Cerita Cinta Shasya

Cerita Cinta Shasya
Semangkuk Bakso


__ADS_3

Takdir itu terus memainkan perannya. membuatku harus tetap bertahan menjaga hati agar tak patah dan melemah.


*****


Sudah 3 minggu Rio dan Shasya tak bertemu. Shasya memutuskan untuk menghindari Rio karna tak mau hatinya kembali goyah. karena mengingat bagaimana menyebalkannya sifat Rio. begitu juga Rio yang memang pada dasarnya sangat sadar kalau dirinya kini telah jatuh hati kepada Shasya. saat ini Rio sedang berusaha keras untuk menjaga perasaan dinda yang setia menantinya pulang ke sulawesi sehingga mengakibatkan dia harus benar-benar menjaga jarak terhadap Shasya.


****


Hari ini Shasya merasa sangat bosan, dia hanya berguling-guling di tempat tidurnya sambil sesekali melirik Hp. Sudah berjam-jam dia melakukan hal itu mulai dari pulang sekolah sampai hampir petang.


Dia membuka instagram kemudian melihat video seseorang yang sedang memakan bakso. "sepertinya enak" ucap Shasya.


"baiklah lebih baik aku beli bakso saja" ucapnya lalu memakai jaketnya kemudian Dengan langkah seribu Shasya keluar dari kamarnya mengambil kunci motor dan dompetnya lalu pergi menuju warung bakso langganannya.


******


seorang pria tengah terbaring di atas tempat tidurnya. ya.. dia adalah rio.


Rio terlihat sangat gelisah sambil terus memegangi perutnya. Rio berlari menuju dapur, membuka kulkas. wajahnya terlihat kecewa ketika melihat isi kulkasnya.


"tak ada satupun makanan yang bisa aku makan" ucap Rio lalu duduk di sebuah kursi yang ada di dapurnya. Rio hanya sendirian di rumah yang telah dibeli orangtuanya untuk mereka tinggali dalam waktu dekat ini. Tidak ada yang memasak untuknya, tentu saja dia pun tak pandai memasak. karena tak tahan lagi akhirnya Rio memutuskan untuk keluar rumah mencari makanan.


Rio mengemudikan mobilnya. matanya terus mencari makanan di sepanjang jalan. Akhirnya Rio berhenti di warung bakso yang terlihat enak.


Rio turun dari mobilnya, matanya membulat seketika ketika matanya tanpa sengaja melihat seorang wanita yang selama ini dia hindari. tentu saja dia sangat terkejut ketika melihat wanita itu berdiri tepat di hadapannya.


"Shasya, kamu ngapain disini?" ucapnya.


"mau beli rujak, udah tau di sini warung bakso ya mau beli bakso lah" ketus Shasya.


"buset dah, galak bener, woles aja kali sya." ucap Rio sambil mengangkat tangan seolah meminta ampun.


"udah ah, aku lapar! aku mau pesan dulu. kamu mau? biar aku pesanin sekalian" ucap Shasya.


Rio hanya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"ternyata Shasya itu benar-benar cewek galak ya. kelihatan banget kalau wanita sepertinya akan sangat sulit di dapatkan. beruntung banget laki-laki yang berhasil menaklukan hatinya." batin Rio.


"kamu mau makan disini atau bungkus?" tanya Shasya lagi seketika membuyarkan lamunan Rio.


"udah kita makan di sini aja berdua, bakso itu gak enak kalau dimakan di rumah. Seperti kurang pas aja gitu" jawab Rio sambil menarik tangan Shasya untuk duduk disalah satu kursi kosong.


"biasa aja kali gak usah menarik tangan aku juga. hus.. jauh-jauh sana" Shasya melepaskan tangan Rio.


"sudah tak usah banyak cerita. duduklah" Rio lalu menarik salah satu kursi.


Setelah Shasya duduk di kursi yang ia tarik. Rio pun ikut duduk di kursi yang ada dihadapan Shasya sehingga kini mereka duduk dengan berhadapan.


Rio tersenyum ketika melihat Shasya seperti ngedumel sendiri dengan suara yang tidak jelas karena kesal. Bagi Rio Shasya yang seperti itu terlihat sangat imut.


Sebenarnya Shasya sangat gugup karna tiba-tiba bertemu dengan Rio. Dia sama sekali tidak menyiapkan hati sehingga membuatnya bertambah jutek hanya untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya.


