
Genap sudah dua bulan Rio berada di medan yang diikuti dengan hububgannya yang semakin membaik dengan Shasya. Setiap hari mereka berkirim pesan sekedar menanyakan kabar ataupun bercerita tanpa arah.
Sesekali Shasya dan Rio meluangkan waktu untuk jalan bareng, kadang ke mall untuk nontin film dan makan. kadang ke perpustakaan untuk belajar mengingat ujian nasional sebentar lagi akan tiba.
kehadiran Shasya membawa pengaruh besar pada hidupnya. Rio yang dulu selalu terkenal malas bangun pagi, kini mulai rajin bangun pagi karna dia tak mau mendengar Shasya ngegas kalau dia ketahuan malas bangun.
Rio yang sama sekali tak pernah mau menginjakkan kaki ke perpustakaan daerah kini mulai rajin berkunjung. Awalnya hanya untuk sekedar menemani Shasya. namun semakin lama Riopun ikut menikmati membaca dan belajar bersama Shasya.
Entah apa yang membuatnya sampai berubah. tapi yang jelas Rio sangat menikmati perubahan dirinya yang menurutnya lebih kearah yang positif.
Shasya pun mulai merasa nyaman bersama Rio. Dia juga mulai merasa kesepian jika Rio tak memberikan kabar atau menemaninya walau hanya satu hari. apakah mereka berpacaran? tentu saja tidak. Shasya masih tetap teguh untuk tak memulai menjalin hubungan dengan siapapun selama dia masih sekolah. Dan Rio menghargai keputusan Shasya dengan tak pernah mengungkapkan perasaannya.
******
Shasya duduk termenung di sebuah Cafe. matanya terus menatap tajam kearah pintu sambil sesekali melirik jam yang ada ditangannya. Kemudian Shasya mengambil ponselnya. Mencari sebuah nama dan melakukan sebuah panggilan.
"halo fa, kalian di mana sih? lama bener" ucap Syifa dengan nada yang meninggi
"Sorry-sorry ini udah mau sampai kok" jawab seseorang yang keberadaannya belum tau dimana.
"yaudah cepetan ya, aku bosan disini sendirian."
.......
"hmmmm" Shasya kemudian mengakhiri telponnya.
ternyata Shasya sedang menunggu Syifa dan yang lainnya untuk hangout bersama. sudah lama mereka tidak keluar bersama menghabiskan girl's time mereka.
selang beberapa saat, terlihat beberapa orang memasuki Cafe. Shasya yang menyadarinya langsung melambaikan tangan namun dia sedikit terkejut melihat Rio ikut serta.
dia sedikit bingung harus senang atau enggak. disatu sisi dia senang bertemu Rio, disisi lain dia takut Syifa dan yang lainnya tau tentang kedekatannya dengan Rio. Selama ini dia selalu bertemu Rio secara sembunyi-sembunyi karna takut diintrogasi ataupun digosipi yang tidak-tidak oleh teman-temannya.
"hay Sha, maaf ya lama" ucap nina
"udah biasa, paling kalian nungguin tiara
dandankan?" balasku sambil mencibir kearah tiara.
"loh kok jadi aku sih" protes tiara.
Shasya tertawa.
"bercanda kali ra" ucap Shasya.
__ADS_1
"kalian mau pesan apa? aku tadi udah pesan punyaku sih"
Mereka kemudian mengambil buku menu, memanggil pelayan dan memesan makanan. setelah selesai, pelayan itu meninggalkan mereka dengan sopan untuk menyiapkan pesanan.
Sesekali Rio dan Shasya saling curi pandang dan tersenyum. tanpa mereka sadari tingkah mereka disaksikan secara langsung oleh Syifa, Nina, Tiara dan Nadia. terbersit dibenak Syifa ide untuk mengerjai Shasya dan Rio.
"kok sepertinya suasana cafe ini agak berubah ya" ucap syifa diiringi senyum tanda paham oleh nina, nadia dan tiara
"iya ya.. agak beda" tambah Nina.
"beda apanya? sama aja kok" Shasya mulai heran sambil melihat sekeliling.
"beda loo sya" tiara menegaskan.
"bagian mananya yang beda coba?" tanya shasya sedikit kesal.
"masa kamu gak merasa sih, suasana cafe ini jadi terlihat seperti kebun bunga. ada aroma-aroma orang yang lagi kasmaran" ucap Syifa tertawa sambil bahunya menyentuh lengan nadia yang duduk disebelahnya.
Shasya yang paham langsung tertunduk malu. Sedangkan Rio hanya diam namun terlihat garis bibirnya naik menggambarkan sebuah senyuman kecil.
