannya lillahi ta'ala, akhirnya pada saat rokaat berikutnya, Lies solat dengan cara duduk.


Selesai solat Lies berbaring ditempat tidur karena kepalanya sangat pusing, jam di bekernya sudah menunjukan jam 5 sore, saatnya makan tapi Lies tidak berniat untuk makan karena dia sama sekali tidak ada selera makan dan dia malah tertidur dengan nyenyak karena merasa seperti di ayun ayun.


Sampai terdengarlah suara ketukan di pintu kamarnya, tok tok tok ...


"Det, det, kamu udah makan belum?" Jaya mengetuk pintu kamar Lies.


"Lies membuka matanya yang terasa sangat berat karena dia masih dalam pengaruh mabuk laut, Lies memaksakan untuk bangun dan seketika kepalanya teeasa berputar tapi Lies tidak mau terlihat manja, dia berjalan kearah pintu dan membukanya.


Lies sedikit kaget karena ternyata Jaya yang mengetuk pintu.


"Maaf ken, lama buka pintunya karena saya tadi Ketiduran." Kata Lies sambil membuka pintunya dengan lebar dan melasingnya ke lemari.


"Iya tidak apa-apa." Jawab Jaya.


"Kamu udah makan belum?" tanya Jaya.

__ADS_1


"Belum sen, nanti habis magrib aja saya makannya." Jawab Lies tidak mau menunjukan kalau sebenarnya dia tidak ingin makan.


"Kata Ajo kamu tadi di ruang mesin mabuk ya det?"


"Iya ken," jawab Lies malu-malu.


"Ya udah kamu mendingan makan dulu det, biar perutmu nggak sakit, harus diisi, karena kalau lagi musim begini kapalnya akan terus goyang." Kata Jaya menjelaskan, agar Lies mau makan.


"Iya ken, nanti habis solat saya langsung makan." Jawab Lies meyakinkan Jaya, agar dia cepat pergi karena kepala Lies sudah sangat pusing.


"Betul ya! harus makan! jangan biarkan perut kamu kosong!" kata Jaya sedikit menekan.


"Siap ken!" Jawab Lies singkat karena itu jawaban yang menurutnya paling tepat biar Jaya percaya dan cepat pergi dari kamarnya.


"Ya sudah kalau gitu Aa makan duluan ya!" kata Jaya sambil pergi ke arah salon.


"Iya sen!" Jawab Lies sambil menutup kembali pintu kamarnya.


Selesai solat magrib Lies langsung ke salon untuk makan karena dia tidak ingin membuat seniornya dan orang kapal khawatir.


Disalon sepi hanya ada pelayan yang sedang tidur sambil duduk di sofa, Lies tidak mau Mengganggunya, diapun langsung duduk di tempatnya, dia lihat di meja masih banyak piring bersih dimasing-masing meja perwira, bahkan piring kkm dan kapten pun belum dipakai berarti mereka belum pada makan.


Belum Lies makan, dia sudah mual tapi kalau tidak makan Lies gak mau di bilang manja, akhirnya Lies makan walau hanya tiga suap dan dia langsung pergi setengah berlari menuju kamarnya, karna dia mau muntah.


Betul saja sesampainya dikamar mandi kamarnya Lies langsung memuntahkan kembali nasi yang baru saja dia makan.


Dengan sempoyongan Lies pun kembali membaringkan tubuhnya dan langsung terlelap.


Hingga sampai jam setengah dua belas malam jam bekernya berbunyi sangat nyaring, Lies pun tetap bangun walaupun matanya susah dibuka dan kepalanya sangat berat.


Lies bersiap-siap ganti baju kerja, dan menuju ruang mesin.


Di luar kamar sangat sepi, Lies terus berjalan dengan berpagangan ralling besi sepanjang gang/koridor, hingga sampailah didepan pintu tangga, agak sedikit ragu namun Lies tetap membukanya, Lies mengedarkan pandangannya keseluruh arah tangga baik yang ke bawah maupun yang keatas, samar-samar terdengar suara radio entah VHF/SSB dari anjungan, Lies pun melangkah menuruni tangga dengan berpegangan kuat pada rallingnya, semakin kebawah suasana semakin sepi tak ada seorangpun yang lewat, walaupun sedang mabuk Lies masih kepikiran cerita seram di kapal-kapal yang sering dia dengar dari seniornya di mes, Lies langsung mempercepat langkahnya, seketika pusingnya hilang tapi sekarang malah parno berjalan sendiri ditangga yang lampunya agak remang-remang, jiwa penakutnya kini timbul lebih besar dari pusing di kepalanya.

__ADS_1


Sesampainya didepan pintu keluar tangga menuju deck utama, Lies langsung membuka pintu dengan kasar, dan sambil ngos-ngosan Lies setengah berlari kearah pintu menuju tangga ruang mesin.


Tiba-tiba dibelakang Lies ada yang memanggil, "Det, kadet!" Lies menghentikan langkahnya sambil melirik ke arah suara yang memanggil.


Ternyata dibelakang Lies ada Azis yang tadi memanggilnya.


"Mas Azis, kirain siapa, bikin kaget aja." Kata Lies sambil mengusap dadanya.


"Emang kamu pikir siapa? hantu?" kata Azis sambil cengengesan.


"Ih mas Azis ngomongnya sompral." Kata Lies sambil melangkah turun ke tangga kamar mesin.


"Lagian kamu det, kenapa tadi kamu lari-lari? udah gak pusing?" tanya Azis lagi.


"Oh iya ya, tadi kok tiba-tiba pusing ku hilang, apa karena aku tadi ketakutan ya?" Lies bicara sendiri dalam hatinya.


"Tuh kan sekarang malah diam lagi, ini tengah malam jangan ngelamun entar kesambet nanti." Kata Azis nakutin.


"Ah mas Azis nakut-nakutin terus." Kata Lies sambil terus berjalan.


"Det kita langsung keliling ngecek mesin dan pompa-pompa aja, masih jam duabelas kurang seperempat nanti kurang lima baru kita masuk engine control room." Kata Azis memberi ide.


"Oke." Jawab Lies singkat.


Mereka pun langsung keliling ruang mesin.


Lies bersukur karena sekarang sudah tidak begitu pusing lagi, sepertinya cerita serem seniornya bisa menjadi shock terapi yang cukup bagus buat obat pusing kepalanya.


💃💃💃💃💃


* **Ehm... bagaimana kabarnya???.... maaf tidak bisa update tiap hari ya! tapi insyaallah kalau bisa pasti saya usahain update, seperti sekarang.


Jadi jangan bosan dukung terus ya!!! trims 😅🙏🏾*

__ADS_1


__ADS_2