
Pulang dari kampus Lies membereskan baju-bajunya karena besok dia akan pulang ke kota B, dan tidak tau kapan bisa datang ke kota C lagi, sore ini dia akan mendatangi sahabat-sahabatnya untuk berpamitan.
Dengan berat hati dia mulai berpamitan ke pada Imi, Dema dan Niong, merekalah sahabat yang telah menemaninya disaat Lies merasa kesepian karena sahabatnya yang lain tidak berada disisinya.
Imi dan Dema memang sering bertingkah konyol tapi kekonyolannya itu yang membuat Lies mengenal sesuatu yang baru yang mengajarkannya menjadi lebih terbuka dan lebih peka.
Belum lama ini Lies menemani Imi mencoba melamar pekerjaan di PT. ******* Gas dan iseng-iseng Lies pun ikut melamar, mereka melakukan beberapa rangkaian psikotes sampai ke kota S, dari sekian banyak orang yang ikut psikotes Lies berhasil menjadi urutan satu, Imi sudah yakin Lies akan diterima kerja disana tapi ternyata mereka harus kecewa karena perusahaan itu tidak menerima Lies dengan alasan Lies masih kuliah, walaupun mereka merasa kecewa tapi itu semua mereka jadikan pembelajaran untuk tidak menyerah karena apapun dan menjadikan itu sebuah pengalaman yang berharga dalam kisah persahabatan mereka.
"Mi, De, Niong Aku pamit besok aku pulang kampung, mulai sekarang aku sudah tidak kekampus karena aku sudah mendapatkan surat untuk pengurusan ujian negara langsung di jakarta, aku tidak tau kapan bisa kesini lagi, terimakasih kalian sudah menjadi sahabat aku yang baik, aku minta maaf kalau selama persahabatan kita aku bersikap tidak baik kepada kalian, aku berharap persahabatan kita untuk selamanya" ucap Lies dengan deraian air mata.
Begitu pula, Imi, Dema dan Niong mereka tidak bisa menahan air matanya, lalu mereka pun menangis bersama-sama.
__ADS_1
Sore harinya Lies pergi ke kosan Eci, disana Lies ketemu dengan Eci dan berpamitan kepadanya, Eci menangis dan Lies pun kembali ikut menangis, Lies masih ingat saat mereka satu kosan, hampir setiap ada waktu senggang Eci selalu mengajaknya bermain catur, dan bagaimana kesalnya Eci karena tidak pernah bisa menang melawan Lies, pernah suatu waktu Lies pura-pura kalah, betapa senang nya Eci sampai jingkrak-jingkrak karena merasa bisa mengalahkan Lies, kini Lies akan merasa sangat kehilangan sahabatnya yang paling manja dan ceria itu.
Setelah dari kosan Eci, Lies langsung ke kosan pak Bari, disana sangat sepi deretan pintu-pintu kamar tertutup semua, dulu saat dia kos disini tempat kosannya itu selalu ramai ada saja tingkah anak-anak kos yang bikin heboh, entah itu rebutan kamar mandi, rebutan bak cucian bahkan rebutan tempat jemuran, terbayang saat solat berjamaah bersama didepan kamar-kamar itu dan saat bermain korambol yang tidak pernah serius berujung colek-colekan bedak.
Di pagar tembok depan kamar itu seolah masih terlihat seniornya yaitu Opi selalu duduk disana mengobrol ramai-ramai, dan kamar itu kamar yang dulu dia tempati dimana dia dan Titi sering curhat curhatan, dia masih ingat pada saat catar catir mereka dapat bocoran mahwa nanti malam akan ada gebrakan malam oleh seniornya, maka dia dan semua teman-temannya mengerjai senior-senior itu dengan mengunci pintu gerbang kosan kami yang cukup tinggi, lampu-lampu semua dimatikan lalu mereka tiarap bersembunyi dibalik pagar tembok depan kamar-kamar sambil ketawa ketiwi melihat para senior yang tidak bisa masuk karena gerbangnya terkunci dan gelap semua.
