Cerita Cinta Pelaut Wanita

Cerita Cinta Pelaut Wanita
Berhati keras


__ADS_3

Besok paginya Lies berangkat ke halte bis diantar Niong, Imi dan Dema, walaupun mereka sama-sama sedih tapi mereka tetap bersenda gurau sambil menunggu bis jurusan kota B, setengah jam berlalu akhirnya bis yang di tunggu pun datang.


"Lies hati-hati ya dijalan" kata Niong, Imi dan Dema, sambil saling berpelukan.


"Kalian juga sama, hati-hati, aku pergi dulu ya! mudah-mudahan kita semua bisa sukses, Assalamualaikum" kata Lis melepaskan pelukan mereka dan berjalan naik bus.


" Waalaikumsalam" jawab Niong, Imi dan Dema serentak.


Didalam bis lis duduk sendirian karena kebetulan banyak kursi yang kosong, lies merasa senang karena bisa segera ikut ujian Negara lagi dijakarta dengan begitu kesempatannya untuk prola (proyek laut) bisa segera terwujud tapi disisi lain lies merasa sedih karena harus meninggalkan kota C dan sahabat-sahabatnya.


"Aku harus tetap melangkah tidak boleh goyah, baru satu tangga yang berhasil aku lewati sementara di depan sana masih banyak tangga-tangga yang harus aku lalui dan itu pasti tidaklah mudah, aku harus membulatkan tekadku dan mempertahankan prinsipku, aku pasti bisa melalui semuanya karena yang terpenting bagiku adalah doa kedua orangtuaku serta dukungan saudara dan sahabat-sahabatku yang selalu mengiringi langkahku, terimakasih ya Allah engkau telah memudahkan jalanku" Lies bicara sendiri dalam hatinya, sampai akhirnya dia tertidur.


Sesampainya dirumahnya Lies langsung ke warung tempat ibunya jualan karena dirumahnya tidak ada siapa-siapa.


"Assalamualaikum" kata Lies sambil masuk ke warung dan memeluk ibunya.


" Waalaikumsalam" jawab ibunya sambil memeluk Lies.


"Ko pulang ga nelepon dulu, kalau tau mau pulang kan dijemput bapak ke terminal" kata ibunya lagi.

__ADS_1


"Emangnya anak kecil di jemput, Lies sengaja ga telepon dulu, biar kejutan" jawab Lies.


"Oh iya bu, mana bapak?" tanya lies pada ibunya.


"Bapak barusan kemesjid, bentar lagi pulang" jawab ibunya.


"kamu udah makan belum? kebetulan ibu barusan masak cobek genjer tuh, baru diangkat" kata ibu nya.


"Assalamualaikum" bapaknya datang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" jawab Lies dan Ibunya, Lies langsung salim sama bapaknya.


"Lies kamu pulang? kenapa gak ngasih tau bapak kalau mau pulang" kata bapaknya sambil ngusap-ngusap rambut Lies.


Diluar rumah apalagi di depan teman-temannya Lies memang tidak terlihat manja, tapi kalau dirumah jangan ditanya, bapak, ibu dan kakak-kakaknya sangat memanjakan dia, dipandangan mereka Lies masihlah gadis kecilnya dan masih diperlakukan sama seperti dulu, kadang Lies merasa malu apalagi kalau teman-temannya sampai tahu, makanya dia jarang sekali membawa teman-temannya ke rumah kalau dianggapnya tidak penting-penting banget.


"Iya pak, maaf Lies pulangnya ngedadak, jadi ga sempat ke wartel untuk ngabarin" jawab Lies setelah selesai makan, padahal sebetulnya Lies tidak ingin merepotkan bapak, ibu dan kakak-kakaknya karena kalau mereka tahu Lies mau pulang, mereka pasti akan sibuk, ibunya akan memasak semua makanan kesukaan Lies, bapaknya akan nungguin Lies berjam-jam di terminal, kakak-kakaknya pun sama, pulang kerja mereka pasti akan membawa hadiah untuk Lies, ada yang baju, ada yang makanan, belum lagi sahabat-sahabat kakaknya yang tinggal dirumahnya yang semuanya sudah dianggap anak sama bapak dan ibunya karena mereka berasal dari luar kota dan yang pasti merekapun akan ikut sibuk memanjakan Lies.


