
tok... tok... tok...
suara ketukan pintu memecah keheningan malam membuat Shasya menghentikan kegiatan bersama laptop di kamarnya.
"iya sebentar"
siapa yang malam-malam bertamu? jangan bilang bima lagi.
Shasya berjalan menuju pintu rumah kemudian membukakan pintu tersebut.
"ibu.. ayah.." ucap shasya seketika memeluk orangtuanya bergantian.
"kok gak bilang pulang hari ini?" tanya Shasya.
"sebenarnya ayah masih tidak enak sama tantemu kalau pulang secepat ini. tapi ibumu sangat khawatir dengan puteri manjanya" ayah menjelaskan kemudian mengelus rambut Shasya.
"ayah kamu berbohong tuh, sebenarnya ayah yang gak tenang disana karena anaknya ketinggalan" ucap ibu sambil tertawa.
"iya iya.. terserah ayah ibu saja. ayo kita masuk"
"bagaimana hari-hari kamu sayang? tidak ada masalahkan?"
"enggak kok bu, semua aman dan terkendali"
"syukurlah, ya sudah ibu sama ayah istirahat dulu. kamu juga harus istirahat ya. sudah sangat larut"
Shasya mengangguk tanda mengerti. dia melirik ke arah jam dinding ternyata benar sudah pukul sebelas malam. dia langsung bergegas menuju kamarnya dan bersiap untuk tidur.
******
"Sya, bangun sayang sudah pagi, kamu gak kuliah?" suara ibu menyadarkan shasya yang masih terlelap.
"iya bu, ini udah bangun kok" ucap Shasya.
Shasya bangun dari tempat tidurnya dan bergegas untuk mandi. setelah mandi dia memakai pakaian santainya dan langsung pergi menuju dapur.
"loh kamu gak kuliah?" tanya ibu heran
"gak ada kelas bu" ucap Shasya.
ibu mengangguk kemudian membawa sebuah piring yang berisi nasi goreng lalu meletakkannya di depan shasya.
"ayah kemana bu?" tanya shasya ketika menyadari bahwa ayahnya tidak ikut sarapan.
"ayahmu sudah pergi kerja dari tadi. kemarin saat ibu dirumah tantemu, ibu ketemu sama tante mirna loh"
"tante mirna yang di kalimantan itu bu?"
"iya"
__ADS_1
"kok gak main kesini bu, shasya kan kangen banget"
"mereka cuma sebentar sayang. jadi gak bisa singgah kesini"
"yah... " Shasya mengerutkan bibirnya karena kesal.
"sepertinya anak tante mirna akan bertunangan, makanya mereka tak bisa berlama-lama disini"
"tunangan? serius bu? bukannya umur anak tante mirna sama sepertiku?"
"iya, umurnya sama seperti kamu. tapi mau gimana lagi, anak tante mirna sudah terlalu lama menjalin hubungan dengan pacarnya. selain itu mereka juga bertunangan untuk memperkuat bisnis mereka."
"oh"
"ya begitulah sya kehidupan orang kaya. susah untuk dipahami"
Shasya tersenyum. dia bersyukur karena terlahir di keluarga sederhana yang mengutamakan kebahagiaannya. dia tak bisa membayangkan kalau dia yang ada diposisi sepupunya itu, harus bertunangan dan mungkin akan menikah diusia yang sangat muda.
"karena hari ini kamu gak ada kuliah, bagaimana kalau kita ke mall. ibu sudah lama gak jalan-jalan sekedar cuci mata saja."
"wah, ide bagus bu. ayo kita pergi, Shasya siap-siap dulu ya"
dengan cepat Shasya meminum susu yang telah ada dihadapannya kemudian langaung berlari menuju kamarnya. ibunya pun turut bersiap-siap untuk pergi. setelah selesai bersiap, mereka langsung pergi menuju mall menggunakan taksi.
tak butuh waktu lama bagi Shasya dan ibunya untuk tiba di mall. setibanya di sana mereka langsung masuk ke salah satu butik untuk melihat pakaian. setelah mendapat yang sesuai, mereka berjalan kembali ke butik-butik yang lainnya.
begitulah wanita, ketika sudah berada di mall seperti lupa akan segalanya. berjalan antara satu toko ke toko yang lain. memilih-milih pakaian, sepatu, tas dan lainnya. hingga tak terasa haripun mulai gelap.
"iya, ibu juga lupa. ya sudah kita makan dulu di situ yuk" kata ibu sambil menunjuk salah satu restoran yang ada di mall itu.
shasya dan ibunya berjalan santai menuju ke restoran. namun seorang pria tak sengaja menabrak Shasya sehingga tas belanja yang dipegang Shasya jatuh ke lantai.
