
Sekitar jam dua belas an Ena, Anin, Lies dan Endra tanpa rasa takut keluar dari kosan berjalan kaki menyusuri jalan kampung dan gang senggol bahkan melewati pohon-pohon besar, menuju jalan bypass tempat lalu lalang bus luar kota, Adar yang sebelumnya di jemput pun akhirnya ikut karena dia pun pernah diantar dan di jemput oleh tim itu.
"Na, ingetin posisinya yg gede-gede" kata Endra.
"Siap sen udah ingat ko" jawab Ena percaya diri.
Tak terasa sambil ngobrol ngalor ngidul perjalanan yang di tempuh dengan jalan kaki kurang lebih 4 km sudah mereka lalui, kini mereka pun sampai di halte bus tempat mereka menjemput Adi, kurang lebih satu jam Adi pun datang dengan barang bawaan yang lumayan banyak.
Sambil bersenda gurau merekapun melangkah pulang dan kali ini Ena sebagai petunjuk jalan karena tadi dia bertugas menghapalkan peta harta karun, dan sekarang saat nyalah mereka beroperasi untuk mengumpulkan harta karun itu.
Endra sudah menyiapkan tas ransel dan beberapa kantong keresek besar, tak lupa dia sudah membawa pisau lipat disakunya.
Disetiap rumah yang mereka lalui hampir semuanya memiliki pohon mangga, dan Ena hanya tinggal menunjukan mangga mangga itu maka Adi langsung memotong tangkainya karena dia yang paling tinggi sementara si Adar membantu Edi, Lies dan Anin menampung mangga-mangga itu dalam kresek dan Endra siap dengan ranselnya untuk membawa hasil operasinya.
Mereka bekerja sama dengan baik tanpa menimbulkan suara, sehingga semuanya aman terkendali.
Sekitar jam empat subuh mereka baru nyampe kosan, ransel yang berisi mangga, Endra letakan dilantai kamar Anin, Adi dan Adar nginap di kamar Endra, Lies dan Ena pun tidur dikamar Anin, karena kelelahan jam sebelas siang mereka baru bangun.
Lies, Ena dan Anin memandang hasil operasinya tadi malam, luar biasa satu ransel penuh dan 2 kresek besar berisi mangga semua ada dihadapannya.
__ADS_1
"Gila, mangga sebanyak ini mau kita apain, aku mah takut mencret makannya juga" kata Lies sambil memandang mangga-mangga itu.
"Tau tuh senior Endra nafsu banget operasi malam tadi, biasanya kan ga sampai sebanyak ini" lanjut anin sambil bingung
"Iya bener, kita taro aja yuk didepan kamarnya Senior Endra kayaknya mereka belum pada bangun" kata Ena sambil mengambil ransel isi mangga, Anin dan Lies pun membantu membawa kresek isi mangga itu dan meletakannya di depan kamar Endra.
"Tau nggak Lies semalam itu aku suruh si Adi ambil mangga di rumah ibu kos si Ida, soalnya kata si Ida ibu kosnya pelit, mangganya sampai dibungkus dan di hitungin tiap hari, aku gak kebayang reaksi ibu kosnya si Ida gimana setelah tau mangganya hilang" kata si Ena sambil ngekek.
"Dosa kamu Na, nanti lebaran jangan lupa minta maaf" kataku watado (wajah tanpa dosa).
"Emangnya kamu gak ikut-ikutan dosa apa, yang ngantongin mangganya kan kamu" kata Ena ga terima.
"Bener Na, kamu lebih banyak dosanya, kalau kita kan cuman membantu" jawab Anin sengaja menjaihili Ena.
"Kalian nih ya, sengaja godain aku, besok-besok kalian yang yang jadi penghapal peta" kata Ena ga terima.
"No no no no, ga ada besok-besok lagi na, mangga yang sekarang aja bingung mau di apain, lagian tadi malam sebetulnya aku tuh takut banget katahuan yang ronda, kalau sampai ketahuan terus diarak keliling kampung dan dilaporkan ke kampus mau ditaro dimana muka cantikku ini, ntar kita diketawain sama mantan-mantan gebetan kita" jawabku serius.
"Oh gitu ya, jadi udah insaf nih judulnya" kata Endra tiba-tiba nongol di depan pintu.
__ADS_1
"Iyalah sen, mulai sekarang dengan penuh penyesalan kita mengundurkan diri dari misi operasi malam menjelang subuh, kalau senior masih mau lanjut cari crew lain aja" jawab Lies enteng, karena mereka sudah akrab seperti teman.
"Ya sudah kalau begitu dengan ini saya menyatakan bahwa misi kita ditutup dan tidak akan ada lagi operasi malam menjelang subuh kecuali kepepet, karena sesungguhnya saya merasa takut dan berdosa apalagi kalau sampai ketahuan, ih amit-amit" kata Endra bergidik ngeri.
Mereka pun tertawa bersama-sama. "ngomong- ngomong kenapa mangganya ditaruh di depan kamarku?" tanya Endra.
"ya terus kita mo apain sen sebegitu banyak mangganya?" kata Anin
"Kita bagiin aja, tapi sebelumnya kita ceritain silsilah mangganya, biar dosanya di bagi rame-rame" jawabku enteng.
"Setuju" kata Endra.
"Saya serahkan mangganya pada kalian,
silahkan kalian bagikan" kata Endra lag, sambil pergi ke kamar mandi
💃💃💃💃💃
Saya ucapkan terimakasih kepada yang sudah membaca Novel ini dan juga sudah berkomentar
__ADS_1