Kasih sayang mereka itulah yang menjadi penyemangat terbesar bagi lies, tapi itu pula yang menjadi beban baginya karena dia takut mengecewakan mereka, takut tidak bisa membalas budi baik mereka dan itulah sebabnya lies selalu memegang teguh prinsip nya untuk tidak berpacaran dulu sebelum menyelesaikan kuliah, Lies takut tidak bisa menjaga diri dan terbawa suasana karena jauh dari orang tua, jadi jika adapun laki-laki yang dia sukai saat itu, dia hanya ingin menyimpannya dulu didalam hatinya dan Lies berharap laki-laki itu akan bersabar dan mengerti hingga kelak dia selesai kuliah dan meraih cita-citanya maka mereka akan bersatu, tapi tentu saja tidak akan ada laki-laki yang bisa sesabar itu, dimasa seusianya saat itu remaja yang sedang puber pastilah bukan seperti itu yang mereka inginkan, mereka inginnya kemana-mana selalu berduaan, jalan bergandengan, bahkan ada yang sampai diluar batas kewajaran, jadi tentu saja tidak ada laki-laki yang mengerti dengan prinsip Lies bahkan dianggapnya Lies itu batu, berhati keras dan tidak punya perasaan.

__ADS_1


Satu orang si ****** itulah yang pada saat itu Lies anggap special dan Lies berikan kesempatan itu kepadanya, tapi sayang dia tak sesabar dan semengerti seperti yang Lies harapkan, ujung-ujungnya dia malah lebih memilih bersama dengan orang lain yang mungkin dianggapnya lebih mudah didapatkan dan bisa memenuhi keinginannya sebagai remaja yang sedang puber.


Kejadian itu yang membuat Lies lebih membentengi diri dengan berpegang teguh pada prinsip.


"Pak, bu, boleh nggak nanti malam ada temen Lies laki-laki 2 orang mau numpang nginap semalam dirumah?" tanya Lies pada ortunya.


"Emang ada apa mereka nginap dirumah kita?" tanya ibu menuntut penjelasan.


"Gini bu ceritanya, ......" Lies menceritakan bahwa dia dan temannya Bang dan Adih sudah janjian besok pagi akan pergi ke jakarta untuk ujian negara, karena rumah mereka di kota Tsk, maka mereka akan datang ke rumah Lies dulu yang letaknya lebih strategis sehingga bisa nyampe dijakarta pagi sekali dengan kereta api.


Akhirnya orang tua Lies mengijinkan Bang dan Adih menginap dan seperti biasa mereka akan sibuk menyiapkan semua kebutuhannya dari mulai ibu menyiapkan makan sampai bapak malam itu menyiapkan roti bakar dan susu untuk bekal karena jam 2 pagi rencananya Lies, Bang dan Adih akan langsung ke stasiun kereta api.


Walaupun Bang dan Adih tidur di ruang tv tapi mereka sangat senang karena diijinkan menginap dan diperlakukan dengan baik oleh keluarga Lies.


Jam 2 dini hari Lies, Bang dan Adih sudah berangkat menuju stasiun kereta, sementara kedua orang tua Lies langsung melakukan solat tahajud dan mendoakan anaknya, karena mereka sudah biasa melakukannya dari dulu disaat Lies menghadapi ujian ataupun hanya ulangan biasa mereka yang akan sibuk berpuasa dan solat malam untuk mendoakan Lies.


Alhamdulillah Lies, Bang dan Adih langsung lulus ujian tanpa harus mengulang lagi dan mereka mendapatkan surat pengantar untuk prola, merekapun berpisah disana karena Adih dan Beng akan ke rumah saudaranya di kota itu sementara Lies langsung pulang ke kota B.


Dan inilah tangga kedua yang sudah lis lewati dimana merupakan awal perjuangan Lies yang akan dia lalui dengan tetesan keringat dan air mata dengan semua tekad dan mental baja yang akan dia jalani tanpa ada sahabat-sahabat disampingnya.

__ADS_1


💃💃💃💃💃


Maaf ya kemarin tidak sempat up, habis author terlalu baper jadi tiba-tiba hilang ide ceritanya, mudah-mudahan bab ini tidak mengecewakan kalian, jangan lupa yang sudah membaca tinggalkan jejak ya dengan like, komentar atau vote, supaya author tau kalau kalian menyukai novel ini dan bisa melanjutkan ceritanya dengan semangat 45, 😅🙏


__ADS_2