"maaf, aku tak sengaja" ucap pria itu sambil membantu memungut belanjaan yang berserakan.
"loh, kak bima? sedang apa kakak disini." ucap Shasya yang membuat pria itu melihat ke arahnya.
"astaga kamu ternyata" bima tersenyum dan menyerahkan barang yang telah dipungutnya.
"siapa sayang?" tanya ibu Shasya.
"senior Shasya di kampus bu, namanya kak bima." jawab Shasya.
"oh" ibu mengangguk paham.
"kamu sudah makan? bagaimana kalau kamu ikut tante dan Shasya makan disana" ajak ibu kepada Bima.
bima melirik kearah shasya. terlihat di wajah Shasya tergambar senyuman tanda setuju.
"baiklah tante, bima ikut. sini barangnya biar bima bantu pegang tante" bima meraih beberapa tas belanja yang dipegang oleh ibu Shasya.
__ADS_1
mereka berjalan menuju restoran, setibanya di sana mereka langsung duduk di kursi yang kosong kemudian memesan makanan kepada pelayan. selang beberapa saat makananpun tiba. mereka mulai menyantap makan malam mereka.
"kalau ibu lihat-lihat, nak bima mengingatkan tante sama Rio." ucap ibu sambil terus menyantap makanannya.
"uhuk.. uhuk..." Shasya tersedak, tanpa aba-aba bima langsung mendekatkan minuman kepada Shasya.
"Rio siapa ya tante?" tanya bima heran. dia berfikir sejenak, nama itu seperti tak asing di telinganya.
"Rio itu sepupunya Syifa, dan dia cukup dekat dengan Shasya" jawab ibu.
"bu, sudah jangan bahas hal yang tidak penting" Shasya berusaha menghentikan pembicaraan.
ibu shasya memang sengaja membahas rio untuk memastikan apakah bima menyukai Shasya atau tidak. ketika melihat perubahan di wajah bima, akhirnya ibu Shasya paham kalau bima memang tertarik pada Shasya.
"tante hanya ingin bilang, semoga kamu tak sama seperti Rio. karena tante gak mau melihat Shasya kecewa lagi." tambah ibu.
seketika raut penasaran tergambar jelas di wajah bima. ada apa sebenarnya antara Shasya dan Rio. dia terus bertanya dalam hati namun enggan untuk menyampaikan pertanyaan tersebut kwpada shasya.
"ibu, sudahlah." ucap Shasya.
ibu Shasya hanya tersenyum dan melanjutkan makan. sedangkan bima masih mencoba mencerna kata-kata ibu shasya.
"jangan seperti rio? maksudnya bagaimana? memangnya apa yang telah dilakukan Rio kepada Shasya?" bima bertanya dalam hati.
Shasya yang melihat bima menghentikan makannya langsung bertanya.
"kok makanannya gak dimakan kak? kakak gak suka ya?" tanya Shasya.
"oh enggak kok, aku suka" jawab bima.
"sudahlah, nanti saja aku tanya pada Shasya. bagaimanapun aku harus memastikan bahwa shasya memang bukan milik siapa-siapa. jika dia punya pacar, tentu saja aku harus mundur." ucap bima dalam hatinya kemudian dia melanjutkan makannya kembali.
setelah selesai makan, Shasya dan ibunya pamit karena mereka akan pulang.
"bagaimana kalau bima antar saja tante, kebetulan bima bawa mobil." ucap bima.
"gak usah nak, tante gak mau merepotkan kamu" ucab ibu.
"gak repot kok tante, ayo" bima berjalan keluar restoran sambil membawa beberapa belanjaan yang kemudian diikuti oleh ibu dan Shasya.
setibanya diparkiran, mereka langsung masuk kedalam mobil. lalu bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Shasya.
*****
bima kemana sih? sudah hampir tiga jam, anak itu gak nongol juga" ucap andi melihat ke arlojinya.
"entahlah, paling ketiduran lagi itu bocah" ucap pria yang duduk berdekatan dengan andi.
"sudahlah kita mulai aja ngerjain tugasnya. terserah deh itu bocah nongol atau tidak" ajak andi kepada beberapa orang yang sedang berkumpul di salah satu restoran mall.
__ADS_1
ternyata bima telah memiliki janji untuk menyelesaikan tugas bersama temannya di mall. dan karena bertemu Shasya tanpa sengaja dia melupakan janji itu.