Lies pun masih ingat pertama kali Atar datang ke kosan itu, disaat dia mau pergi lari sore, saat itu jantungnya terasa berdebar, lidahnya terasa kelu, kakinya serasa melayang tak menginjak tanah, dia tidak tahu harus berkata apa dan apa yang harus dilakukan, tapi dia tidak mau ke geeran dan hanyut dengan perasaannya, karena mungkin saja Atar datang bukan untuk menemuinya, maka dia tetap melanjutkan lari sorenya, tetapi dalam hatinya dia berharap Atar akan mengikutinya, untuk lari sore atau hanya sekedar jalan sambil ngobrol tapi sayang itu tidak terjadi bahkan saat Lies lari di lapangan Atar lewat dengan motornya, dia hanya berlalu begitu saja.
"Ternyata memang betul, aku hanya terbawa perasaanku saja, aku yang terlalu kegeeran, buktinya waktu itu dia tidak mengikutiku, mungkin dia bukan mau menemuiku, bahkan setelah itu Ena danTiti pernah bilang kalau Atar mau bicara denganku, tapi itu tidak pernah terjadi, lama aku menunggu, dia malah jadian dengan catir, untung hatiku terbuat dari baja rasa sakit yang kurasa hanya akan kujadikan sebagai tempaan agar aku bisa lebih kuat lagi" itu lah kata hati Lies yang saat itu terlintas dalam hatinya.
"Titi maafkan aku, aku tidak bermaksud menutupinya, tapi aku pun tak berani mengatakannya padamu, sejujurnya aku tidak suka perlakuannya padamu, jadi aku langsung menjauhinya sehingga dengan begitu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku padamu, kamulah sahabat pertamaku, kita sudah melalui suka dan duka bersama, maafkan segala kesalahanku, keegoisanku dan ketidak baikan ku selama menjadi sahabatmu, tapi aku sungguh bahagia karena sekarang kamu sudah memiliki pengganti dia yang ******** itu, semoga kamu selalu sukses dan bahagia" itulah kata-kata Lies dalam hatinya untuk sahabatnya yang tidak pernah terucapkan.
__ADS_1
Dari situ Lies langsung menuju ke tempat Ena dan Anin, sangat disesalkan karena mereka pun tidak ada, perasaan sedih yang membuncah dihatinya sungguh tidak tertahankan, air matanya tidak berhenti mengalir, kenangan-kenangan indah bersama teman-teman dan sahabat-sahabatnya datang silih berganti.
Masih terlintas di pelupuk matanya, saat-saat masa latsarmil dan madabintal, rasa setia kawan itu datang dengan sendirinya dan takan pernah hilang sampai kapanpun.
Selembar demi selembar pecahan kenangan itu mulai bermunculan kembali, saat dia,Titi dan teman-teman sekosannya berangkat di dipagi hari berjalan kaki menuju kampus dan melewati kosan senior Opi, maka mereka pun selalu dipanggilnya untuk mampir entah itu sekedar diajak ngobrol atau kadang diisengin disuruh ini itu, saat itu Lies merasa sangat kesal tapi entahlah sekarang dia merindukan masa-masa itu, senior-senior itu telah lulus, dan Lies menyesal karena tidak pernah mengucapkan terimakasih pada mereka.
Kini Lies berjalan kembali menuju tempat kos nya, dia masih merasakan sepanjang jalan itu dia, Ena dan Anin hampir setiap hari selepas magrib melewatinya menuju padepokan untuk berlatih silat.
"Titi, Ena, Anin, Niong, Eci, Imi, Dema dan semua taruna taruni angkatanku, kalian semua adalah sahabat terbaikku, maafkan aku sering membuat kalian terluka karena aku kurang peka, sering membuat kalian kesal karena kecuekanku terutama karena ketidaksempurnaanku sebagai seorang sahabat, selamat tinggal Cir**** kenangan yang tidak akan terlupakan, aku akan merindukanmu...." itulah teriakan hati Lies yang tidak pernah dia ungkapkan.
πππππ
__ADS_1
Maaf ya, bab ini banyakan narasi dari pada dialognya, karena author ingin readers lebih memahami apa yang author ingin sampaikanππ ππΏ
.