"sumpah, malu banget. mana dandananku separah ini. dan kenapa juga dia harus duduk dihadapanku seperti ini sih" batin Shasya semakin kesal. lalu matanya turun ke bawah melihat pakaian dan sendal jepit yang Ia pakai.


ingin rasanya dia ditelan bumi saat itu juga. tapi apa daya, kalaupun ada longsor yang ingin menenggelamkannya otomatis dia akan lari karna takut nyawanya tak tertolong.


*****


"benar-benar barbar" ucapnya setengah berbisik.


"apa?"


"tak apa"


tanpa sadar Rio mengacak-acak Rambut Shasya. Seketika Shasya langsung menghentikan makannya. Dia sangat kaget. selain ayahnya, belum pernah ada laki-laki yang berani memegang kepalanya apalagi sampai mengacak-acak rambutnya rio satu-satunya yang berani bahkan telah melakukannya sebanyak dua kali.


Shasya mengarahkan garpu yang masih terdapat potongan bakso kearah Rio sambil melotot.


"hentikan, atau aku akan menusuk pipimu pakai garpu ini" ancam Shasya.


"bagaimana kau akan menusukku, jika ujung garpunya masih ada bakso seperti itu" ledek Rio sambil menarik tangan Shasya dan memakan bakso yang ada di garpu tersebut.

__ADS_1


"nah, sekarang kamu udah bisa menusuk pipiku" ucap Rio sambil tertawa.


Kini pipi Shasya memerah. dia tak tau harus melakukan apa. semangkuk bakso yang harusnya habis dalam sekejap kini masih terlihat penuh.


Sekarang dia merasa malu karna Rio terus menatapnya sambil tersenyum. debaran itu kembali, bahkan kini lebih kuat dari yang sebelumnya.


"ah, bakso sialan, gimana nih kalau aku jadi beneran suka sama dia" ucap Shasya dalam hati.


"hey, ayo makan jangan diem aja, sayang loo bakso kamu masih banyak banget tuh!" ujar Rio kembali menyadarkan Shasya.


"bodo ah, kalau kamu mau yaudah makan aja". ucap Shasya dengan nada sedikit meninggi.


"baiklah, sini!"


Rio langsung menarik mangkuk bakso Shasya dan menghabiskannya. Shasya yang melihat tingkah Rio semakin salah tingkah. sesekali dia melihat Rio yang masih asyik menyantap bakso dari mangkuknya.


"kenapa, kamu menyesal memberikan baksomu untukku?, maaf sudah terlambat nona. bakso kamu milikku sekarang. hahaha, weeek" Rio meledek Shasya.


Shasya menghela nafas kesal.


"ya... ya.. yaa.. habiskan sesukamu tuan kalau perlu pesan lagi saja, biar perutmu meletus" balas Shasya kesal.


Rio hanya tertawa dan kembali mengacak-acak Rambut Shasya. Shasya cemberut kemudian mencubit tangan Rio.


Setelah selesai makan, tanpa aba-aba Rio langsung berdiri kemudian membayar bakso yang tadi mereka santap. Shasya masih terduduk dikursinya sambil melihat Rio.


Entah apa yang Rio bicarakan dengan penjaga kasir itu. Tapi terlihat mereka sesekali melihat kearah Shasya. Kemudian Rio kembali dan menarik ponsel milik Shasya lalu menekan nomor ponselnya. Tak beberapa lama ponsel Rio berbunyi Ternyata Rio menelpon ke ponselnya menggunakan ponsel Shasya.


Rio menyerahkan kembali ponsel Shasya dan berlalu meninggalkan Shasya.


"what, tuan tampan?" mata Shasya membesar ketika melihat nama yang ditulis Rio diponselnya itu.


"baiklah dia benar-benar gila!" gumam Shasya dalam hati.


Ketika Shasya hendak pergi meninggalkan warung bakso tersebut, tiba-tiba pelayan memanggilnya dan menyerahkan sebungkus bakso kepadanya. Ternyata Rio telah memesankan bakso untuk Shasya bawa kerumahnya. Seketika Shasya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"gila.. gilaa. gilaaa..." ucap Shasya kemudian tertawa sambil melihat apa yang kini ada ditangannya.


__ADS_2