"udah sejauh mana Sya?" Nadia mulai mengintrogasi.
"sejauh mana apaan?" tanya Shasya seolah tak mengerti maksud Nadia.
"hubungan kalian" tambah Nina.
"udah laa sya, kami dukung kok. gak perlu ditutupi" tambah Tiara.
"hmmmm... sebenarnyaa..." Shasya langsung menghentikan kata-katanya ketika pelayan datang da mengantarkan pesanan dan meletakkannya di meja.
Shasya menghela nafas, "selamaaat" ucapnya dalam hati ketika sadar teman-temannya mulai teralihkan oleh makanan dan minuman yang sudah tertata dimeja.
tanpa basa-basi lagi mereka langsung menyantap makanan yang ada karena sebenarnya mereka semua sudah sangat lapar. hanya Shasya dan Rio saja yang terlihat tak terlalu menikmati makanan karena sibuk mencuri-curi pandang satu sama lain.
Setelah selesai makan,
terdengar suara tawa dari meja mereka. entah hal seru apa yang mereka bahas sehingga membuat mereka terlihat sangan senang.
"BTW kamu kapan balik ke sulawesi Ri?" tanya Syifa yang langsung merubah suasana menjadi serius.
Shasya yang mendengar ucapan Syifa membulatkan matanya terkejut. ada rasa takut yang tak tau datang dari mana kini menghantui fikiran Shasya. Shasya baru ingat kalau Rio hanya tinggal sementara di medan. apalagi hari ujian nasional semakin dekat.
Rio melirik kearah Shasya, Rio paham ada perubahan di wajah Shasya langsung mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"gatau. belum ada kabar dari papa. yasudah kita balik yuk, udah malem nih gak enak sama mama kalian kalau kita pulang terlalu malam." ujar Rio diiringi oleh anggukan yang lain.
"kamu pulang naik apa sya?" tanya Syifa.
"aku naik ojek aja, tadi aku gak bawa motor" jawab shasya.
memang Shasya tadi pergi sendiri menuju cafe karna harus menemani ibunya belanja terlebih dahulu. sedangkan yang lain dijemput oleh Rio
"bareng aja kali sya" ajak Rio.
"gak usah deh, gak enak sama kalian. rumahku jauh banget". ucap shasya segan.
"yaudah ayo bareng aja. gak baik perempuan malam-malam pulang sendirian, bahaya" jawab Rio kembali menegaskan.
"lebih bahaya kalau pulangnya sama kamu kali" batin Shasya.
karena tak mendengar jawaban dari Shasya, Syifa mengambil inisiatif dan langsung menarik tangan shasya kemudian membawanya secara paksa menuju mobil rio.
Rio hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. dia tau betul kalau syifa sedang membantunya berjuang untuk memenangkan hati Shasya.
Setibanya di mobil.
Syifa langsung membuka pintu depan, dan memasukkan Shasya secara paksa untuk duduk disamping rio. Shasya sempat berontak, tapi sayangnya teman-teman Shasya malah ikutan mendorongnya masuk.
Rio tertawa melihat kelakuan mereka. baru kaliini dia melihat tingkah pertemanan sekonyol itu. kemudian Rio mengantar pulang teman-teman Shasya terlebih dahulu. dan kini di mobil hanya ada Shasya dan Rio.
Shasya hanya diam dan sesekali tersenyum kecil ketika dia mengingat kejadian tadi. Rio melirik kearah Shasya dan memulai percakapan
"segitu malunya ya kamu kalau ketauan jalan sama aku?" tanya Rio
"bukan begitu, aku hanya takut digosipi yang tidak-tidak".
"iyakah?"
"yasudah kalau kamu gak percaya. lagian kita kan emang gak ada apa-apa"
"waaah gimana nih, aku terlanjur kegeeran dong"
"apaan sih"
Shasya mencubit lengan Rio sambil tertawa. sedangkan Rio yang gemas melihat tingkah shasya menarik hidung shasya lalu kemudian membelai lembut kepalanya. mereka terus bercerita dan tertawa disepanjang jalan. hingga mereka tiba dirumah Shasya.
shasya turun dari mobil diikuti Rio hanya sekedar untuk pamit kepada orangtua Shasya kemudian langsung mengarahkan mobilnya pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Shasya yang kini mulai jatuh cinta terus menatap mobil Rio sampai tak terlihat lagi. perasaan itu membuat Shasya kegirangan dan hatinya tak berhenti berdebar. Namun tiba-tiba dia teringat ucapan Syifa tadi dan
senyumnya perlahan memudar. "sudahlah, kalau jodoh gak bakal kemana". batinnya seraya masuk ke dalam rumah.